Astaghiri

  • Home
  • CERPEN
  • CERBUNG
  • CAKES!
  • Trip
Cerpen

Mika

Sunday, April 20, 2014 By astaghiri 0 Comments
Hop! Mika melompati genangan air dengan lincah. Pagi ini, hujan sempat mengguyur tempat kelahirannya, Jakarta. Pagi ini dia cukup bersemangat. Namun tidak untuk teman-teman sebayanya yang berada di sekelilingnya. Mereka justru mengernyit jijik kepadanya.

“Apaan sih tuh cewek?” gumam salah satu dari mereka.

“Lebay banget deh jadi orang,” timpal yang lain.

“Bukan lebay, tapi kelewat centil jadi begitu!”

Mika sebenarnya mendengar, tapi dia pura-pura nggak mendengarnya dengan terus berjalan menuju gerbang sekolahnya. Dia terus menampangkan senyum manisnya.

“Pagi Mikaaa...” sapa seorang cowok dengan hangatnya, namun dengan nada menggoda. Mika membalas senyum kakak kelasnya tersebut, Bimo.

“Pagi juga, Kak!” balas Mika dengan semangat.

“Kamu udah sarapan? Pasti belom, kan? Kalo gitu aku traktir deh!” tawarnya. Yah, tuh cowok memang suka berlebihan tanya ini-itu seperti layaknya pacar. Padahal Bimo dan Mika nggak ada hubungan sama sekali.

Sebenarnya Mika berminat, tapi yah—sebentar lagi bel masuk sekolah. Dengan cara halus dia menolaknya.

“Makasih, Kak. Kapan-kapan aja, ya? Aku masuk ke kelas dulu ya!” Mika langsung pamit dari hadapan kakak kelasnya. Bimo sedikit menghela napasnya. Lagi-lagi dia gagal mengajak Mika untuk makan bersamanya walaupun sekedar sarapan.

Mika berjalan di lorong. Sekarang, dia memang menjadi pusat perhatian. Sebagian cewek menatapnya dengan rendah, yang lain hanya ingin tahu saja. Dan yang cowok tentu saja langsung tertarik dengan kehadiran Mika. Tapi Mika berpura-pura nggak tahu kalau ada banyak orang yang memerhatikannya.

Ketika dia ingin berbelok ke arah tangga, seseorang menabraknya. Karena badan Mika kecil, dia memang gampang banget jatuh.

“Tuh, gue bilang juga apa? Tuh cewek emang caper!” ucap seseorang yang Mika nggak tahu siapa orangnya.

“Dia tuh sengaja! Biasa cewek kayak gitu mah!” timpal yang lainnya.

Tiba-tiba tangan seseorang terulur. Mika menoleh dan mendapati Leo berada di hadapannya. Mika langsung tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Kemudian dia berdiri dengan dibantu Leo.

“Thanks, Yo,” ucap Mika sambil membersihkan debu yang menempel di rok bagian belakang.

“Mau gue bantuin bersihin juga nggak rok lo?”

Mika langsung menempeleng kepala Leo. “Bukannya minta maaf udah ngebuat gue jatoh, malah cari-cari kesempatan lagi!” Lalu Mika tertawa, Leo hanya nyengir kuda.

“Kan lo udah bilang ‘thanks’, masa gue bilang sori? Basi, Ka.”

Mika hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya.

“Gimana dengan hari ini?” Leo bertanya.

“Mmh?” Mia nggak tertarik menoleh ke arah Leo walaupun sebenarnya dia tahu apa yang dimaksud oleh Leo.

“Oh, I know!” seru Leo tiba-tiba.

“Tau apaan lo emangnya?”

Leo mendecakkan lidahnya. “Lo pikir lo temenan sama gue berapa lama sih?”

Mika hanya nyengir kuda. Namun semakin lama, senyumannya menghilang.

“Yeah, as usual,” Mika mendesah. “But, I don’t care! I love it!” Mika langsung bersenandung lagu milik Icona Pop.

“Yakin?” Leo menuduh tajam. Dia tahu sekarang Mika sedang berpura-pura.

Mika langsung merangkul Leo. “Lo kebanyakan taunya, deh!”

***

Mika memang cantik. Okelah, itu bagian plus dari dia. Dia manis? Baiklah. Itu dua bagian plus dari Mika. Dia ramah? Ya ampun, dia memang ramah banget. Dia ceria? Jangan ditanya lagi. Dia nyaris sempurna untuk ukuran cewek, kecuali tinggi badannya. Tapi satu hal itu yang membuat Mika semakin imut.

Tapi, itu untuk cowok. Dia memang ramah banget ke cowok, nggak pernah merasa risi jika ada cowok di sekelilingnya. Nggak heran jika banyak anak cowok yang mendekatinya, bahkan kakak kelas pun juga ikut kecantol.

Tapi, ENGGAK untuk cewek. Bukannya dia nggak pernah bersikap ramah ke cewek yang berada di sekelilingnya, terutama di lingkungan sekolahnya. Dia bahkan nggak pernah membedakan sikap ramahnya terhadap cowok mau pun cewek.

Tapi, timbal baliknya yang dia dapatkan itu berbeda jauh dari cewek dan cowok.

Untuk cowok, okelah, mereka masih berbaik hati mau menyapa Mika.

Tapi sekali lagi, ENGGAK untuk cewek. Mereka bahkan kepengin Mika enyah dari pandangan mereka.

Walaupun begitu, Mika nggak mau membalas apa pun yang terdengar jahat. Yang penting, ‘kasih senyum aja’, begitu kata Leo. Mika pun menerapkannya. Tapi justru itulah yang membuat cewek-cewek di lingkungan sekolahnya menjadi semakin benci dengannya.

Kecuali Fida. Dia satu-satunya teman cewek Mika di sekolah tersebut. Fida nggak peduli tentang ucapan orang lain ke Mika. Toh Mika orangnya baik, baik banget malah. Fida nggak pernah tuh merasa terbebani berteman dengan Mika.

“Ka, beli bakso yuk. Laper nih gue,” pinta Fida sambil memeluk lengan Mika.

“Ayo. Gue juga laper nih.”

Mika dan Fida langsung ambil spot di ujung kantin, karena bagian depan dan tengah sudah diisi lautan manusia. Mika memesan minuman, sedangkan Fida makanannya. Ketika Mika menuju meja makannya, Fida belum di sana. Mungkin Fida masih memesan.

Nggak lama, Fida datang dengan membawa dua mangkuk bakso.

“Duh! Duh! Panas! Misi! Misi! Air panas nih! Air panas!”

Mika langsung berdiri dan membantu Fida membawa mangkuk baksonya. Setelah duduk di mejanya, Fida langsung menaruh beberapa sendok sambal ke mangkuknya.

Tiba-tiba saja Leo datang dan langsung duduk di samping Fida. Untung saja Fida lagi nggak memasukkan bakso ke dalam mulutnya. Kalau iya, mungkin bakso yang berada di mulutnya akan meluncur ke meja seberang.

“Et! Si Lele! Ganggu aja sih lo!” damprat Fida. Leo hanya cekikikan.

“Makan, Yo,” tawar Mika.

“Nggak, Ka, makasih. Gue lagi nggak laper.” Walaupun begitu, dia langsung menyambar minuman milik Fida. Tuh cowok memang suka usil banget ke Fida.

“Ya elah, Le! Beli aja kenapa sih! Lo nggak modal banget dah jadi orang!”

“Minta doang Fid, sedikit. Pelit amat sih lu.”

“Aduh, jangan pacaran di depan gue dong,” Kali ini Mika angkat suara.

Leo langsung tertawa, Fida justru menganga idiot. Pacaran katanya? No way!

“Kalo lo ngomong kayak gitu sekali lagi, gue cocolin sambel nih, Ka!” ancam Fida.

“Huuu... takut...” Mika justru memancing, hal itu membuat Mika dan Leo semakin tertawa.

“Eh, Lang, ternyata lo di sini toh?”

Mereka bertiga langsung menengok dan mendapatkan Breta bersama teman satu gengnya berdiri di depan meja mereka.

“Lo salah meja ya, Bret? Di sini nggak ada yang namanya Gilang, Galang, cakalang, alang-alang atau lang-lang lainnya,” Fida langsung menyahut.

Breta menggeram. Dia paling nggak suka dipanggil dengan sebutan ‘Bret’. Padahal, namanya sudah bagus Breta, malah dipanggil Bret. Tapi kali ini dia lagi nggak mau berurusan dengan Fida.

“Maksud gue Jalang. Ya nggak, Lang?” Breta tersenyum jahat ke arah Mika. Mika hanya melirik, dia hanya tersenyum samar.

Yang terbawa emosi justru Fida dan Leo. “Nggak usah cari ribut di sini deh, Bret,” Leo memang nggak suka dengan Breta.

“Lo nggak malu apa diliatin anak-anak?” Gantian Fida yang bersuara.

Breta langsung menampangkan wajah kagetnya. “Lho? Kenapa gue mesti malu? Gue kan masih punya muka. Lah dia? Nggak punya muka tapi masih berani nampangin diri di sekolah.”

“Emang sekolah ini punya nenek moyang lo apa?” sembur Fida. “Mata lo buta ya, Bret? Udah tau mukanya dia mulus begitu, emangnya elo yang jerawatan?”

Fida berdiri, dibarengi dengan Leo. “Lo laper nggak Bret? Tuh masih ada sisa bakso di mangkok. Kali aja lo suka makanan sisa.” Hal ini membuat Breta semakin geram. Leo dan Mika langsung tertawa dalam hati. Kemudian Fida menarik tangan Mika agar segera pergi dari meja tersebut.

Setelah menjauh dari Breta dan gengnya, Fida langsung berdiri di hadapan Mika dan menghentikan langkah cewek itu.

“Lo kenapa sih, Ka?” Nada bicara Fida kali ini serius. Leo hanya berdiri di belakang mereka, biar mereka yang menyelesaikannya terlebih dahulu.

“Kenapa apanya, Fida sayang?”

Fida berdecak sebal. “Mereka tuh ngatain lo! Lo kenapa sih sok pura-pura baik-baik aja? Gue tuh tau kalo lo sakit hati! Tapi kenapa lo nggak mau ngelak pernyataan itu sih?” Fida memang orang yang blak-blak-an. Dia paling nggak suka sama orang yang suka pasang senyum palsu.

“I’m very well, tengkyuuuu,” Mika justru membalas dengan nada canda. “Gue ke toilet dulu ya,” Mika menepuk-nepuk pipi Fida, kemudian berjalan menuju toilet.

Fida menoleh ke arah Leo. “Tuh cewek kenapa sih? Heran gue sama dia.”

Leo menghampiri Fida dan merangkulnya. “Dia tuh cuma pura-pura kuat doang, Fid.”

Leo dan Fida menghela napas bersamaan. Fida baru sadar kalau tangan Leo sudah tersampir di bahunya. Dia langsung melepas tangan Leo. “Cari kesempatan aja sih lo!”

Leo hanya nyengir kuda.

Sebenarnya Mika juga nggak ada hasrat buat buang air kecil. Dia cuma mau ngehindarin omelannya Fida yang bakal panjang lebar. Setelah mencuci tangannya, Mika segera keluar dari toilet.

Ketika lagi di lorong sekolah, dia baru sadar ternyata tali sepatunya lepas. Dia menyempatkan untuk memasangnya terlebih dahulu. Setelah itu Mika kembali ber—

BRUGH!!! Lagi-lagi tertabrak oleh seseorang. Tapi kali ini bukan Leo.

“Shit!” gumam cowok itu.

Mika melirik ke arah orang yang menabraknya. Itu Gio, teman sekelas Mika yang pada sampai hari ini pun mereka nggak pernah bertegur sapa. Dia memang dingin banget. Dan sekarang, cowok itu justru ingin berlalu dari hadapan Mika tanpa minta maaf atau pun membantunya berdiri.

Sebelum tuh cowok menjauh dari Mika, Mika sempat menggumam, “Lo... nggak mau bantuin gue berdiri?”

Gio hanya menolehkan kepalanya, menatap Mika dengan rendah.

“Lho? Yang nabrak siapa emangnya? Lo pikir mentang-mentang lo cewek, gue jadi respek ke elo terus gue jadi ngerasa bersalah, gitu? Makan tuh respek.”

Gio kembali berjalan meninggalkan Mika yang masih terduduk di lantai. Keningnya berkerut. Kenapa sih tuh cowok? Jelas-jelas memang dia yang salah. Kenapa jadi Mika yang kena omel?

***

“Eh, Jalang! Kita belom selesai!” Breta and the geng langsung mendamprat Mika. Mika mengkeret tersudut di antara mereka.

“Dibayar berapa lo sama Bimo?” Breta langsung to the point.

“Gue nggak ada urusan sama dia, oke?”

Mika yang hendak keluar dari perkumpulan itu langsung didorong kembali oleh Breta. Percuma ngelawan Breta. Badan Mika nggak sebanding dengan badannya Breta.

“Lo pikir gue nggak tau apa? Lo boleh ngambil cowok orang lain, tapi nggak buat Bimo!”

Mika sedikit tertawa. Memangnya dia pikir dia siapa?

“Kenapa lo ketawa?” Breta merasa tersinggung.

“Gue nggak ngerebut Bimo dari lo, ngerti?”

“Lo kira gue bego?! Lo jadi cewek jangan sok cakep deh!”

“Lho? Gue emang cakep. Emangnya lo mau apa?” Breta menggeramkan tangannya. “Seharusnya lo mikir, kenapa si Bimo mutusin elo. Gue sih nggak nyoba buat ngedeketin Bimo, tapi dia sendiri yang ngedeketin gue.”

“Elo—” Breta mengangkat tangannya yang terkepal di udara. Namun sebelum sempat mengenai bagian wajah Mika, tangan Mika langsung ditarik seseorang dan keluarlah dia dari pergumulan tersebut.

Breta and the geng langsung membalikkan badannya.

“Udah cukup buat diskusinya? Gue punya urusan sama nih cewek,” Gio menarik keras tangan Mika dan menyuruhnya untuk menaiki motornya. Dalam sekejap, dia langsung menghilang di depan sekolah.

“DASAR JALANG!!!”

Selama di motor, Mika hanya terdiam. Gio juga nggak ngomong sama sekali. Setelah menikmati perjalanan yang kosong, mereka berdua sampai di sebuah rumah yang tampak sepi. Mika turun dari motor Gio.

“Ini... rumah lo?”

Gio hanya diam, dia mendorong motornya ke dalam garasinya. Yah, sepertinya ini memang rumahnya.

“Masuk,” Akhirnya Gio angkat suara. Sebenarnya Mika hendak menolak, tapi karena merasa nggak enak hati, akhirnya dia masuk ke dalam rumah Gio.

Rumah Gio cukup sepi. Mika duduk di sofa ruang tamu. Gio berjalan menuju dapur, mengambil sesuatu di sana. Nggak lama, dia kembali membawa minuman dan beberapa snack. Kenapa nih cowok? Mika mulai merasa aneh.

“Kenapa lo?” Gio melirik ke arah Mika, ikut heran. Kayaknya dia bisa baca pikirannya Mika deh.

Mika hanya geleng-geleng. Yang tadinya Gio ikut duduk di sofa, kini Gio berdiri menuju pintu rumahnya dan... menutupnya, lalu dia menguncinya. Makin gelaplah rumahnya sekarang.

“Kok pintunya ditutup?” Mika mulai gusar.

Gio membalikkan badannya. Alisnya terangkat. “Kenapa emangnya? Bukannya lo suka suasana yang remang-remang kayak gini?”

Gio melangkah perlahan. Dia juga membuka dasinya. Tapi pandangannya nggak lepas dari Mika yang mulai ketakutan. Mika juga ikut menggeser posisi duduknya hingga dia terpojokkan.

“Lo mau ngapain, Gi?”

Gio membuat raut wajah kaget. “Nggak usah takut gitu dong,” Mika nggak ngerti nada ucapan Gio barusan. Yang jelas, ucapannya itu sama sekali tidak menenangkan Mika. “Masa lo nggak tau sih kalo gue mau ngapain?” Gio tersenyum aneh.

Gio semakin mendekat. Bahkan dia sudah berada di sofa, mendekati Mika yang semakin terpojok.

“Lo lagi butuh duit berapa? Gue bakal kasih lo uang, asalkan...” Kini Gio benar-benar berada di hadapan Mika. Mika sudah nggak bisa mundur lagi. Bahkan wajah mereka pun hanya berjarak dua senti.

“Gua nggak butuh duit lo!” Mika langsung menendang perut Gio. Sontak Gio langsung mundur ke belakang. Mika segera menjauh dari Gio. “Gue mau pulang! Cepet bukain pintunya!” Mika semakin histeris.

“Mau lo teriak sekenceng apa pun, nggak ada orang yang bakal denger lo,” Gio mencoba berdiri. Ternyata sakit juga tendangan dari Mika.

“Lo mau ngapain?!” pekik Mika lagi ketika Gio mencoba mendekatinya.

“Mikaaa... nggak usah pake malu-malu gitu deh. Kenapa sih lo? Giliran sama cowok lain, lo mau-mau aja. Tapi kenapa gue enggak?”

“Apa maksud lo?!”

“Mika, lo lebih ngerti dibanding gue.”

Mika menggeleng keras. “Gue nggak pernah ngelakuin apa pun! Apalagi yang ada di pikiran lo itu! Lo pikir gue cewek apaan?!”

Gio sedikit kaget. “Lho? Bukannya rumor itu emang bener?”

“NGGAK! GUE NGGAK PERNAH BERBUAT HAL KOTOR KAYAK YANG LO PIKIRIN!”

Gio tertawa sumbang. “Lo pikir gue percaya? Berapa sih duit yang lo mau? Sejuta? Dua juta? Atau sepuluh juta? Gue jabanin.”

Mika menggeleng-geleng. Yang dia mau sekarang adalah keluar dari rumah ini dan pulang!

“Kenapa sih Mika sayang?” Terdengar nada mengancam dari Gio. “Gue bakal ngelakuinnya secara perlahan kok.”

Tiba-tiba kaki Mika bergetar. Dia sudah nggak bisa untuk melangkah mundur, Gio juga semakin dekat menuju ke arahnya.

Dan hanya yang bisa Mika lakukan adalah terjongkok dan kemudian menangis. Dia nggak tahu lagi apa yang harus dia lakukan selain menangis.

Dia pikir Gio akan tetap menyuruhnya melakukan hal yang tidak-tidak. Namun tiba-tiba saja dia merasakan pundaknya yang ditepuk-tepuk halus.

“Ya, ya. Nangis sepuas lo, biar lo lebih lega.”

Mika mendongak takut-takut. Dia mendapati Gio sudah terduduk di hadapannya, menatapnya iba. Tiba-tiba dia merasa takut, dia langsung menjauh dari Gio.

“Udah puas nangisnya?” Gio bertanya dengan datar.

Mika menatap Gio dengan matanya yang merah. Wajahnya juga ikut memerah dan basah. Rambutnya sedikit kusut.

“Kenapa... lo...”

Gio menatap langit-langit rumahnya. “Ternyata itu cuma gosip. Kenapa lo nggak mau nyangkal?”

Mika masih bengong. Dia nggak mengerti dengan kondisi yang sekarang. Dia bahkan nggak mengerti ucapan Gio barusan.

Gio berdiri, berjalan mendekati Mika. Kemudian tangannya terulur. “Masih syok?” Mika menatap tangan Gio, kemudian wajahnya. “Gue cuma ngerjain lo.”

Muka Mika terlihat dua kali lebih syok. Jadi... daritadi dia dikerjai?

“Apa maksud lo ngerjain gue?” Suara Mika sedikit serak.

Gio sedikit tertawa. “Ya gue seneng aja ngerjain orang,” kata Gio dengan santainya.

“LO PIKIR CANDAAN LO LUCU?!” Mika benar-benar nggak suka dengan cara bercandanya Gio.

Gio menatap Mika tajam dan serius. “Dan sekarang lo nggak mau berterimakasih sama gue karena gue udah nyelametin elo dari gengnya Breta?”

Mika langsung tertohok. Jadi...

“Kenapa lo diem? Acara teriak-teriakannya selesai?”

“Sori Gi... gue...” Mika nggak tahu harus ngomong apa lagi. “Tapi kenapa lo mau bantuin gue?”

Gio sedikit menyeringai. “Lo pikir gue simpatik sama lo?” Mika hanya menatap Gio. “Lagian gue ngerjain lo karena gue emang punya alasan tertentu, itu pun karena gue kepengin ngebales perbuatan lo.”

Kening Mika mengerut. Kemudian Gio menunjukkan seragamnya yang bernodakan kemerahan. Mika semakin nggak mengerti.

“Lo masih belom tau juga siapa yang ngelakuin ini?” Mika menggeleng. “Itu elo.”

Mika langsung kaget. “Gue? Emangnya gue ngapain?”

Gio mendecakkan lidahnya. “Lo nggak alzheimer, kan? Di lorong sekolah, lo sempet nabrak gue yang lagi bawa fanta, dan akhirnya tuh minuman kena ke seragam gue.”

“Tapi gue...”

“Lo emang nggak ngeliat, makanya gue langsung jalan terus. Lo pikir gue nggak malu?”

“So—sori, Gi, gue...”

“Ah, kebanyakan minta maaf lo! Emangnya lebaran?”

Mika langsung mengkeret. Ternyata Gio galak juga.

“Yang sekarang gue nggak ngerti, kenapa ada rumor ‘itu’?” Gio langsung to the point. “Gue pikir tadi lo bakal mau terima tawaran dari gue.”

“Kalo gue terima, gimana?” Gio sedikit kaget.

“Lo pikir gue beneran bisa bayar? Ongkos aja masih minta sama nyokap.”

Mika langsung terdiam, kemudian dia menundukkan kepalanya. “Mau gue ngomong apa pun, mereka juga nggak bakal percaya sama gue.”

“Tapi kalo deket sama cowok...”

“Kalo itu emang bener, gue lebih suka deket sama cowok dibanding sama cewek. Bukannya gue keganjenan, gue merasa lebih free kalo deket atau temenan sama cowok. Dan bukan berarti gue jalang yang kayak disebutin sama Breta tadi,” Mika menunduk sedih.

“Tapi kenyataannya lo keliatan kayak gitu,” Mika langsung tertohok, dia mengangkat kepalanya.

“Apa maksud lo?”

“Mika, temenan itu ada batesnya. Gue tau lo lebih nyaman sama cowok, tapi gue ingetin sekali lagi, ada batesnya. Mereka—cowok—lebih free dibandingkan cewek yang terkadang jadi korban. Buktinya elo.”

Mika menaikkan alisnya. “Tapi... gue nggak pernah dimainin sama mereka! Maksud gue...” Mika menghentikan kata-katanya. “Lo ngerti apa maksud gue.”

Gio menghela napasnya. “Gue tau, Ka. Gue juga cowok. Lo emang nyaman temenan sama cowok, tapi apa timbal baliknya di cewek yang ada di lingkungan lo? Mereka seneng? Enggak. Lo malah kayak keliatan—maaf—jablay di mata mereka.”

Cukup lama Mika terdiam. Benar juga perkataan dari Gio. Akhirnya dia mendongakkan kepalanya.

“Thanks, Gi. Lo motivator banget.”

Gio hanya mengedikkan bahunya.

“Gue pikir elo gay, Gi.”

“WHAT?!”

“Ya abis lo jarang banget ngobrol sama cewek, sama gue juga, galak banget lagi.”

“Terus kalo gue galak, gue gay gitu?”

Kini giliran Mika yang mengedikkan bahunya. Kemudian Mika tersenyum. “Sekali lagi thanks banget, Gi.”

“Nggak usah banyak bilang makasih deh. Nggak butuh gue.”

Mika hanya nyengir kuda. Gio galaknya berlebihan, kata Mika dalam hati.

“Terus, menurut lo gue harus gimana?” Mika kembali ke persoalannya.

“Lo udah punya pacar?” Mika menggeleng pelan. “Kenapa lo nggak coba buat cari pacar biar lo nggak disebut-sebut lagi jadi jalang?”

“Tapi nggak ada yang mau sama gue.”

“Mata lo buta ya?” Gio langsung menyela. “Lo itu peka nggak sih? Cowok yang ada di sekeliling lo tuh selalu flirt sama lo. Masa iya lo nggak ngerti keadaan?”

Mika hanya mengedikkan bahunya. “Ck. Ternyata lo cuma pake paras doang, tapi otak enggak.”

Mika langsung melotot. “Kok lo ngatain gue sih? Untuk masalah peka atau enggak kan itu pake perasaan. Emangnya cowok yang kalo ngapa-ngapain selalu pake otak? Nggak ada perasaan sama sekali.”

“Maksud lo, lo ngatain gue nggak berperasaan, gitu?”

“Sekarang gini deh. Lo udah punya pacar belom?” Gio hanya terdiam. “Itu berarti lo nggak punya perasaan karena sampe hari ini lo belom punya pacar.”

“Emangnya gue udah ngejawab punya pacar atau enggak? Jangan sok tau deh.”

“Keliatan dari mata lo.”

Gio terdiam lagi. Yah, ketahuan deh.

Mika mendesah pelan. “Gimana... kalo elo yang jadi pacar gue?”

Dengan cekatan Gio menatap Mika. Kemudian dia tertawa lebar. “HAHAHAHA! Jangan mimpi lo!”

Dahi Mika mengernyit. “Gue nggak mimpi, emangnya gue keliatan lagi tidur?”

Gio mengatupkan rahangnya. “Nggak. Gue nggak mau.” Mata Mika menyiratkan ‘Kenapa?’ dengan polosnya. “Kenapa lo nggak pacarin temen lo itu?”

“Maksud lo Leo?”

“Ya ya itu.”

“Haha. Mana mungkinlah, dia temen SD gue. Nggak mungkin dia gue jadiin pacar gue.”

“Jadi... lo nembak gue?”

“Oh... lo mau ditembak sama gue?” Gio mengerutkan keningnya. “Ya udah. Gio, lo mau jadi pacar gue, kan? Oke. Lo pasti fix mau.”

Gio langsung mengernyit jijik ke arah Mika. Tuh cewek memang benar-benar kelewat sarap.

***

“Giooooo!!!” Sebuah tangan sudah melingkari lengannya. Gio langsung menoleh ke pemilik tangan tersebut. Begitu mengetahui Mika yang melingkari lengannya, Gio langsung melepaskannya.

“Apa-apaan sih lo?” Gio langsung berkata ketus.

“Ih, Gio. Kita kan udah jadian kemaren. Masa lupa?” Mika mengerlingkan sebelah matanya, membuat Gio semakin jijik.

“Itu cuma pura-pura, ngerti?” Gio mengingatkan.

“Iya deh, iya,” Mika tersenyum tipis.

Mika berjalan di belakang Gio. Gio juga nggak mau menyejajarkan langkahnya dengan Mika. Tiba-tiba saja bahu Mika tertarik ke arah belakang.

“Sekarang lo nggak bisa kabur lagi,” Breta muncul lagi bersama gengnya. “Belom lama lo sama Bimo, kemaren sama Gio. Lo tuh miskin duit ya sampe ngejual tubuh lo ke orang lain?”

Mata Mika memanas. Kedua tangannya menggeram. “Jangan asal ngomong...” Mika bersuara kecil.

“Apa? Hahaha. Lo pikir emangnya gue nggak tau?”

“Lo semua tuh apa-apaan sih?” Sebuah suara mengagetkan mereka, termasuk Mika. Gio benar-benar menampangkan wajah masamnya. “Lo tuh pada nggak ngerti keadaan ya? Lo pikir ini sinetron yang suka main labrak-labrakan?”

Gio menarik tangan Mika keluar dari kerumunan geng Breta. Breta juga sedikit ketakutan dengan Gio. Tanpa berkata lagi, Gio dan Mika berjalan meninggalkan Breta and the geng.

“Liat aja lo jalang! Kali ini lo masih bisa selamet!”

Gio menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badannya dan melepas tangan Mika. Dia kembali berjalan menuju Breta. Breta langsung mati kutu ketika wajah Gio hanya sedekat lima senti dari mukanya. Dia memang benar-benar bisa membuat orang jadi ciut.

“Apa lo bilang tadi?”

Breta terdiam sejenak. Tapi dia nggak harus takut sama Gio. “Ja...jalang. Kenapa emangnya?”

“Coba bilang sekali lagi,” pinta Gio dengan nada tajam.

“Jalang. Tuh cewek emang jalang.” Kali ini Breta benar-benar berani.

Gio mengangkat sudut bibirnya. “Kali ini lo masih bisa selamet. Tapi kalo sekali lagi gue denger elo nyebut pacar gue ‘jalang’,” Gio tersenyum tipis, namun menakutkan. “Lo yang nggak bakalan selamet.”

Gio langsung membalikkan badan dan berjalan menuju Mika. Dia kembali menggenggam tangan Mika dan berjalan menjauh dari tempat tersebut.

***

Dan berita itu pun dengan cepat meluas. Tapi hal itu justru membuat nama Mika semakin kotor. Dia justru selalu ditatap rendah oleh orang lain karena—katanya—selalu gonta-ganti cowok. Dan Gio pun sekarang juga semakin terkenal karena hal itu.

“Kayaknya percuma Gi lo jadi pacar boongan gue,” kata Mika ketika sudah tiga hari mereka berpura-pura pacaran. Gio hanya menatap Mika, nggak menjawab. “Kita udahin aja, Gi. Percuma. Gue malah ngotorin nama lo juga.”

“Kita baru nyoba 3 hari, belom ada seminggu. Lo mau nyerah gitu aja?”

Mika menatap Gio. “Bukannya lo seneng kalo hal ini kita udahin?” Gio menghindari tatapan Mika. “Gi. Jangan bilang elo...”

“Ya.”

“Gue pikir elo...”

“Kalo lo mikir gue kayak gitu, dari awal gue pasti nolak permintaan lo itu.” Mika menghela napasnya. “Gue mohon ke elo buat batalin yang tadi.”

“Jadi lo beneran mau pacaran sama gue?” Gio hanya terdiam. Mika tersenyum. Kalau Gio diam, berarti jawabannya iya. “Tapi lo bakal ngebela gue di depan orang-orang kan?”

Gio tersenyum. “Jangan ditanya, gue bakal ngebela elo.”
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Splash!

Sunday, April 13, 2014 By astaghiri 0 Comments
Haha. Aneh ya judulnya? Sebenernya gue juga bingung sih mau ngasih judul apa. Tapi dari tuh judul, dua tokoh utama gue bisa saling bertemu. And, enjoy it!

*******************

“Bu, Dika berangkat!”

Gue paling benci bangun pagi. Okelah, kalau untuk sholat, gue nggak bakal meninggalkan kewajiban itu. Secara, gue anak yang beriman dan bertakwa sama Tuhan gue. Tapi yang sebenarnya bikin gue benci bangun pagi adalah mandi. Yaelah, nggak usah pada ngeles deh. Gue tahu kelakuan lo semua yang nggak jauh beda dari gue.

Apalagi pas hari sekolah, otomatis bangun harus lebih pagi dan mandi dalam keadaan suhu yang abnormal. Yah, di rumah gue nggak punya pemanas air dan gue malas buat nungguin air panas di kompor.

Mesin motor gue panasin sebentar. Setelah itu baru caw ke sekolah. Masih masalah pagi, gue paling malas kena angin pagi yang dinginnya naudzubillah. Ya iya sih memang pakai jaket, so? Okelah lebay dikit juga boleh.

Karena sekolah gue jauhnya dari sabang sampai merauke, gue harus berangkat cukup pagi. Pagi ini jalanan agak becek karena pas sebelum shubuh tadi sempat hujan. Yah tadinya sih gue kepengin bolos. Tapi nyokap langsung nyembur ke kamar gue dan blablabla, akhirnya gue sekolah juga ujung-ujungnya.

Seperti biasa, gue melajukan motor dengan kecepatan sedang karena lagi malas kebut-kebutan sama orang kantoran yang suka nyetir nggak ngotak.

Gue sendiri juga bingung. Apa gunanya pemerintah memberikan peraturan buat anak sekolah yang harus masuk jam setengah tujuh kalau para orang kantoran saja sudah pada kebut-kebutan di jalan jam segitu?

Dan—JRENG! Bukan, ini bukan suara gitar. Gue bingung buat memvisualisasikannya tapi shit! Barusan ada motor matic warna hitam yang main lewat di samping gue. Gue nggak ngerti tuh orang sengaja atau nggak nyipratin becekan ke celana putih gue. Yang jelas sekarang banyak noda polkadot di celana gue.

“Woy! Kampret lo!” teriak gue yang sempat memelankan laju motor gue. Setelah itu gue langsung ngejar tuh motor. Sialnya, dewi fortuna lagi nggak mau gue pangku.

Tapi pas gue sampai di sekolah, dewi fortuna justru dengan sukarela naik ke punggung gue. Ternyata orang yang nyipratin becekan gue adalah anak sekolah ini. Hah, kena lo.

“Woy!” teriak seseorang dari belakang gue ketika gue berada di lapangan parkir. Gue langsung menoleh. Yaelah. Tuh orang lagi.

Feri ngelihat gue dari atas sampai bawah terus tiba-tiba dia ketawa. Sumpah, ketawanya dia itu benar-benar ngejek gue.

“Ngapa lo, Dik? Abis guling-gulingan di aspal?” ejek Feri sambil menghampiri gue. Ya beginilah kalau lagi ketiban sial.

“Berisik lo.”

“Hahaha. Lagian lo kenapa dah bisa sampe kayak begitu?”

“Lo pikir?” Gue kebawa sewot.

“Et, orang gue nanya baik-baik juga.”

Gue melirik ke arah motor matic warna hitam itu. “Lo tau pemilik tuh motor nggak?”

Feri menoleh ke motor yang sama. Dia sok berpikir keras. Itu sih memang dianya yang suka begitu.

“Kagak.”

Yah pada akhirnya gue juga tahu apa jawabannya. Tuh anak memang suka sok-sok-an tahu tentang apa pun. Gue kembali berjalan menuju lorong sekolah.

“Emang kenapa dah sama tuh motor?” Feri masih kepo.

“Tuh pemilik motor yang ngebuat seragam gue jadi kayak badut gini, polkadot semua,” keluh gue sambil menepuk-nepuk bagian yang terkena cipratan. Sumpah, gue masih dongkol sampai sekarang.

“Terus, kalo lo tau siapa yang punya tuh motor, emangnya lo mau ngapain?”

“Minta pertanggungjawabanlah,” kata gue sok diplomatis.

“Pertanggungjawaban? Lo kata hamil?”

Gue langsung menempeleng kepala Feri. “Ya emang yang harus dipertanggungjawabkan itu selalu cewek yang hamil? Hal yang kayak begini jugalah,” kata gue nggak mau kalah.

Memangnya dia kira gampang cuci seragam yang kena cipratan kayak gini? Ya yang nyuci sih memang bukan gue. Tetapi secara teori, ini merugikan nyokap gue karena nguras double tenaganya buat ngilangin nih noda, belum lagi pasti ujung-ujungnya gue yang kena omelan.

“Yah, yaudah dah, terserah elo.”

***

Bel pulang sekolah, gue langsung ngacir keluar dari kelas menuju lapangan parkir. Yah, gue mau ngelabrak tuh pemilik motor. Seingat gue sih tuh pemilik motor adalah cewek. Tapi gue nggak peduli.

Sudah lima belas menit gue nunggu, tapi tuh cewek nggak datang-datang juga. Banyak juga siswa yang ngambil motornya dan langsung pulang. Ah elah, ke mana sih nih orang?

“Gue duluan ya!” Terdengar teriakan nggak jauh dari gue. Dan bingo! Akhirnya tuh pemilik motor datang juga. Mumpung sepi, gue langsung ngehampirin tuh orang.

“Eh!” labrak gue dengan gaya kakak kelas. Jelas, gue sekarang kelas tiga di sini, jadi gue nggak perlu takut salah kalau dia adik kelas gue atau bukan.

Tapi kalau dilihat dari tampangnya sih dia bukan anak angkatan gue. Sooo, hahaha. Gue bisa ngerendahin tuh anak abis-abisan sesuka gue.

“Lo yang tadi pagi ngebut-ngebutan di jalan, kan?”

Dia mengerutkan keningnya. Hah. Dia pikir gue bisa kena dengan muka polosnya?

“Nggak usah pura-pura nggak tau deh lo,” tambah gue lagi.

“Ng... gue emang ngebut-ngebutan di jalan. Tapi emangnya kenapa? Emangnya jalanan yang gue lewatin punya nenek moyang lo?”

Buset nih cewek. Berani banget sama gue. Nggak tahu kalau gue kakak kelasnya apa?

Oke, baiklah. Tuh jalan memang bukan punya nenek moyang gue. Tapi hal yang dia lakuin itu merugikan gue, terutama seragam gue.

“Terus lo nggak merasa bersalah, gitu?” kata gue nggak mau kalah. Gue juga mencoba menunjukkan bagian-bagian seragam gue yang kena cipratan.

“Emang udah fix gue yang ngebuat seragam lo kotor?”

Seandainya nih orang bukan cewek...

“Lo pikir mata gue rabun? Orang gue liat sendiri elo yang nyiprat gue.”

“Lah? Motor ginian kan banyak di jalanan,” katanya sambil menepuk-nepuk jok motornya.

“Pokoknya gue yang ngeliat elo nyiprat gue.”

“Apa buktinya?”

Sumpah. Nih cewek batu banget.

“Ya ini seragam gue, pinteeeeer! Mata lo rabun nggak sih?”

“Rabun.” Dengan polosnya sekaligus ngeselin dia berkata seperti itu. Kemudian dia ngudek-ngudek tasnya sendiri. “Nih kacamata gue.”

“Ngapain lo ngeluarin kacamata lo?” Gue kebawa emosi.

“Lah? Kan tadi lo nanya, gue rabun atau enggak.”

“Lo pura-pura bego atau emang kelewat polos sih?” tanya gue makin nggak sabaran.

Cewek itu menaikkan alisnya. “Kok lo jadi ngatain gue?”

Gue berdeham sebentar. Semakin lama obrolan ini malah nggak menentu arahnya. Gue balik ke titik awal biar dia tahu siapa gue.

“Lo baru kelas X aja belagu banget sih,” cela gue.

“Lah? Lo bukannya emang kelas X juga?”

Rasanya gue kepengin ketawa selebar-lebarnya di depan muka tuh cewek.

Sori saja ya. Gue tahu kok kalau muka gue memang baby face, jadi banyak orang yang nganggep gue masih muda.

“Seminggu lagi gue ikut UN, non,” kata gue dengan tenangnya, namun bisa buat cewek itu sedikit terperanjat. “Kenapa lo? Baru sadar?”

Dia menggeleng. “Bagus deh,” katanya sambil memasukan kunci ke kontak motor. “Good luck buat UN-nya.” Setelah itu dia langsung menghidupkan mesin motornya.

Tapi gue tetap nggak mau kalah. Dia pikir dengan berkata seperti itu bisa dianggap permohonan maaf ke gue? Impas? Hah. Sori ye.

“Lo pikir lo bisa pergi?” ancam gue sambil menahan rem belakangnya.

“Lah kan daritadi udah bel pulang sekolah. Masa iya nggak boleh pulang?”

SUMPAH NIH CEWEK!!!

“Jangan mentang-mentang lo cewek, gue—”

Karena gue sedikit lengah, dia langsung tancap gas dan berlalu dari hadapan gue.

“Mending banyak-banyak berdoa buat UN deh Kak daripada kurang kerjaan ngeladenin gue!” teriaknya dengan membias di spion.

Gue cuma bisa nganga idiot sambil ngeliatin tuh motor yang terlihat semakin kecil di mata gue. SIALAN!!!

Gue doain tuh motor mogok di tengah jalan.

***

Yah sudah bisa ditebak, pulang sekolah gue langsung kena omel nyokap. Ibu-ibu kalau sekalinya cerewet, cerewet banget kayak lagi ikutan arisan RT.

Keesokan harinya, alhamdulillah pagi-paginya nggak hujan. Alhasil nyokap bakal absen ngomel kali ini gara-gara soal seragam yang kena cipratan.

Gue berangkat seperti biasa. Kebut-kebutan bareng orang kantoran dan—tunggu sebentar. Itu bukannya cewek yang kemarin adu bacot sama gue ya?

Tadi sih dia sempat ngelihat gue gitu, tapi gue nggak peduliin dia. Kayaknya motornya lagi mogok deh. Dan kebetulan di daerah jalan yang gue lewatin ini nggak ada angkutan umum. Ojek juga jauh banget dari tempat dia menaruh motornya yang mogok.

Hahaha. Mamam tuh motor. Doa orang yang terlanjur teraniaya itu memang manjur.

Tiba-tiba otak gue yang brilian ini punya sebuah ide.

Gue langsung balik haluan menuju tuh cewek. Sambil masang wajah ngejek, gue sedikit tertawa ketika sampai di depan dia.

“Ngapa lo? Nggak kebut-kebutan lagi?”

Gue tahu dia kesal, tapi gue nggak peduli. Siapa suruh nyipratin seragam gue? Sudah gitu nggak ngaku lagi.

“Hellow? Gue ngomong sama patung kali ya?” Gue coba buat mancing tuh cewek. Tapi dia nggak kunjung ngomong. “Ck. Ngapain juga gue ke sini? Buang-buang waktu aja,” kata gue yang mencoba menghidupkan mesin motor gue.

“Eh, Kak!” panggilnya sebelum gue menarik gas. Haha. Kena lo. “Gue... boleh numpang nggak sama lo?”

Cih. Buat balik ke sini saja sebenarnya gue ogah banget, gimana buat kasih tumpangan. Tapi okelah. Dari sinilah rencana mulai gue muluskan.

“Ah? Apaan? Lo bilang apa tadi?” Gue pura-pura budek.

“Gue... nebeng ya ke sekolah?”

Gue menyeringai. “Apa? Beng-beng? Lo kata gue orang kantin apa yang jualan beng-beng?” Dalam hati gue ketawa puas.

“Nih orang budi amat sih,” gumamnya. Dia pikir memangnya gue nggak dengar apa? Kuping gue tuh kuping kelelawar.

“Budi?” Gue masih akting budek. “Nama gue Dika. Jangan sok-sok-an ngasih gue nama Budi deh. Bilang aja mau kenalan sama gue.”

Dia mengepalkan tangannya. Hahaha. Rasain.

“KAK GUE MAU NEBENG SAMA LO KE SEKOLAH, OKE?” Kali ini dia mengeraskan suaranya.

“Oh, bilang dong daritadi.” Gue menyalakan mesin motor gue. Tapi dianya malah main diam-diaman.

Dia menatap gue. “Ngapa lo? Nggak mau? Ya udah. Itu sih terserah lo aja,” kata gue yang hendak menarik gas. Tapi dia langsung mengambil helmnya dan naik di belakang gue.

“Nggak kok, Kak. Gue cuma mau ngambil helm.”

Gue tahu banget dia pasti sudah geregetan dari tadi. Biarlah. Misi pertama clear.

Misi kedua gue kepengin bikin nih cewek panik.

Sebenarnya, hari ini gue nggak ada pelajaran sama sekali. Jadi mau masuk atau enggak, ya terserah. Orang UN tinggal beberapa hari, tinggal nyiapin mental doang.

Setiap berangkat sekolah, biasanya gue selalu lawan arah karena arah yang benar-benar nggak melanggar peraturan lalu lintas itu jauhnya minta ampun. Gue sih masih sayang sama bensin gue.

“Kak, bisa cepetan nggak? Lima menit lagi bel masuk sekolah.”

Dih. Dia kira gue tukang ojeknya apa?

Tapi dari sini gue tahu dia mulai panik. Yeah, take it slowly.

But shit! Ternyata dari arah lawan arus dijaga sama polisi. Gue langsung ngerem mendadak. Dan hal itu membuat kepala si cewek yang kebungkus helm langsung nyundul punggung gue. Sakitnya nggak kira-kira, sumpah.

“Lo kalo nyundul kira-kira dong!” omel gue sambil meraba-raba yang sakit. “Tulang rusuk gue tuh berharga buat calon istri gue!”

“Kok nyalahin gue sih?” Kayaknya dia nggak mau kalah. “Kan lo sendiri yang ngerem mendadak, ya terima jugalah akibatnya.”

“Lo pikir gue peramal yang bisa tau ada polisi di sini?”

“Lah lagian lewat sini! Orang udah disediain jalan yang bener malah sesat kayak gini!”

“Kok lo nggak tau berterimakasih banget sih?”

Lama-lama nih cewek congkak juga.

Tapi bukannya dia diam karena kena skak mat dari gue, dia malah nyerocos terus. “Gue bakal berterimakasih kalo udah nyampe di sekolah!”

Like hell I will! Gue bakal buat dia bolos hari ini haha.

“Gue tau jalan pintas,” kata gue ketika sudah berhaluan arah.

“Nggak-nggak!” Dia langsung menepisnya. “Lewat jalan yang biasa aja! Yang satu arah! Nggak pake lawan arah!”

“Kalo jalan biasa kita bisa telat, bego!” Gue membalas sambil menyengir. Mau lewat jalan pintas pun juga nggak bakal sampai tepat waktu ke sekolah, gimana jalan yang biasa?

Selama ngelewatin jalan pintas yang jelas-jelas merupakan daerah perumahan, dia cuma bisa diam doang. Gue ngelirik ke arah spion. Kayaknya tuh cewek takjub banget sama nih jalan. Berasa lewat lorong waktu kali sampai takjub kayak begitu, ejek gue.

Brrrmmm...

Tiba-tiba motor gue mengeluarkan bunyi yang aneh dan kampret! Motor gue mati pas di turunan jalanan!

“Eh! Eh! Eh! Kenapa nih?!” Kayaknya tuh cewek panik. Iya sih, gue memang berhasil buat tuh cewek jadi panik. Tapi sekarang gue juga ikutan panik!

Gue berusaha buat nggak ngedengarin cerocosan tuh cewek dengan mencoba menghidupkan motor gue. Tapi nihil, akhirnya gue cuma bisa ngerem sampai di ujung turunan. Dan akhirnya motor gue berhenti.

Tuh cewek turun dari motor gue, terus dia ngelepas helmnya. Kemudian dia melihat jam tangannya.

“Gara-gara lo gue jadi telat masuk sekolah!”

Gue ngelirik dia tajam. Baiklah, misi gue memang berhasil; ngebuat dia bolos dari sekolah. Tapi gue nggak pernah kepikiran bakal kayak gini jadinya.

Gue sebenarnya juga kepengin nyembur dia, tapi gue harus fokus sama motor yang mogok tiba-tiba kayak gini.

Daritadi gue sudah coba buat stater depan, tapi mesinnya nggak mau nyala. Akhirnya gue stater belakang, tapi nggak mau nyala juga.

Gue menatap menyerah. Setelah itu menatap ke arah sekeliling. Aaaaaaaand yang cuma gue lihat adalah rumah dan rumah. Hell ya.

“Kita cari bengkel,” kata gue sok laki. Dia nggak ngejawab, tumben. Dia cuma ngikutin gue dari belakang.

Gue berasa narik dua motor jadinya, soalnya tuh cewek diam saja daritadi, nggak ngomong sama sekali, bikin gue jadi rada gimanaaa gitu. Beda pas motor gue mogok dan gue lagi dalam keadaan sendiri.

“Nama lo siapa?” tanya gue mengisi kekosongan. Gue nggak menoleh karena masih fokus ngedorong motor.

Tapi tuh cewek nggak ngejawab-jawab, jadi keki gue.

“Woy, lo punya kuping nggak sih?”

“Lina,” jawabnya dengan nada kesal.

Gue melirik ke arah spion. Gue nangkap raut tuh cewek agak semrawut. Tiba-tiba gue ngerasa bersalah. Duh, kenapa gue bisa berubah pikiran secepat ini sih?

“Ah, tuh dia bengkelnya.”

Gue mempercepat langkah. Si Lina cuma ngikutin gue di belakang.

Dia duduk lebih dulu di bangku yang disediain sama bengkel, sedangkan gue ngomongin tentang mogoknya motor gue sama si pemilik bengkel. Setelah itu, gue nggak langsung duduk, melainkan jalan ke warung sebelah dan beli dua teh botol. Gue kenapa jadi baik begini sih?

Ah, tapi gue memang baik kok sebenarnya. HAHAHA.

“Tuh minum,” ucap gue sambil ngasih botol salah satunya.

“Gue bawa minum sendiri,” balasnya sedikit ketus.

Astajim. Gue sudah baik-baikin malah kayak begitu. Tuh cewek memang nggak pantas banget dikasih hati.

“Ya udah,” kata gue ikutan ketus. “Gue bisa minum dua-duanya.”

Tapi sebelum gue nyedot tuh dua minuman, Lina ngerebut salah satu botolnya dari gue.

“Nggak. Gue pengin minum juga.” Ya elah. Plin plan amat jadi cewek.

Sebentar-sebentar gue ngelirik ke arah tuh cewek. Mukanya masih semrawut kayak tadi. Gue jadi keingat misi gue.

“Lo kenapa sih? Bolos sehari doang berasa bolos setahun.”

Lina ngelirik gue sinis. “Selama ini gue nggak pernah bolos.”

Untungnya sekarang gue lagi nggak nyedot teh botol. Kalau iya, mungkin cipratan teh botol dari mulut gue bakal jadi corak di bajunya Lina.

“Jangan bilang lo anak yang patuh banget sama peraturan?”

Lina mengedikkan bahunya. “Why not? Hidup gue tentram-tentram aja tuh. Dan baru pertama kali ini gue diajak ngelanggar peraturan, dan untuk pertama kalinya gue ngerasa sial.”

Gue agak tersinggung. Terus dia nyalahin gue gitu? Dih. Sori ya, ini semua berawal dari kelakuan tuh cewek.

“Hidup lo terlalu flat, coy. Nggak ada yang asyik.” Mata Lina menyipit. “Peraturan dibuat untuk dilanggar. Lo bakal ngerasain apa yang belom lo rasain. Lo bakal ditilang polisilah, bakal dihukum gurulah, dan lain-lainnya. Dan dari situ—,”

“Itu sih hidup lo.”

“—lo dapet kenangan tersendiri.”

Lina terdiam. Yah, gue sendiri juga nggak tahu mau ngomong apa lagi. Dan waktu dihabisin cuma buat diam nungguin motor gue sembuh. Lina sempat ngomong setelah motor gue pulih.

“Boleh minta tolong anterin gue ke tempat motor gue mogok nggak?”

Gue mengangkat alis. “Lo nggak kepengin ke sekolah?”

“Menurut loooo?” Lina memperlihatkan jam tangannya. “Lo pikir jam sekarang masih bisa masuk?”

“Bisa aja,” cela gue.

Lina mendesah. “Tapi gue maunya ke tempat motor gue.”

Gue tersenyum ngejek. Hah. Baru diceramahin tadi, sekarang langsung kena ilhamnya.

Karena gue juga malas buat sekolah, akhirnya gue nganterin Lina ke tempat yang tadi. Gue mau nganterin dia karena arah itu juga menuju ke rumah gue, bukan karena alasan yang lain.

Setelah sampai di sana, Lina langsung mencoba men-stater motornya, tapi nggak mau nyala-nyala. Dan sebagai cowok, akhirnya dengan terpaksa gue ngebantu dia walaupun sebenarnya gue ogah. Kayaknya nih motor mogok juga gara-gara doa gue kemarin.

Gue masukin kunci ke kontak, lalu turunin cuk dan nunggu selama kurang lebih sepuluh menit. And finally, tuh motor mau nyala juga.

Muka Lina langsung sumringah. “Makasih, Kak!”

Hah. Baru sekarang lo bilang terimakasihnya?

“Biasa-biasa, biasa aja,” kata gue sok merendahkan diri.

Setelah itu, gue kembali ke motor gue. Namun sebelum gue caw dari tempat, si Lina sempat ngeberhentiin gue sebentar. Dia ngudek-ngudek tasnya dan mengeluarkan satu saset... bayclin?

Kening gue mengerut.

“Ng... gue minta maaf Kak soal kemaren,” ucapnya sambil melirik ke arah lain. “Pagi itu... emang gue yang nyipratin elo.”

HAH. BENER KAN DIA YANG NYIPRATIN GUE?

“Terus, kenapa lo nggak ngaku?”

Dia cuma diam, terus nunduk.

“Terus, tuh bayclin buat apaan?”

Dia mulai dongak lagi. “Ya buat nyuci seragam lo lah. Masa buat mutihin muka lo.”

Het. Malah ngelonjak lagi.

Gue ngambil tuh sasetan bayclin dengan agak sedikit kasar. Gue sih sudah nggak begitu kesal lagi, soalnya dia juga sudah ngaku, dan sebenarnya gue juga sedikit merasa bersalah sama kejadian tadi pagi. Jadi kita impas.

“Kalo lo bukan cewek, udah gue damprat lo!”

Lina cuma nyengir. Gue langsung terdiam. Dan gue baru sadar ternyata... Lina manis banget!

Shit! Kenapa nggak dari kemarin-kemarin sih gue nyadarnya?
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Friends are Friends

Saturday, March 29, 2014 By astaghiri 0 Comments
Terkadang, gue iri sama orang yang suka menyendiri. Karena mereka membuat dunia mereka sendiri tanpa ada gangguan orang lain, bahkan nggak ada orang yang mau mengganggunya. Bukannya gue sombong, terkadang gue juga risi dikerubutin kayak semut sama orang-orang yang yah—begitulah.

“Woy, bro!” Doni menyentak bahu gue. Refleks, gue langsung menoleh. “Gue minjem buku pr fisika lo dong!”

Dengan muka pasrah, gue ngambil buku fisika gue di dalam tas. “Lo nggak ngerjain lagi?”

Doni hanya menyengir. “Lo tau guelah.” Buku gue sudah berpindahtangan ke Doni. “Thanks bro.”

“Rik! Ajarin gue dong! Plis! Plis! Plis!”

“Gue juga ikutan dong!”

“Eh! Bagi-bagi ilmu kenapa, Rik!”

Dan tiga cewek sekelas gue ngerubutin gue buat minta ajarin fisika. Sekali lagi—bukannya gue sombong. Gue cukup pintar di kelas ini. Yah, sebelas dua belaslah sama Albert Einstein. Except botaknya, itu nggak termasuk ya.

Walaupun begitu, gue butuh refreshing. Bukannya gue nggak mau bagi-bagi ilmu. Tapi gue juga punya rasa capek.

“Oh? Ya udah, sini.” To be honest, gue mungkin akan bilang, ‘Gue capek, lain kali aja oke?’.

Mereka bertiga langsung duduk di sekitar gue. Gue jadi berasa orang ganteng se-kelas. Untuk ukuran dunia, mungkin gue masih dikalahin sama Robert Pattinson. Tapi kayaknya bukan mungkin lagi, gue memang kalah telak.

“Ajarin kita limit ya? Gue masih kurang ngerti tuh yang bagian limit trigono,” kata salah satu dari mereka. Yang lainnya hanya mengangguk.

Sambil mencoba menghela napas buat me-resfresh otak, akhirnya gue mengangguk.

“Itu kalo gue bisa ya,” kata gue sok merendahkan diri.

“Yee! Kalo lo nggak bisa, kita apaan? Tolol bin bego, Rik! Hahaha.”

Gue hanya tertawa sumbang. Tiba-tiba, sudut mata gue menangkap sosok Tria di pojok kelas dengan kedua headset yang menempel di telinganya.

Gue iri sama dia.

***

Di saat gue kepengin keluar dari rumah, tiba-tiba nyokap manggil gue. Feeling gue mulai nggak enak kali ini.

“Erik, nanti mampir dulu ya ke supermarket,” kata nyokap sambil berjalan ke arah gue. Dia ngasih daftar belanjaan ke gue. “Nih daftar belanjaannya sama duitnya.”

Dalam hati gue mengeluh. Gue paling nggak bisa menolak permintaan atau suruhan orangtua. Jatuhnya kalau gue ngeluh nanti kayak Malin Kundang lagi. Ya nggak persis banget sama Malin Kundang sih.

Gue mencoba menampangkan wajah nggak-mau-disuruh. Untungnya nyokap cukup peka untuk hal yang satu ini.

“Ya udah, nanti kembaliannya buat kamu. Tapi nanti mampir ke supermarket dulu ya?”

Okelah. Untuk urusan kayak gini, gue pasti langsung terima orderan. Lumayanlah buat anak SMA kayak gue.

Setelah itu, gue langsung caw ke mall terdekat. Sebenarnya sih gue cuma kepengin beli komik sekedar buat refreshing otak. Yah, karena nyokap sudah tahu gue pengin pergi ke mana, alhasil dia pasti nyuruh gue buat beli ini-itu. Nggak kenapa-kenapa sih, kan dikasih tip juga sama nyokap gue. Haha.

Sesudah sampai di mall tersebut, gue langsung serbu ke toko buku. Agak lumayan lama sih, karena gue cari komik yang edisi terbatas. Setelah menemukannya, barulah gue menghela napas dengan beratnya sambil menuju supermarket yang terletak di lantai paling bawah.

Untunglah nyokap nggak terlalu membebani gue dengan menyuruh membeli barang yang aneh-aneh. Tapi yang tiba-tiba bikin tenggorokkan gue seret adalah... di list terakhir tertulis barang yang haram buat cowok kayak gue.

Oh my God. Kalau gini caranya, gue nggak bakalan mau terima orderan ini.

Tapi mau gimana lagi? Bisa-bisa nanti kembalian yang bakal menjadi milik gue, pasti diambil lagi sama nyokap. Holy shit. Mau nggak mau, gue harus ambil barang itu.

Akhirnya gue menuju rak-rak yang menata barang tersebut. Warna-warni cover­-nya bikin mata gue sakit. Gue mengambil asal salah satu dari barang tersebut, karena gue sama sekali nggak ngerti apa perbedaannya antara satu sama yang lain. Ada yang warna cover-nya pink-lah, oranye-lah, biru-lah, hijau-lah, dan yang lain-lainnya. Pokoknya di mata gue semua barang itu sama.

“Erik?”

Mampus gue. Kenapa ada orang yang tahu nama gue di sini?

Gue langsung menoleh dengan memasang wajah sok cool. Padahal dalam hati rasanya gue kepengin nginjek muka gue sendiri.

Dengan wajah kaget sekaligus malu, gue ketemu sama tuh cewek. “Tria?”

“Lo ngapain di sini?” Tria memasang wajah lo-homo-ya-Rik-? sambil nyengir nahan tawa.

“Yah... bisa lo liat sendiri. Gue disuruh sama nyokap,” kata gue dengan jujurnya.

Tria hanya ber-oh ria. Jujur saja, gue baru kali ini ngobrol sama dia.

“Yakin disuruh sama nyokap lo? Atau... jangan-jangan itu buat lo sendiri lagi?” Kali ini Tria tertawa. Entah kenapa tawanya itu terasa menyebalkan buat gue.

“Lo pikir gue butuh barang beginian?”

“Bilang aja pembalut,” kata Tria dengan entengnya. “Nggak usah pake inisial ‘barang beginian’.”

Buset. Nih cewek frontal amat.

Tria mengambil barang itu—yah, gue malu kali kalau nggak pakai inisial—dengan cover yang berwarna biru tua.

Secara nggak sadar, ternyata daritadi gue merhatiin tuh cewek dari atas sampai bawah. Bukannya gue bersikap kurang ajar, tapi gue merasa agak beda melihat Tria yang berpenampilan seperti ini. Biasanya dia itu lebih rapi walaupun agak anti-sosial di kelas.

“Lo udahan belanjanya?” tanya Tria yang sempat membuyarkan lamunan gue.

“Oh? Udah kok.”

“Gue mau ke kasir. Lo ke kasir juga nggak?”

Gue hanya mengangguk, akhirnya gue membuntuti dia.

“Tri? Lo emang suka berpenampilan kayak gini atau lagi kepengin pake jins belel sama kaus oblong kayak gitu?” tanya gue yang sedari tadi benar-benar penasaran.

“Emangnya kenapa?” Tria menanggapi tanpa menoleh ke arah gue dan terus berjalan menuju kasir.

“Ya agak aneh aja sih kalo ngeliat elo pake baju kayak gini.”

“Sebenernya... gue ini kembarannya Tria. Nama gue Tari,” Tiba-tiba Tria—atau mungkin Tari—membalikkan badannya ke arah gue sambil menjulurkan tangannya. Dia sedikit tersenyum—hal yang jarang gue temuin di dia. “Salam kenal ya.”

I—ini serius? Kembarannya Tria?

Gue masih bengong ala keledai sambil menatap tangannya yang terjulur.

“Gue Tria, bego!” katanya sambil menempeleng jidat gue. “Mana mungkin gue punya kembaran, terus tiba-tiba bisa kenal elo. Elo tuh pinter-pinter tapi sedikit blo’on ya?”

Seumur hidup gue, nyokap gue pun nggak pernah mengatakan hal kaya bego, blo’on, dan hal sejenis itu ke gue. Bahkan dia pun nggak pernah menempeleng gue. Tapi cewek ini? Dengan seenaknya dia menempeleng gue yang bahkan baru pertama kali gue ngobrol sama dia.

“Ah! Kebanyakan bengong lo! Ternyata orang pinter bisa bengong juga, gue pikir otaknya nggak bakalan bisa tidur karena saking pinternya,” kata Tria yang kembali berjalan.

Gue pikir, Tria nggak anti-sosial. Bahkan sosialnya pun melebihi batas ke gue. Tapi kenapa di sekolah dia bersikap ansos ke orang lain?

Setelah membayar di kasir, sebenarnya tujuan gue selanjutnya sih kepengin langsung pulang. Tapi entah kenapa tiba-tiba si Tria ngajak gue buat makan sebentar. Tapi ujung-ujungnya malah disuruh bayar sendiri-sendiri.

“Erik,” panggil Tria setelah kita berdua selesai makan di food court. “Gue tau lo kepengin nanya suatu hal ke gue. Tanya aja ke gue, mungkin gue bisa jawab.”

Oke. Nih cewek kayaknya keturunan dukun, jadi bisa tahu kalau memang sedari tadi otak gue tuh penuh pertanyaan ini-itu tentang dia.

“Jujur aja, lo beda banget. Maksud gue, elo yang di kelas sama elo yang sekarang ada di depan gue itu beda.”

Tria sedikit mengangkat sudut bibirnya. “Apanya yang beda?”

“Gue pikir lo pasti tau apa yang gue maksud.”

Tria sedikit tertawa. Kemudian dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan... rokok? Tunggu, nih cewek cuma mau nawarin gue kan? Dia nggak bermaksud buat ngerokok sendiri kan?

Tapi yang bikin gue benar-benar kaget adalah tuh cewek menyalakan koreknya sendiri buat rokoknya. Dan dalam sekejap, tuh rokok sudah menyelip di bibirnya.

“Lo... ngerokok?” Gue benar-benar nggak ngerti lagi sama nih cewek.

“Mau?” Tria justru menawarkan gue.

Gue menggeleng. Tentu gue nggak mau merusak paru-paru gue walaupun hanya dengan satu batang rokok. Gue masih sayang sama nyawa gue.

Tria mengembuskan asap dari mulutnya. Kayaknya nih cewek sudah pro banget sama yang namanya rokok. Mungkin kalau tuh barang menyelip di bibir gue, gue bakal keselek abis-abisan.

“Baru lo doang yang tau tentang hal ini,” katanya sambil menatap ke arah lain.

Gue mulai agak khawatir. Secara, dia cewek. Kalau cowok sih gue ngebebasin saja.

“Tri? Lo beneran perokok? Tri, lo tau kan ngerokok itu nggak bagus?”

“Gue tau, Erik. Tenang aja sih, gue cuma ngerokok, gue nggak nge-drugs kok,” katanya yang seolah bahwa nge-drugs itu berasa kayak makan jelly—gampang banget ditelan.

“Tri,” gue mencoba buat meperingatinya lagi.

“Oke-oke,” Tria mematikan putung rokonya di atas piring bekas makanannya tadi. Ia kembali meneguk air putihnya dengan banyak. Namun tetap saja, gue masih bisa mencium bau rokok.

“Nggak usah ngeliatin gue kayak gitu dong!”

“Ya siapa coba yang nggak aneh ngeliat elo kayak gitu?” kata gue sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Gue aja yang sebagai cowok nggak ngerokok, Tri.”

“Sooo? Kenapa lo nggak ngerokok aja?”

“Karena rokok udah ngebuat bokap gue meninggal, ngerti?”

Tria agak mengeluarkan wajah kagetnya. Yah, baru pertama kali ini gue bilang sama orang lain kalau bokap gue meninggal karena rokok.

“Gue pikir... punya temen itu nggak ada gunanya,” Tria akhirnya angkat suara setelah cukup lama kami berdua terdiam. Tria sedikit mengangkat sudut bibirnya. “Mereka bisanya cuma milih-milih.”

Gue sendiri kurang cukup mengerti kenapa tiba-tiba nih cewek menceritakan tentang ‘Mereka bisanya cuma milih-milih’. Lo pikir milih-milih barang diskonan?

“Maksud lo?”

Tria tertawa sumbang. “Lo orang pinter, Erik. Gue yakin lo pasti ngerti apa yang gue maksud.”

Lagi-lagi gue menampangkan wajah keledai. Kayaknya kalau untuk masalah ini, nggak bakal bisa disangkutpautkan tentang kepintaran gue.

Namun akhirnya Tria menjelaskan juga. “Gue itu nggak kayak elo, Rik. Lo pinter, lo cukup famous karena kepinteran lo, dan hal-hal lainnya yang berbeda dari gue. Tapi, apa lo pernah mikir kalo ternyata lo cuma dimanfaatin sama temen lo?”

Entah kenapa gue merasa tertohok di kalimat terakhir yang Tria ucapkan.

“Apa lo pernah mikir kalo mereka cuma datang ke elo karena mereka emang butuh elo?” Raut wajah Tria benar-benar serius. “Dan gimana kalo keadaannya dibalik? Gimana kalo elo bego, tolol bin blo’on, dan sebagainya? Emangnya mereka bakal dateng ke elo?”

To be honest, gue belum pernah mikir sejauh itu.

“Tapi masalahnya bukan itu sekarang, dan itu emang bukan permasalahan gue,” Tria menambahkan. “Tapi, gimana kalo temen tau sifat busuk lo? Dan dengan seenaknya, besok dia ngejauh dari lo dan ngebeberin tentang kebusukan lo.”

Lagi-lagi Tria tertawa sumbang. Kemudian dia menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. “Haha. Gue pikir gue masih punya temen buat curhat. Nggak taunya mereka semua sama aja.”

Tiba-tiba suatu hal nyangkut di otak gue.

“Tapi, kenapa tiba-tiba lo ngebeberin semua ini ke gue? Emangnya lo nganggep gue apa?”

Gue tahu Tria sedikit tertohok. Tapi dia nggak mau memperlihatkannya.

“Lo cuma orang yang kebetulan gue liat di supermarket, dan kebetulan juga adalah orang yang gue kenal di kelas.”

Ternyata Tria pintar banget ngomong.

“Dan elo mau nyeritain tentang ‘hal’ elo ke orang yang bahkan lo nggak sebut sebagai temen lo?”

Tria sedikit terdiam. “Yah, gue pikir sifat lo sama gue beda, jadi gue gampang buat nyari objek untuk cerita gue.”

“Intinya lo nganggep gue temen untuk ngedengerin elo yang lagi cerita, kan?”

“Gue nggak mau punya temen, ngerti?” Wajah Tria berubah sedikit menyeramkan.

Gue sedikit mengangkat sudut bibir gue. “Terus buat apa semua ini lo ceritain ke gue, hah?”

“Karena lo nanya ke gue, puas?”

“Itu karena lo minta gue buat nanya, oke?”

“Kapan?”

Gue menghela napas. “Jangan keras kepala, Tri.”

“Terserah.”

Tria benar-benar menampangkan wajah kesalnya. Sebagai teman—uhk, maksud gue mungkin calon teman gue harus ngebangunin dia dari sifat keras kepalanya tersebut. Mungkin saja gue bisa menjauhkan dia dari sifat-sifat buruknya. Kenapa enggak?

“Tri, bukannya gue sok mau jadi Mario Teguh nih, tapi gue mau kasih sedikit apa ya? Ya pokoknya gitu deh.” Tria melirik ke arah gue. “Nggak semua orang kayak gitu, Tri. Oke, mungkin lo emang punya kenangan buruk. Tapi gimana kalo suatu saat lo bener-bener butuh bantuan orang lain tapi nggak ada orang lain di sisi lo?”

“Gue masih punya keluarga,” Tria langsung memotong.

“Dari sudut pandang lingkungan lo, Tri,” cela gue. “Nggak semua orang yang sifatnya kayak gitu, Tri. Sebenernya, gue juga nggak ngerti kenapa lo ceritain hal ini ke gue. Padahal, lo sendiri nggak tau kan kalo misalkan tiba-tiba gue ngebeberin kejadian tadi dan cerita lo ini ke orang lain?”

Tria tertawa mengejek. “Lo sama aja kayak mereka.”

Tiba-tiba gue jadi kesal sendiri sama nih anak. “Lo merasa nggak peduli ngerokok di depan gue dan cerita hal ini ke gue mungkin karena lo udah percaya gue, sebagai temen.”

“Kenapa sih lo selalu nyebut gue sebagai ‘temen’? Lo pikir gue mau temenan sama lo?”

“Karena gue peduli sama orang di lingkungan gue, Tri.”

“Hah. Apa peduli lo?”

“Lo nggak bakal tau sebelum lo temenan sama gue.”

“Emangnya perlu?”

“Itu bukan keperluan, tapi emang kebutuhan.”

Tria beranjak dari kursi. “Capek gue ngomong sama lo.”

***

Dan sekarang gue benar-benar fokus sama Tria. Dia masih bersikap cuek ke lingkungannya. Dia benar-benar merasa bahwa nggak ada kejadian apapun antara gue sama dia di mall kemarin. Gue jadi heran. Tuh cewek punya berapa alter sih?

Dan keesokkan harinya, gue justru semakin dibuat penasaran karena dia nggak masuk sekolah. Dan dia justru lagi-lagi mengabsen tiga hari berturut-turut. Teman sekelas pun nggak ada yang respek sama sekali tentang ketidakhadiran Tria. Tapi mungkin cuma ada satu orang yang cukup peduli untuk nanya kenapa Tria nggak masuk.

“Si Tria ke mana ya?” Doni menyenderkan sikutnya di bahu gue. “Gue baru nyadar tuh anak ngilang di kelas buat empat hari ini.”

“Mungkin sakit,” Gue mencoba menerka-nerka.

“Kenapa nggak ada yang nengokin?”

“Lo mau nengokin?”

“Kenapa enggak? Dia kan temen sekelas kita, mumpung gue lagi punya free time nih hari ini.”

Oke, rencananya sepulang sekolah gue sama Doni mau jenguk Tria. Gue bilang ke Doni buat jangan umumin ke kelas kalau kita berdua mau jenguk Tria. Alasannya sih karena kita nggak begitu tahu kalau Tria sakit atau enggak. Mungkin saja dia nggak masuk karena alasan lain, kan?

Yah, sebenarnya alasannya bukan itu sih.

Kita berdua sempat tanya ke ruang TU buat cari informasi tentang rumah Tria. Nggak lama, akhirnya kita punya alamatnya.

“Don, beli buah dulu,” kata gue ketika ingin berbelok ke arah toko buah. Doni mengikuti gue menuju toko buah.

Setelah beli buah ala orang sakit—ya kayak jeruk dan apel gitu deh, kita jalan lagi menuju rumah Tria. Dan akhirnya, kita sampai juga setelah berkali-kali nyasar dan nanya ke orang-orang lewat.

“Permisi…” Gue mengetok-ngetok pintu rumahnya.

“Permisiiiii…” Doni membeo. Nggak lama, seorang paruh baya yang mengenakan daster membuka pintu rumah tersebut. Gue yakin ini pasti ibunya Tria.

“Tria-nya ada, bu?” tanya gue formal.

“Kalian siapa ya?”

“Ki—”

“Kita temennya bu! Hehe,” Doni langsung memotong ucapan gue. Siaul.

Ibu itu langsung menuntun kita menuju—mungkin kamarnya Tria. Terus, dia menjelaskan bahwa Tria sudah empat hari ini demam. Dia juga nggak mau dibawa ke dokter. Akhirnya dia memilih untuk tidur terus-terusan.

“Tri?” panggil gue.

Tria menggeser posisi tidurnya. Dia sedikit kaget melihat kami berdua. Doni malah justru nyengir nggak jelas kayak gitu. Tria langsung beranjak jadi posisi terduduk.

“Kenapa lo berdua bisa ada di sini?”

“Kita pikir lo sakit, eh ternyata bener,” Doni memberikan plastik yang berisi buah. “Nih buat lo.”

Tria nggak menerima plastik buah itu, tapi pada akhirnya Doni menaruhnya di atas meja.

Tria menoleh ke arah gue dengan sedikit geram. Ternyata dia seram juga kalau habis bangun tidur.

“Gue nggak ngomong apa-apa Tri ke Doni,” kata gue jujur.

Doni mengerutkan keningnya. “Ngomong apaan?”

Tria berdiri dan membalikkan tubuh gue dan Doni menuju pintu kamarnya. “Gue nggak peduli lo ngebeberin atau enggak, yang penting gue nggak butuh kalian berdua, ngerti?”

Tiba-tiba Doni sudah membalikkan tubuhnya. Wajahnya benar-benar penuh pertanyaan.

“Kok lo gitu sih? Kita berdua ke sini buat jenguk elo, bukannya justru diusir kayak gini.”

“Gue nggak nyuruh elo berdua buat jenguk gue.”

“Tapi kita yang mau buat ngejenguk elo, Tri,” akhirnya gue angkat suara.

“Gue nggak butuh rasa peduli lo.”

“Kita ke sini karena kita peduli sama lo, Tri!” Doni membentak Tria. Tria langsung mati kutu. “Gue heran sama elo. Bukannya seneng, lo justru ngusir kita. Emangnya kita salah apaan sih?”

Gue mencoba menenangkan Doni. “Jangan kasar, Don. Dia cuma takut.”

“Takut apaan sih, Rik?”

“Gue takut punya temen,” Tria angkat suara. Dia sudah duduk di sisi ranjangnya. Doni lumayan agak kaget ketika Tria sendiri yang mengatakan hal itu. “Mereka yang disebut ‘temen’ cuma bisa sok merasa peduli, terus dia ngomongin temennya di belakang. Gue benci itu.”

“Lo pikir semua orang sama?”

Entah kenapa, gue merasa kalau Doni yang lagi naik darah, bukannya Tria.

“Gue emang nggak tau tentang masalah lo. Tapi kita berdua ke sini tuh punya niat baik buat ngejenguk lo, karena kita peduli sama lo, dan karena kita temen sekelas lo. Ngerti lo?”

Karena Doni semakin nggak karuan, akhirnya gue ngajak pulang tuh anak daripada harus adu mulut terus-menerus sama si Tria. Si Tria juga bisanya cuma diam selama Doni nyerocos. Gue nggak tahu lagi gimana untuk keesokkan harinya.

***

Dan akhirnya Tria pun masuk. Doni sempat menyenggol lengan gue buat noleh ke arah pintu, Tria terlihat makin segar dibandingkan kemarin. Yah, itu jauh lebih baik.

Tapi yang lebih buruk, dia benar-benar cuek dengan gue dan Doni. Ya gue sih nggak berharap si Tria bakal ngobrol dengan kita berdua. Tapi sifatnya yang sekarang itu benar-benar ngebuat gue dan Doni agak gondok.

“Sabar aja dah,” kata gue sambil menghela napas.

“Susah Rik ngelawan batu,” kata Doni yang juga ikut-ikutan menghela napas.

“Siapa yang lo bilang batu?”

Gue dan Doni langsung menoleh. Terlihat Tria yang sudah berkacak pinggang.

“Eh Tri.. maksud gue…”

Tiba-tiba Tria menjitak kepala gue dan Doni. Tuh cewek memang kasar banget. Tapi ini sifat aslinya dia ketika pertama kali gue ketemu dia waktu di mall kemarin-kemarin.

“Kenapa lo berdua pulang cepet banget kemaren? Nyokap gue udah bikinin lo berdua minum ya, malah nggak diminum lagi!” Lagi-lagi Tria menjitak kepala kami berdua.

“Kan elo sendiri Tri yang ngusir kita,” kata Doni jujur.

“Emang,” Tria melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Tapi emangnya setelah elo ngebentak gue, gue ngusir lo berdua lagi?”

Kita berdua menggeleng. Tria akhirnya mendecakkan lidahnya.

“Susah deh ngomong sama lo berdua,” Tria menarik tangan kita berdua. “Karena lo udah pulang tanpa seizin gue, lo berdua harus traktir gue di kantin!”

“Tri! Tapi gue lagi kere!”

“Gue nggak peduli! Bukannya temen selalu ada walaupun lagi kere sedikit pun?”’

Gue langsung tersenyum, diikuti Doni dan Tria.

“Ya udah! Gue yang traktir kali ini!”

Yah, untuk kali ini, gue benar-benar mengikhlaskan uang gue hanya buat traktir mereka berdua. Karena mereka teman gue.

***
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Best I N-ever Had?

Friday, March 21, 2014 By astaghiri 0 Comments
“Lo mau ke mana, Nggi?” tanya Brian yang sedari tadi memerhatikan Anggi yang nggak henti-hentinya berkaca diri di depan cermin. Kenapa cewek betah banget ngaca ya? Brian jadi heran sendiri.

“Mau nge-date lah, emangnya elo yang tiap malem minggu ngejomblo mulu sama komik?” jawab Anggi dengan nada judes, seperti biasanya. Namun Brian sudah menganggap hal itu biasa.

Bagaimana tidak. Rentang waktu delapan belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pertemanan mereka. Belum lagi rumah mereka memang berdampingan. Bahkan ibu mereka sendiri sudah menganggap Anggi atau Brian adalah anaknya. Maksudnya, misalkan ibu Anggi, sudah menganggap Brian sebagai anaknya sendiri. Jadi, Brian dengan seenak jidatnya bisa keluar-masuk ke rumah Anggi, bahkan ke kamarnya pula.

“Yang penting hepi,” balas Brian yang sudah malas menanggapi Anggi, berpaling pada komiknya sambil berselonjor di sofa kamar Anggi.

Anggi berdecak sebal sambil lagi-lagi merapikan rambutnya di depan cermin yang entah sudah berapa kalinya. Kemudian ia berjalan menuju Brian yang sedang asyik membaca komiknya.

“Bre, sonoan dikit,” perintah Anggi sambil mencoba menepis kaki Brian. Brian yang sedikit terganggu mau nggak mau harus lepas dari posisi pewenya.

“Bre, gue cantik nggak?”

“HAHAHAHAHA!”

“Bre! Kok lo ketawain gue sih?!” Anggi langsung cemberut.

“Hah? Apaan?” Brian berpaling dari komiknya. Sebenarnya dia tadi nggak mendengar Anggi mengucapkan apa, karena dia sibuk sama komiknya. Dan dia juga nggak menertawai Anggi, melainkan tertawa karena komiknya. “Gue nggak denger.”

“Gua cantik nggak, Breeeee-ku sayang?” ulang Anggi dengan nada manja, namun dengan mata mengancam khasnya.

“Lo kan udah tau pasti gue jawab apa,” Brian menanggapi dengan datar.

“Ayolah, jawab aja,” pinta Anggi.

“Cantik,” balas Brian tanpa mengindahkan kata tersebut.

“Makasi—”

“Tapi gila.”

Anggi mencoba menoyor kepala Brian. Untung saja Brian sudah hapal dengan pergerakan Anggi. Jadi dengan mudahnya Brian menghindar dari toyoran tangan Anggi.

“Kok lu gitu sih Bre sama gua? Jahat lu,” Anggi ngambek.

“Segala sesuatu tuh nggak selalu sempurna, Nggi. Buktinya elo. Elo emang cantik—tapi itu menurut nyokap lo ya—tapi kelakuan lo kayak hewan buas. Kecuali mungkin gue. Gue kan udah mendekati sempurna,” kata Brian dengan bangganya.

Anggi langsung tertawa mengejek. “Tapi jones. Inget itu.”

Mood bangga Brian langsung menurun. Lebih baik dia ketawa sendiri sama komiknya daripada ngomong nggak jelas sama Anggi yang ujung-ujungnya bakal ngomongin masa kejombloan Brian yang nggak ada habisnya.

“Tin! Tin!” suara klakson mobil terdengar dari luar rumah Anggi. Itu pasti Reno, pacarnya Anggi.

“Dijemput tuh sama pacar kesayangan,” kata Brian tanpa melirik ke arah Anggi.

Anggi langsung berdiri dan menyampirkan tasnya. “Dah bebep!”

Brian langsung mengernyit jijik.

***

“Happy anniversary!”

Reno sudah menyiapkan hadiah jauh-jauh hari. Sekarang, mereka sedang berada di restoran setelah menonton di 21. Sebenarnya Anggi sudah menantikannya sejak tadi, tapi dia mencoba menahannya. Dia kira, Reno bakal lupa kalau hari ini adalah aniv mereka.

“Happy anniv juga sayang,” kata Anggi dengan manisnya.

“Dibuka dong hadiah dari aku,” Reno tersenyum manis, benar-benar membuat Anggi terpikat.

Sebuah jam tangan berwarna cokelat menyembul dari kotak yang telah dibuka oleh Anggi. Mulut Anggi sedikit terbuka. Ini jam yang ia lihat sebulan yang lalu, dan ia benar-benar menginginkan jam ini. Anggi langsung memegang tangan Reno dengan hangatnya.

“Makasi sayaaaaaaang!” kata Anggi nggak henti-hentinya. “Aku suka banget hadiah ini.”

Reno membalas dengan senyum. “Terus, kamu ngadoin aku apa? Masa aku doang sih yang ngasih kado?”

Anggi tersenyum jahil. “Ntar kalo pulang dari sini kamu juga tau.”

Malam semakin larut. Tetapi tetap saja, semakin malam justru mall tersebut semakin ramai. Mungkin karena malam ini adalah malam minggu.

“Yang, aku ke toilet dulu ya,” Reno beranjak dari kursi dan meninggalkan Anggi di tempat. Anggi sudah kelewat senang dengan jam tangan barunya. Jadi dia nggak begitu peduli kalau Reno pergi ke mana pun atau selama apa pun.

Tiba-tiba mejanya terasa bergetar. Bukan mejanya, lebih tepatnya ponsel milik Reno. Karena penasaran, Anggi mengambil ponsel Reno dan melihat ada pesan yang masuk. Dengan seenak jidatnya, Anggi membuka privasi orang lain. Tapi toh Reno adalah pacarnya, buat apa ada kata ‘privasi’?

Kelopak Anggi sedikit melebar. Mulutnya juga sedari tadi nggak berhenti untuk mengucap ‘oh’. Setelah puas membaca pesan yang ada di kotak masuk Reno, Anggi mengembalikan ponsel Reno di meja dan gantian mengambil ponselnya. Kemudian ia beranjak pergi dari tempat tersebut.

***

Brian masih pewe membaca komiknya, dan kini ia sudah berpindah tempat ke kamarnya—setelah Anggi pergi jalan sama pacar kesayangannya itu. Acara mingguannya itu sempat terganggu ketika ponsel miliknya bordering melantunkan lagu Best I Ever Had milik Vertical Horizon. Tertera nama Crazy Girl. Anggi.

“Kenapa, Nggi?” Brian menanggapi dengan malas. Ia mengaktifkan loudspeaker ponselnya dan menaruhnya di atas ranjang. Sambil tiduran, tangannya masih sibuk membolak-balik halaman komiknya.

“Bre, jemput gue dong. Buruan yak! Nggak pake lama,” suruh Anggi.

Brian langsung mengernyitkan dahinya. Tangannya sudah berhenti membolak-balik halaman komiknya. Kenapa nih cewek? Kayaknya lagi ada masalah, pikir Brian.

“Margo ya, Bre,” tambah Anggi. “Nanti gue traktir pecel lele deh, hehe.”

Brian langsung menutup komiknya. “Depan margo, lima belas menit, oke?”

Brian beranjak dari ranjang dan berjalan menuju belakang pintu kamarnya, mengambil jaket. Seelah itu dia langsung berangkat menuju tempat di mana Anggi menunggu.

Brian memang nggak pernah mengingkari janjinya, dia selalu tepat waktu. Dan tepat lima belas menit, dia sampai di depan margo dekat jembatan penyebrangan. Dia melepas helm dan mencari sosok Anggi. Nggak lama, dia melihat Anggi melambai-lambaikan tangannya dengan ceria. Dahi Brian semakin mengerut. Nih cewek bener-bener gila, pikir Brian.

“Lo telat satu menit, Bre!” omel Anggi setelah ia setengah berlari menuju Brian.

“Gue udah nyampe satu menit yang lalu. Elo-nya aja yang ngelayap ke mana-mana.”

Anggi langsung terkekeh. Karena nggak tega melihat Anggi yang memakai baju lengan pendek, Brian melepaskan jaketnya dan mengenakannya pada Anggi. Anggi langsung senyum sumringah.

“Tau aja gue butuh ini.”

“Lo kalo lagi masuk angin seremnya minta ampun. Dah pake aja tuh sepuasnya.”

Anggi kembali tersenyum. Kemudian ia juga memakai helm yang dibawakan oleh Brian. Setelah itu barulah ia menaiki motor.

“Mau langsung pulang, Nggi?” tanya Brian setelah cukup lama ada kekosongan di antara mereka. Nggak seperti biasanya mengingat Anggi terus saja meracau tanpa henti.

“Ke pecel lele yuk! Gue laper nih.”

“Oke.”

“Eh, pulang aja deh, Bre.”

“Oke.”

Brian langsung mengemudikan motornya menuju ke arah jalan rumah mereka. Setelah lebih dari lima belas menit ditambah lagi kemacetan jalan raya, mereka sampai di depan rumah Anggi. Namun Anggi justru turun menuju rumah Brian.

“Lho? Kok malah masuk rumah gue, Nggi?”

“Ngopi dulu yuk, Bre, kita nyantai di teras rumah lo.”

Brian menghela napasnya. Kemudian ia mengikuti Anggi dan memasukkan motornya di halaman rumahnya.

Malam ini, orangtua brian sedang nggak berada di rumah. Kakak-kakaknya juga palingan malming sama pacarnya masing-masing. Tinggal Brian yang masih ngejones di rumah.

Anggi sudah berada di teras rumah sambil memeluk kedua lututnya. Brian datang dari belakang dengan membawakan dua cangkir kopi susu kesukaan mereka.

“Nih, Nggi,” Brian memberikan salah satu cangkirnya pada Anggi.

“Thank’s.”

Brian duduk di samping Anggi, kemudian menyesap kopinya. “Jadi, mau cerita nggak?”

Brian langsung menuju intinya. Sebenarnya dia juga nggak mau langsung to the point dan agak kurang mau memaksa Anggi untuk bercerita. Tapi kalau nggak kayak gini, tuh anak bakal terus berpua-pura punya muka sok innocent kayak tadi—bahkan sampai sekarang.

“Cerita apa? Gue nggak punya cerita apa-apaan.”

“Nggi, gue kenal elo dari orok. Nggak usah sok ditutup-tutupin gitu deh.”

Anggi tersenyum tipis. Dia menatapi cangkir kopinya yang mengeluarkan asap putih menggugah. Kemudian ia menyesapnya.

“Gue cuma heran aja, Bre,” Anggi berkata dengan tenangnya. “Kenapa masalah ‘klasik’ sering banget gue alamin. Dan untuk yang terakhir ini, ini bener-bener klasik. Nggak ada wow-nya sama sekali.”

“Maksud lo selingkuh?”

“That’s it.”

Brian menghela napas. Entah karena naluri persahabatannya itu atau mungkin dia punya naluri alamiah sendiri, Brian sudah dapat mendeteksi bahwa Reno bukan cowok yang dengan mudahnya setia dengan satu cewek. Yah kenyataannya, itu sudah di depan mata.

“Klasik banget, kan?” tambah Anggi lagi.

Brian hanya bisa menghela napas lagi dan lagi. Sahabat satu-satunya itu memang menyedihkan.

Tiba-tiba terdengar lagu Crush milik David Archuleta dari ponsel Anggi. Anggi agak malas harus membongkar tasnya hanya untuk mengambil ponselnya. Dan lebih malasnya lagi, yang menelepon adalah cowok yang akan jadi mantannya tersebut.

“Siapa Nggi?” Brian sok nggak tahu siapa yang sedang menelepon Anggi.

“Mantan gue.”

“Emang lo udah putus?”

“Emang harus ngomong dulu ya kalo putus?”

Anggi membiarkan ponselnya tersebut terus berdering. Bahkan Reno juga mengirimkan pesan pendek. Tetapi tetap saja, toh Anggi sama sekali nggak tertarik untuk menoleh ke arah ponselnya sedikit pun.

“Nggak mau nangis, Nggi?”

“Buat apa gue nangis? Toh gue udah biasa kayak gini.”

“Gue kira bahu gue masih berguna, ternyata enggak.”

Anggi menoleh ke arah Brian. Cowok itu tampak sedikit menundukkan kepalanya. Sama seperti dirinya tadi, Brian menatapi cangkir kopinya.

“Masih kok,” kata Anggi yang kemudian menyandarkan kepalanya tepat pada bahu Brian. Ternyata bahu Brian yang sekarang lebih bidang dibandingkan bahunya 3 tahun yang lalu di mana untuk yang terakhir kalinya Anggi menangis di bahu Brian.

“Terus lo maunya gimana?” tanya Brian yang sama sekali nggak punya bahan untuk pembicaraan lagi karena mood Anggi sedang lagi turun-turunnya.

“Ya nggak ngapa-ngapain. Emangnya lo mau ngapain? Lo mau pergi ya?”

“Enggak kok,” tepis Brian. “Lo tau sendiri gue ngejones sendirian di rumah pas malming,” jawab Brian dengan sedihnya.

“Cari pacar lah, Bre.”

“Nggak minat,” balas Brian dengan cepatnya.

Anggi langsung memberanjakkan kepalanya. “Jangan bilang selama ini lo homo?”

“Kalo gue homo, gue bakal nguntilin Reno terus.”

Anggi langsung tertawa hambar. Ups, Brian malah nyebut merek.

“Oh iya,” Brian mencoba menarik topik yang lain. “Kenapa lo ganti nada dering hp lo? Kan lo udah beberapa tahun pake lagu Best I Ever Had sampe-sampe gue juga bingung kenapa gue ikut-ikutan pake nada dering itu.”

“Katanya nggak enak… eh dipake juga,” goda Anggi.

Brian hanya mengedikkan bahunya.

“Hmm… Best I Ever Had ya? But it’s not so bad, you’re only the best I ever had,” Anggi menyanyikan sedikit lirik dari lagu tersebut. “Gue pikir tuh lirik bagus juga.”

“Buat seseorang?”

Anggi mengangguk. “Tapi gue nggak pake lagu itu lagi karena kayaknya lirik itu lebih cocok jadi you’re only the best I never had. Segala sesuatu yang the best kayaknya nggak bakal gue miliki, except family.”

“Itu gue ya, Nggi?” tanya Brian dengan sok tahunya.

Lagi-lagi Anggi mengangguk. Brian agak terkejut, namun ia tetap berusaha untuk bersikap cool.

“Lo emang orang yang paling terbaik setelah keluarga gue, Bre. Lo mau denger curhatan gue, lo mau denger keluh kesah gue, lo selalu mau ngalah, dan lo ngerti gue banget,” Anggi tertawa hambar. “Tapi sayang, lo nggak pernah bisa gue miliki karena adanya rentang tali persahabatan kita.”

“Lo nembak gue nih maksudnya?”

Anggi melirik ke arah Brian dan kemudian memukul pelan bahunya. “GR lo.”

Brian hanya menyengir.

“Tapi kalo ternyata Best I Ever Had beneran kejadian gimana?”

Anggi menoleh dengan mata bulatnya. “Gue nggak mau ngehancurin apa yang udah kita bangun selama 18 tahun, Bre.”

“Lo takut gue selingkuh?”

Anggi hanya terdiam, kemudian memalingkan wajahnya. Ia kembali menyesap kopinya yang sudah agak dingin.

“Lagi pula gue lagi nggak mau cari pacar kok, gue cuma mau cari calon istri buat masa depan gue nanti.”

Kali ini, Anggi benar-benar menoleh ke arah Brian. Brian membalas tatapannya sambil tersenyum lebar.

“Siap-siap aja ya kalo di masa nanti gue bakal ngelamar lo.”

“Ih!” Anggi langsung memukul bahu Brian. “Apaan sih lo Bre!”

Kemudian mereka berdua saling tertawa bersama sambil menghabiskan kopi yang sudah terlanjur dingin tersebut.
***
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Suara Itu

Tuesday, March 11, 2014 By astaghiri 0 Comments
“Rin, gue mau curhat nih,” isak Faras—teman sebangkunya. Nino yang duduk di depan mereka langsung memutar tubuhnya, juga ingin mendengarkan curhatan Faras. Dari pada mengerjakan tugas matematika yang seabrek-abrek itu, mending dia mendengarkan curhat colongan Faras.

“Ah-ha,” Rina menyahut sambil memainkan ponselnya.

“Tadi malem, si doi balikan lagi sama mantannyaaaa….” Faras langsung mewek. Nino menepuk-nepuk bahu Faras dengan rasa kasihan. “Lo tau nggak sih betapa sakitnya hati gue—”

“I don’t belong here, we gotta move dear escape from this afterlife!!!” Tiba-tiba saja Rina bersenandung tanpa malu-malu lagi walaupun dia malu-maluin banget. Bibir Faras semakin dimanyunkan karena perlakuan temannya tersebut. Mau nggak mau, Nino juga harus ikut campur. Dia langsung mencopot headset yang ternyata dari tadi menempel di telinga Rina.

“Rin! Lo parah banget sih, orang mah lagi curhat tuh didengerin, bukannya malah dinyanyiin.”

“Oh?” Rina langsung memasang wajah emangnya-tadi-ada-yang-curhat-ya-sama-gue dengan tampang sok polosnya. “Sori deh, kenapa sih, jeung?”

Faras langsung ngambek, nggak menggubris Rina yang sok mulai bersimpatik. Dia langsung mematikan musik yang masih berdendang di headset-nya.

“Ngambek everywhere,” kata Nino yang kembali membalikkan tubuhnya dan mau nggak mau dia harus rujuk dengan tugas matematikanya itu.

Rina langsung mengangkat sudut bibirnya. Apa salahnya sih dia? Kayaknya hari ini orang lagi pada sensian banget.

Rina kembali memasang headset-nya dan menyalakan musik di ponselnya.

“I don’t belong here, we gotta move dear!”

“Rina!” Nino dan Faras langsung berteriakan bersama. Mau nggak mau, kayaknya Rina harus melepas headset-nya sebelum kedua temannya itu kembali mengomelinya.

Kayaknya kedua temannya itu lagi datang bulan deh.

*** 

Rina suka semua jenis musik, mungkin minus dangdut. Namun, ada beberapa lagu dangdut yang Rina sekedar suka, nggak cinta banget tapinya. Walaupun begitu, nggak ada tuh list lagu dangdut di ponselnya.

Selain suka mendengarkan musik, Rina juga suka menyanyi—ya walaupun suaranya bahkan nggak bisa mengalahkan suara siapa tuh yang nyanyi ‘Diobok-obok airnya diobok-obok’? Bahkan sebelum tuh penyanyi cilik belum baligh, si Rina nggak bakalan bisa mengalahkan suaranya.

Kalau kayak artis Indonesia sih, Rina lebih mirip Saipul Jamil yang kalau ke mana-mana dan di mana saja pasti bersenandung. Tapi Rina lebih mendengarkan musik sih dibandingkan bernyanyi-karena dia sudah tahu sendiri bahwa kualitas suaranya di bawah rata-rata.

Di mana pun, kapan pun, dan apapun situasinya, pasti Rina selalu mendengarkan musik. Untuk nggak mengganggu orang yang berada di sekitarnya, Rina selalu menggunakan headset. Ya walaupun sebenarnya dia tetap mengganggu karena setiap mendengarkan musik, Rina selalu bersenandung sendiri.

Kalau belajar, pasti dia mendengarkan musik. Mau makan, Rina lebih ingin mendengarkan musik dibandingkan sambil menonton tv. Bahkan ketika ingin pup-pun, Rina… tahu sendiri lah ya?

Dan di saat ingin tidur pun, Rina harus mendengarkan musik sebagai pengantarnya menuju dunia kapuk. Yah jika dalam situasi ini Rina lebih cepat sampai menuju dunia kesukaannya itu.

List pertama, terdengar lagu berjudul High milik James Blunt, lalu juga You’re Beautiful miliknya. Sayup-sayup, mata Rina mulai terkantuk walaupun otaknya masih terus bekerja karena masih fokus mendengarkan musik. Lalu The Scientis milik Coldplay. Mata Rina mulai tertutup, namun ia masih setengah sadar. Dan selanjutnya terputar lagu milik Sheila on 7 dengan judul Berhenti Berharap.

Dentingan piano yang terdengar di telinganya membuat kelopak mata Rina sedikit terbuka. Ia baru tersadar bahwa hanya dirinya yang tinggal di lantai atas rumahnya. Hembusan aneh baru saja menggerayapi tubuhnya. Rina segera berganti posisi tidur.

Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar di sini
Tersudut menunggu mati

Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang mampu terangi
Sudut gelap hati ini

Hihihihi…


Kini, kelopak mata Rina terbuka. Suara apa itu? Baru saja… ia mendengar suara orang tertawa? Kemudian, ia juga mendengar desahan napas yang begitu panjang. Dengan hati yang was-was, Rina mencoba kembali tertidur. Mungkin, tadi suara tetangganya yang masi terjaga.

Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat

Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan?


Dan pada saat itu juga, Rina tertidur dengan pulas tanpa mengetahui ada seseorang yang sedang memerhatikannya dengan bibir yang terus melengkung ke atas. Sambil tersenyum puas, orang itu bersenandung dengan memainkan jari-jarinya seakan terlihat sedang gelisah.

*** 

“Pengecut lo ah!” Rina memaki-maki kedua temannya yang berhati ciut. “Masa kayak gini doang lo berdua cupu banget sih?” Kedua tangan Rina sudah berdecak di pinggangnya.

“Nggak mau ah!” sahut Faras yang nggak peduli dengan makian Rina barusan. “Gue takut! Lagian lo gila banget sih Rin! Kita keluar dari vila tanpa izin dari Bu Weli. Bisa-bisa kita ditebas nanti keluar larut malem kayak gini,” Faras mengamati sekitarnya. Langit-langit tak menampakkan bintangnya, bahkan jauh dari kata indah. Kabut malam mulai menutupi pemandangan.

“Oke,” Akhirnya Rina pasrah. “Lo boleh balik lagi ke kamar. Tapi elo,” Rina langsung menatap Nino dengan tampang lo-harus-ikut-gue. “Sebagai cowok, lo harus nemenin gue. Gue nggak bakal terima kata ‘gue nggak mau ikut’ dari mulut lo. Ayo!”

Rina langsung menarik tangan Nino. Mau nggak mau, Nino harus ikut dengan Rina yang setengah mati mau nyicipin buah strawberry yang berada di kebun belakang vila tersebut. Padahal kata pemilik vila, strawberry di sini belum tumbuh. Tapi Rina lihat pakai mata kepala sendiri bahwa ia melihat beberapa buah strawberry yang sudah masak berwarna merah cerah yang menggiurkan itu bertebaran di semak-semak strawberry tersebut. Gimana nggak menggiurkan coba?

“Rin, nanti aja deh pas di Jakarta gue beliin lo strawberry seabrek-abrek biar lo puas. Nggak usah nyeret-nyeret gue kayak gini dong.”

Rina menggeleng. Tuh, kan. “Ntar kan lo juga nyoba tuh buah. Jadi lo juga dapet gratisan. Udah deh, diem aja kenapa.”

Rina dan Nino menghentikan langkahnya. Terdengar suara grasak-grusuk dari arah belakang. Jantung Rina langsung mencelos. Takut-takut…

“Tungguin gue dong!”

Tahu-tahunya, Faras sudah menyempil di antara mereka. Rina langsung menghela napasnya sekaligus menjitak kepala Faras. Ia kira tadi pemilik vila sedang memeriksa kebun strawberry-nya.

“Katanya tadi lo nggak mau ikut!” bisik Rina dengan nada memarahi. Yang dimarahi hanya cengengesan saja dengan wajah sok polosnya.

“Hehehe… gue takut balik sendirian ke kamar…”

Rina langsung memasang wajah juteknya. Kemudian ia kembali berjalan memutari vila menuju halaman belakang vila tersebut. Terlihat hamparan pohon strawberry yang begitu luas dengan disinari rembulan. Efeknya cukup magis memang, membuat bulu kuduk mereka mulai berdiri. Namun hal itu nggak membuat Rina mematahkan rencananya.

“Rin… makin serem nih… balik yuk…”

Rina justru semakin mempercepat langkahnya. Sesaat, ia dapat melihat siluet strawberry yang dengan mudahnya dapat ia patahkan dari tangkainya. Setelah mencicipinya, ia melihat siluet yang lain. Siluet itu hitam, berdiri di antara semak-semak strawberry dan sekarang… sedang menatap ke arah mereka.

Entah mengapa tiba-tiba kaki Rina tak bisa digerakkan semenjak mendapat tatapan dari siluet itu. Matanya terus saja gelisah, ingin mendapat pertolongan. Namun sia-sia, ternyata kedua temannya sudah tak berada di belakangnya lagi. Dan di saat ia kembali menghadap ke arah depan, siluet yang berdiri di antara semak-semak itu sudah berdiri di hadapannya!

I don’t wanna hear you, kick me out! Kick me out!
I don’t wanna hear you, no, kick me out! Kick me out!
I don’t wanna hear you! I don’t wanna hear you!


Rina langsung terlonjak bangun ketika mendengar lagu Fake Tales of San Fransisco milik Arctic Monkeys yang menjadi nada dering alarmnya. Rina mengatur napasnya sejenak yang entah mengapa terasa sesak. Kemudian ia meneguk air putih yang selalu ia siapkan di meja samping ranjangnya. Setelah itu, ia bergegas ke kamar mandi.

*** 

“Guuuuuuys…. Jangan pulang dulu dong,” panggil Agung—ketua kelas mereka—dari dalam kelas yang sudah melihat Rina dan Faras keluar dari kelas. Kedua sahabat itu langsung menghela napasnya. Padahal, satu jam sebelum bel pulang sekolah mereka berdua sudah mengidam-idamkan menu baru di kafe yang biasa mereka kunjungi.

“Oke-oke,” sahut Rina dengan tampang malas. Kedua tangannya sudah berlipat di depan dadanya. “Ada apa?”

“Jadi, dua hari lagi kita fix ngisi liburan UAS ke Bandung ya. Gue cuma mau ngingetin, kita ngumpul di pombensin deket KFC, gue tunggu paling lambat jam 8. Resiko terlambat, ya gue tinggal. Oke, cuma itu aja. Ada yang mau nanya?”

Hah, ternyata cuma begitu doang, umpat Rina. Dia langsung mengajak Faras untuk segera pergi menuju kafe yang biasa mereka kunjungi. Ia juga memberi tanda pada Nino agar segera keluar dari kelas agar segera mengikuti mereka.

*** 

Rina membuka lemarinya. Memilah-milah baju yang akan dia bawa ke Bandung. Karena dia orangnya easy going, Rina hanya perlu membawa tas sejenis tas gunung yang ukurannya nggak jauh dengan tas sekolahnya. Karena dia pikir pasti teman-teman rempongnya ada yang membawa koper. Padahal, mereka hanya menginap tiga hari dua malam.

Di telinganya berdendang lagu Best I Ever Had milik Vertical Horizon.

So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I’m here to stay
Love can be so boring

Nothing’s quite the same now
I just say your name now

But it’s not so bad
You’re only the best I ever had
You don’t want me back
You just—


Tiba-tiba musiknya terhenti. Mata Rina langsung berpaling pada ponselnya. Kemudian ia memeriksa ponselnya, mungkin saja tadi nggak sengaja menekan sesuatu, jadi musiknya terhenti. Tapi nggak mungkin. Ponselnya kan layar sentuh, dan dia ingat betul sudah menekan tombol kunci di ponselnya.

Rina mengerutkan keningnya. Ternyata musiknya cuma berhenti berputar. Ia kembali menyalakan musiknya. Namun nggak lama, hal itu terjadi lagi. Hal ini membuat Rina cukup jengkel. Akhirnya dia memaki-maki ponselnya sendiri.

“Lo lagi kenapa sih hari ini? Udah tau gue lagi enak-enakan denger lagu, tiba-tiba malah—”

“Tolong.”

Tenggorokkan Rina langsung tercekat. Siapa yang berbicara barusan?

Rina terburu-buru langsung kembali menyalakan musiknya. Selang beberapa detik, musiknya kembali terhenti.

"Tolong aku, Kak.”

Rina langsung melepas headset-nya dan melempar ponselnya begitu saja. Sebenarnya sih karena ponselnya lepas dari tangannya karena ia terserang kaget dadakan. Apa tadi ia sedang berhalusinasi? Sepertinya ia benar-benar mendengar suara yang dengan mudahnya menaikkan bulu kuduknya.

Karena nggak mau membuat pikirannya semakin menjalar ke mana-mana, Rina segera mem-packing pakaiannya dan pergi ke kamarnya. Sebenarnya sih ia enggan untuk mengambil ponselnya lagi. Tapi mau bagaimana? Ia masih cukup penasaran sekaligus memang nggak bakal mau jauh dari ponselnya tersebut.

Rina memberanikan diri mendengarkan musik dari ponselnya. Walaupun tangannya sedikit gemetar, ia mencoba membuktikan bahwa tadi dia hanya berhalusinasi. Rina mulai dengan mendengarkan lagu 21 Guns.

Semuanya normal. Nggak ada acara tiba-tiba lagunya berhenti bahkan sampai lagu itu habis. Berarti, tadi Rina hanya berhalusinasi saja. Mungkin dia terlalu kelelahan di sekolah.

Dan lagu selanjutnya, Posessif milik Naif.

Rina nggak ingat kapan dia memasukkan lagu ini ke ponselnya. Tapi dia nggak peduli tentang hal itu, yang dia mau dia ingin langsung mengganti lagu yang lain. Tapi anehnya, berkali-kali ia menekan tombol next, lagunya nggak mau berganti.

Bila kumati
Kau juga mati
Walau tak ada cinta
Sehidup semati

Jadilah eng—

“Kak, tolong aku. Aku mohon
.”

Kali ini, Rina benar-benar membuang ponselnya jauh-jauh. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Sepertinya ia kurang tidur, jadi banyak berhalusinasi. Rina langsung menarik selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya.

*** 

“Hah! Capeknya!” Rina meregangkan ototnya setelah sampai di vila tujuan. Vilanya memang nggak begitu besar, tapi halamannya itu lho. Belum lagi ada perkebunan strawberry di belakang vila. Kayaknya dia nggak menyesal mau berlibur bareng dengan teman-temannya tersebut.

“Gue boleh metik strawberry nggak?” seru Rina seakan rasa capeknya luruh ke lantai. Seorang gadis bernama Hara yang diketahui pemilik vila ini—ya mungkin vila peninggalan orangtuanya—tersenyum dengan manisnya ke arah Rina.

“Maaf, teh, strawberry-nya lagi nggak berbuah, jadi teteh nggak bisa metik buahnya,” tuturnya manis.

Rina hanya ber-oh ria. Nggak berbuah katanya? Padahal tadi Rina sempat melihat beberapa strawberry yang berwarna merah cerah masih di tangkainya. Benar-benar kepengin dipetik dan langsung dimakan. Halah, bilang aja pelit, umpatnya.

Rina langsung permisi untuk pergi ke kamarnya. Dia sekamar dengan Faras tentunya. Kamar Nino di samping kamar mereka. Karena hawa banget yang dinginnya cukup keterlaluan, Rina lebih memilih tidur dibandingkan harus mengikuti games yang sengaja dibuat oleh teman-temannya tersebut. Dan akhirnya, ia terlelap hingga menjelang malam.

Bangun-bangun, Faras sudah terlelap di sampingnya. Ya ampun. Berarti sekarang sudah larut malam banget dong? Mana hawanya semakin dingin lagi.

“Far, far, bangun dong.”

“Apaan sih Rin, gue ngantuk nih,” keluh Faras.

“Lo mau dapet jackpot nggak? Ayo ikut gue!” kata Rina yang tiba-tiba saja terlintas suatu ide.

Tunggu. Ini déjà vu?

Faras terbangun. Sebenarnya dia nggak ngantuk-ngantuk banget sih. Karena tadi dia habis membakar jagung dan ayam bareng teman-temannya. Alhasil, asap yang mengenai matanya membuatnya menjadi susah tertidur.

Faras dan Rina keluar dari kamarnya. Dan bingo! Mereka berdua langsung bertemu dengan Nino. Alhasil, Rina bisa menyeret langsung Nino untuk mengikutinya.

“Lo berdua pada mau ngapain sih? Orang-orang tuh udah pada tidur,” keluh Nino.

“Kita mau melakukan pencurian strawberry yang diumpetin. Ayo! Gue tau lo berdua pasti juga ngiler. Sekarang mumpung yang punya vila udah tidur, mending kita beraksi.”

Nino dan Faras menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan temannya yang kelewat waras tersebut.

“Rin, gue mau balik ke kamar aja deh,” pinta Faras yang mulai ketakutan.

“Rin, balik yuk. Mulai serem nih,” Nino juga ikut-ikutan.

“Nggak.” Rina langsung menolak. “Lo harus ikut gue. Ya udah Far, lo kalo mau balik, balik aja. Tapi lo nggak kebagian strawberry-nya!”

“Masa bodo deh, mending gue ke kamar aja.”

Nino dan Rina melanjutkan langkah mereka menuju pekarangan belakang. Bagi Rina sih ini tantangan, kalau bagi Nino ini namanya cari mati.

Tapi tunggu dulu. Ini déjà vu ya? Sepertinya ia pernah mengalami ini, tapi ka—

Nino langsung menarik tangan Rina agar segera berlindung di semak-semak. Dari wajahnya yang tertimpa cahaya rembulan, Rina mulai mencium hal yang tidak enak.

“Rin! Ada orang!” bisik Nino dengan nada ketakutan. Rina langsung menyuruh Nino untuk terdiam. Ia mencoba untuk mengintip ke arah orang yang dimaksud oleh Nino. Rina mengernyitkan dahinya. Ngapain bapak-bapak itu—yang diketahui sebagai pembantu di vila ini—membawa parang dan cangkul malam-malam begini?

Dan lebih anehnya lagi, sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang yang tertutup dengak semak-semak strawberry.

Terdengar suara desahan napas tertahankan dan tangisan pilu yang terbawa angin. Rina semakin nggak mengerti dengan suasana seperti ini. Dan matanya pun tiba-tiba terbelalak ketika melihat sepasang kaki yang tidak tertutup oleh semak-semak.

Dan ketika Rina melihat mamang itu mengangkat parang setinggi-tingginya, tahu-tahu Rina berteriak dan keluar dari persembunyiannya. Mamang itu nggak mungkin mau menebas pohon strawberry setinggi itu kalau dia ingin membunuh seseorang kan?

Mamang itu menatap Rina dengan sangarnya.

“Mamang! Apa yang mamang lakuin? Dan siapa yag ada di balik semak-semak itu? Mamang… lagi nggak metik strawberry kan?” Sempat-sempatnya Rina melucu. Namun kali ini ia benar-benar serius. Mungkin saja dia salah sangka. Tapi siapa yang tahu? Perasaannya benar-benar nggak enak kali ini.

“Kamu… kalian harus saya habisi terlebih dahulu.”

Tiba-tiba saja mamang itu membawa parangnya dan setengah berlari ke arah Nino dan Rina. Tiba-tiba saja kaki Rina nggak bisa digerakkan. Ini benar-benar nyata! Ini mimpinya yang waktu itu!

“Rina! Rin!” teriak Nino di belakang Rina. “Lari Rin! Rina! Sadar!”

Nino terus saja menarik baju Rina. Namun pada akhirnya, Nino benar-benar menarik Rina agar segera menjauh dari mamang itu.

“Di sana ada orang, Nin!” teriak Rina seakan teringat sepasang kaki di antara semak-semak strawberry tadi. “Lo mau ngebiarin dia mati?!”

“Lo harus inget nyawa lo dulu, Rin!” Nino mengingatkan. “Sekarang, posisi mamang itu lagi ngejar kita. Rin!” Rina terjerembap di tanah. Bahkan Nino sudah jauh dari hadapannya. Dan si mamang itu… mungkin nyawa Rina akan berada di tangannya.

“Kamu pikir kami bisa lari dari saya? Hahahaha.” Seakan-akan barusan parang yang dipegang mamang itulah yang berbicara dengannya.

Rina mencoba berdiri. Ia memang berhasil. Namun sayang, ujung parang yang tajam itu telah membelah cukup dalam betis Rina. Rina langsung meringis. Darah mengucur deras di bagian kakinya. Ia benar-benar nggak kuat menahan perih di kakinya.

Seakan belum puas dengan sambitan parangnya tadi, mamang itu kembali menorehkan parangnya di kaki Rina dengan sadisnya. Namun sebelum parang itu bisa memotong kaki Rina, Nino segera meloncat ke arah mamang itu dengan gagahnya.

“Jangan pernah ngelukain sahabat gue!” seru Nino sambil menendang tangan mamang itu. Akhirnya, parang miliknya terlepas. “Dasar bajingan!”

“Nino…” keluh Rina yang sudah tak tahan dengan rasa sakit di kakinya. “Sakit…”

Nino langsung menghampiri Rina. Kesempatan dalam kesempitan. Mamang itu mengambil sebilah pisau dari punggungnya dan menancapkannya ke arah bahu Nino. Sambil mengoyak-ngoyak daging yang baru saja ditusukkannya, dia berkata, “Jangan pernah main-main sama saya.”

Kaki Nino seakan-akan lumpuh. Ia berusaha menahan sekuat tenaga tubuhnya agar tak menjatuhi tubuh Rina. Tenaganya seakan tersedot ke pisau yang baru saja ditusukkan di bahunya tersebut.

“Arrrrrrrgggghhh!!!!!” Rina menggeleng kuat sambil melebarkan matanya. Ia melihat sahabat cewek satu-satunya tengah berlari ke arah mamang dengan membawa tali tambang, bersiap untuk menyekik mamang itu.

“Jangan Far… jangan…” Rina nggak siap jika kedua temannya mendapat perlakuan seperti dirinya.

Faras berhasil menyekik mamang itu. Tetapi karena kekuatannya melebihi Faras, mamang itu langsung membalikkan tubuhnya dan menahan tangan Faras. Faras lansgung menampakkan wajah ketakutannya. Ditariklah rambut panjang kesayangan Faras dengan sadisnya hingga membuat kulit rambutnya tertarik keluar.

“Gue nggak takut sama lo!!!” teriak Faras yang kemudian langsung menendang selangkangan mamang itu. Yah, apa sih kekurangan dari seorang lelaki kalau tidak memusat pada barang berharganya itu?

Karena Faras nggak puas, dia justru menginjak-injak bagian yang sama hingga membuat mamang itu benar-benar terkapar di tanah. Setelah itu, ia berusaha mengikat mamang itu agar dia nggak bisa lagi menyakiti siapa pun selama ada kesempatan.

Faras langsung berlari ke arah kedua temannya tersebut yang terkapar di tanah.

“Far… lo harus ngecek kebun belakang… di situ ada orang… di situ…”

Faras langsung berlari menuju kebun belakang. Dan, astaga. Hara si gadis pemilik vila ini terkapar tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka dan… tanpa busana. Kecuali pakaian dalamnya. Faras mencoba menyadarkan Hara. Ia melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Hara. Terlihat di tanah ada rok Hara yang ia gunakan tadi pagi.

“Eh? Ada apa ini? Ada apa?”

Orang-orang yang berada di dalam vila langsung keluar semua. Mereka kaget melihat Rina, Nino, dan pembantu vila sudah terkapar di tanah. Dan saat itu juga, Nino dan Rina sama-sama tak sadarkan diri.

*** 

Nino bangun dengan rasa ngilu di bahunya. Di sampingnya, Rina juga tertidur dengan raut wajah memilukan. Sinar matahari bergerombol masuk melewat celah-celah jendela. Ini sudah siang?

“Lo udah bangun, Nin?!” pekik Faras yang langsung memancarkan wajah bahagianya. Matanya kelihatan sembab. Sepertinya semalamam ia habis menangis.

“Apaan sih lo, Far,” Yang menyahut justru Rina. “Berisik tau nggak sih, gue lagi tidur.”

Faras langsung memeluk kedua temannya tersebut. Dia nggak peduli kedua temannya tersebut sudah mengeluh karena masih merasa kesakitan. Tapi dia bersyukur, kedua temannya masih bisa berkumpul dengannya lagi.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Hara beserta Bi Nia di sampingnya masuk ke dalam. Nia sudah tak nampak berseri lagi. Mereka berdua duduk di samping ranjang tempat Nino dan Rina beristirahat.

“Syukurlah kalau kalian berdua sudah siuman,” kata Hara dengan senyum memaksa. “Aku teh nggak tau gimana kalau nggak ada kalian—”

Rina langsung menggenggam tangan Hara sambil tersenyum. “Ini karena kejahilan kami juga. Kami bersyukur bisa nolong kamu yang dalam situasi membahayakan.”

“Kejahilan kami? Lo doang kali, Rin!” Nino berseru jengkel. Rina hanya menyengir.

Hara bisa sedikit tertawa. “Lebih baik, kalian istirahat. Kalau butuh apapun, kalian minta sama Bi Nia ya? Aku pamit dulu keluar.”

Hara dan Bi Nia keluar dari kaar. Faras menghela napasnya sejenak. “Kasian Hara, gue bener-bener nggak tau harus ngapain kalo jadi dia.”

Faras langsung menceritakan segalanya setelah ia menyelamatkan Hara. Mamang yang dikenal sebagai pembantu di vila, dengan teganya memperkosa Hara. Hara bercerita, bahwa dulu tanah vila ini milik keluarga si mamang itu. Namun pada akhirnya, tanah ini dijual ke keluarga Hara dengan harga semurah-murahnya. Mungkin karena hal ini si mamang jadi balas dendam dengan keluarga Hara. Dan karena suatu kejadian, si mamang ini diperkerjakan di vila ini. Dan suatu hari, ayah, ibu, dan adiknya Hara meninggal karena kecelakaan. Semenjak itu, Hara merawat vila ini bersama mamang dan Bi Nia.

Dan begitulah sampai sekarang.

“Ciyeee nangis…” Faras langsung menyela Rina yang kelewat terharu. Dia memang jarang banget menangis.

“Namanya juga manusia, normal kali. Eh, Far. Tolong ambilin hape sama headset gue dong di tas. Gue kangen dengerin musik nih.”

Yah, akhirnya kembalilah kebiasaan buruk Rina. Tapi Faras tetap mau mengambilkan ponsel beserta headset milik Rina tersebut.

“Oh ya,” Nino menyikut lengan Rina. “Kayaknya seharian kemarin lo nggak nyumpelin headset ke kuping lo ya? Tumben banget bisa jauh-jauh dari musik.”

Rina hanya menyengir. Kemudian ia memasang kedua headset-nya di telinganya. Di saat diperingatkan oleh Nino tadi, ia baru teringat hal-hal aneh yang terjadi kepadanya. Ya, suara itu.

Tapi sekarang Rina sudah nggak peduli. Mungkin dia memang benar-benar lagi mengkhayal.

Lagu For the First Time milik The Script berdendang di telinganya.

She’s all layed up in bed with a broken heart
While I’m drinking Jack all alone I my local bar, and we don’t know how
How we got into this mad situation, only doing things out of frustration
Trying to make it work, but man these times are hard

She needs me now—


Tiba-tiba putaran lagunya terhenti. Kejadian kemarin terulang lagi.

“Terimakasih ya Kak atas pertolongan kakak dan teman-teman kakak. Kakak boleh kok ngambil strawberry di pekarangan tapi izin dulu ya sama kak Hara. Oh ya, kenalin, aku Bunga, adik Kak Hara. Hihihi.”


Sekujur tubuh Rina langsung merinding. Tiba-tiba, lagu yang tadi sempat terhenti kembali terputar. Wajah Rina langsung memucat. Faras yang melihat temannya terlihat aneh, langsung mencelanya.

“Lo kenapa Rin? Makin sakit lukanya?”

“Ng—nggak, gapapa.”

***

Jadi, masih ada yang berani tidur sambil dengerin musik? :)
Continue reading
Share:
Views:
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments ( Atom )

Hi, you!

Hi, you!

Blog Archive

  • ▼  2017 (3)
    • ▼  September (1)
      • Intro Perkuliahan
    • ►  July (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (3)
  • ►  2013 (24)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  May (1)
    • ►  April (5)
    • ►  January (4)

Labels

CAKES! Cerbung Cerpen Imajinasi Travel Trip

Wanna be my mate?

© 2016 Astaghiri | All rights reserved
Created By Responsive Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates