Astaghiri

  • Home
  • CERPEN
  • CERBUNG
  • CAKES!
  • Trip
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Cerpen Imajinasi

Rian!

Monday, June 27, 2016 By astaghiri 0 Comments
Sumber: https://twitter.com/jatengtwit/status/535955974138257409
Aku terbangun karena mendengar suara bising pacu roda kereta. Dengan mata menyipit, aku melihat seseorang keluar dari gerbong dan menutup pintunya dengan kasar. Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala untuk memulihkan kesadaranku.

“Ini sudah sampai di mana ya, Pak… eh? Bu?” Aku bahkan tidak sadar bahwa orang di depanku sudah berganti penumpang. Kini di depanku ada seorang ibu-ibu dan mungkin anaknya, laki-laki.

“Di Bekasi, Mas,” jawab Ibu itu dengan tambahan senyuman di bibirnya. Aku bernapas lega karena perjalananku akan sampai sebentar lagi. “Turun di mana, Mas?”

“Eh? Di Pasar Senen, Bu. Kalau Ibu?”

“Oooh. Ibu di situ juga turunnya.”

Aku hanya mengangguk-angguk, sudah tidak tahu lagi apa yang harus kubicarakan padanya. Kemudian aku melirik ke arah anak kecil yang duduk di samping Ibu itu.

“Anaknya, Bu?”

“Bukan. Ini cucu Ibu dari anak pertama.” Aku ber-oh ria. Sebenarnya aku tidak begitu kaget, sih. Soalnya wajah Ibu di depanku ini memang sudah tak terlalu muda. “Kuliah, Mas?”

“Iya, Bu. Di Malang. Mau naik semester 5.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera mengambilnya di dalam tas yang kutaruh di bawah bangku kereta.

“Adik, mau coklat?” tawarku pada anak kecil itu. Yah, walaupun coklatnya tersisa setengah batang, setidaknya aku masih mau menawarkan. Lagipula, sepertinya aku tidak mau memakannya lagi. Daripada mubazir, mending aku kasih ke anak kecil itu.

“Mauuu!” Dia langsung mengambil coklat di tanganku.

“Aduh, Mas. Jangan repot-repot,” ucap Ibu itu yang kemudian langsung menoleh ke arah cucunya. “Bilang terima kasih dulu dong, Yan.”

“Terima kasih, Maaaas!”

Aku tersenyum tipis, kemudian mengambil botol air mineral dan meminumnya. Rasanya aku tidak sabar untuk bisa mencapai rumah. Sudah lima bulan lebih aku jauh dari rumah, menimba ilmu di kota tanpa sanak saudara itu.

Aku melirik ke anak kecil yang kini telah berpindah duduk dengan neneknya, bergantian tempat. Sebenarnya aku juga tidak tahu sih apa yang ingin dilakukan oleh anak kecil itu. Tapi namanya juga anak kecil, selalu hiperaktif. Apalagi laki-laki.

Tiba-tiba aku merasa bahwa kereta yang kutumpangi ini melaju lebih cepat. Entah ini perasaanku saja atau bukan. Tetapi aku melihat Ibu di depanku ini memegangi cucunya yang tadi hampir saja mau terjatuh.

“Rian, ayo pindah tempat duduk lagi. Kamu di pojok saja, biar Nenek yang di pinggir,” perintah Ibu itu sambil memegangi tangan cucunya.

He? Namanya Rian? Sama seperti namaku.

“Tidak mau! Rian maunya di sini saja!” balasnya sambil mencoba melepaskan genggaman tangan neneknya.

Pintu gerbong terbuka, seorang pria berbadan tegap masuk ke dalam gerbong. Tidak ada yang aneh dari pria tersebut sampai tiba-tiba dia mengacungkan senjata api ke arah atas! Ya Tuhan!

“Jangan ada yang bergerak!” Beberapa jeritan anak kecil dan wanita terdengar mengaung di gerbong. Suasana berubah drastis menjadi tegang. Kereta ini sedang dibajak!

Ibu di depanku langsung mendekap cucunya dengan erat. Anak itu kelihatan bingung, tapi dia juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Wanita di sampingku pun juga langsung merengut di pojok bangku.

“Bagi yang memangku tas, taruh tas kalian di tengah gerbong! Cepat!”

Aku langsung melirik ke arah tas yang memang sedang kupangku. Aku ingin mengambil sesuatu di dalam tasku yang menurutku sangat penting. Sebelum pria itu melihat—

“Heh, kamu!” Aku terlonjak begitu pria tegap itu berteriak padaku. “Cepat taruh tasmu di bawah!” katanya sambil mengacungkan pistolnya ke arahku. Aku langsung menuruti perintahnya sebelum mungkin peluru itu akan bersarang di tubuhku.

Aku mulai resah, berdoa dalam hati semoga tidak ada korban dalam kejadian ini. Tapi aku juga was-was. Sepertinya pria tadi sudah menargetkanku untuk menjadi korbannya karena tadi aku sempat tidak menuruti perintahnya.

Aku melihat ke arah belakang. Ternyata ada pria lain yang juga membawa pistol di tangannya.

“Neeek. Aku mau pipiiiis.” Aku melirik ke arah anak kecil yang kini sedang berusaha untuk menahan rasa buang air kecilnya.

Neneknya langsung panik. Dalam keadaan genting seperti ini, ada saja hal di luar kendali yang begitu mendesak.

“Ditahan dulu ya, Nak. Kamu ngompol saja di sini tidak apa-apa, deh.” Hah? Jadi dia membiarkan cucunya untuk buang air kecil di sini? Yang benar saja! “Kamu tidak boleh ke mana-mana soalnya—”

“Pak!” Aku mencoba memanggil pria yang membawa pistol tersebut. Dia berbalik ke arahku dengan wajah yang garang.” Anu, Pak. Adik saya mau pipis. S-saya mau antar d-dia ke toilet. B-boleh, Pak?”

Aduh! Kenapa tiba-tiba aku yang bilang kalau aku yang akan mengantar anak kecil itu, sih? Ah! Daripada nanti dia mengompol di sini dan menyebarkan bau pesing ke mana-mana, mending aku antar dia ke toilet sekarang.

“Memangnya dia tidak bisa pipis sendiri?!” Aku malah dihardik oleh pria itu. Tapi karena dia melihat raut wajah anak kecil itu yang mungkin sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil, akhirnya kami diperbolehkan untuk ke toilet. “Ya sudah! Kamu yang antar. Jangan macam-macam!”

Mau tidak mau, akhirnya aku mengantar anak kecil ini ke toilet ujung gerbong sambil diawasi oleh salah satu pria yang membawa pistol tadi. Aku dan anak kecil ini masuk ke dalam toilet yang baunya langsung menusuk paru-paru.

“Dik, kamu bisa sendiri, ‘kan?”

Dia mengangguk-angguk. Aku hanya bisa menunggunya dari belakang, memastikan bahwa urin yang dikeluarkannya tidak mengenai pakaiannya. Tapi… tunggu sebentar. Apa yang sedang dilakukannya?

Dia mengeluarkan kain hitam dari kantong celananya, kemudian dilebarkan dan dipasang di lehernya layaknya superman. Apa-apaan anak ini?!

Tapi… tunggu sebentar. Duh! Kenapa harus tunggu sebentar terus, sih? Eh, tapi kali ini serius! Kok sepertinya hal ini sudah tidak asing lagi ya dalam memoriku? Apa aku pernah memimpikan hal ini? Atau justru aku pernah mengalami hal seperti ini?

Astaga!

“Dik! Nama kamu Rian? Rian Budiawan?”

Dia menolehku dengan raut heran. “Kok Om tahu namaku?”

Apa? Aku dipanggil ‘Om’? Sejak kapan aku menjadi setua itu?!

Ah! Itu tidak penting sekarang!

Yang penting untuk sekarang adalah… ternyata ini semua adalah fantasi pada masa kecilku! Dan anak kecil di depanku ini adalah aku! Aku yang masih berumur 5 tahun! Dan wanita yang bersama anak kecil ini adalah nenekku! Aku bisa memastikan itu!

Jadi… aku datang ke masa lalu? Ah! Tidak tahu!

“Dik… eh maksudku Rian. Sekarang kamu tahu ‘kan situasi di kereta sangat genting? Banyak nyawa yang harus kamu tolong. Kamu tahu ‘kan bagaimana caranya menyingkirkan kedua pembajak itu?”

Sekarang aku sangat yakin sekali! Ini adalah kisah fantasi yang pernah kuciptakan! Dulu aku membayangkan bahwa aku memiliki kekuatan untuk terbang dan bisa mengalahkan siapa pun!

“Heh! Kenapa lama sekali di dalam?!” Pria itu menggedor-gedor pintu toilet.

“S-sebentar, Pak! Saya sedang memakaikan celana adik saya!” balasku mengawur. Kemudian aku berbisik pada Rian, si ‘aku’ di masa kecil. “Rian, sekarang di depan toilet ada Bapak-bapak bawa pistol. Kamu harus—”

“Tenang saja, Om. Aku tahu apa yang harus kulakukan,” ucapnya dengan tenang.

Kemudian kami berdua keluar dari toilet. Aku melirik ke arah pria itu yang sedang menatap kami dengan garang. Tiba-tiba saja Rian langsung meloncat ke arah pundak pria itu dan memukul tengkuk kepalanya! Tanpa ada perlawanan, pria itu langsung tergeletak di lantai gerbong.

“W-wow…” Aku tidak pernah menyangka fantasiku bakal ‘seliar’ ini. “B-bagus, Rian. Kamu keren…” pujiku pada Rian.

Tapi hal ini diketahui oleh pria lain yang berada di dalam gerbong. Aku melihatnya sedang berlari ke arah kami. Namun tiba-tiba saja Rian membuka pintu gerbong dan langsung terbang ke arah pria itu!

Rian mengunci leher pria itu menggunakan kakinya. Terjadi pergolakan yang hebat karena badan Rian menutupi penglihatan pria itu. Beberapa penumpang yang di sekelilingnya hanya bisa berteriak karena takut terkena peluru yang menyasar.

Tiba-tiba seorang wanita berbaju putih yang tadi duduk di sampingku berdiri, menghampiri pria itu dan Rian. Dia mencoba membantu Rian dengan memegangi tangan pria itu untuk mengambil pistol yang sedang dipegangnya.

Rian hendak melakukan hal yang sama pada pria itu, yaitu memukul tengkuk kepalanya. Tetapi tiba-tiba sekelebat memori lewat di dalam otakku. Ini semua—

“Rian! Jangan dipuk—” Rian sudah terlanjur memukul tengkuk kepala pria itu. Dan wanita itu juga berhasil mengambil pistol dari pria yang kini sudah tersungkur di lantai.

Kini aku ingat semuanya! Dari awal aku juga merasa semua ini begitu janggal!

Aku baru ingat kalau ternyata kedua pria yang kini tersungkur itu adalah seorang polisi! Mereka berdua sedang mencari pelaku bom yang menyamar menjadi penumpang di sini! Ah! Semuanya jadi kacau!

Tiba-tiba wanita berbaju putih itu menarik Rian dan menodongkan pistol ke arahnya. Semua penumpang langsung tegang, terutama aku! Bagaimana nasibku di masa depan nanti?!

“Terima kasih ya, adik kecil. Sudah membantu Kakak untuk menyingkirkan dua polisi ini,” kata wanita itu sambil tersenyum sadis. Ternyata wanita itu adalah pelakunya! “Tapi Kakak sudah tidak butuh bantuan kamu, lebih baik kita mati bersama saja, ya?”

Wanita itu langsung menarik pelatuk, dan… DOR! Rian langsung tersungkur ke bawah, diiringi oleh teriakan histeris penumpang. Belum sampai di situ, tiba-tiba wanita itu mengarahkan pistol ke arah kepalanya dan…

“Semoga kita semua bertemu di neraka!”

DOR!

Penumpang semakin histeris. Wanita itu terjatuh, dan sepertinya nyawanya sudah tidak bersarang di tubuhnya lagi.

Aku langsung menghampiri Rian yang kini tergeletak tak bernyawa. Neneknya juga ikut menghampirinya, membawa tangis yang tak tertahankan.

“RIAN! RIAAAAAAAAN!”

Aku sudah tidak bisa berkata lagi. Tanganku gemetar menopang tubuh kecil itu. Apa ini merupakan akhir kisahku? Apa aku sudah tidak ada lagi di masa depan nanti? Atau…

Tunggu… Benda apa ini? Benda berwarna perak dengan salah satu ujungnya yang lancip. Bukankah ini peluru?

“Aduh… kepala Rian pusing…”

Tiba-tiba Rian terbangun. Astaga! Aku lupa kalau Rian memiliki kekuatan besi pada tubuhnya! Ya ampun! Kenapa aku bisa lupa sih kalau aku menciptakan fantasi diriku menjadi seorang manusia baja?

“Ri-Rian? Riaaan!” teriak wanita itu yang notabene adalah nenekku. Semua penumpang diserang kaget sekaligus heran dengan kejadian barusan.

“Aduh, Nek! Sesak, Nek! Sesak!”

Nenekku langsung melepas pelukannya pada Rian. Mungkin dia sudah tidak tahu kata-kata apa lagi yang harus diucapkannya selain bersyukur akan mukjizat yang dialami oleh Rian, ‘aku’ di masa kecil dan di fantasiku.

Sekarang aku ingat di mana letak bom itu berada!

Aku langsung berdiri dan berteriak. “SEMUA YANG ADA DI SINI, LANGSUNG PINDAH KE GERBONG PALING UJUNG KARENA BOM TERLETAK DI SALAH SATU BANGKU PENUMPANG DI SINI! BERITAHU PENUMPANG DI GERBONG LAINNYA AGAR SEGERA PINDAH KE GERBONG TERAKHIR!”

Para penumpang langsung berbondong-bondong keluar dari gerbong ini dan pindah menuju gerbong paling terakhir. Kemudian aku menatap nenekku.

“Nek, Nenek harus ke belakang gerbong sekarang. Biar aku sama Rian yang menyelesaikan masalah ini.”

“Tapi Rian masih kecil! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya?”

Aku menelan ludah, tidak percaya bahwa nenekku bisa berkata seperti itu padaku. Padahal ‘kan aku juga cucunya… Cucu masa depannya…

“Nek.” Kali ini Rian yang berbicara. “Sekarang Nenek harus ke gerbong paling akhir, nanti Rian menyusul, kok. Oke, Nek? Nenek mau punya cucu yang terkenal, tidak? Nanti aku masuk koran dan televisi lho gara-gara menyelamatkan nyawa orang banyak!”

Sebenarnya aku mau tertawa, tetapi suasananya sedang tidak pas.

“Awas kamu kalau tidak menyusul Nenek!” Kemudian nenekku berdiri, meninggalkan kami berdua.

“Om! Om tahu di mana letak bomnya?”

Apakah aku setua itu hingga anak kecil ini memanggilku dengan sebutan ‘Om’?! Ah! Itu tidak penting! Lagipula, anak kecil itu adalah aku di 15 tahun yang lalu, jadi aku mengatai diriku sendiri. Ah, peduli amat! Sekarang aku harus menyelamatkan nyawa penumpang di kereta ini!

“Di bawah bangku wanita tadi! Pasti di sana!”

Kemudian aku dan Rian berlari menuju bangku wanita yang kini sudah terkapar tak bernyawa. Aku langsung melihat ke arah kolong, dan ternyata benar! Di sana terpasang bom yang sudah diaktifkan oleh wanita tadi! Sialan!

30 detik lagi! ARGH!

Jantungku langsung berpacu dengan cepat. Aku tidak mau mati sekarang, dan aku juga tidak mau Rian kecil ini mati bersamaku. Aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang bom, dan aku tidak tahu bagaimana cara mematikannya.

20 detik lagi…

“Om, bagaimana?” tanya Rian padaku.

Aku menarik napas sejenak. Kalau Rian harus mati, berarti di masa depan aku sudah tidak ada lagi. Jadi… lebih baik aku yang mati dan membiarkan Rian tetap hidup.

“Rian! Dengarkan Om!” Aduh! Kenapa aku sendiri menyebut diriku dengan sebutan Om sih?! “Kamu harus melepaskan sambungan kereta gerbong ini! Kita harus menyelamatkan orang-orang di belakang kita!”

“I-iya, Om!” Rian langsung bergegas ke belakang gerbong, melepaskan kait yang menghubungkan gerbong ini dengan gerbong selanjutnya.

“Dan kamu juga harus hidup…”

BOOOM!

“MasyaAllah!” Tiba-tiba seseorang yang tidak kukenal mengagetiku. Eh? Kenapa… “Mengagetkan saja sih, Mas!” Lho? Kenapa dia yang kaget? “Ini sudah sampai di stasiun terakhir, Mas! Mau balik lagi ke Malang?”

Hah? Stasiun terakhir? Malang? Aduh! Apaan sih?

“Ini Stasiun Pasar Senen, Pak?”

“Iya, Mas. Tinggal Mas saja yang belum turun.”

Jadi… tadi aku hanya bermimpi? Tidak ada Rian kecil? Nenekku? Dua polisi? Wanita berbaju putih? Dan bom?

Aku tertawa sendiri. Ternyata tadi hanya mimpi belaka. Lagipula, aku tidak mungkin bertemu dengan diriku sendiri di masa kecil, dan mengalami fantasi yang pernah kuciptakan. Semuanya hanya imajinasi, mungkin karena akhir-akhir ini aku sedang stres memikirkan hasil ujian-ujianku.

Aku mengambil barang-barangku dan turun dari kereta. Kepalaku agak sedikit pusing karena terlalu lama tidur di kereta. Mungkin karena pengaruh obat anti mabuk yang kuminum, hingga aku tertidur seperti orang mati.

“Ooom!” Tiba-tiba ada seseorang yang kurasa sedang memanggilku. Aku menengok dan menemukan… “Terima kasih ya coklatnya!”

Ri…an? Rian?!
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Cita-cita Keluarga

Saturday, July 11, 2015 By astaghiri 0 Comments
Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘The Chronicles of Audy: 4/4’





“Au, SBMPTN milih apa?” tanya Missy ketika Audy lagi asyik memakan bekalnya. Tapi hasratnya melarut gara-gara Missy dengan tiba-tibanya bertanya seperti itu padanya.

Audy memutar bola matanya. “Sy, bisa nggak sih buat nggak ngomongin itu dulu? Ngerusak mood makan gue aja,” balas Audy dengan raut sebal. Padahal sehabis itu dia tetap menyuap bekalnya, tapi rasanya berbeda karena nikmat makanannya sudah menghilang.

“Lo tetep milih kedokteran, kan?”

Sekali lagi Audy melirik ke arah Missy. Entah kenapa rasanya kok nyesek banget kalau lagi ngomongin masalah itu. Belum lagi dia juga lagi dilema harus memilih apa karena sebentar lagi ujian SBMPTN akan dilaksanakan.

Dilema? Oh! Audy nggak perlu merasakannya karena orang tuanya—oh bukan, tapi KELUARGANYA—sudah dan pasti menyuruh Audy untuk memilih jurusan kedokteran yang notabene IQ siswanya pasti di atas rata-rata.

“Yah, mau gimana lagi. Itulah kemauan keluarga gue. Emangnya gue bisa apa? Ngelawan?” Missy cuma bisa diam melihat raut wajah lelah Audy yang akhir-akhir ini sering ngalor-ngidul di tempat les. “Gue cuma takut nggak bisa kuliah, Sy.” Tiba-tiba mata Audy terasa panas. Rasanya ia kepengin menangis ketika keinginannya untuk kuliah di luar kedokteran ditolak mentah-mentah oleh keluarganya.

***

Belum sempat melepas lelah dari tempat les, Audy dikejutkan oleh Regan yang sedang duduk manis di depan laptopnya. “Au, Kakak udah daftarin ujian SBMPTN kamu.”

“WHAT?!” Audy langsung menghampiri Regan dan melihat layar laptop yang terpampang kartu peserta dirinya. Rasanya kaki Audy mau putus melihat pilihan jurusannya. KEDOKTERAN TIGA-TIGANYA! “Kok Kakak nggak bilang ke Audy dulu sih?!”

“Kakak tadi disuruh Mama cepet-cepet buat ngedaftarin kamu. Lagian udah fix kedokteran, kan?”

Audy merasakan dadanya begitu sesak. Pantas saja ketika memasuki rumahnya ini dia sudah merasakan hawa yang aneh. Jadi ini penyebabnya?

“ARGH!” Tiba-tiba Audy histeris, mengagetkan Regan dan juga kedua orang tuanya yang kebetulan berada dekat di ruang keluarga. “TERSERAH KALIAN, DEH! OH YA! EMANG TERSERAH KALIAN! PERCUMA JUGA KALO AUDY MINTA JURUSAN YANG LAIN!” Audy menahan air matanya agar tidak mengalir di pipinya. “KARENA NGGAK BAKAL ADA YANG MAU DENGERIN!”

Audy langsung berlari ke tangga menuju kamarnya. Dia menutup pintunya dengan keras dan menguncinya dengan rapat. Dia langsung melompat ke kasur dan menutup wajahnya dengan bantal, menangis dalam kehampaan malam tanpa bintang.

***

Sedih rasanya mengingat kejadian kemarin. Sebenarnya, bukan hal itu yang membuatnya sedih, tapi sudah dari awal dia tidak percaya diri dengan kemampuannya. Belum lagi hasil TO miliknya masih jauh sekali untuk menggapai ‘cita-cita keluarganya’ tersebut.

“Audy sayang?” panggil mamanya di balik pintu. “Mama bawain martabak kesukaan kamu, lho. Mau nggak?”

Audy hendak menolak, tapi apa daya dengan perut konsernya tersebut. Akhirnya dia beranjak dari kasur dan membukakan pintu untuk mamanya. “Apaan sih, Ma? Kayak mau ke rumah mertua aja pake bawa martabak segala,” Audy mengambil piring martabak dari tangan mamanya dan membawanya ke kasur. Mama duduk di depan Audy selagi dia melahap martabaknya.

“Au, jangan ngunyah mulu ya? Dengerin Mama.” Audy terdiam sejenak, dia tidak berani menatap mamanya. Dia tahu bahwa hal ini akan terjadi. “Mama nggak maksa kamu, Nak. Kita semua nggak maksa kamu. Kami hanya ingin membantu kamu, karena kami tau sebenarnya kamu ingin ke dunia sana dan punya bakat di sana, hanya saja—”

“Tapi Audy nggak pinter, Ma!”

“Kalo kamu potong omongan Mama, martabak kamu Mama ambil satu.” Audy kembali terdiam, menjauhkan piringnya dari jangkauan mamanya. “Cobalah kamu belajarnya lebih serius, jangan main-main. Kurang-kurangin tuh nonton animenya,” Mama melirik ke arah Audy dengan jutek. Audy hanya bisa mesem-mesem malu. “Mama yakin kamu bisa. Kamu itu sebenernya pinter, tapi kebanyakan main jadinya ya begini.”

“Satu lagi, Ma!” Tiba-tiba Regan sudah berada di depan pintunya. Bukan hanya Regan, tapi papanya juga! “Dia pacaran mulu!”

“Apaan sih, Kak!” Pipi Audy langsung bersemu merah.

“Kakakmu ini kan calon arsitek, Au,” papanya ikut menimbrung. “Jadi kalau mau bikin rumah, ya tinggal ke kakakmu ini aja. Nah, kalo ada yang sakit, kita tinggal ke kamu. Jadinya kan enak.” Audy mengembuskan napasnya yang sedari malam terasa sesak. Ternyata dia baru sadar bahwa keluarganya lebih peduli dibandingkan dirinya sendiri. “Tapi ingat Au, ingat pesan Papa. Kalau kamu mau jadi dokter, jangan karena uang, tapi karena kamu ingin menyembuhkan orang lain. Tertanda, Papa Golden Ways.”

Semua yang berada di kamar Audy tertawa dengan hangatnya.

“Lagian dari kecil kamu ada bakat jadi dokter kok!” Regan angkat suara lagi. “Kamu inget nggak dulu pernah ngebelek ikan yang abis dibeli sama Mama?”

“Iya! Iya! Mama inget! Mama kira itu darah kamu, nggak taunya darah ikan.” Mama tersenyum lebar. “Mama kaget lho kalo abis itu kamu nggak nangis, padahal Regan aja kalo ngeliat darah dikit langsung kejang-kejang.”

“Yee! Kok Mama jadi ngomongin Regan, sih?”

Audy tersenyum puas. Sangat puas. Akhirnya dia mendapatkan jawaban yang selama ini dia pikir terlalu menyesakkan. Tapi ternyata setelah mendengarkannya, ini semua justru terlalu melegakan.

Mereka peduli dengan Audy. Mereka menyayangi Audy. Dan tentu saja, Audy sayang dengan mereka semua.


Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Tami

Thursday, July 10, 2014 By astaghiri 5 Comments
“Cit, lo nggak mau kenang-kenangan dari gue nih? Sini, baju lo biar gue yang coret-coret.”

Derry mengambil spidol perak yang berada di dalam saku seragamnya. Seragamnya kini penuh dengan coret-coretan pilox warna-warni. Berbeda dengan seragam Cita yang masih putih bersih. Belum tercoret sedikit pun—kecuali noda pulpen yang tercoreng di ujung lengan seragamnya.

“Nggak bisa,” Cita langsung menolak. “Karena hari ini adalah hari kelulusan, the first person yang harus coret-coret seragam gue adalah—”

“Of course guelah,” sahut seseorang yang kini sudah berdiri di belakang punggung Cita. Cita langsung membalikkan tubuhnya. Ia melihat Inov memegang spidol berwarna hitam di tangannya dengan tutup spidolnya yang sudah terbuka. Cita langsung melotot ke arah Inov.

“Kampret! Lo coret-coret apaan di punggung gue?!” damprat Cita langsung. Inov nggak kaget mendengar bentakkan Cita. Toh dia memang sudah terbiasa mendengar gadis itu mengomel-ngomeli dirinya.

“Mau tau apa mau tau banget?” Inov langsung tersenyum meledek. Kemudian, ia membungkuk mencari tutup spidol yang sempat terjatuh.

Tanpa aba-aba, Cita langsung menjatuhkan sikutnya pada punggung Inov dan menekannya dengan keras. Inov langsung terjatuh begitu mendapat serangan dari Cita. Walaupun Inov sudah seringkali mendapat serangan mendadak dari Cita, bukan berarti dia sudah merasa kebal mendapat serangan dari Cita.

“Cita!” bentak Inov langsung. “Punggung gue masih biru gara-gara lo tinju pake sikut lo tiga hari yang lalu!”

“Siapa suruh coret-coret seragam gue?!” Cita nggak mau kalah ketusnya. “Ah elah! Kampret banget sih lo, Nov! Harusnya orang pertama yang boleh coret-coret baju gue tuh orang yang spesial buat gue!”

“Ya orang yang spesial di hati lo kan cuma gue. Emangnya ada yang lain?”

Cita langsung menoyor kepala Inov begitu Inov berdiri. Lagi-lagi cewek itu main kasar dengannya. Tapi, bukan Cita namanya jika nggak berani bermain tangan seperti itu pada cowok seperti Inov. Lagipula, memang dari awal Inov sendiri yang jahil pada Cita.

“Spesial nenek lo! Nih seragam sengaja gue nggak bolehin orang lain coret-coret biar pacar gue bisa jadi orang pertama yang punya kenangan di seragam gue!” tutur Cita sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

Inov langsung menaikkan salah satu sudut bibirnya. “Pacar? Sejak kapan lo punya pacar?”

“Pu—punya lah! Emangnya elo? Haha.”

“Paling cuma calon pacar,” cela Inov langsung.

“Itu...”

“Oh, bukan. Tapi gebetan. Palingan juga cuma calon gebetan.”

“...”

“Gue bener, kan? Hahaha.”

“...”

Cita memandangi Inov. Seragam putihnya sudah dipenuhi coret-coretan spidol dan pilox. Tapi, belum sedikit pun Cita menyoret seragam Inov. Itu pun karena Cita memang sengaja menyembunyikan dirinya agar seragamnya tidak dicoret-coreti oleh siapa pun. The first person.

“Yah ngambek.” Inov langsung memberikan spidol hitam miliknya. “Nih, coret-coret seragam gue. Lo kan sahabat gue, jadi coret-coret deh sepuas lo.”

Dengan kasar, Cita langsung mengambil spidol dari tangan Inov. Kemudian, ia membalikkan tubuh Inov dan membuka kerah seragamnya—bagian seragam yang belum tercoret spidol sedikit pun. Sambil menulis hal yang tidak diketahui Inov, Cita berkata, “Gimana sama si Anu?”

Inov langsung mengerutkan keningnya. “Anu? Anu siapa? Emang di sekolah kita ada yang namanya Anu?”

Sambil berdecak sebal, lagi-lagi Cita menoyor kepala Inov. “Capek gue ngomong sama lo.” Setelah selesai mencoret bagian kerah seragam Inov, Cita menutupnya spidolnya kembali.

Inov membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Cita. “Capek? Ya udah yuk kita tidur,” katanya sambil memegang kedua bahu Cita.

Cita refleks menonjok dagu Inov. “Tidur mbahmu!”

“Cit! Sakit!” erang Inov.

“Sakit ya?” Citra nenyeringai lebar. “Rasain tuh.”

“Rasanya nggak enak, nggak ada rasa stoberi apa?”

Cita langsung mengepalkan kedua tangannya tepat di depan wajah Inov. “Adanya yang kanan rasa jambu, terus yang kiri rasa melon. Pilih mana?”

“Pilih hati kamu aja deh, hehe.”

Sumpah. Rasanya Cita benar-benar kepengin nonjok Inov lagi. Tapi kasihan, seminggu ini sepertinya dia sudah menyiksa Inov dengan bogem mentahnya. Lagian siapa suruh menjahilinya?

“Nov!” teriaknya. “Lo nyebelin banget sih jadi orang!”

“Emang,” jawab Inov santai. “Nyebelin tapi ngangenin kan?”

Cita sudah bersiap dengan sikutnya, siap ingin menerjang dada Inov. Tapi Inov langsung membuat tameng dengan tangannya. Dia juga langsung minta ampun pada Cita.

“Iya! Ampun Cit! Ampun!”

Cita menurunkan sikutnya. “Gebetan lo gimana? Nggak mau minta kenang-kenangan?” Cita mengubah arah pembicaraan.

“Ya nggak gimana-gimana. Belom tuh.”

Cita menyipitkan matanya. Sampai sekarang, Cita nggak tahu siapa yang menjadi kecengannya Inov. Inov sama sekali nggak mau cerita. Itu pun dia tahu bahwa Inov punya kecengan gara-gara Inov suka berkelakuan aneh. Tapi dia tetap nggak tahu siapa cewek yang jadi incaran Inov!

“Siapa sih ceweknya?” selidik Cita.

Kini gantian Inov yang menyipitkan matanya. “Yakin lo mau tau?”

Cita mengangguk penuh. Tapi dari auranya sih kayaknya Inov tetap nggak mau kasih tahu siapa cewek itu. Mengingat, belum lama ketika Inov memberitahu cewek incarannya waktu itu, entah apa yang Cita lakukan, intinya cewek gebetannya langsung menjauh begitu saja.

“Nggak mau ah! Rugi gue kasih tau elo!”

“Yah, Nov,” ringis Cita. “Kok lo gitu banget sih sama gue?”

“Bodo amat,” sarkas Inov. “Nah lo sendirinya nggak mau ngasih tau siapa gebetan lo itu.”

Cita langsung terperanjat. “Eh itu...”

“Itu apa?”

Cita melirik ke arah Inov. Tiba-tiba saja tangannya menepuk keras lengan Inov. “Elo sih! Udah tau gue sengaja nggak ngebiarin orang lain nyoret-nyoret baju gue. Elo malah main nyosor aja! Ini buat dia tau!”

“Yee biarin aja. Berarti emang bukan rejeki lo,” balas Inov sambil melirik ke arah Cita. “Mumpung gue lagi baik nih ya, gue bantuin deh buat dapetin kenang-kenangan dari gebetan lo itu,” tawar Inov sambil melipat kedua tangannya.

“Serius lo?”

Inov membalas dengan satu anggukan. “Tapi kasih tau dululah siapa tuh cowok.”

Sejenak Cita ragu. Masa iya dia mau kasih tahu siapa gebetannya? Bisa malu tujuh turunan dia...

“Gimana? Tawaran gue langka lho, Cit.”

Cita melirik ke arah Inov. Yah, biasanya sih Inov memang selalu menolongnya. Namun bukan itu yang dikhawatirkannya. Tapi...

“Oke,” kata Cita tegas. “Orangnya nggak jauh dari kita kok...”

“Siapa?”

“...”

Tiba-tiba Cita melirik ke arah lain. Bukan cuma setengah detik, bahkan Cita melirik cukup lama. Hal itu membuat Inov juga menolehkan kepalanya. Kemudian dia kembali menatap Cita.

“Jangan bilang...”

Cita menoleh ke arah Inov, tapi nggak mau menjawab. Dan itu artinya, iya.

Tiba-tiba Inov tertawa lebar. Cita cuma bisa menunduk. Padahal Cita sama sekali belum memberitahunya. Salah matanya juga sih yang main lirik-lirik.

“Udah puas lo ketawa?”

“Belom, belom. Hahahahaha...”

“Ah nggak tau ah!” Cita langsung ngambek. Gimana nggak ngambek coba? Masa orang yang disukainya diketawai oleh Inov?

“Yeee malah ngambek,” Inov menghentikan tawanya, walaupun dia masih menyeringai lebar. “Jadi beneran nih lo suka sama pedangdut itu?”

Cita melirik ke arah Inov, malu.

Namanya Fiko. Cita dan Inov sekelas dengan cowok itu. Memang sih cowok itu ganteng, tampilannya juga selalu rapi. Tapi ada satu masalah yang ngebuat cewek-cewek rada ilfeel sama Fiko. Yah, selera musiknya itu. Dia senang banget dangdut. Kayaknya dangdut mana pun pasti dia hapal.

Ya iya sih, dangdut itu khas Indonesia. Tapi kan nggak banget gitu lho...

Cita menunduk lagi, dan artinya itu, iya.

“Oke, gua bakal bantuin lo,” kata Inov yang kembali membuat Cita menatap ke arahnya. “Tapi gue punya syarat.”

“Lah, tadi kan syaratnya udah, masa ada lagi?” sarkas Cita.

“Yee. Itu mah bukan syarat, itu adalah ketentuan. Gimana gue mau ngebantuin lo kalo gue nggak tau orangnya?”

Yah, benar juga sih kata Inov. Ya sudahlah. Apa boleh buat? Lagipula, nggak ada salahnya ngebantu Inov.

“Ya udah, apa syaratnya?”

Inov hanya membalas dengan seringainya.

***

Sesuai janjinya tadi, Inov mau membantu Cita untuk mendapat kenang-kenangan dari si pendangdut itu, eh maksudnya Fiko. Tapi masalahnya, Fiko sendiri sudah punya pacar. Dan pacarnya itu persis banget permen karet, nempel mulu kerjaannya.

“Orangnya lagi di kantin tuh,” Inov menyenggol Cita menggunakan sikutnya.

Cita mengikuti mata Inov yang juga menatap ke arah Fiko. Yah sudah dibilang, Fiko selalu nempel sama pacarnya terus.

“Ada penjaganya, Nov,” kata Cita terdengar pasrah.

Inov mengibaskan tangannya di depan wajah Cita. “Ah, itu mah gampang. Bentar, gue samperin dulu anaknya. Ntar kalo gue kasih aba-aba, lo baru ke Fiko.”

Inov berlalu dari samping Cita. Cowok itu menghampiri Fiko di kantin. Nggak lama, akhirnya dia sampai di meja Fiko dan pacarnya. Entah, Cita sendiri nggak tahu Inov ngomong apa sama Fiko dan pacarnya. Yang jelas, setelah Inov berbicara, pacar Fiko pergi meninggalkan mereka berdua.

Setelah itu, Inov berbicara lagi dengan Fiko yang dibalas dengan anggukan. Kemudian dia memberi aba-aba pada Cita. Cita terperanjat, karena Fiko juga menatapnya sembari tersenyum. Akhirnya dia menghampiri Fiko dan Inov.

“Kok lo bisa sih...” bisik Cita pada Inov.

“Bisalah, gue gituloh,” sahut Inov bangga. “Gue aja bisa ngelerai ultraman sama gozila, masa yang kayak gini doang nggak bisa?”

Cita hanya memutar bola matanya, kemudian fokus pada Fiko. “Hai Fik,” sapa Cita kikuk ketika sudah sampai di meja mereka.

“Hai juga, Cit,” balas Fiko ramah. “Katanya lo mau dapet kenang-kenangan dari gue ya?”

Dalam hati Cita malu banget. Pasti tadi Inov ngomongnya langsung to the point.

“Hehe, iya. Boleh, kan?”

“Ya bolehlah. Masa nggak sih?”

Acara basa-basi itu dilanjutkan dengan foto-foto menggunakan ponsel Cita sendiri. Lagi-lagi Inov dijadiin kacung. Yah, nggak apa-apa sih, asal nanti Cita mau membantunya balik.

“Thanks ya, Fik,” kata Cita setelah selesai berfoto dengan Fiko sekaligus minta tanda tangan atau tulisan apa pun yang mau Fiko tulis di seragamnya. “Dan selamat buat kelulusannya,” Cita menjabat tangan Fiko dan dibalasnya hangat.

“Ya Cit, selamat juga ya.”

Inov juga memberi selamat, akhirnya mereka pergi dari kantin.

“Gimana? Udah puas?” tanya Inov.

Cita membalas dengan tersenyum lebar. “Thanks ya Nov.”

“Eits, makasih doang mah nggak cukup keles.”

“Iya-iya, tapinya emang mau langsung nyari barang buat gebetan lo pake seragam kayak gini?”

“Ya nggaklah,” tepis Inov. “Lo pulang dulu, nanti jam empat gue jemput. Awas aja lo kalo belom mandi.”

Cita membalas dengan menoyor kepala Inov. Tuh cowok memang nggak bisa untuk nggak disiksa sehari pun.

 ***

Cita menunggu di ruang televisi hingga motor Inov terdengar berhenti di halaman rumahnya. Nggak perlu disamper, karena Inov sendiri langsung nyelonong masuk ke dalam rumah. Yah, itu sih kebiasaannya.

Tapi dia nggak menghampiri Cita, justru dia menghampiri mamanya. Biasalah, kalau bertemu pasti cium tangan dulu. Itu satu-satunya sikap sopan yang Cita kagumi dari Inov, tapi yang lainnya enggak.

Inov juga pamit mau ngajak Cita sebentar keluar karena ada perlu. Yah, mamanya sih nggak perlu khawatir lagi. Toh dia sudah mengenal Inov lebih dari lima tahun.

Sekarang, Cita sudah berada di atas motor bersama Inov menuju mall terdekat. Cita masih heran siapa cewek yang jadi incaran Inov.

“Cewek lo siapa sih Nov?”

“Dia beloman jadi cewek gue,” kata Inov kalem. “Gue nggak mau kasih tau, ah. Kan intinya lo mau ngebantuin gue cariin barang yang disukain cewek. Gue nggak minta lo buat ngelakuin hal yang gue lakuin tadi ke Fiko kok...”

Cita langsung memukulkan helmnya yang belum dipakainya ke arah helm yang terpasang di kepala Inov. Inov langsung meringis. Ya gimana nggak sakit coba?

“Lama-lama gue gegar otak nih gara-gara lo! Awas aja kalo sampe beneran kejadian!”

Cita membalas dengan memeletkan lidahnya ke spion yang membias ke arah Inov. Inov cuma bisa memutar bola matanya.

Nggak lama, akhirnya mereka sampai juga. Cita langsung mengusulkan untuk ke toko pernak-pernik. Yah, mau nggak mau Inov harus mengikuti Cita, ini kan kemauannya.

“Ayo, Nov! Masuk!” paksa Cita sambil menarik tubuh Inov agar mau masuk ke dalam toko pernak-pernik tersebut.

Gimana nggak mau masuk coba? Itu isinya pernak-pernik cewek semua, yang beli juga rata-rata cewek. Kecuali orang pacaran yang benar-benar dipaksa sama ceweknya buat nemenin dia.

“Itu cewek semua Cit...” ringis Inov. “Malu gue...”

“Bodo amat!” sarkas Cita. “Yang mau kan elo, ya harus terima resikolah! Ayo!” tarik Cita lagi. Tapi Inov masih kukuh di tempatnya. “Kalo lo nggak mau masuk, gue pulang nih!” ancamnya.

“Eh, iya-iya!” Pertahanan Inov langsung luruh. Mau nggak mau akhirnya dia masuk ke toko itu dengan ditatap geli sama cewek-cewek yang ada di sana.

“Tipe gebetan lo apa?” tanya Cita ketika lagi melihat-lihat bando yang terpajang di sana. Entah mengapa sekarang rasanya dia nggak mau membantu Inov. Baru sekarang. Tapi dia juga nggak mungkin menolak karena Inov sudah membantunya tadi.

“Tipe? Hmm...” Inov berpikir sejenak. “Agak feminin sih kalo kata gue.”

Gue nggak feminin.

Cita terperanjat sendiri karena tiba-tiba saja di pikirannya terlintas hal seperti itu. Apa sih yang ada di pikirannya? Mau dia feminin atau enggak, peduli apa memangnya? Toh dia melakukan ini untuk membantu Inov. Cuma itu.

“Apalagi?” Suara Cita terdengar serak kali ini. Sepertinya Inov nggak menyadarinya karena dia juga sibuk melihat-lihat pernak-pernik di sana.

“Emang tipe-tipe cewek itu banyak ya?” tanya Inov polos.

Cita menghela napasnya. “Ya iyalah! Contohnya kayak gue—”

“Ah! Elo mah bukan cewek. Contoh lain aja kenapa,” potong Inov.

Cita langsung memutar bola matanya. Tadinya dia kepengin menonjok apapun ke arah Inov, yang penting kena. Tapi mengingat mereka lagi di daerah seperti ini, Cita mengurungkannya.

“Hmm... oke. Tadi kata lo sedikit feminin kan? Rata-rata cewek feminin itu suka warna pink, ya nggak pink juga sih. Ya pokoknya suka warna yang soft gitu deh, nggak mencolok gitu,” tutur Cita panjang lebar. Kemudian dia mengambil salah satu bando yang berwarna soft pink berpolkadot. “Contohnya kayak gini.”

“Coba pake.”

Cita sedikit terperanjat. Kenapa harus dia yang memakainya?

Tapi entah kenapa Cita menuruti perintah Inov. Dia menatap ke arah Inov dengan tatapan membulat.

Inov memerhatikan Cita sebentar dan hal itu membuat Cita salah tingkah. Ada apa sih dengannya? Ini kan cuma Inov. Inov.

“Ah, nggak cocok buat dia,” Inov langsung melepas bando tersebut dari kepala Cita. Kemudian dia mengambil bando yang lain dan dipasangkan ke kepala Cita. Lagi-lagi Cita berdegup!

“Kok kayaknya nggak cocok ya?” Bukan pertanyaan untuk Cita, melainkan Inov menggumam pada dirinya sendiri.

Cita melepaskan bando tersebut dari kepalanya sekaligus mencoba melepaskan rasa salah tingkah yang datang tiba-tiba tersebut. Kali ini entah mengapa dia nggak berani untuk menatap ke arah Inov.

“Kenapa nggak gelang aja?” usul Cita sambil melangkah menuju rak-rak bagian gelang.

“Lah yang nyontohin bando kan elo, gue cuma ngikut-ngikut doang,” sahut Inov nggak mau kalah.

Cita melatih napasnya sejenak untuk membuang sisa-sisa rasa salah tingkahnya pada Inov.

Ini cuma Inov, Cit. Cuma Inov, oke.

“Warna kulit tuh cewek apaan?” Pertanyaan Cita agak terdengar ketus. Tapi Inov nggak memedulikannya, mungkin dia ngambek gara-gara diketusin tadi.

“Kayaknya nggak putih-putih banget, lebih ke langsat tapi keliatan bersih.”

“Hmm... warna cokelat bagus kali ya?”

“Ah, ya udah. Gue juga suka warna cokelat.”

Cita meniti gelang-gelang yang berada di hadapannya. Semuanya menarik. Tapi ada satu gelang yang membuat Cita benar-benar tertarik, dan warnanya juga cokelat.

Gelangnya memang sederhana, tapi justru yang sederhana itulah yang membuat gelang itu anggun. Walaupun Cita nggak feminin, dia merasa benar-benar tertarik dengan gelang itu sampai akhirnya dia mencobanya di pergelangan tangannya sendiri.

“Gimana?” Cita menanyakan pendapat yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya, bukan dia yang dimaksud oleh Inov.

“Bagus-bagus,” sahut Inov sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Kayaknya cocok buat dia.”

Dia, lagi. Dalam hati, entah kenapa Cita merasa dia nggak ikhlas membantu Inov memilih gelang-gelang itu.

Cita melepas gelang tersebut. “Jadinya yang ini nih?”

Inov mengangguk. “Ada yang mau lo beli nggak? Mumpung di sini nih, nanti pas pulang ngambek kepengin ke sini lagi,” candanya.

“Yee!” Cita hampir saja ingin melempar gelang itu ke arah Inov. “Nggak ah, gue nggak begitu doyan pake pernak-pernik. Nggak ada yang mau lo beli lagi?”

“Nggak deh. Kayaknya ini cukup.”

Cita berjalan menuju kasir, sedangkan Inov langsung keluar dari toko tersebut. Inov sempat memesan agar gelang itu dibungkus di kotak yang kecil. Yah, namanya juga hadiah kenang-kenangan.

Setelah selesai membayar, mereka menyempatkan diri untuk makan di food court terlebih dahulu. Cita yang masih penasaran, akhirnya menanyakan hal yang sama pada Inov lagi, tentang cewek itu.

“Nov, cewek yang lo gebet siapa sih?”

Inov mengangkat matanya dari menu. “Kepo dah lu.”

“Ih serius! Lo mau gue mati penasaran?”

“Emangnya lo kepengin mati hari ini?”

Duh, susah deh kalau ngomong sama cowok kolot itu.

Cita langsung ngambek, tapi hal itulah yang membuat Inov terpancing.

“Iya deh, iya,” Akhirnya Inov mengalah. “Sama sih kayak gebetan lo. Dia—”

“Lo suka juga sama Fiko?!” pekik Cita. Inov langsung memukul kepala Cita menggunakan lembaran menu.

“Tuh kan, giliran gue mau kasih tau, lo-nya begitu.” Gantian Inov yang ngambek.

Cita cuma bisa nyengir. “Hehe. Iya dah. Siapa sih? Temen sekelas kita?”

Inov masih sok ngambek. Dia pura-pura nggak mendengarkan Cita dengan membaca menu. Tapi Cita nggak mau nyerah. Akhirnya dia mencubit tangan Inov.

“Auw! Sakit Cit!” erang Inov.

“Makanya kasih tau buruan!” desak Cita.

“Menurut lo, emang siapa yang paling cantik di kelas?”

“Guelah,” sahut Cita.

“Yee! Mimpi aja lo sana.”

Cita sedikit memajukan bibirnya. Kemudian dia berpikir sejenak. Siapa ya yang paling cantik di kelasnya...

“Tami?”

Inov menatap ke arah Cita, tapi dia cuma diam. Dan itu artinya, iya.

Entah mengapa sekarang Cita merasa sesak. Padahal udara di sini baik-baik saja. AC juga tidak rusak.

Tami memang cantik, dan dia feminin. Yah, pantas saja kalau Inov menyukai cewek itu, bukan seperti dirinya.

Cita terperanjat dalam hati. Apa iya dia cemburu?

***

Inov menyempatkan diri untuk mengantar Cita terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia akan menuju rumah Tami.

“Emangnya lo tau rumah Tami?” tanya Cita setelah mereka berdua sampai di rumah Cita.

“Taulah. Gue kan pernah satu kelompok sama dia,” kata Inov sambil memutar balik motornya ke arah jalan raya.

“Oh, lo mau nembak dia nih ceritanya?” pancing Cita.

Inov menatap ke arah Cita. “Menurut lo gimana?”

“Kok nanya gue? Kalo lo nembak pasti diterimalah. Ya kali nggak diterima. Lo kan...” Cita menghentikan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan.

“Gue apa? Gue ganteng ya? Emang. Dari lahir kok.”

Cita melempar helm milik Inov ke arah cowok itu. Untung saja Inov cepat tanggap. Cita buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum cowok itu memanggilnya lagi.

“Cita! Salam buat nyokap lo ya!”

“Iya! Good luck, Nov. Titidije!”

Cita menutup pintu rumah. Udara yang dihirupnya terasa semakin sesak.

Cita berjalan menuju kamarnya dan mengempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dia berpikir sebentar. Masa iya dia cemburu sama Tami? Dan apa dia suka sama Inov?

Pertanyaan terakhir itu pernah muncul di benaknya tiga tahun lalu. Tapi itu adalah hal konyol yang pernah dialaminya.

Inov nggak pernah bersikap serius dengannya, sampai sekarang. Maka dari itu, Cita menyimpan perasaannya hingga menjadi tabu. Dan perasaan tabu itu kini menguar liar tanpa bisa dicegah Cita sendiri. Tapi yang namanya perasaan, apa iya bisa dicegah?

Cita membuka tasnya untuk mengambil ponselnya. Dia sempat mengernyit ketika kotak yang berisi gelang milik Inov berada di dalam tasnya! Ya ampun. Dia lupa memberikannya pada Inov. Padahal tadi Inov cuma menitip di tasnya.

Cita mengambil kotak itu dan membukanya. Ada perasaan bersalah saat dia menyentuh gelang yang akan dimiliki orang lain itu. Tapi perasaan bersalah itu nggak membuat Cita menghentikan tangannya untuk memakai gelang itu.

Cita dikagetnya dengan nada dering ponselnya. Dia langsung merogoh ponselnya dan melihat ke arah layar. Itu Inov!

“Halo, Nov?”

“Cit! Gue lupa, gelang gue ketinggalan. Turun dong! Gue di depan rumah nih!”

“Eh? Iya-iya.”

Dengan kilat Cita melepas gelang tersebut dan menaruhnya ke dalam kotak. Kemudian dia beranjak menuju pintu rumah. Inov masih duduk di motornya.

“Dasar tua! Pikun banget sih lo!” hardik Cita sambil memberikan kotak tersebut.

“Itu kan gara-gara lo yang sering mukulin kepala gue,” bela Inov.

Kemudian Inov membuka kotak tersebut. Dia sempat mengernyit melihat gelang di dalamnya. Kemudian matanya beralih menatap Cita.

“Lo abis make nih gelang ya?” tudingnya, dan itu memang benar.

Cita terperanjat. Bagaimana Inov bisa tahu?

“Dih. Kok lo seudzon banget sih sama gue?” Cita mencoba membela diri.

“Tapi kok kotaknya agak berantakan ya?”

“Ya tadikan keudek-udek di tas gue! Salah lo sendiri yang ngendarain motor pake ngebut segala!”

Inov turun dari motor dan menaruh kotak tersebut di jok motornya. Kemudian dia menarik tangan Cita secara paksa.

“Tuh kan ada bekasnya! Udah deh ngaku aja!”

“Ih! Itu kan gara-gara gue make pas di toko! Kok lo nggak percayaan sih sama gue?” Cita masih ngotot nggak mau ngaku.

Tiba-tiba saja Inov mengambil gelang tersebut dan memakaikannya di pergelangan tangan Cita.

“Oke, kalo lo nggak mau ngaku, gue nanya sendiri sama gelangnya. Lang, lo abis dipake nggak sama cewek ini?” Inov melirik ke arah Cita.

“Lo udah gila ya?” Cita mencoba melepas gelang itu dari tangannya. Tanpa diduga-duga, Inov malah mencoba menghentikannya.

“Jangan dilepas.” Cita mendengar ucapan Inov antara perintah dan paksaan. “Kalo lo mau pake, pake aja.”

“Lho? Ini bukannya buat Tami?” tanya Cita bingung.

“Iya, ini emang buat Tami.” Jawaban Inov semakin membuat Cita bingung. “Cita Daniatami.”

Cita langsung diserang kaget. Bahkan tangannya yang sedang dalam cengkraman Inov sempat terkejut. Inov benar-benar menatapnya serius kali ini.

“Maksud lo apa...”

“Ini emang buat lo, Tami.”

Panggilan dari Inov sempat membuatnya bernostalgia di lima tahun lalu. Dia baru ingat bahwa Cita pernah dipanggil Tami oleh Inov!

“Nov, jangan bercanda...”

“Gue lagi bercanda?”

Lagi-lagi Cita dibuat terdiam oleh Inov. Dia nggak tahu harus ngomong apa dan harus melakukan apa.

Di kelas mereka, memang ada cewek yang bernama Tami. Tami memang cantik, feminin, dan cukup populer. Ketika Inov memberi kode siapa yang menjadi incarannya, Cita langsung menjawab Tami. Lagipula, siapa sih yang nggak suka sama Tami?

Tapi, Cita sendiri nggak sadar bahwa namanya sendiri mengandung nama ‘Tami’. Dan ‘Tami’ yang dimaksud oleh Inov adalah Cita. Cita Daniatami.

“Yah, yang pasti itu kenang-kenangan dari gue,” kata Inov mencoba untuk mencairkan suasana. “Asal lo mau make, gue udah seneng.”

Inov melepas cengkramannya dan duduk di motor. Cita menatapnya penuh.

“Lo nggak jadi nembak Tami?” Inov menoleh ke arah Cita, tapi dia cuma diam. “Maksud gue... lo nggak jadi nembak... gue?”

“Emangnya lo pengin banget gue tembak?” Inov menyeringai, hal itu cukup membuat suasana mereka mencair.

“Yah... itu sih terserah lo aja...”

Inov kembali turun dari motor. “Tapi gue mau ngedapetin jawaban ‘iya’. Dan haram untuk bilang ‘nggak’.”

“Emangnya pengin banget apa...”

Inov langsung mengacak-acak rambut Cita sambil tersenyum. Namun Cita nggak membalas dengan mengeluarkan bogem mentahnya. Dia juga membentuk senyum ikhlas di bibirnya.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Rasa Bersyukur

Wednesday, April 30, 2014 By astaghiri 0 Comments
“Gue mau cabut!”

Anka langsung mengambil kunci motor dan helmnya. Dia nggak peduli dengan Wina yang terus saja berteriak di belakangnya. Anka mengambil langkah lebar untuk keluar dari rumah kontrakan itu.

“Anka! Kamu mau ke mana?!” teriak Wina yang menghampiri Anka, mencoba mencegah adiknya itu untuk pergi. Dia langsung mencengkram tangan Anka. “Kita belom selesai ngomong, Ka!”

Anka sedikit menaikkan sudut bibirnya. Dia melirik ke arah Wina. “Tapi menurut gue ini semua udah selesai. Lo boleh ikut mereka, tapi gue enggak!”

Anka langsung melepaskan cengkraman Wina dan segera pergi dari rumah kontrakan itu. Kali ini Wina nggak mengejarnya lagi. Dia tahu Anka pasti marah banget. Tapi ini dilakukannya untuk kepentingan mereka berdua.

Wina merasa ada yang lepas setelah melihat Anka mengendarai motornya menjauh dari rumah kontrakan itu.

Anka melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia nggak peduli dengan teriakan orang-orang akibat cara mengemudi motornya yang kelewat asal. Dia berharap rasa sakit hatinya sekarang ikut terlewat dengan arus jalanan. Anka menghela napas dan sejenak menutup mata.

Dan tabrakan itu pun terjadi.

***

Wina setengah berlari menuju ruang UGD. Tangannya cukup gemetar memegang ponsel. Ponselnya itu digenggam terus ketika seseorang mengabarkan bahwa adik perempuannya itu mengalami kecelakaan.

Wina hendak menghambur masuk ke dalam ruang UGD sebelum seorang perawat keluar dari ruangan tersebut.

“Sus, adik saya... adik saya di mana?!” Terdengar nada gemetar dari suara Wina. Perawat itu mencoba menenangkan Wina.

“Maaf, adik anda siapa ya?”

“Adik saya yang baru aja kecelakaan motor! Adik saya di mana, Sus?!” Wina masih histeris karena hatinya cukup nggak tenang.

“Mari saya antarkan. Mbak tenang dulu ya, adik mbak ada di dalam,” kata perawat itu sambil mengantarkan Wina ke dalam ruang UGD.

Wina menemukan Anka dengan tubuh penuh balutan perban. Ada darah yang merembes dalam perban itu. Adiknya benar-benar kelihatan nggak berdaya.

“Alhamdulillah nggak ada yang terlalu serius dari luka adik mbak. Walaupun ada beberapa bagian tulang yang retak. Nggak disangka struktur tulang saudari ini cukup kuat, padahal tadi dia sempat terpental setelah tertabrak mobil pikap,” jelas perawat tersebut. “Untuk pemulihannya, adik mbak butuh dirawat di sini,” lanjutnya.

Wina menoleh ke arah perawat tersebut. “Berapa lama buat di rawat di sini?”

“Tergantung seberapa cepat pulihnya adik mbak.”

Wina menghela napas. “Tolong urus semuanya.”

***

Anka terbangun dan merasakan seluruh tubuhnya seperti habis dijotosi berkali-kali, bahkan lebih parah. Kepalanya terasa pening ketika pertama kali membuka mata dan melihat cahaya lampu di langit-langit kamar. Dia juga merasakan kerongkongannya yang kering.

Ketika Anka menoleh ke arah samping, dia mendapati Wina dengan kepalanya yang tersandar di atas ranjang. Tiba-tiba kejadian yang hampir merenggut nyawanya tadi terlintas di otaknya. Kenapa gue nggak mati aja sih?

Anka melupakan hasrat hausnya dan langsung menolehkan kepalanya ke arah samping kiri. Sepertinya dia berada di ruangan dengan tiga bilik karena terdapat hordeng yang menutupi ranjangnya.

Anka dikagetkan dengan kedua mata di balik hordeng! Dia ingin berteriak, namun percuma, pita suaranya sedang habis. Akhirnya dia hanya menutup mata dan mencoba tidak mengingat apa yang dia lihat barusan.

Akhirnya Anka kembali tertidur dengan rasa lelah yang luar biasa di tubuhnya.

***

Karena keberisikan yang dilakukan oleh Wina, akhirnya Anka terbangun dari tidurnya. Wina terperanjat ketika mengetahui akhirnya adiknya bangun juga dari pingsannya. Padahal semalam dia sudah siuman.

“Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga,” Wina langsung menggenggam tangan Anka. “Kakak nggak tau harus ngapain kalo kamu sampe lewat, Ka.”

Oh? Dia ngedoain gue lewat? Fine.

Anka hanya menghela napas. Kemudian dia melirik ke arah botol mineral yang ada di atas meja. Wina langsung tahu apa yang diinginkan oleh adiknya tersebut.

“Sebentar, sebentar,” Wina berjalan memutari ranjang menuju meja tersebut, kemudian membuka botol. Nggak lupa dia menyiapkan sedotan juga.

Anka dibantu Wina untuk sedikit terduduk, kemudian membantunya untuk meminum air mineral tersebut. Setelah itu, Anka kembali ke posisi tidur.

“Mau kakak panggilin dokter?”

Anka hanya menggeleng, menjauhkan tatapannya ke arah lain.

Tiba-tiba Anka merasakan tangannya digenggam lagi. Tapi Anka enggan menoleh.

“Anka, kakak mau kamu lebih hati-hati setelah kejadian ini. Kakak nggak mau kamu kenapa-napa. Tolong balik ke sifat kamu yang dulu, Ka. Kakak kangen sama kamu yang dulu,” Terdengar nada sedih dari suara Wina.

“Kakak balik aja ke rumah. Gue bisa di sini sendirian,” kata Anka dengan begitu nggak pedulinya. “Oh ya kalo mau ke sini lagi, tolong bawain hp gue yang satunya lagi, sama charger.”

Wina menghela napasnya. Baiklah, kali ini dia akan menuruti permintaan Anka. Lagi pula semua ini bisa terjadi karena dirinya yang nggak mau mencegah kepergian Anka.

Wina mengambil ponsel beserta dompetnya di atas meja. Kemudian dia berpamitan dengan Anka.

“Ya udah, kakak pulang dulu. Kalo ada apa-apa, pencet bel di dinding belakang ranjang kamu ya. Nanti kakak balik lagi.”

Wina menghilang di balik pintu. Dan kini ruangan itu kembali menyepi. Padahal sekarang sudah tepat jam delapan pagi. Tiba-tiba Anka teringat dengan mata yang muncul di balik hordeng tadi malam.

Anka langsung mengambil remot tv di atas meja dengan susah payah. Akhirnya dia menyalakannya dengan sengaja memperbesar volumenya agar pikirannya tentang tadi bisa menghilang.

“Bisa ngecilin volume suaranya nggak sih?”

Anka menoleh dan mendapat seseorang yang bermata sama dengan semalam yang dia lihat muncul setengah badan di balik hordeng. Entah Anka dapat tenaga dari mana ketika remot tv yang digenggamnya tadi sudah terlempar ke arah kepala orang itu.

Orang itu meringis, Anka juga setengah berteriak.

“Nggak ada benda yang lebih empuk buat ditimpuk ke gue apa?”

Anka terdiam sejenak dan memandangi cowok yang kini sudah benar-benar sempurna bentuknya—nggak setengah badan lagi ketika badan bagian bawahnya tertutup hordeng tadi.

“Lo... manusia?”

“Emang badan gue keliatan ijo kayak buto ijo atau hulk?”

Anka langsung merasa lebih tenang. Ternyata dia manusia. “Lo lebih mirip si buta dari goa hantu.” Anka menatap pergelangan tangan cowok itu yang juga diinfus sama sepertinya. “Balikin remotnya.”

“Kenapa si buta dari goa hantu?” Cowok itu mengambil remot yang berada di lantai. Tapi dia nggak segera memberikannya pada Anka.

Anka menoleh malas. Kemudian dia hanya menengadahkan tangannya untuk meminta remot itu kembali. Tapi cowok itu justru diam saja.

Kali ini Anka menoleh ke arah cowok itu yang masih menatapnya datar. Matanya menyiratkan cepetan-balikin-remot-gue.

“Jawab dulu pertanyaan gue.”

Anka memutar bola matanya. Memangnya itu penting?

Dia mencoba membalikkan badannya membelakangi cowok itu dengan susah payah. Dia sedikit meringis ketika badannya tiba-tiba digerakkan seperti itu.

“Gue Andre.”

Terus gue peduli?

Anka nggak kembali membalikkan tubuhnya. Untuk menggeser badannya sekidit pun dia merasa kesakitan.

“Oke. Tanpa nama. Kenapa lo bisa ada di rumah sakit ini?”

Bawel.

“Masih nggak mau ngomong juga?”

Ya terus?

“Gue denger pembicaraan lo sama kakak lo,” Andre mencoba untuk memancing.

“Itu namanya lo nguping,” cela Anka.

“Aha! Akhirnya lo ngomong juga,” Andre mengangguk-angguk puas di belakang Anka. Anka hanya menghela napasnya. Dasar cowok gila.

“Eh, jawab dong pertanyaan gue,” desak Andre.

“Jangan ganggu gue.”

“Lah, ini kan kamar gue juga, gue duluan lagi yang nempatin ruangan ini.”

Karena sudah nggak sabar lagi, akhirnya Anka memaksa untuk membalikkan tubuhnya ke arah cowok itu. Tapi celaka! Kini dia merasa lebih kesakitan dibanding yang tadi.

“Shit!” gumam Anka mencoba memegang sesuatu agar bisa meredakan sakitnya.

Andre sedikit kelabakan melihat teman seruangannya itu. Dia berjalan cepat menuju sisi ranjang Anka dan menekan bel di dinding. Kini, dia dapat melihat dengan jelas wajah meringis Anka.

Nggak lama, seorang perawat datang ke kamar mereka.

“Ada apa?”

“Itu sus... itu...”

Perawat itu langsung menghampiri Anka.

“Kenapa bisa jadi begini?”

Anka masih memejamkan matanya, menahan sakit. Andre sendiri juga nggak kunjung menjawab.

“Tunggu sebentar, saya panggilkan dokter.”

Perawat itu keluar dari ruangan. Andre masih menatap Anka sedikit ngeri.

“So...sori...”

Kali ini Anka membuka kelopak matanya, matanya sedikit memerah.

“Sekali lagi lo ngomong, gue gampar mulut lo.”

Walaupun nggak ada penekanan dalam kalimatnya, Andre tahu kata-kata itu cukup menakutkan. Setelah mendapat ancaman dari Anka, Andre kembali menuju ranjangnya.

Nggak lama, datang dokter dengan perawat yang sama. Dia langsung memeriksa Anka. Andre nggak terlalu memerhatikan karena hordeng bilik Anka sempat ditutup oleh perawat tadi. Setelah dokter itu selesai dengan pemeriksaan Anka, Anka jauh lebih tenang dibandingkan tadi. Sepertinya dia dibius.

“Orangtuanya ke mana?” tanya si dokter.

“Kemarin sih cuma kakaknya aja yang dateng, dok.”

“Hmm kalo kamu ketemu sama kakaknya, pesan saya suruh adiknya untuk nggak banyak bergerak untuk mempercepat pemulihannya.”

“Baik, dok.”

***

Pintu ruangan terbuka. Seseorang yang dikenal Andre dengan panggilan bang Jeki masuk ke dalam membawakan sarapan. Dia memang sudah kenal betul dengan Andre.

“Weits! Punya temen sekamar juga nih akhirnya,” goda bang Jeki sambil menaruh piring bubur beserta lauk pauknya di atas meja. “Mana cewek lagi.”

Andre langsung mencoba memperingatkan.

“Jangan berisik! Saya nanti yang kena!”

“Wih, galak nih ceritanya?”

Bang Jeki kembali menuju troli makanan dan mengambil menu sarapan milik Anka. Dia kembali masuk dan menaruh makanan milik Anka di atas mejanya.

“Selamat sarapan, Mas!”

Andre hanya manggut-manggut. Kemudian bang Jeki keluar dari ruangan tersebut. Andre menoleh ke arah hordeng yang membatasi wilayahnya dengan wilayah Anka. Lalu dia beranjak dari ranjangnya dan sedikit mengintip di balik hordeng. Anka masih tertidur pulas akibat suntikan bius dokter tadi.

Padahal kan niatnya cuma ingin mencari teman mengobrol, eh ujung-ujungnya dia yang kena damprat.

Andre kembali menutup hordeng dan terduduk di ranjangnya. Dia mengambil menu makanannya. Sebenarnya dia bosan bahkan lumayan enek memakan menu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Biar dia cepat sembuh.

Nggak beberapa lama Andre menyuap beberapa sendok makanan, pintu ruangan kembali terbuka. Nggak ada suara apa pun kecuali bunyi hordeng yang dibuka, dari bilik ranjang Anka.

“Ya Allah Anka...” Terdengar isakan wanita dari bilik sebelah. Sebenarnya Andre nggak mau menguping, tapi telinganya sendiri sudah stand by daritadi. “Dia belum siuman, Win?”

“Udah kok, Ma. Kayaknya dia cuma tidur.”

“Maafin Mama baru jenguk kamu, Ka. Mama ke sini bareng Papa buat nemenin kamu, nak.”

Tiba-tiba Andre merasa tersedak. Suasana yang menurut Andre sedikit mengharukan itu langsung terhenti. Andre langsung menyambar air mineral di atas meja.

“Ruangan ini ada orang selain Anka?” Kali ini suara seorang pria.

“Ada, Pa.”

Tiba-tiba alis Anka tergerak. Dia membuka kelopak matanya dan mendapatkan orangtuanya bersama kakaknya di hadapannya.

“Anka...” Mama mencoba untuk memegang tangan Anka.

Anka menghela napasnya. “Semuanya keluar. Anka mau istirahat.”

“Anka...”

“Tolong.”

Papa langsung merangkul bahu mama dan menggiringnya keluar dari ruangan. Wina juga mengikuti dari belakang.

Suasana kembali sepi. Andre masih sibuk dengan makanannya dari biliknya. Tiba-tiba Anka merasa haus lagi. Anka melirik ke arah meja sambil berdeham untuk menghilangkan rasa dahaganya.

Tapi tiba-tiba Andre muncul dari balik hordeng. Dia pikir barusan Anka bermaksud memanggilnya dengan berdeham.

“Lo manggil gue?”

Anka menghela napasnya lagi. Dia lupa bahwa ruangan ini bukan hanya dirinya yang menempatinya.

Lagi-lagi Anka melirik ke arah botol mineral di atas meja, kemudian dia mendesah lagi. Mending dia lanjut tidur dibandingkan minta tolong sama teman sekamarnya itu.

“Tinggal bilang tolong ke gue apa susahnya.” Anka menoleh dan telah mendapati Andre sudah berdiri di samping ranjangnya sambil memegang botol minuman. “Mau gue bantu?”

Anka mengerutkan keningnya. Siapa lo siapa gue?
“Nggak usah malu-malu,” Andre membuka tutup botol dan menyodorkan sedotan ke arah mulut Anka. Mau nggak mau akhirnya Anka minum juga dengan bantuan Andre. Setengah botol air langsung tersedot ke tubuh Anka.

“Lo nggak laper?” tanya Andre setelah menutup kembali botol minuman.

Apaan sih nih cowok? Kepo banget jadi orang.

Anka menoleh ke arah pintu, nggak menjawab pertanyaan Andre. “Bisa tolong kunciin pintu kamar nggak?” Akhirnya Anka bersuara.

Kali ini gantian alis Andre yang mengerut. “Buat apaan?”

Anka menoleh ke arah Andre dengan tatapan nggak-usah-banyak-tanya-deh. Hal itu membuat Andre bergegas menuju pintu sambil mendorong tiang infusnya, kemudian mengunci pintu ruangan.

Setelah terkunci, Anka ingin mengambil menu makanannya, tapi tenaganya belum pulih banget.

“Eh, kata dokter lo belom boleh banyak gerak,” cegah Andre sambil kembali menuju sisi ranjang Anka.

Ini gara-gara lo, bego.
Andre mendorong meja khusus makan ke ranjang Anka. Kemudian dia menaruh menu makanannya di meja tersebut. Anka mengernyit ke arah makanannya. Nggak ada nasi padang atau gorengan apa?

Tanpa berbicara lagi, Anka memakan sarapannya. Sebenarnya dia nggak suka dengan makanan seperti ini. Tapi karena dia belum makan dari kemarin, yah mau bagaimana lagi?

“Tadi itu... keluarga lo?” tanya Andre di sela-sela Anka menyuap makanannya. Dia sudah terduduk di ranjangnya sendiri.

Anka mulai nggak berselera. Dia sedikit memainkan makanannya. “Lo udah gue peringatin.”

Andre pindah ke posisi tidur. “Gue nggak mau nilai, tapi kayaknya lo nggak suka sama keluarga lo ya? Kenapa?”

Kali ini Anka menghentikan acara makannya. Dia menatap lurus ke arah Andre. “Lo bukan siapa-siapa gue. Jangan pernah ikut campur.”

“Sori, bukannya mau ikut campur,” Andre membalas tatapan Anka. Sudut bibirnya tersenyum. “Gue cuma iri aja sama lo.”

Iri? Apa coba yang ngebuat orang iri sama gue?
“Lo masih punya keluarga di sekeliling lo. Sedangkan gue, boro-boro. Sodara aja gue nggak punya, bahkan orangtua pun gue juga nggak punya.”

Anka langsung berpikir lebih baik dirinya yang seperti itu dibanding dia menerima keluarganya.

“Gue nggak peduli.”

“Terserah. Gue cuma mau bilang kalo lo harus bersyukur masih punya keluarga. Dan yang gue sempet denger tadi, mereka peduli sama lo.”

“Peduli? Cih. Kalo peduli, kenapa mereka nggak langsung ke rumah sakit aja sebelum gue diopname?”

“Kalo mereka tau lo kecelakaan dan langsung ke sini, lo mau berubah pikiran tentang keluarga lo?”

Anka tertohok. “Lo nggak ngerti.”

“Gue ngerti,” Andre nggak mau mengalah.

“Nggak usah sok jadi Mario Teguh. Gue nggak butuh nasehat.”

“Apa yang ngebuat lo sampe benci kayak gitu?”

“Masa kecil gue kayak nggak punya orangtua! Mereka sibuk masing-masing! Pada akhirnya mereka nyalahin satu sama lain karena nggak becus ngurus gue! Dan setelah itu mereka cerai!”

Andre hanya menatap datar Anka, menunggu cewek itu untuk berargumen lagi.

“Setelah bertahun-tahun sampe sekarang, mereka mau rajuk lagi. Ngapain mereka rajuk? Mau ngerusak masa remaja gue juga? Toh mereka ujung-ujungnya bakal sibuk sendiri. Itu drama keluarga gue. Puas lo?”

“Seenggaknya mereka masih hidup dan mau balikan lagi, nyatuin keluarga lo,” Andre membalas dengan nada tenang.

Hati Anka langsung memberontak. Baiklah, dia tahu. Keadaan dirinya dengan keadaan Andre memang berbeda. Tapi... argh! Andre nggak pernah merasakan menjadi dirinya.

“Apa sih mau lo? Mau ngorek-ngorek tentang keluarga gue?”

“Lo masih sebut mereka ‘keluarga’? Padahal kayaknya lo benci banget sama mereka.”

Lagi-lagi Andre membuat Anka tertohok.

Anka nggak tahu apa yang harus dia katakan lagi. Dia mengalihkan tatapannya ke sarapan paginya. Andre hanya tersenyum ketika Anka sudah kehabisan kata-kata.

“Dari lahir, gue nggak tau siapa sodara gue, apalagi orangtua. Sori aja ya, kehidupan gue juga drama banget. Tapi toh ini kenyataannya. Sampe sekarang nggak ada orang yang ngakuin gue sebagai anak.”

Anka melirik pedas ke arah Andre. Apaan sih nih orang? Curhat ke gue?

“Oke. Kayaknya lo nggak mau denger lika-liku kehidupan gue. Tapi sekali lagi, gue iri banget sama lo. Seharusnya lo seneng kalo orangtua lo mau balikan lagi. Itu berarti mereka mau memperbaiki keluarga lo. Ya emang sih gue nggak ngerti tentang keluarga, toh sampe sekarang gue nggak pernah punya keluarga. Tapi satu hal yang sampe saat ini gue pertahanin, rasa bersyukur. Gue bersyukur masih dikasih hidup sama Allah, mungkin aja suatu saat nanti gue bakal ketemu sama orangtua gue. Siapa tau, kan?”

Tiba-tiba pintu ruangan terketuk. Andre dan Anka berbarengan menoleh.

“Anka? Kok pintunya dikunci, nak?”

Anka mengalihkan tatapannya ke arah Andre. Dia hanya diam saja. Tapi pada akhirnya Andre membuka kunci pintu kamar tersebut.

***

Sudah berhari-hari Andre dan Anka berada di satu ruangan. Cowok itu juga nggak menampakkan dirinya lagi setelah berbicara panjang lebar dengan Anka waktu itu. Anka juga tampak lebih diam setelah Andre menasihatinya.

Dan untuk hari ini, waktunya kepulangan bagi Andre. Dia sudah merasa cukup bugar walaupun dia nggak tahu harus pergi ke mana. Orang yang sempat menyelakakannya bertemu dengannya di ruangan itu untuk meminta maaf sekian kalinya akibat kecerobohannya. Andre hanya mengangguk. Walaupun badannya masih terasa sedikit remuk, asalkan orang yang menyelakakannya bertanggungjawab, nggak akan jadi masalah.

Setelah itu, Andre hendak langsung pergi. Tapi dia teringat dengan teman sekamarnya.

Awalnya dia mau berpamitan, tapi rasanya kurang enak karena di biliknya sedang terdapat keluarganya. Akhirnya Andre melengos pergi keluar dari ruangan.

Namun sebelum Andre sempat keluar dari ruangan, Anka sempat melihat Andre yang sudah berpakaian rapi.

“Eh, Andre! Lo mau ke mana?”

Andre menghentikan langkahnya. Dia terdiam sebentar. “Gue mau balik nih, udah sembuh ceritanya,” Andre sedikit mengulaskan senyumannya.

Sekarang Andre bisa melihat kedua orangtua Anka, plus kakaknya. Dia jadi semakin iri.

“Gue pulang ya, semoga cepet sembuh deh.”

“Sebentar,” kata Anka sebelum Andre melanjutkan langkahnya. “Ini... bokap nyokap gue, itu kakak gue.”

“Oh?” Andre agak sedikit tersentak. Setelah itu, dia segera bersalaman dengan keluarga Anka. Dari raut wajahnya sih, Anka cukup berbeda dengan hari-hari kemarin.

“Andre?”

Andre menatap ke seorang pria yang disebut Anka sebagai ‘bokap’nya. Andre sedikit tersentak. Dia sendiri daritadi nggak terlalu memerhatikan wajah pria itu.

“Bapak?”

“Astaga, kamu sakit?”

Andre hanya menggarukkan kepala belakangnya. “Saya sempet kecelakaan, Pak. Untungnya orang yang nyelakain saya mau tanggung jawab.”

“Saya pikir kamu udah nggak kerja lagi di kantin kantor.”

“Papa... kenal?”

Ayah Anka menoleh ke arah Anka. “Dia kerja di kantin kantor Papa.” Kemudian ayah Anka beranjak dari tepat duduknya, menggiring Andre keluar dari ruangan tersebut.

“Andre, saya mau berterimakasih sama kamu,” kata ayah Anka ketika mereka berdua sudah berada di lorong.

“Terimakasih buat apa ya, Pak?”

“Aduh, kamu jangan pura-pura lupa gitu deh, kamu kan belum tua kayak saya,” candanya. “Jadi gini, Anka sempat bungkam seharian, nggak mau ngomong sama saya, sama mamanya, apalagi sama kakaknya semenjak kamu ngunci ruangan itu. Entah ada angin apa, tiba-tiba Anka minta disuapin sama mamanya, saya pikir itu perubahan yang cukup drastis karena selama ini dia jarang mau berkontak sama mamanya, apalagi saya. Setelah itu, dia baru cerita ke mamanya tentang nasehat yang kamu kasih. Saya pikir dari situ Anka mulai berubah. Itu gara-gara kamu, Ndre. Saya berterimakasih sekali ke kamu karena bisa sedikit merubah sikap anak saya.”

“Ah, bapak. Enggak kok, Pak, biasa aja. Itu karena emang dari diri Anka sendiri yang nggak akan bisa jauh dari keluarga, cuma mulutnya aja yang emang suka nyangkal.”

Ayah Anka sedikit tersenyum. “Untuk itu, kamu mau tinggal di rumah saya? Saya dan istri saya dengan senang hati nerima kamu di keluarga kami. Kamu mau?”

Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup ada perasaan lebih dari kata senang dalam diri Andre.

“Beneran, Pak?”

Ayah Anka mengangguk.

Tiba-tiba, Anka beserta mama dan kakaknya keluar dari ruangan. Dia dipapah oleh mama dan kakaknya. Anka memancarkan senyum yang baru pertama kali dilihat oleh Andre.

“Lo mau gue panggil mas, abang, atau kakak?”

Andre nggak bisa lagi menahan senyumnya yang semakin melengkung terlukis di bibirnya. Walaupun dia cowok, ternyata ada juga air mata kebahagiaan di pelupuk matanya.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Mika

Sunday, April 20, 2014 By astaghiri 0 Comments
Hop! Mika melompati genangan air dengan lincah. Pagi ini, hujan sempat mengguyur tempat kelahirannya, Jakarta. Pagi ini dia cukup bersemangat. Namun tidak untuk teman-teman sebayanya yang berada di sekelilingnya. Mereka justru mengernyit jijik kepadanya.

“Apaan sih tuh cewek?” gumam salah satu dari mereka.

“Lebay banget deh jadi orang,” timpal yang lain.

“Bukan lebay, tapi kelewat centil jadi begitu!”

Mika sebenarnya mendengar, tapi dia pura-pura nggak mendengarnya dengan terus berjalan menuju gerbang sekolahnya. Dia terus menampangkan senyum manisnya.

“Pagi Mikaaa...” sapa seorang cowok dengan hangatnya, namun dengan nada menggoda. Mika membalas senyum kakak kelasnya tersebut, Bimo.

“Pagi juga, Kak!” balas Mika dengan semangat.

“Kamu udah sarapan? Pasti belom, kan? Kalo gitu aku traktir deh!” tawarnya. Yah, tuh cowok memang suka berlebihan tanya ini-itu seperti layaknya pacar. Padahal Bimo dan Mika nggak ada hubungan sama sekali.

Sebenarnya Mika berminat, tapi yah—sebentar lagi bel masuk sekolah. Dengan cara halus dia menolaknya.

“Makasih, Kak. Kapan-kapan aja, ya? Aku masuk ke kelas dulu ya!” Mika langsung pamit dari hadapan kakak kelasnya. Bimo sedikit menghela napasnya. Lagi-lagi dia gagal mengajak Mika untuk makan bersamanya walaupun sekedar sarapan.

Mika berjalan di lorong. Sekarang, dia memang menjadi pusat perhatian. Sebagian cewek menatapnya dengan rendah, yang lain hanya ingin tahu saja. Dan yang cowok tentu saja langsung tertarik dengan kehadiran Mika. Tapi Mika berpura-pura nggak tahu kalau ada banyak orang yang memerhatikannya.

Ketika dia ingin berbelok ke arah tangga, seseorang menabraknya. Karena badan Mika kecil, dia memang gampang banget jatuh.

“Tuh, gue bilang juga apa? Tuh cewek emang caper!” ucap seseorang yang Mika nggak tahu siapa orangnya.

“Dia tuh sengaja! Biasa cewek kayak gitu mah!” timpal yang lainnya.

Tiba-tiba tangan seseorang terulur. Mika menoleh dan mendapati Leo berada di hadapannya. Mika langsung tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Kemudian dia berdiri dengan dibantu Leo.

“Thanks, Yo,” ucap Mika sambil membersihkan debu yang menempel di rok bagian belakang.

“Mau gue bantuin bersihin juga nggak rok lo?”

Mika langsung menempeleng kepala Leo. “Bukannya minta maaf udah ngebuat gue jatoh, malah cari-cari kesempatan lagi!” Lalu Mika tertawa, Leo hanya nyengir kuda.

“Kan lo udah bilang ‘thanks’, masa gue bilang sori? Basi, Ka.”

Mika hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya.

“Gimana dengan hari ini?” Leo bertanya.

“Mmh?” Mia nggak tertarik menoleh ke arah Leo walaupun sebenarnya dia tahu apa yang dimaksud oleh Leo.

“Oh, I know!” seru Leo tiba-tiba.

“Tau apaan lo emangnya?”

Leo mendecakkan lidahnya. “Lo pikir lo temenan sama gue berapa lama sih?”

Mika hanya nyengir kuda. Namun semakin lama, senyumannya menghilang.

“Yeah, as usual,” Mika mendesah. “But, I don’t care! I love it!” Mika langsung bersenandung lagu milik Icona Pop.

“Yakin?” Leo menuduh tajam. Dia tahu sekarang Mika sedang berpura-pura.

Mika langsung merangkul Leo. “Lo kebanyakan taunya, deh!”

***

Mika memang cantik. Okelah, itu bagian plus dari dia. Dia manis? Baiklah. Itu dua bagian plus dari Mika. Dia ramah? Ya ampun, dia memang ramah banget. Dia ceria? Jangan ditanya lagi. Dia nyaris sempurna untuk ukuran cewek, kecuali tinggi badannya. Tapi satu hal itu yang membuat Mika semakin imut.

Tapi, itu untuk cowok. Dia memang ramah banget ke cowok, nggak pernah merasa risi jika ada cowok di sekelilingnya. Nggak heran jika banyak anak cowok yang mendekatinya, bahkan kakak kelas pun juga ikut kecantol.

Tapi, ENGGAK untuk cewek. Bukannya dia nggak pernah bersikap ramah ke cewek yang berada di sekelilingnya, terutama di lingkungan sekolahnya. Dia bahkan nggak pernah membedakan sikap ramahnya terhadap cowok mau pun cewek.

Tapi, timbal baliknya yang dia dapatkan itu berbeda jauh dari cewek dan cowok.

Untuk cowok, okelah, mereka masih berbaik hati mau menyapa Mika.

Tapi sekali lagi, ENGGAK untuk cewek. Mereka bahkan kepengin Mika enyah dari pandangan mereka.

Walaupun begitu, Mika nggak mau membalas apa pun yang terdengar jahat. Yang penting, ‘kasih senyum aja’, begitu kata Leo. Mika pun menerapkannya. Tapi justru itulah yang membuat cewek-cewek di lingkungan sekolahnya menjadi semakin benci dengannya.

Kecuali Fida. Dia satu-satunya teman cewek Mika di sekolah tersebut. Fida nggak peduli tentang ucapan orang lain ke Mika. Toh Mika orangnya baik, baik banget malah. Fida nggak pernah tuh merasa terbebani berteman dengan Mika.

“Ka, beli bakso yuk. Laper nih gue,” pinta Fida sambil memeluk lengan Mika.

“Ayo. Gue juga laper nih.”

Mika dan Fida langsung ambil spot di ujung kantin, karena bagian depan dan tengah sudah diisi lautan manusia. Mika memesan minuman, sedangkan Fida makanannya. Ketika Mika menuju meja makannya, Fida belum di sana. Mungkin Fida masih memesan.

Nggak lama, Fida datang dengan membawa dua mangkuk bakso.

“Duh! Duh! Panas! Misi! Misi! Air panas nih! Air panas!”

Mika langsung berdiri dan membantu Fida membawa mangkuk baksonya. Setelah duduk di mejanya, Fida langsung menaruh beberapa sendok sambal ke mangkuknya.

Tiba-tiba saja Leo datang dan langsung duduk di samping Fida. Untung saja Fida lagi nggak memasukkan bakso ke dalam mulutnya. Kalau iya, mungkin bakso yang berada di mulutnya akan meluncur ke meja seberang.

“Et! Si Lele! Ganggu aja sih lo!” damprat Fida. Leo hanya cekikikan.

“Makan, Yo,” tawar Mika.

“Nggak, Ka, makasih. Gue lagi nggak laper.” Walaupun begitu, dia langsung menyambar minuman milik Fida. Tuh cowok memang suka usil banget ke Fida.

“Ya elah, Le! Beli aja kenapa sih! Lo nggak modal banget dah jadi orang!”

“Minta doang Fid, sedikit. Pelit amat sih lu.”

“Aduh, jangan pacaran di depan gue dong,” Kali ini Mika angkat suara.

Leo langsung tertawa, Fida justru menganga idiot. Pacaran katanya? No way!

“Kalo lo ngomong kayak gitu sekali lagi, gue cocolin sambel nih, Ka!” ancam Fida.

“Huuu... takut...” Mika justru memancing, hal itu membuat Mika dan Leo semakin tertawa.

“Eh, Lang, ternyata lo di sini toh?”

Mereka bertiga langsung menengok dan mendapatkan Breta bersama teman satu gengnya berdiri di depan meja mereka.

“Lo salah meja ya, Bret? Di sini nggak ada yang namanya Gilang, Galang, cakalang, alang-alang atau lang-lang lainnya,” Fida langsung menyahut.

Breta menggeram. Dia paling nggak suka dipanggil dengan sebutan ‘Bret’. Padahal, namanya sudah bagus Breta, malah dipanggil Bret. Tapi kali ini dia lagi nggak mau berurusan dengan Fida.

“Maksud gue Jalang. Ya nggak, Lang?” Breta tersenyum jahat ke arah Mika. Mika hanya melirik, dia hanya tersenyum samar.

Yang terbawa emosi justru Fida dan Leo. “Nggak usah cari ribut di sini deh, Bret,” Leo memang nggak suka dengan Breta.

“Lo nggak malu apa diliatin anak-anak?” Gantian Fida yang bersuara.

Breta langsung menampangkan wajah kagetnya. “Lho? Kenapa gue mesti malu? Gue kan masih punya muka. Lah dia? Nggak punya muka tapi masih berani nampangin diri di sekolah.”

“Emang sekolah ini punya nenek moyang lo apa?” sembur Fida. “Mata lo buta ya, Bret? Udah tau mukanya dia mulus begitu, emangnya elo yang jerawatan?”

Fida berdiri, dibarengi dengan Leo. “Lo laper nggak Bret? Tuh masih ada sisa bakso di mangkok. Kali aja lo suka makanan sisa.” Hal ini membuat Breta semakin geram. Leo dan Mika langsung tertawa dalam hati. Kemudian Fida menarik tangan Mika agar segera pergi dari meja tersebut.

Setelah menjauh dari Breta dan gengnya, Fida langsung berdiri di hadapan Mika dan menghentikan langkah cewek itu.

“Lo kenapa sih, Ka?” Nada bicara Fida kali ini serius. Leo hanya berdiri di belakang mereka, biar mereka yang menyelesaikannya terlebih dahulu.

“Kenapa apanya, Fida sayang?”

Fida berdecak sebal. “Mereka tuh ngatain lo! Lo kenapa sih sok pura-pura baik-baik aja? Gue tuh tau kalo lo sakit hati! Tapi kenapa lo nggak mau ngelak pernyataan itu sih?” Fida memang orang yang blak-blak-an. Dia paling nggak suka sama orang yang suka pasang senyum palsu.

“I’m very well, tengkyuuuu,” Mika justru membalas dengan nada canda. “Gue ke toilet dulu ya,” Mika menepuk-nepuk pipi Fida, kemudian berjalan menuju toilet.

Fida menoleh ke arah Leo. “Tuh cewek kenapa sih? Heran gue sama dia.”

Leo menghampiri Fida dan merangkulnya. “Dia tuh cuma pura-pura kuat doang, Fid.”

Leo dan Fida menghela napas bersamaan. Fida baru sadar kalau tangan Leo sudah tersampir di bahunya. Dia langsung melepas tangan Leo. “Cari kesempatan aja sih lo!”

Leo hanya nyengir kuda.

Sebenarnya Mika juga nggak ada hasrat buat buang air kecil. Dia cuma mau ngehindarin omelannya Fida yang bakal panjang lebar. Setelah mencuci tangannya, Mika segera keluar dari toilet.

Ketika lagi di lorong sekolah, dia baru sadar ternyata tali sepatunya lepas. Dia menyempatkan untuk memasangnya terlebih dahulu. Setelah itu Mika kembali ber—

BRUGH!!! Lagi-lagi tertabrak oleh seseorang. Tapi kali ini bukan Leo.

“Shit!” gumam cowok itu.

Mika melirik ke arah orang yang menabraknya. Itu Gio, teman sekelas Mika yang pada sampai hari ini pun mereka nggak pernah bertegur sapa. Dia memang dingin banget. Dan sekarang, cowok itu justru ingin berlalu dari hadapan Mika tanpa minta maaf atau pun membantunya berdiri.

Sebelum tuh cowok menjauh dari Mika, Mika sempat menggumam, “Lo... nggak mau bantuin gue berdiri?”

Gio hanya menolehkan kepalanya, menatap Mika dengan rendah.

“Lho? Yang nabrak siapa emangnya? Lo pikir mentang-mentang lo cewek, gue jadi respek ke elo terus gue jadi ngerasa bersalah, gitu? Makan tuh respek.”

Gio kembali berjalan meninggalkan Mika yang masih terduduk di lantai. Keningnya berkerut. Kenapa sih tuh cowok? Jelas-jelas memang dia yang salah. Kenapa jadi Mika yang kena omel?

***

“Eh, Jalang! Kita belom selesai!” Breta and the geng langsung mendamprat Mika. Mika mengkeret tersudut di antara mereka.

“Dibayar berapa lo sama Bimo?” Breta langsung to the point.

“Gue nggak ada urusan sama dia, oke?”

Mika yang hendak keluar dari perkumpulan itu langsung didorong kembali oleh Breta. Percuma ngelawan Breta. Badan Mika nggak sebanding dengan badannya Breta.

“Lo pikir gue nggak tau apa? Lo boleh ngambil cowok orang lain, tapi nggak buat Bimo!”

Mika sedikit tertawa. Memangnya dia pikir dia siapa?

“Kenapa lo ketawa?” Breta merasa tersinggung.

“Gue nggak ngerebut Bimo dari lo, ngerti?”

“Lo kira gue bego?! Lo jadi cewek jangan sok cakep deh!”

“Lho? Gue emang cakep. Emangnya lo mau apa?” Breta menggeramkan tangannya. “Seharusnya lo mikir, kenapa si Bimo mutusin elo. Gue sih nggak nyoba buat ngedeketin Bimo, tapi dia sendiri yang ngedeketin gue.”

“Elo—” Breta mengangkat tangannya yang terkepal di udara. Namun sebelum sempat mengenai bagian wajah Mika, tangan Mika langsung ditarik seseorang dan keluarlah dia dari pergumulan tersebut.

Breta and the geng langsung membalikkan badannya.

“Udah cukup buat diskusinya? Gue punya urusan sama nih cewek,” Gio menarik keras tangan Mika dan menyuruhnya untuk menaiki motornya. Dalam sekejap, dia langsung menghilang di depan sekolah.

“DASAR JALANG!!!”

Selama di motor, Mika hanya terdiam. Gio juga nggak ngomong sama sekali. Setelah menikmati perjalanan yang kosong, mereka berdua sampai di sebuah rumah yang tampak sepi. Mika turun dari motor Gio.

“Ini... rumah lo?”

Gio hanya diam, dia mendorong motornya ke dalam garasinya. Yah, sepertinya ini memang rumahnya.

“Masuk,” Akhirnya Gio angkat suara. Sebenarnya Mika hendak menolak, tapi karena merasa nggak enak hati, akhirnya dia masuk ke dalam rumah Gio.

Rumah Gio cukup sepi. Mika duduk di sofa ruang tamu. Gio berjalan menuju dapur, mengambil sesuatu di sana. Nggak lama, dia kembali membawa minuman dan beberapa snack. Kenapa nih cowok? Mika mulai merasa aneh.

“Kenapa lo?” Gio melirik ke arah Mika, ikut heran. Kayaknya dia bisa baca pikirannya Mika deh.

Mika hanya geleng-geleng. Yang tadinya Gio ikut duduk di sofa, kini Gio berdiri menuju pintu rumahnya dan... menutupnya, lalu dia menguncinya. Makin gelaplah rumahnya sekarang.

“Kok pintunya ditutup?” Mika mulai gusar.

Gio membalikkan badannya. Alisnya terangkat. “Kenapa emangnya? Bukannya lo suka suasana yang remang-remang kayak gini?”

Gio melangkah perlahan. Dia juga membuka dasinya. Tapi pandangannya nggak lepas dari Mika yang mulai ketakutan. Mika juga ikut menggeser posisi duduknya hingga dia terpojokkan.

“Lo mau ngapain, Gi?”

Gio membuat raut wajah kaget. “Nggak usah takut gitu dong,” Mika nggak ngerti nada ucapan Gio barusan. Yang jelas, ucapannya itu sama sekali tidak menenangkan Mika. “Masa lo nggak tau sih kalo gue mau ngapain?” Gio tersenyum aneh.

Gio semakin mendekat. Bahkan dia sudah berada di sofa, mendekati Mika yang semakin terpojok.

“Lo lagi butuh duit berapa? Gue bakal kasih lo uang, asalkan...” Kini Gio benar-benar berada di hadapan Mika. Mika sudah nggak bisa mundur lagi. Bahkan wajah mereka pun hanya berjarak dua senti.

“Gua nggak butuh duit lo!” Mika langsung menendang perut Gio. Sontak Gio langsung mundur ke belakang. Mika segera menjauh dari Gio. “Gue mau pulang! Cepet bukain pintunya!” Mika semakin histeris.

“Mau lo teriak sekenceng apa pun, nggak ada orang yang bakal denger lo,” Gio mencoba berdiri. Ternyata sakit juga tendangan dari Mika.

“Lo mau ngapain?!” pekik Mika lagi ketika Gio mencoba mendekatinya.

“Mikaaa... nggak usah pake malu-malu gitu deh. Kenapa sih lo? Giliran sama cowok lain, lo mau-mau aja. Tapi kenapa gue enggak?”

“Apa maksud lo?!”

“Mika, lo lebih ngerti dibanding gue.”

Mika menggeleng keras. “Gue nggak pernah ngelakuin apa pun! Apalagi yang ada di pikiran lo itu! Lo pikir gue cewek apaan?!”

Gio sedikit kaget. “Lho? Bukannya rumor itu emang bener?”

“NGGAK! GUE NGGAK PERNAH BERBUAT HAL KOTOR KAYAK YANG LO PIKIRIN!”

Gio tertawa sumbang. “Lo pikir gue percaya? Berapa sih duit yang lo mau? Sejuta? Dua juta? Atau sepuluh juta? Gue jabanin.”

Mika menggeleng-geleng. Yang dia mau sekarang adalah keluar dari rumah ini dan pulang!

“Kenapa sih Mika sayang?” Terdengar nada mengancam dari Gio. “Gue bakal ngelakuinnya secara perlahan kok.”

Tiba-tiba kaki Mika bergetar. Dia sudah nggak bisa untuk melangkah mundur, Gio juga semakin dekat menuju ke arahnya.

Dan hanya yang bisa Mika lakukan adalah terjongkok dan kemudian menangis. Dia nggak tahu lagi apa yang harus dia lakukan selain menangis.

Dia pikir Gio akan tetap menyuruhnya melakukan hal yang tidak-tidak. Namun tiba-tiba saja dia merasakan pundaknya yang ditepuk-tepuk halus.

“Ya, ya. Nangis sepuas lo, biar lo lebih lega.”

Mika mendongak takut-takut. Dia mendapati Gio sudah terduduk di hadapannya, menatapnya iba. Tiba-tiba dia merasa takut, dia langsung menjauh dari Gio.

“Udah puas nangisnya?” Gio bertanya dengan datar.

Mika menatap Gio dengan matanya yang merah. Wajahnya juga ikut memerah dan basah. Rambutnya sedikit kusut.

“Kenapa... lo...”

Gio menatap langit-langit rumahnya. “Ternyata itu cuma gosip. Kenapa lo nggak mau nyangkal?”

Mika masih bengong. Dia nggak mengerti dengan kondisi yang sekarang. Dia bahkan nggak mengerti ucapan Gio barusan.

Gio berdiri, berjalan mendekati Mika. Kemudian tangannya terulur. “Masih syok?” Mika menatap tangan Gio, kemudian wajahnya. “Gue cuma ngerjain lo.”

Muka Mika terlihat dua kali lebih syok. Jadi... daritadi dia dikerjai?

“Apa maksud lo ngerjain gue?” Suara Mika sedikit serak.

Gio sedikit tertawa. “Ya gue seneng aja ngerjain orang,” kata Gio dengan santainya.

“LO PIKIR CANDAAN LO LUCU?!” Mika benar-benar nggak suka dengan cara bercandanya Gio.

Gio menatap Mika tajam dan serius. “Dan sekarang lo nggak mau berterimakasih sama gue karena gue udah nyelametin elo dari gengnya Breta?”

Mika langsung tertohok. Jadi...

“Kenapa lo diem? Acara teriak-teriakannya selesai?”

“Sori Gi... gue...” Mika nggak tahu harus ngomong apa lagi. “Tapi kenapa lo mau bantuin gue?”

Gio sedikit menyeringai. “Lo pikir gue simpatik sama lo?” Mika hanya menatap Gio. “Lagian gue ngerjain lo karena gue emang punya alasan tertentu, itu pun karena gue kepengin ngebales perbuatan lo.”

Kening Mika mengerut. Kemudian Gio menunjukkan seragamnya yang bernodakan kemerahan. Mika semakin nggak mengerti.

“Lo masih belom tau juga siapa yang ngelakuin ini?” Mika menggeleng. “Itu elo.”

Mika langsung kaget. “Gue? Emangnya gue ngapain?”

Gio mendecakkan lidahnya. “Lo nggak alzheimer, kan? Di lorong sekolah, lo sempet nabrak gue yang lagi bawa fanta, dan akhirnya tuh minuman kena ke seragam gue.”

“Tapi gue...”

“Lo emang nggak ngeliat, makanya gue langsung jalan terus. Lo pikir gue nggak malu?”

“So—sori, Gi, gue...”

“Ah, kebanyakan minta maaf lo! Emangnya lebaran?”

Mika langsung mengkeret. Ternyata Gio galak juga.

“Yang sekarang gue nggak ngerti, kenapa ada rumor ‘itu’?” Gio langsung to the point. “Gue pikir tadi lo bakal mau terima tawaran dari gue.”

“Kalo gue terima, gimana?” Gio sedikit kaget.

“Lo pikir gue beneran bisa bayar? Ongkos aja masih minta sama nyokap.”

Mika langsung terdiam, kemudian dia menundukkan kepalanya. “Mau gue ngomong apa pun, mereka juga nggak bakal percaya sama gue.”

“Tapi kalo deket sama cowok...”

“Kalo itu emang bener, gue lebih suka deket sama cowok dibanding sama cewek. Bukannya gue keganjenan, gue merasa lebih free kalo deket atau temenan sama cowok. Dan bukan berarti gue jalang yang kayak disebutin sama Breta tadi,” Mika menunduk sedih.

“Tapi kenyataannya lo keliatan kayak gitu,” Mika langsung tertohok, dia mengangkat kepalanya.

“Apa maksud lo?”

“Mika, temenan itu ada batesnya. Gue tau lo lebih nyaman sama cowok, tapi gue ingetin sekali lagi, ada batesnya. Mereka—cowok—lebih free dibandingkan cewek yang terkadang jadi korban. Buktinya elo.”

Mika menaikkan alisnya. “Tapi... gue nggak pernah dimainin sama mereka! Maksud gue...” Mika menghentikan kata-katanya. “Lo ngerti apa maksud gue.”

Gio menghela napasnya. “Gue tau, Ka. Gue juga cowok. Lo emang nyaman temenan sama cowok, tapi apa timbal baliknya di cewek yang ada di lingkungan lo? Mereka seneng? Enggak. Lo malah kayak keliatan—maaf—jablay di mata mereka.”

Cukup lama Mika terdiam. Benar juga perkataan dari Gio. Akhirnya dia mendongakkan kepalanya.

“Thanks, Gi. Lo motivator banget.”

Gio hanya mengedikkan bahunya.

“Gue pikir elo gay, Gi.”

“WHAT?!”

“Ya abis lo jarang banget ngobrol sama cewek, sama gue juga, galak banget lagi.”

“Terus kalo gue galak, gue gay gitu?”

Kini giliran Mika yang mengedikkan bahunya. Kemudian Mika tersenyum. “Sekali lagi thanks banget, Gi.”

“Nggak usah banyak bilang makasih deh. Nggak butuh gue.”

Mika hanya nyengir kuda. Gio galaknya berlebihan, kata Mika dalam hati.

“Terus, menurut lo gue harus gimana?” Mika kembali ke persoalannya.

“Lo udah punya pacar?” Mika menggeleng pelan. “Kenapa lo nggak coba buat cari pacar biar lo nggak disebut-sebut lagi jadi jalang?”

“Tapi nggak ada yang mau sama gue.”

“Mata lo buta ya?” Gio langsung menyela. “Lo itu peka nggak sih? Cowok yang ada di sekeliling lo tuh selalu flirt sama lo. Masa iya lo nggak ngerti keadaan?”

Mika hanya mengedikkan bahunya. “Ck. Ternyata lo cuma pake paras doang, tapi otak enggak.”

Mika langsung melotot. “Kok lo ngatain gue sih? Untuk masalah peka atau enggak kan itu pake perasaan. Emangnya cowok yang kalo ngapa-ngapain selalu pake otak? Nggak ada perasaan sama sekali.”

“Maksud lo, lo ngatain gue nggak berperasaan, gitu?”

“Sekarang gini deh. Lo udah punya pacar belom?” Gio hanya terdiam. “Itu berarti lo nggak punya perasaan karena sampe hari ini lo belom punya pacar.”

“Emangnya gue udah ngejawab punya pacar atau enggak? Jangan sok tau deh.”

“Keliatan dari mata lo.”

Gio terdiam lagi. Yah, ketahuan deh.

Mika mendesah pelan. “Gimana... kalo elo yang jadi pacar gue?”

Dengan cekatan Gio menatap Mika. Kemudian dia tertawa lebar. “HAHAHAHA! Jangan mimpi lo!”

Dahi Mika mengernyit. “Gue nggak mimpi, emangnya gue keliatan lagi tidur?”

Gio mengatupkan rahangnya. “Nggak. Gue nggak mau.” Mata Mika menyiratkan ‘Kenapa?’ dengan polosnya. “Kenapa lo nggak pacarin temen lo itu?”

“Maksud lo Leo?”

“Ya ya itu.”

“Haha. Mana mungkinlah, dia temen SD gue. Nggak mungkin dia gue jadiin pacar gue.”

“Jadi... lo nembak gue?”

“Oh... lo mau ditembak sama gue?” Gio mengerutkan keningnya. “Ya udah. Gio, lo mau jadi pacar gue, kan? Oke. Lo pasti fix mau.”

Gio langsung mengernyit jijik ke arah Mika. Tuh cewek memang benar-benar kelewat sarap.

***

“Giooooo!!!” Sebuah tangan sudah melingkari lengannya. Gio langsung menoleh ke pemilik tangan tersebut. Begitu mengetahui Mika yang melingkari lengannya, Gio langsung melepaskannya.

“Apa-apaan sih lo?” Gio langsung berkata ketus.

“Ih, Gio. Kita kan udah jadian kemaren. Masa lupa?” Mika mengerlingkan sebelah matanya, membuat Gio semakin jijik.

“Itu cuma pura-pura, ngerti?” Gio mengingatkan.

“Iya deh, iya,” Mika tersenyum tipis.

Mika berjalan di belakang Gio. Gio juga nggak mau menyejajarkan langkahnya dengan Mika. Tiba-tiba saja bahu Mika tertarik ke arah belakang.

“Sekarang lo nggak bisa kabur lagi,” Breta muncul lagi bersama gengnya. “Belom lama lo sama Bimo, kemaren sama Gio. Lo tuh miskin duit ya sampe ngejual tubuh lo ke orang lain?”

Mata Mika memanas. Kedua tangannya menggeram. “Jangan asal ngomong...” Mika bersuara kecil.

“Apa? Hahaha. Lo pikir emangnya gue nggak tau?”

“Lo semua tuh apa-apaan sih?” Sebuah suara mengagetkan mereka, termasuk Mika. Gio benar-benar menampangkan wajah masamnya. “Lo tuh pada nggak ngerti keadaan ya? Lo pikir ini sinetron yang suka main labrak-labrakan?”

Gio menarik tangan Mika keluar dari kerumunan geng Breta. Breta juga sedikit ketakutan dengan Gio. Tanpa berkata lagi, Gio dan Mika berjalan meninggalkan Breta and the geng.

“Liat aja lo jalang! Kali ini lo masih bisa selamet!”

Gio menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badannya dan melepas tangan Mika. Dia kembali berjalan menuju Breta. Breta langsung mati kutu ketika wajah Gio hanya sedekat lima senti dari mukanya. Dia memang benar-benar bisa membuat orang jadi ciut.

“Apa lo bilang tadi?”

Breta terdiam sejenak. Tapi dia nggak harus takut sama Gio. “Ja...jalang. Kenapa emangnya?”

“Coba bilang sekali lagi,” pinta Gio dengan nada tajam.

“Jalang. Tuh cewek emang jalang.” Kali ini Breta benar-benar berani.

Gio mengangkat sudut bibirnya. “Kali ini lo masih bisa selamet. Tapi kalo sekali lagi gue denger elo nyebut pacar gue ‘jalang’,” Gio tersenyum tipis, namun menakutkan. “Lo yang nggak bakalan selamet.”

Gio langsung membalikkan badan dan berjalan menuju Mika. Dia kembali menggenggam tangan Mika dan berjalan menjauh dari tempat tersebut.

***

Dan berita itu pun dengan cepat meluas. Tapi hal itu justru membuat nama Mika semakin kotor. Dia justru selalu ditatap rendah oleh orang lain karena—katanya—selalu gonta-ganti cowok. Dan Gio pun sekarang juga semakin terkenal karena hal itu.

“Kayaknya percuma Gi lo jadi pacar boongan gue,” kata Mika ketika sudah tiga hari mereka berpura-pura pacaran. Gio hanya menatap Mika, nggak menjawab. “Kita udahin aja, Gi. Percuma. Gue malah ngotorin nama lo juga.”

“Kita baru nyoba 3 hari, belom ada seminggu. Lo mau nyerah gitu aja?”

Mika menatap Gio. “Bukannya lo seneng kalo hal ini kita udahin?” Gio menghindari tatapan Mika. “Gi. Jangan bilang elo...”

“Ya.”

“Gue pikir elo...”

“Kalo lo mikir gue kayak gitu, dari awal gue pasti nolak permintaan lo itu.” Mika menghela napasnya. “Gue mohon ke elo buat batalin yang tadi.”

“Jadi lo beneran mau pacaran sama gue?” Gio hanya terdiam. Mika tersenyum. Kalau Gio diam, berarti jawabannya iya. “Tapi lo bakal ngebela gue di depan orang-orang kan?”

Gio tersenyum. “Jangan ditanya, gue bakal ngebela elo.”
Continue reading
Share:
Views:
Older Posts Home
Subscribe to: Posts ( Atom )

Hi, you!

Hi, you!

Blog Archive

  • ▼  2017 (3)
    • ▼  September (1)
      • Intro Perkuliahan
    • ►  July (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (3)
  • ►  2013 (24)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  May (1)
    • ►  April (5)
    • ►  January (4)

Labels

CAKES! Cerbung Cerpen Imajinasi Travel Trip

Wanna be my mate?

© 2016 Astaghiri | All rights reserved
Created By Responsive Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates