Astaghiri

  • Home
  • CERPEN
  • CERBUNG
  • CAKES!
  • Trip
Cerpen

My Big Shoes

Tuesday, October 15, 2013 By astaghiri 0 Comments
Tulisan ini diikutkan ke dalam lomba ‘Novel Always With Me by Hyun Go Wun’.



“Hei! Lemak berjalan!”

Suara itu kontan membuat sekeliling terdengar riuh. Tak terkecuali aku. Aku memang seringkali dibuatnya malu, tanpa tanggung-tanggung.

Aku menatap sebal ke arahnya dengan kedua tangan digeramkan. Ia hanya tersenyum puas melihat responku yang pasti diinginkannya. Telingaku semakin panas ketika mengetahui ia kembali mengejekku bersama dengan teman-temannya.

Kali ini aku sudah tak tahan lagi. Sudah lama sekali aku bersabar dengan sifatnya tersebut.

Dengan langkah besar dan sedikit mengguncang lemak yang bersarang di tubuhku, aku menghampirinya dengan tatapan membunuh. Kedua tanganku masih menggeram sampai dibuat memutih.

Teman-temannya langsung terdiam ketika aku menghampiri mereka. Dan Romeo—seharusnya nama itu memang tak pantas diberikan untuknya—yang masih tertawa, akhirnya disenggol temannya untuk menghentikan tawanya. Memberitahu kalau aku sudah berada di hadapannya.

Ia tak menampangkan wajah kagetnya. Justru ia terlihat bergembira seperti baru saja mendapatkan mainan baru.

“Aaaand.. This is our BIG Cinderella!” lantangnya hingga membuat teman-temannya kembali tertawa sekaligus was-was karena aku sudah berada di hadapan mereka. Romeo menekankan kata “BIG” yang tentu saja ia pasti sedang menyindirku.

Romeo langsung beranjak dari tempat duduknya dan kemudian berdiri tepat di hadapanku.

“Ada masalah, tuan putri? Apa lo kehilangan salah satu sepatu lo lagi?” Telingaku semakin memanas. “Oh, I mean, one of your BIG shoes,” tambahnya lagi dengan senyuman mengejek yang terbentuk dari bibirnya.

“Oh, iya. Gue kehilangan salah satu sepatu besar gue,” balasku santai yang kemudian ketika ia lengah, aku langsung menginjak salah satu sepatu yang membungkus kakinya dengan geram. “Rasain!” teriakku di depan wajahnya langsung dan kemudian berlalu dari hadapannya ketika ia meringis kesakitan.

Aku kembali menoleh ke arah belakang ketika ia kembali mengatakan sesuatu yang membuat telingaku panas, lagi.

“Untung dia nggak pakai sepatu hak. Hahaha,” sambil meringis pun, ia tertawa.
***

Ya, kemarin aku memang sempat kehilangan salah satu sepatuku. Tentu saja aku harus menahan malu ketika mencari salah satu sepatuku yang hilang dengan hanya menggunakan satu sepatu di kakiku. Dan tak perlu dipungkiri lagi, pelakunya memang Romeo. Anak kurang ajar itu memang tak pernah berhenti untuk mengerjaiku.

“Rom, sepatu gue lo ke manain?!” pekikku ketika melihat Romeo berada di pandanganku. Aku tak peduli banyak pasang mata yang menoleh ke arahku.

“Ram, Rom, Ram, Rom. Emangnya lo kira gue compact disk apa?”

“Lo sendiri juga panggil gue Big Cinderella. Jelas-jelas nama gue Putri,” balasku tak kalah sengit.

“Lho? Putri Cinderella kan juga bagus, Big Cinderella juga bagus, sih. Biar lo kelihatan anggun di antara lemak-lemak lo ini,” ucapnya sembari tersenyum mengejek.

“Rom. Lo nggak tega apa gue pulang cuma pakai satu sepatu? Ngotak dikit kenapa sih kalau mau ngerjain gue.”

Romeo langsung mengubah air wajahnya. “Gue nggak tahu.” Dan kemudian ia langsung berlalu dari hadapanku.

Dan hari ini, aku terpaksa menggunakan sepatu adikku yang jelas-jelas ukurannya lebih kecil dibandingkan sepatu yang kugunakan kemarin. Aku benar-benar harus menanggung malu ketika pulang sekolah. Itu pun aku juga menunggu sekolah sepi akan penghuni.

“Eh, lo dipanggil Pak Uswan ke ruang olahraga tuh,” ucap Rini ketika ia lewat di hadapanku.

Ruang olahraga? Ah, sudah tahu aku memang tak suka dengan olahraga. Kenapa aku harus berkutat dengan pakarnya? Sepertinya, ia akan mengomeliku karena minggu-minggu terakhir aku sering absen di pelajarannya.

Ketika aku memasuki ruang olahraga, terlihat kosong, tak ada penghuninya sama sekali. Apa jangan-jangan Pak Usman berada di luar ruangan?

Aku kembali berjalan memasuki ruangan, memastikan Pak Usman memang berada di dalam.

“Pak Usman,” panggilku. “Pak Usman?”

Tak ada jawaban. Namun, tiba-tiba saja ada satu tangan yang hinggap di bahuku. Sudahlah, aku pasrah kalau telingaku harus panas mendengar omelan Pak Usman.

“Eh, Bapak,” ucapku sembari menoleh ke arah belakang. Namun yang kudapati bukan Pak Usman, melainkan si anak kurang ajar itu, Romeo. “Ngapain lo ke sini?” sungutku langsung sinis.

“Happy birthday,” ucapnya yang kemudian langsung mengeluarkan sebuah kotak yang ia umpatkan di belakang punggungnya. Aku langsung mengernyit. Apa anak ini sudah kehabisan akal? Apa dia pikir aku bodoh kalau di dalam kotak tersebut memang terdapat banyak hewan menjijikan?

“Gue lagi nggak mau main-main, pergi sana,” balasku sinis sambil menepis kotak tersebut.

“Lo nggak ingat hari ini ulang tahun lo?”

Sedetik kemudian aku mulai teringat. Astaga. This is my day!

“Dan lo nggak mau terima hadiah dari gue?”

Aku langsung menatap ke arahnya. Aku tak bisa membaca raut wajahnya yang ingin mengerjaiku atau memang sedang bersungguh-sungguh.

“Kalau isinya hewan menjijikan, gue janji bakal ngelempar ini ke muka lo!”

“Kalau begitu, gue langsung kabur,” balasnya santai ditambah dengan senyumannya.

Perlahan, aku mengambil kotak dari tangannya dan membuka kotak tersebut dengan hati-hati. Mungkin saja isi kotak ini adalah hewan yang menjijikan. Namun yang kulihat benar-benar di luar kepala.

“Ini... buat gue?”

Romeo membalas tersenyum. “Happy birthday. Dan sori untuk sepatu lo. Gue sengaja ngambil, soalnya gue nggak tahu ukuran sepatu lo.”

Aku langsung mengambil salah satu sepatu dalam kotak tersebut, dan menusukkan ujung runcing sepatu ke arah pinggang Romeo. “Dasar anak kurang ajar.”
Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

Make Up 2

Saturday, September 14, 2013 By astaghiri 0 Comments
“Lo itu kenapa, sih?” pertanyaan Rino membuat Karin bingung. Ia juga ikut mengernyitkan dahinya. Baru kali ini ia berani membalas tatapan Rino. Tak lama, Rino memberhentikan tawanya yang semakin lama terasa semakin canggung di hadapan Karin. Padahal, sebenarnya Karin cukup senang dapat melihat tawa Rino dalam jarak yang dekat. Namun, ia tak mampu menampakkan ekspresi senangnya yang jutsru kini nampak aneh di mata Rino.

“Ada yang aneh, ya?” Karin memberanikan diri untuk bertanya sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Rino sedikit tersenyum melihat kelakuan Karin tersebut.

Tak lama, Rino tertawa lagi. Membuat Karin semakin menampakkan wajah bingungnya. Apa jangan-jangan di wajahnya terdapat sesuatu hingga membuat Rino tertawa seperti itu?

Karin langsung mengambil kaca di dalam tas make up dan segera memeriksa wajahnya. Tak ada yang aneh. Hanya saja , mata Karin terlihat kuyu. Mungkin, karena akhir-akhir ini ia sering tidur terlalu malam.

“Iya, lo aneh. Haha.”

Karin mengerucutkan bibirnya. Kemudian, tiba-tiba saja Gerald yang berada di depan kelas langsung memanggil Karin. Menyebabkan Karin langsung menolehkan kepalanya ke arah Gerald, Rino mengikuti.

“Nggak ada acara ngobrol, Rin!” bentak Gerald. Karin langsung merengut. Huh, kalau seperti ini aku takkan mau membantunya. Memangnya siapa dia? Berani sekali membentakku.

“Lo lagi bentak gue apa Karin?” Rino langsung menyahut. Karin langsung menoleh ke arah Rino. Tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan olehnya. “Nama gue sama nama Karin ada ‘Rin’-nya. Jadi, lo lagi ngebentak siapa?”

Karin ber-oh ria sambil mengangguk-angguk pelan. Kemudian, ia kembali menoleh ke arah Gerald sambil memandang sebal.

“Oh.. jadi lo berdua mau dipanggil Duo ‘Rin’?” Karin dan Rino langsung mengernyitkan dahinya. Kemudian, mereka berdua langsung saling bertukar pandangan. Karin yang salah tingkah langsung membuang tatapannya, kembali menatap kesal ke arah Gerald. Kini, mukanya kembali bersemu merah.

“Apaan sih lo, Ger,” Karin memicingkan matanya ke arah Gerald.

“Profesional dikit, dong. Dikit lagi mau upacara,” Gerald kembali membentak sambil menunjuk-nunjukkan ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.

Profesional? Profesional apanya? Aku di sini pun hanya sebagai pesuruh merias laki-laki paskibraka ini. Profesional katanya? Profesional nenekmu.

Karin langsung merengut sebal dan kembali mengambil alat riasnya. Kemudian, ia kembali menatap ke arah Rino yang kini sedang menatapnya datar. Lagi-lagi, Karin dibuat kikuk oleh Rino. Tanpa harus berbicara lagi, Karin melanjutkan merias wajah Rino. Rino masih terlihat pasrah diperlakukan seperti itu. Duo Rin? Lucu juga.

Setelah selesai merias Rino, dengan gerakan kaku Karin membereskan alat rias tersebut dan terburu-buru pergi dari hadapan Rino. Namun, tak berselang waktu lama, Rino memanggilnya.

“Eh, Rin,” Karin langsung memberhentikan langkahnya dan menoleh kikuk ke arah Rino yang kini sedang mengaduk-aduk tasnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya tersebut. Sebuah tempat makan berisikan sandwich.

“Lo belum makan, kan? Nih, makan aja. Gue udah kenyang.”

“Eh, nggak usah,” Karin langsung mengibaskan kedua tangannya. “Nggak perlu, kok. Gue nggak lapar,” Karin tertawa canggung. Rino langsung mengernyitkan dahinya.

“Bukannya tadi lo bilang belum sarapan?” Rino langsung menghampiri Karin dan mengulurkan tangan Karin. “Makan aja. Sandwich buatan nyokap gue enak, kok. Sebagai upah tambahan aja udah jadi tukang make up dadakan,” Rino tersenyum mengejek. Karin menerimanya dengan gerakan kaku sambil memundurkan langkahnya. Kemudian, ia langsung berlari dari hadapan Rino.

Rino hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Karin hanya bisa terus tersenyum sambil mengunyah sandwich milik Rino. Kalau seperti ini sih, durian jatuh namanya. Coba saja tak ada Gerald, pasti momen-momennya tak akan rusak sedikit pun. Tetapi, kalau pun tak ada Gerald, pasti ia tak memberikan julukan Duo Rin. Lucu juga julukan itu.

Tak lama, bel berbunyi dengan khasnya mengiringi usainya Karin yang sedang memakan sandwich tersebut. Kotak makan tersebut ia tutup rapat dengan baik, bahkan sempat ia bersihkan menggunakan tisu basah. Entahlah mengapa ia berbuat seperti itu. Kembali berbuat baik kepada orang lain boleh-boleh saja, kan?

Lorong-lorong kelas segera kosong, rata-rata penghuni sekolah sudah berkumpul di lapangan. Karin terus saja memanjangkan lehernya, mencari sosok Rino yang belum kelihatan batang hidungnya. Apa ia karena ia bertubuh pendek, jadi ia tak bisa menjangkau sosok Rino? Huh.

Ah, setidaknya ia bisa bertatap muka kembali dengan Rino karena ingin mengembalikan tempat makannya. Setidaknya, ada sedikit harapan Karin bisa mengobrol lagi dengan Rino. Bisa saja terjadi, kan?

Upacara dimulai dengan khidmat. Suara para penghuni sekolah yang berada di lapangan seakan-akan sedang diredam sesaat. Kepala Karin terus saja melenggak-lenggok, mencari keberadaan Rino.

“Ah, entar juga kelihatan, kok,” Karin begumam sendiri dan kembali meluruskan kepalanya ke arah depan.

Setelah satu jam dengan khidmat menjalankan upacara, Karin segera kembali menuju kelasnya, mengambil tasnya dan juga tempat makan milik Rino. Sepertinya, lebih cepat lebih baik jika dikembalikan kepada pemiliknya, walaupun sebenarnya ia masih ingin bertatap muka dengan Rino di lain waktu.

Karin kembali turun menuju lantai satu. Koridor mulai menyepi oleh siswa. Rata-rata dari mereka sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Kecuali petugas upacara,  para guru, dan beberapa siswa yang masih berkeliaran di lingkungan sekolah. Itu dia Rino!

Perlahan namun mantap, Karin melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rino. Rino memang belum melihatnya. Namun Karin tetap ingin menghampirinya.

“Rino,” sapa Karin dengan berdiri di hadapan Rino. Namun, raut wajah Karin berubah ketika Rino menyapanya kembali hanya dengan mengembangkan senyumannya. Tanpa aba-aba, Karin langsung menarik tangan Rino, dan membawa lelaki itu ke belakang sekolah.

“Ada apa, sih?” Rino sedikit memberatkan langkahnya karena ia tak mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh Karin. Karin terus menarik tangannya hingga mereka berhenti tepat di belakang sekolah. Karin langsung menghadap ke arah Rino.

“Itu...”

Rino mengenyitkan dahinya. Matanya tajam menatap ke arah Karin. Karin justru terlihat gugup dengan menggigit bibir bagian bawahnya.

“Kenapa? Mau bilang kalau sandwich buatan nyokap gue enak? Kan gue udah bilang. Sandwich buatan nyokap gue emang enak,” ujar Rino dengan bangganya. Karin justru semakin dibuatnya bingung.

“Itu...” Karin menunjuk ke arah pipi Rino. Refleks, bola mata Rino langsung menatap ke arah telunjuk Karin. Rino semakin mengernyitkan dahinya. Tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh gadis tersebut.

Karin langsung menurunkan telunjuknya. Seperti baru saja melakukan suatu kesalahan, dan ia baru mendapatkan penyesalannya.

“Kayaknya lo alergi deh,” ucap Karin dengan pasrah sambil menatap Rino lewat sudut matanya. Takut dengan reaksi yang akan dikeluarkan oleh Rino.

“What?!” seru Rino yang membuat Karin sedikit menjauh dari hadapannya. Rino mengetahui kekagetan Karin akibat seruannya tersebut. “Maaf. Tapi, punya cermin?”

Dengan cepat, Karin langsung mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya. Kemudian, ia memberikannya pada Rino. Dengan cepat juga, Rino mengambil cermin milik Karin dari tangannya. Karin mulai cemas lagi dengan respon yang dikeluarkan oleh Rino nantinya. Ia takut kalau ia yang akan disalahkan akibat dari alergi tersebut.

Rino terlihat pasrah ketika ia menurunkan cermin dari hadapan wajahnya. Menatap ke arah Karin dengan sedikit perasaan kesal. Namun, ia tak boleh seperti itu karena ini bukanlah kesalahan Karin. Mungkin saja ia memang alergi dengan alat make up. Lagi pula, dari awal Karin memang sudah menanyakan kepadanya apakah ia memiliki alergi terhadap make up atau tidak.

Rino mengembuskan napasnya tidak rela.

“Bintik-bintik merah kayak gini nggak bisa hilang?” tanya Rino sambil menunjuk ke arah pipinya. Bukan hanya bintik-bintik merah. Sebagian pipinya seperti baru saja menerima sebuah tamparan yang cukup keras. Terlihat bagian yang memerah.

“Bi—bisa kok, bisa,” jawab Karin dengan tergagap. “A—aduh, sori banget ya Rin. Gue nggak tahu kalau kejadiannya bakal kayak gini.” Karin hampir saja ingin menyentuh pipi Rino. Namun dengan gerakan cepat, tangannya kembali turun.

Rino menggeleng. Namun, tatapannya yang ia berikan pada Karin seperti tatapan yang kesal terhadapnya.

Karin mengetuk-ngetuk bibirnya. Walaupun Rino tak menyalahkannya, Karin merasa bersalah terhadapnya. Ya walaupun memang bukan sebuah kesengajaan. Walaupun begitu, ia tetap mau bertanggung-jawab.

“Lo tunggu di sini, nanti gue balik lagi,” seru Karin tiba-tiba yang kemudian langsung berlalu dari hadapan Rino. Rino menatap punggung Karin yang semakin lama semakin mengecil di penglihatannya.

Tak lama, Karin kembali dengan membawa botol berukuran sedang di tangannya. Sambil berlari, ia menghampiri Rino yang ternyata sedang terduduk di sebuah bangku kayu panjang. Rino menatap Karin yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.

“Pakai ini,” Karin menyerahkan botol pembersih wajah. Rino langsung mengernyitkan dahinya.

Dan dengan polosnya ia berkata, “Ini dibasuh ke muka?”

To be continued.
Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

Make Up

Sunday, August 18, 2013 By astaghiri 0 Comments
“Karin!” teriak seseorang yang membuat kepala Karin langsung mencari sumber suara tersebut. “Sini!” seorang lelaki tengah melambaikan tangannya ke arah Karin. Menyuruhnya untuk segera menghampirinya. Lelaki itu bernama Gerald, teman satu kelas Karin pada saat kelas X.

“Kenapa?” tanya Karin heran.

Sebenarnya, Karin agak setengah kesal karena harus masuk di hari sabtu seperti ini. Tetapi, sebenarnya bukan dirinya saja yang diharuskan masuk sekolah pada hari sabtu. Hari ini adalah peringatan upacara 17 Agustus. Maka dari itu, seluruh penghuni sekolah tersebut diharuskan menghadiri upacara 17 Agustus.

“Elo pernah make up anak-anak pentas seni waktu itu, kan? Yang nari itu lho,” Gerald mencoba mengingakan bayangan Karin.

Karin memutar bola matanya, mengingat hari di mana ia yang me-make up para penari di saat yang seharusnya me-make up-kan anak-anak pentas seni tersebut  justru belum memunculkan batang hidungnya. Entahlah, apa yang berada dipikiran seorang penanggung jawab pada saat itu. Mungkin, terlintas pikiran bahwa Karin adalah adik seorang ‘make up artis’, bisa saja keahlian kakaknya turun kepada Karin. Toh, memang hasilnya cukup memuaskan.

Perlahan, Karin mengangguk. Matanya masih memicing ke arah Gerald, ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh lelaki tersebut.

“Oke, ikut gue,” ajak Gerald yang kemudian langsung membalikkan badannya.

Karin menatapnya dengan heran. Namun tanpa ragu, ia mengikuti langkah Gerald menuju suatu kelas yang terletak di lantai satu. Sepertinya, kelas itu sudah cukup ramai dihuni beberapa orang. Padahal, lingkungan sekolah masih cukup terlihat sepi.

“Tolong make up mereka,” pinta Gerald dengan seenaknya ketika mereka berdua telah mencapai kelas tersebut yang ternyata isi kelas tersebut adalah anak-anak Paskibra. Oh my God. Bagaimana ini?

Karin mencoba mengatur napasnya, menahan detak jantungnya yang mulai berdetak tak beratur. Tolong dengarkan aku, jantung. Tolong.

“Emangnya lo nggak panggil tukang make up? Kenapa harus gue?”

“Ada masalah kecil, dan kebetulan yang gue lihat pagi ini adalah elo. Kebetulan juga lo perempuan, pasti lo bisa make up-in mereka, dong?”

Karin melihat sekeliling. Ia melihat beberapa perempuan yang sedang menyibukkan diri masing-masing. Kemudian, ia mengernyitkan dahinya. Di kelas ini banyak jumlah perempuan, mengapa harus menggunakan jasanya?

“Ger, tapi di sini banyak anak perempuannya. Kenapa harus gue? Mereka juga udah pada pakai make up, kan?” Karin mencoba membela diri, sebenarnya hanya ingin cepat menyingkirkan dirinya dari hadapan Gerald.

“Ya anak perempuan emang udah bisa make up sendiri. Tapi lihat dong anak laki-lakinya. Yang perempuan juga udah pakai saputangannya masing-masing,” Gerald mencoba mencari alasan yang logis walaupun sebenarnya kurang masuk akal bagi Karin. “Ayolah, nanti gue traktir deh. Anak laki-lakinya cuma tiga, kok. Lo mau, kan?”

Karin mendengus kesal. Akhirnya, ia menyetujui permintaan Gerald. Ia memulai me-make up laki-laki yang lebih dikenalnya terdahulu. Mungkin untuk meregangkan otot tegang pada tangannya. Bisa saja tangannya tiba-tiba kaku tepat di wajah lelaki itu, kan?

Sebenarnya, Karin memiliki alasan tertentu mengapa ia sempat mengelak permintaan dari Gerald. Pertama, ah lelaki itu. Lelaki yang telah setahun lebih telah memikat mata Karin, bahkan mungkin hatinya juga ikut terpikat. Namun, ia lebih memilih untuk bungkam, bahkan tidak melakukan sesuatu hal untuk menarik perhatian lelaki tersebut.

“Huh, kalau kayak gini mending gue datang agak siangan,” gumam Karin pelan ketika ia sedang me-make up teman lelakinya, Tio.

“Jangan banyak gerutu, Rin,” balas Tio yang sedang memejamkan matanya. “Seharusnya gue yang banyak gerutu. Nggak tahu gue ngantuk, apa?”

Karin langsung mengernyitkan dahinya. Memangnya itu urusanku?

“Lo datang jam berapa emangnya?”

“Tiga.”

Hampir saja Karin tersentak kaget. Kalau saja ia tak bisa menahannya, pasti tatapannya sudah tersita menuju ke arahnya. Karin langsung menepuk-nepuk bahu Tio dengan perasaan iba. Namun, lelaki itu belum mau membuka kelopak matanya.

“Nggak apa-apa. Perjuangan buat Indonesia. Jadi paskibraka kan artinya sama aja berjuang untuk Indonesia. Jadi—”

“Cerewet,” tepis Tio langsung yang mulai merasa sebal. Karin langsung merengut. Kemudian, ia menekan-nekan dahi Tio menggunakan spon bedak dengan cukup keras. Sebagai pelampiasannya karena telah memutuskan perkataannya. Tio hanya bisa menggerutu sambil melanjutkan memejamkan matanya.

Dan sekarang giliran lelaki itu. Tangan Karin mulai merasa kaku ketika membereskan alat make up tersebut. Karin memanjangkan lehernya. Melirik ke arah lelaki tersebut di pojok kelas yang sedang tertidur dengan meletakkan kepalanya di atas meja. Perlahan, ia mulai melangkah ke arah lelaki tersebut. Setelah ia mengatur napasnya, ia mencoba membangunkan lelaki tersebut.

“Rin—” Karin hampir memanggil lelaki itu. Ah, sial. Seharusnya ia tak memanggil nama lelaki itu karena mereka berdua belum saling mengenal. Kalau Karin memanggil nama lelaki itu, dan ternyata lelaki itu menyahut, nanti ia bisa dibilang sebagai orang yang sok kenal sok dekat. Ah, pura-pura tidak kenal saja.

“Eh,” panggil Karin sambil menyembulkan kepalanya sedikit ke arah Rino. Rino belum sedikit pun bergerak karena panggilan Karin. Akhirnya, Karin memberanikan diri untuk menyentuh bahu Rino.

Sambil menusuk-nusuk pelan ke arah bahu Rino, ia juga menyerukan ‘eh’ pada Rino agar ia terbangun. Tak lama, Rino mengangkat kepalanya yang mungkin terasa berat. Ia menatap samar ke arah Karin. Tatapan seolah mengatakan ‘ada apa?’.

“Eh, ini, gue disuruh make up anak paskibra,” Karin merasa sedikit gugup melihat wajah Rino yang terus saja menatapnya datar. “Eh, lo masih ngantuk ya?” Karin bertambah gugup. Rino sama sekali belum memberikan respon untuknya. “Eh, tidur dulu aja deh. Sori deh kalau ganggu.”

Karin langsung membalikkan badannya sambil memegang dadanya yang terasa ingin robek karena jantung yang berada di dalamnya ingin mencelos keluar. Ada apa sih dengan dirinya kali ini?

“Eh? Sori,” seru Rino yang membuat langkah Karin berhenti. “Nyawa gue belum terlalu ngumpul jadi kayak gini. Yaudah, make up-in gue aja, tapi jangan terlalu tebal.”

Perlahan, Karin membalikkan kembali badannya ke arah Rino dengan kikuk. Kemudian, berjalan menghampirinya. Menarik bangku lain dan duduk berhadapan dengan Rino. Namun saat itu, ia mulai merasakan posisi duduknya kurang terlalu enak. Padahal, sama saja ketika ia me-make up Tio dan temannya yang satu lagi.

“Kenapa?” tanya Rino heran sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Kemudian, sesekali ia menguap. Sepertinya anak ini memang benar-benar mengantuk.

Seperti sedang tertangkap basah karena melakukan suatu hal, Karin langsung menyengir kikuk sambil menggeleng. Perlahan, ia duduk tepat di hadapan Rino.

Karin mulai kembali mengeluar alat make up, tanpa disadari Rino memerhatikan tangan Karin yang sibuk mengeluarkan alat-alat make up tersebut dengan tatapan datar. Entahlah, sepertinya tak ada yang menarik selain melihat tangan Karin yang terus saja sibuk mengeluarkan alat make up tersebut.

Karin juga baru menyadari bahwa sedari tadi Rino menatapnya dengan tatapan jenuh—pikirannya berkata seperti itu.

“Eh, kalau lo mau tidur, tidur aja. Gue tetap bisa me-make up orang yang lagi tidur kok,” seru Karin tanpa menatap ke arah Rino sedikit pun. Namun, ia sedikit melirik ke arah Rino. Tanpa harus membalas perkataannya, Rino langsung menutup kelopak matanya dan berusaha tetap menegakkan kepalanya dengan lurus.

Dengan kaku, jari Karin mulai mengoleskan pelembab pada wajah Rino agar bedak yang setelah ini dioleskan pada wajahnya tidak terlalu menyerap pada kulitnya. Dengan hati-hati, Karin meratakan pelembab tersebut ke area wajah Rino. Tangannya gemetar ketika menyentuh area wajah lelaki tersebut.

“Lo kenapa?” seru Rino tiba-tiba tanpa membuka kelopak matanya. “Gemetar gitu tangannya. Belum makan?”

Wajah Karin langsung memerah. Ia sempat memberhentikan mengoleskan pelembab pada wajah Rino. Untung saja kelopak mata Rino sedang tertutup. Jadi, ia tak bisa melihat wajah Karin yang sedang bersemu merah seperti ini.

“Ah, iya,” jawab Karin gugup sambil kembali meneruskan meratakan pelembab pada area wajah Rino. Rino seperti terlihat pasrah diperlakukan seperti itu oleh Karin.

“Terus, kenapa lo datang sepagi ini?”

“Intuisi mungkin,” jawab Karin sesingkat-singkatnya dan tanpa sadar ia berceletuk seperti itu. Ah, masa bodoh. Yang penting, ia berharap lelaki ini tak membuka kelopak matanya agar ia bisa terus menatap wajah lelaki tersebut dari arah dekat.

“Intuisi apa?” Rino bertanya dengan nada heran.

“Jadi tukang make up kayak gini mungkin,” jawab Karin dengan nada pasrah yang sebenarnya ia sedang menahan napasnya gara Rino tak bisa merasakan embusan napasnya.

Bibir Rino sedikit tergerak, membuat Karin sedikit tersentak kemudian menjauhkan jemarinya dari area wajah Rino. Apa lelaki ini sedang mengigau? Mana mungkin mengigau di saat percakapannya menyambung seperti ini.

“Lo nggak alergi make up, kan?” tanya Karin memastikan namun dengan ragu-ragu.

Rino langsung menggeleng. “Gue belum pernah pakai make up.”

Karin mengangguk pelan, kemudian mengambil alas bedak untuk wajah Rino. Lelaki ini meminta untuk make up yang tidak terlalu berlebihan. Memakai alas bedak saja sepertinya juga cukup karena faktor wajah Rino yang memang sudah putih.

“Oh ya, lo Karin, kan?”

Tangan Karin langsung berhenti ketika sedang menekankan spon bedak pada bagian hidung Rino. Seketika itu juga, kelopak mata Rino terbuka. Kini, mereka berdua saling betukar pandangan satu sama lain.

Rino mengenalku? Dia tahu namaku?

“Lo dulu anak kelas X-4 kan, ya?” timpal Rino lagi dengan wajah datarnya. Perlahan, Karin mengangguk kikuk sambil kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mencoba tak bersikap tegang dan tetap fokus pada pekerjaannya tersebut. Aduh, tangan ini. Bisa untuk tidak bersifat kaku untuk sebentar saja tidak, sih?

Rino sedikit tersenyum. Tetapi Karin tak mengerti apa maksud dari senyuman Rino tersebut. Seperti sedang menang sebuah undian?

Tiba-tiba, hati Karin mulai melambung tinggi. Rino mengenal Karin. Kalau begitu, Karin tak perlu merasa sok tak kenal dengan Rino lagi, kan?

“Untung gue udah tahu semua nama teman seangkatan gue,” tambah Rino yang kemudian kembali menutup kelopak matanya. Dan tiba-tiba saja, hati Karin yang tengah melambung tinggi, menabrak roket yang sedang terbang dan jatuh ke arah bumi dengan tamparan angin yang begitu keras.

Setelah itu, Karin tak mau lagi mengajak ngobrol Rino. Biarkan saja ia tertidur, dan Karin bisa menatap wajahnya dengan puas. Dengan begitu, ia tak perlu menggantungkan kalimatnya tersebut yang menyebabkan hati Karin terlanjur mencelos keluar. Huh, menyebalkan.

“Duh, pelan-pelan dong make up-in-nya,” protes Rino ketika spon bedak itu terus saja menimpa tulang pipinya. Spontan, ia langsung membuka kedua matanya, menatap ke arah Karin yang nampak terlihat panik.

“Eh, sori, Rin. Sori,” seru Karin sambil menjauhkan spon bedak tersebut. Rino masih menatap lurus ke arah Karin. Kemudian, ia sedikit memiringkan kepalanya.

“Lo sadar nggak?” seruan Rino membuat Karin terperanjat. Apa aku melakukan kesalahan hingga membuatnya marah seperti ini?

“Eh, maaf Rin. Maaf banget, gue nggak sengaja. Emang sakit banget, ya?” Karin sedikit memajukan wajahnya, hendak melihat ke arah pipi Rino. Tak ada bekas lebam sedikit pun. “Nggak terbekas luka, kok,” tambah Karin dengan nada khawatir.

To be continued.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Untukmu

Wednesday, August 14, 2013 By astaghiri 0 Comments
Rendra terus saja mendongakkan kepalanya menatap ke arah bendera merah putih yang berkibar pada tiang yang menjulang ke arah langit. Sinar matahari yang terik menerpa wajahnya sebagian, mulai membuat buliran keringat pada dahi. Dalam hati, Rendra terus saja menggerutu ‘Kapan aku selesai dihukum seperti ini?’.

Hari ini, Rendra terlambat datang ke sekolah. Terpaksa, ia dihukum oleh gurunya untuk terus hormat pada kibaran bendera merah putih tersebut.

Kakinya mulai bergetar, tak kuat sudah berjam-jam berdiri, mendongakkan kepala, dan terkena sengatan sinar matahari. Belum lagi, beberapa penghuni sekolah yang terus menatapnya dengan tatapan mengejek.

“Kamu sudah tak kuat lagi, Rendra?” tanya gurunya yang tiba-tiba saja datang menghampirinya. Ingin menjawab ‘tidak’, namun ia takut kalau hukumannya akan ditambahkan lagi untuknya. “Ini untukmu, membuatmu untuk bersikap lebih disiplin. Di samping itu, kamu juga lebih menghormati bendera yang sedang berkibar, bukannya bendera sedang menjulang ke arah langit, tapi kamu baru datang ke sekolah.”

“Iya, Bu,” jawab Rendra dengan nada takut-takut.

#FF2in1
Tema kedua : Bendera - Cokelat
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Deal

By astaghiri 0 Comments
“Maaf,” lelaki itu terus saja menggumamkan kata tersebut di hadapanku, tak bosan-bosannya hingga telingaku mulai menebal. Aku masih enggan menaikkan kelopak mataku untuk menatapnya. Percuma, hanya membuatku lemah di hadapannya dengan menjatuhkan air mata yang sengaja kuseka.

Lelaki itu semakin kuat menggenggam tanganku. Memaksaku untuk menatap ke arahnya.

“Apakah aku tak pantas mendapatkan permintaan maaf darimu?”

Kata-kata itu membuat kelopak mataku sontak menaik. Melihatnya samar karena sekaan air mata yang menumpuk pada kelopak mataku. Mulai terjatuh membentuk aliran pada pipiku.

“Kau kira, kau pantas mendapatkan maaf dariku?”

Ia menyeka peluh di dahi. Melihatku dengan cemas. Ingin membalas perkataanku, namun takut. Ia terus menatapku seperti menghujamkan kata ‘maaf’.

“Aku yang salah,” ucapku tiba-tiba yang kemudian langsung menundukkan kepalaku. Sepertinya aku bisa mengetahui raut apa yang dikeluarkan oleh lelaki yang berada di hadapanku ini. “Maaf. Aku egois.”

Aku memberanikan diri untuk mendongakkan kepalaku. Secercah senyuman sudah menyambutku dengan hangat.

“Kita makhluk yang bernama manusia. Wajar memiliki rasa egois sepertimu, atau memiliki kesalahan sepertiku. Jadi, kita deal?”

Ia mengacungkan jari kelingkingnya, aku ikut mengacungkan jari kelingkingku dan mengaitkan kedua jari kami. Menyudahi semua beban hati yang sedari tadi kutahan—mungkin bukan hanya aku, tapi kami.

Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Good-Bye

Monday, August 12, 2013 By astaghiri 0 Comments
Taburan bintang menghiasi langit malam yang cerah. Satu per satu, kerlap kerlipnya memanjakan mata, tetap tak mau beranjak dari satu objek ciptaan Tuhan yang begitu indahnya.

Gadis itu menyenderkan tubuhnya pada tanah yang dilapisi dengan rumput tebal berwarna hijau. Tak peduli dengan gaunnya yang mungkin kini sudah terkena bercak cokelat karena tanah, atau pun terkena tetesan embun yang kotor pada sela-sela rumput yang menyentuh seluruh bagian belakang gaunnya.

Tiba-tiba saja, seorang lelaki ikut mengempaskan tubuhnya pelan tepat di samping gadis tersebut. Gadis itu hanya menoleh, kemudian kembali menatap ke arah langit, memuja para bintang yang menggantung di langit.

“Kamu menggangguku,” ucap gadis itu tiba-tiba tanpa menoleh ke arah lelaki tersebut. Lelaki itu hanya menampangkan senyum pada bibirnya. Ia ikut memandangi langit yang begitu terpampang luas di hadapannya. “Kamu nggak ikut memeriahkan promnight? Hari ini hari terakhir kita ketemuan lho,” tambah gadis itu.

“Kamu sendiri? Masih mau menikmati langit malam seperti ini?” lelaki itu justru berbalik tanya.

“Jawablah dulu pertanyaanku,” tepis langsung gadis itu.

“Jawabanku mungkin sama seperti jawabanmu.” Terdengar suara helaan napas yang begitu panjang.

Gadis itu hanya bisa tertawa pelan. “Bagaimana dengan Gita? Kamu masih menyukainya, kan?”

Pertanyaan itu membuat punggung lelaki tersebut langsung beranjak dari atas rumput. Lalu menatap lurus ke arah mata gadis tersebut. Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya menuju cakrawala.

“Aku harus bilang berapa kali?”

Gadis itu hanya tersenyum. “Tenang saja, aku hanya mencoba menggodaimu.” Kemudian, tercipta keheningan malam yang hanya diisi dengan terpaan angin yang melewati sisi kulit mereka. “Bagaimana ya, kalau aku sudah tak bisa menggodaimu lagi? Bahkan sepertinya aku memang sudah tak bisa,” gumam gadis itu tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” tanya lelaki itu heran.

“Bagaimana ya, kalau kita sudah tak bisa bertemu lagi?”

Lelaki itu tertawa pelan. “Aku pasti akan terus mengejarmu. Dan aku pasti akan menemukanmu.”

“Jangan gila,” tepis gadis itu langsung. Lelaki itu tetap tak mau mengalihkan pandangannya pada gadis yang berada di sampingnya. “Aku mohon padamu, tolong jangan pernah pandangi langit malam yang seperti ini lagi,” pinta gadis itu. “Aku nggak mau kamu terluka.”

“Kamu kira malam seperti ini hanya terjadi setahun sekali?” lelaki itu langsung mengalihkan pandangannya, menengadahkan kepalanya ke arah langit. Gadis itu tak menjawab. “Baiklah. Tapi, bisakah kamu mengucapkan selamat tinggal kepadaku?”

Lelaki itu kembali menatap ke arah samping. Kosong. Tak ada bekas sedikit pun jejak gadis itu. Lelaki itu mendesah berat. Memejamkan matanya sambil menekuk kedua lututnya. Meratapi kepergian gadis itu, yang bahkan memang sudah pergi untuk selamanya. Mungkin, malam ini ia memang datang untuk mengucapkan selamat tinggal pada lelaki itu.

Kemudian, lelaki itu menengadahkan wajahnya ke arah langit. Menunggu alam memberikan respon untuknya, dan juga menunggu gadis itu mengucapkan selamat tinggal untuknya. Lelaki itu hanya bisa mendengar lirih angin yang melewati telinganya.

Mungkin, aku akan membuat malammu akan terus nyenyak karena aku tak mau kamu meratapi langit malam berbintang dan terus mengingat akan diriku yang sudah tak lagi mungkin bisa berada di sampingmu. Selamat tinggal.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Bukan Waktu Untuk Menyesal

By astaghiri 0 Comments
Aktifitas yang menurut kami tidak melelahkan dalam fisik, namun sangat melelahkan dalam hati adalah ‘Selama tiga tahun kami hanya bisa saling lirik satu sama lain, tanpa harus mengutarakan hati masing-masing’. Ya, tanpa harus mengutarakan hati masing-masing.

Semburat merah menghiasi langit sore kali ini. Hembusan angin sore yang menyejukkan melewati sela-sela rambut panjangku. Sisa cahaya matahari pada sore hari menerpa sebagian wajahku, juga sebagian wajahnya. Dari arah samping, aku menatap garis wajahnya yang terlihat keras.

“Kau menyesal?” tanyanya yang langsung menolehkan kepalanya ke arahku.

Kami saling bertukar pandangan. Tiga detik. Lima detik. Bahkan sepuluh detik pun aku belum menjawab pertanyaannya.

Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain, membiarkan angin menampar pipiku sepuasnya.

“Kurasa tidak,” jawabku datar sambil menekuk kedua lututku, lalu kupeluk.

“Namun, aku menyesal,” balasnya dengan cepat yang menyebabkan kepalaku langsung menoleh ke arahnya lagi dan lagi. Kini, lelaki itu sedang tak menatap ke arahku. Aku bisa melihat air wajahnya yang menampakkan rasa menyesal. “Seharusnya, di masa itu aku memberanikan diri untuk menyatakan cinta padamu. Cih, bahkan sepertinya aku tak bisa melakukan hal itu kepadamu karena aku takut kau menolakku.”

Aku hanya bisa tersenyum kecut dan terus memandanginya dengan perasaan penuh iba. Aku pun juga merasa kasihan terhadap hatiku untuk sekarang ini. Namun, apakah memangnya aku bisa mengembalikan waktu ke sepuluh tahun yang lalu? Bisakah aku melakukan hal itu?

“Mama!” seru seorang anak dari arah belakang punggung kami. Sontak, kami berdua menolehkan kepala ke arah belakang punggung kami. Seorang anak tengah berlari menuju kami berdua. Anakku.

“Sini, nak,” sahutku sambil melambaikan salah satu tanganku. Tak lama, anakku sudah sampai pada pangkuanku. “Kenalkan, ini Om Galuh. Teman Mama waktu SMA.”

Aku memperkenalkan lelaki yang berada di hadapanku kepada anakku. Kemudian, aku kembali menatap ke arah Galuh. Ia hanya membalas tatapanku dengan tatapan kosong. Tak lama, ia memasang senyum palsunya ke arah anakku. Aku sungguh sangat bisa membedakan mana senyum ikhlasnya yang terdahulu.

“Wah, mirip kamu ya, Ren,” Galuh mencoba menyapa hangat anakku. Tapi aku tahu, ia hanya sedang ingin menghibur dirinya sendiri. Bahkan sepertinya, itu bukan merupakan hiburan untuk dirinya, apalagi diriku.

Continue reading
Share:
Views:
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments ( Atom )

Hi, you!

Hi, you!

Blog Archive

  • ▼  2017 (3)
    • ▼  September (1)
      • Intro Perkuliahan
    • ►  July (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (3)
  • ►  2013 (24)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  May (1)
    • ►  April (5)
    • ►  January (4)

Labels

CAKES! Cerbung Cerpen Imajinasi Travel Trip

Wanna be my mate?

© 2016 Astaghiri | All rights reserved
Created By Responsive Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates