Astaghiri

  • Home
  • CERPEN
  • CERBUNG
  • CAKES!
  • Trip
Cerpen Imajinasi

Rian!

Monday, June 27, 2016 By astaghiri 0 Comments
Sumber: https://twitter.com/jatengtwit/status/535955974138257409
Aku terbangun karena mendengar suara bising pacu roda kereta. Dengan mata menyipit, aku melihat seseorang keluar dari gerbong dan menutup pintunya dengan kasar. Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala untuk memulihkan kesadaranku.

“Ini sudah sampai di mana ya, Pak… eh? Bu?” Aku bahkan tidak sadar bahwa orang di depanku sudah berganti penumpang. Kini di depanku ada seorang ibu-ibu dan mungkin anaknya, laki-laki.

“Di Bekasi, Mas,” jawab Ibu itu dengan tambahan senyuman di bibirnya. Aku bernapas lega karena perjalananku akan sampai sebentar lagi. “Turun di mana, Mas?”

“Eh? Di Pasar Senen, Bu. Kalau Ibu?”

“Oooh. Ibu di situ juga turunnya.”

Aku hanya mengangguk-angguk, sudah tidak tahu lagi apa yang harus kubicarakan padanya. Kemudian aku melirik ke arah anak kecil yang duduk di samping Ibu itu.

“Anaknya, Bu?”

“Bukan. Ini cucu Ibu dari anak pertama.” Aku ber-oh ria. Sebenarnya aku tidak begitu kaget, sih. Soalnya wajah Ibu di depanku ini memang sudah tak terlalu muda. “Kuliah, Mas?”

“Iya, Bu. Di Malang. Mau naik semester 5.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera mengambilnya di dalam tas yang kutaruh di bawah bangku kereta.

“Adik, mau coklat?” tawarku pada anak kecil itu. Yah, walaupun coklatnya tersisa setengah batang, setidaknya aku masih mau menawarkan. Lagipula, sepertinya aku tidak mau memakannya lagi. Daripada mubazir, mending aku kasih ke anak kecil itu.

“Mauuu!” Dia langsung mengambil coklat di tanganku.

“Aduh, Mas. Jangan repot-repot,” ucap Ibu itu yang kemudian langsung menoleh ke arah cucunya. “Bilang terima kasih dulu dong, Yan.”

“Terima kasih, Maaaas!”

Aku tersenyum tipis, kemudian mengambil botol air mineral dan meminumnya. Rasanya aku tidak sabar untuk bisa mencapai rumah. Sudah lima bulan lebih aku jauh dari rumah, menimba ilmu di kota tanpa sanak saudara itu.

Aku melirik ke anak kecil yang kini telah berpindah duduk dengan neneknya, bergantian tempat. Sebenarnya aku juga tidak tahu sih apa yang ingin dilakukan oleh anak kecil itu. Tapi namanya juga anak kecil, selalu hiperaktif. Apalagi laki-laki.

Tiba-tiba aku merasa bahwa kereta yang kutumpangi ini melaju lebih cepat. Entah ini perasaanku saja atau bukan. Tetapi aku melihat Ibu di depanku ini memegangi cucunya yang tadi hampir saja mau terjatuh.

“Rian, ayo pindah tempat duduk lagi. Kamu di pojok saja, biar Nenek yang di pinggir,” perintah Ibu itu sambil memegangi tangan cucunya.

He? Namanya Rian? Sama seperti namaku.

“Tidak mau! Rian maunya di sini saja!” balasnya sambil mencoba melepaskan genggaman tangan neneknya.

Pintu gerbong terbuka, seorang pria berbadan tegap masuk ke dalam gerbong. Tidak ada yang aneh dari pria tersebut sampai tiba-tiba dia mengacungkan senjata api ke arah atas! Ya Tuhan!

“Jangan ada yang bergerak!” Beberapa jeritan anak kecil dan wanita terdengar mengaung di gerbong. Suasana berubah drastis menjadi tegang. Kereta ini sedang dibajak!

Ibu di depanku langsung mendekap cucunya dengan erat. Anak itu kelihatan bingung, tapi dia juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Wanita di sampingku pun juga langsung merengut di pojok bangku.

“Bagi yang memangku tas, taruh tas kalian di tengah gerbong! Cepat!”

Aku langsung melirik ke arah tas yang memang sedang kupangku. Aku ingin mengambil sesuatu di dalam tasku yang menurutku sangat penting. Sebelum pria itu melihat—

“Heh, kamu!” Aku terlonjak begitu pria tegap itu berteriak padaku. “Cepat taruh tasmu di bawah!” katanya sambil mengacungkan pistolnya ke arahku. Aku langsung menuruti perintahnya sebelum mungkin peluru itu akan bersarang di tubuhku.

Aku mulai resah, berdoa dalam hati semoga tidak ada korban dalam kejadian ini. Tapi aku juga was-was. Sepertinya pria tadi sudah menargetkanku untuk menjadi korbannya karena tadi aku sempat tidak menuruti perintahnya.

Aku melihat ke arah belakang. Ternyata ada pria lain yang juga membawa pistol di tangannya.

“Neeek. Aku mau pipiiiis.” Aku melirik ke arah anak kecil yang kini sedang berusaha untuk menahan rasa buang air kecilnya.

Neneknya langsung panik. Dalam keadaan genting seperti ini, ada saja hal di luar kendali yang begitu mendesak.

“Ditahan dulu ya, Nak. Kamu ngompol saja di sini tidak apa-apa, deh.” Hah? Jadi dia membiarkan cucunya untuk buang air kecil di sini? Yang benar saja! “Kamu tidak boleh ke mana-mana soalnya—”

“Pak!” Aku mencoba memanggil pria yang membawa pistol tersebut. Dia berbalik ke arahku dengan wajah yang garang.” Anu, Pak. Adik saya mau pipis. S-saya mau antar d-dia ke toilet. B-boleh, Pak?”

Aduh! Kenapa tiba-tiba aku yang bilang kalau aku yang akan mengantar anak kecil itu, sih? Ah! Daripada nanti dia mengompol di sini dan menyebarkan bau pesing ke mana-mana, mending aku antar dia ke toilet sekarang.

“Memangnya dia tidak bisa pipis sendiri?!” Aku malah dihardik oleh pria itu. Tapi karena dia melihat raut wajah anak kecil itu yang mungkin sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil, akhirnya kami diperbolehkan untuk ke toilet. “Ya sudah! Kamu yang antar. Jangan macam-macam!”

Mau tidak mau, akhirnya aku mengantar anak kecil ini ke toilet ujung gerbong sambil diawasi oleh salah satu pria yang membawa pistol tadi. Aku dan anak kecil ini masuk ke dalam toilet yang baunya langsung menusuk paru-paru.

“Dik, kamu bisa sendiri, ‘kan?”

Dia mengangguk-angguk. Aku hanya bisa menunggunya dari belakang, memastikan bahwa urin yang dikeluarkannya tidak mengenai pakaiannya. Tapi… tunggu sebentar. Apa yang sedang dilakukannya?

Dia mengeluarkan kain hitam dari kantong celananya, kemudian dilebarkan dan dipasang di lehernya layaknya superman. Apa-apaan anak ini?!

Tapi… tunggu sebentar. Duh! Kenapa harus tunggu sebentar terus, sih? Eh, tapi kali ini serius! Kok sepertinya hal ini sudah tidak asing lagi ya dalam memoriku? Apa aku pernah memimpikan hal ini? Atau justru aku pernah mengalami hal seperti ini?

Astaga!

“Dik! Nama kamu Rian? Rian Budiawan?”

Dia menolehku dengan raut heran. “Kok Om tahu namaku?”

Apa? Aku dipanggil ‘Om’? Sejak kapan aku menjadi setua itu?!

Ah! Itu tidak penting sekarang!

Yang penting untuk sekarang adalah… ternyata ini semua adalah fantasi pada masa kecilku! Dan anak kecil di depanku ini adalah aku! Aku yang masih berumur 5 tahun! Dan wanita yang bersama anak kecil ini adalah nenekku! Aku bisa memastikan itu!

Jadi… aku datang ke masa lalu? Ah! Tidak tahu!

“Dik… eh maksudku Rian. Sekarang kamu tahu ‘kan situasi di kereta sangat genting? Banyak nyawa yang harus kamu tolong. Kamu tahu ‘kan bagaimana caranya menyingkirkan kedua pembajak itu?”

Sekarang aku sangat yakin sekali! Ini adalah kisah fantasi yang pernah kuciptakan! Dulu aku membayangkan bahwa aku memiliki kekuatan untuk terbang dan bisa mengalahkan siapa pun!

“Heh! Kenapa lama sekali di dalam?!” Pria itu menggedor-gedor pintu toilet.

“S-sebentar, Pak! Saya sedang memakaikan celana adik saya!” balasku mengawur. Kemudian aku berbisik pada Rian, si ‘aku’ di masa kecil. “Rian, sekarang di depan toilet ada Bapak-bapak bawa pistol. Kamu harus—”

“Tenang saja, Om. Aku tahu apa yang harus kulakukan,” ucapnya dengan tenang.

Kemudian kami berdua keluar dari toilet. Aku melirik ke arah pria itu yang sedang menatap kami dengan garang. Tiba-tiba saja Rian langsung meloncat ke arah pundak pria itu dan memukul tengkuk kepalanya! Tanpa ada perlawanan, pria itu langsung tergeletak di lantai gerbong.

“W-wow…” Aku tidak pernah menyangka fantasiku bakal ‘seliar’ ini. “B-bagus, Rian. Kamu keren…” pujiku pada Rian.

Tapi hal ini diketahui oleh pria lain yang berada di dalam gerbong. Aku melihatnya sedang berlari ke arah kami. Namun tiba-tiba saja Rian membuka pintu gerbong dan langsung terbang ke arah pria itu!

Rian mengunci leher pria itu menggunakan kakinya. Terjadi pergolakan yang hebat karena badan Rian menutupi penglihatan pria itu. Beberapa penumpang yang di sekelilingnya hanya bisa berteriak karena takut terkena peluru yang menyasar.

Tiba-tiba seorang wanita berbaju putih yang tadi duduk di sampingku berdiri, menghampiri pria itu dan Rian. Dia mencoba membantu Rian dengan memegangi tangan pria itu untuk mengambil pistol yang sedang dipegangnya.

Rian hendak melakukan hal yang sama pada pria itu, yaitu memukul tengkuk kepalanya. Tetapi tiba-tiba sekelebat memori lewat di dalam otakku. Ini semua—

“Rian! Jangan dipuk—” Rian sudah terlanjur memukul tengkuk kepala pria itu. Dan wanita itu juga berhasil mengambil pistol dari pria yang kini sudah tersungkur di lantai.

Kini aku ingat semuanya! Dari awal aku juga merasa semua ini begitu janggal!

Aku baru ingat kalau ternyata kedua pria yang kini tersungkur itu adalah seorang polisi! Mereka berdua sedang mencari pelaku bom yang menyamar menjadi penumpang di sini! Ah! Semuanya jadi kacau!

Tiba-tiba wanita berbaju putih itu menarik Rian dan menodongkan pistol ke arahnya. Semua penumpang langsung tegang, terutama aku! Bagaimana nasibku di masa depan nanti?!

“Terima kasih ya, adik kecil. Sudah membantu Kakak untuk menyingkirkan dua polisi ini,” kata wanita itu sambil tersenyum sadis. Ternyata wanita itu adalah pelakunya! “Tapi Kakak sudah tidak butuh bantuan kamu, lebih baik kita mati bersama saja, ya?”

Wanita itu langsung menarik pelatuk, dan… DOR! Rian langsung tersungkur ke bawah, diiringi oleh teriakan histeris penumpang. Belum sampai di situ, tiba-tiba wanita itu mengarahkan pistol ke arah kepalanya dan…

“Semoga kita semua bertemu di neraka!”

DOR!

Penumpang semakin histeris. Wanita itu terjatuh, dan sepertinya nyawanya sudah tidak bersarang di tubuhnya lagi.

Aku langsung menghampiri Rian yang kini tergeletak tak bernyawa. Neneknya juga ikut menghampirinya, membawa tangis yang tak tertahankan.

“RIAN! RIAAAAAAAAN!”

Aku sudah tidak bisa berkata lagi. Tanganku gemetar menopang tubuh kecil itu. Apa ini merupakan akhir kisahku? Apa aku sudah tidak ada lagi di masa depan nanti? Atau…

Tunggu… Benda apa ini? Benda berwarna perak dengan salah satu ujungnya yang lancip. Bukankah ini peluru?

“Aduh… kepala Rian pusing…”

Tiba-tiba Rian terbangun. Astaga! Aku lupa kalau Rian memiliki kekuatan besi pada tubuhnya! Ya ampun! Kenapa aku bisa lupa sih kalau aku menciptakan fantasi diriku menjadi seorang manusia baja?

“Ri-Rian? Riaaan!” teriak wanita itu yang notabene adalah nenekku. Semua penumpang diserang kaget sekaligus heran dengan kejadian barusan.

“Aduh, Nek! Sesak, Nek! Sesak!”

Nenekku langsung melepas pelukannya pada Rian. Mungkin dia sudah tidak tahu kata-kata apa lagi yang harus diucapkannya selain bersyukur akan mukjizat yang dialami oleh Rian, ‘aku’ di masa kecil dan di fantasiku.

Sekarang aku ingat di mana letak bom itu berada!

Aku langsung berdiri dan berteriak. “SEMUA YANG ADA DI SINI, LANGSUNG PINDAH KE GERBONG PALING UJUNG KARENA BOM TERLETAK DI SALAH SATU BANGKU PENUMPANG DI SINI! BERITAHU PENUMPANG DI GERBONG LAINNYA AGAR SEGERA PINDAH KE GERBONG TERAKHIR!”

Para penumpang langsung berbondong-bondong keluar dari gerbong ini dan pindah menuju gerbong paling terakhir. Kemudian aku menatap nenekku.

“Nek, Nenek harus ke belakang gerbong sekarang. Biar aku sama Rian yang menyelesaikan masalah ini.”

“Tapi Rian masih kecil! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya?”

Aku menelan ludah, tidak percaya bahwa nenekku bisa berkata seperti itu padaku. Padahal ‘kan aku juga cucunya… Cucu masa depannya…

“Nek.” Kali ini Rian yang berbicara. “Sekarang Nenek harus ke gerbong paling akhir, nanti Rian menyusul, kok. Oke, Nek? Nenek mau punya cucu yang terkenal, tidak? Nanti aku masuk koran dan televisi lho gara-gara menyelamatkan nyawa orang banyak!”

Sebenarnya aku mau tertawa, tetapi suasananya sedang tidak pas.

“Awas kamu kalau tidak menyusul Nenek!” Kemudian nenekku berdiri, meninggalkan kami berdua.

“Om! Om tahu di mana letak bomnya?”

Apakah aku setua itu hingga anak kecil ini memanggilku dengan sebutan ‘Om’?! Ah! Itu tidak penting! Lagipula, anak kecil itu adalah aku di 15 tahun yang lalu, jadi aku mengatai diriku sendiri. Ah, peduli amat! Sekarang aku harus menyelamatkan nyawa penumpang di kereta ini!

“Di bawah bangku wanita tadi! Pasti di sana!”

Kemudian aku dan Rian berlari menuju bangku wanita yang kini sudah terkapar tak bernyawa. Aku langsung melihat ke arah kolong, dan ternyata benar! Di sana terpasang bom yang sudah diaktifkan oleh wanita tadi! Sialan!

30 detik lagi! ARGH!

Jantungku langsung berpacu dengan cepat. Aku tidak mau mati sekarang, dan aku juga tidak mau Rian kecil ini mati bersamaku. Aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang bom, dan aku tidak tahu bagaimana cara mematikannya.

20 detik lagi…

“Om, bagaimana?” tanya Rian padaku.

Aku menarik napas sejenak. Kalau Rian harus mati, berarti di masa depan aku sudah tidak ada lagi. Jadi… lebih baik aku yang mati dan membiarkan Rian tetap hidup.

“Rian! Dengarkan Om!” Aduh! Kenapa aku sendiri menyebut diriku dengan sebutan Om sih?! “Kamu harus melepaskan sambungan kereta gerbong ini! Kita harus menyelamatkan orang-orang di belakang kita!”

“I-iya, Om!” Rian langsung bergegas ke belakang gerbong, melepaskan kait yang menghubungkan gerbong ini dengan gerbong selanjutnya.

“Dan kamu juga harus hidup…”

BOOOM!

“MasyaAllah!” Tiba-tiba seseorang yang tidak kukenal mengagetiku. Eh? Kenapa… “Mengagetkan saja sih, Mas!” Lho? Kenapa dia yang kaget? “Ini sudah sampai di stasiun terakhir, Mas! Mau balik lagi ke Malang?”

Hah? Stasiun terakhir? Malang? Aduh! Apaan sih?

“Ini Stasiun Pasar Senen, Pak?”

“Iya, Mas. Tinggal Mas saja yang belum turun.”

Jadi… tadi aku hanya bermimpi? Tidak ada Rian kecil? Nenekku? Dua polisi? Wanita berbaju putih? Dan bom?

Aku tertawa sendiri. Ternyata tadi hanya mimpi belaka. Lagipula, aku tidak mungkin bertemu dengan diriku sendiri di masa kecil, dan mengalami fantasi yang pernah kuciptakan. Semuanya hanya imajinasi, mungkin karena akhir-akhir ini aku sedang stres memikirkan hasil ujian-ujianku.

Aku mengambil barang-barangku dan turun dari kereta. Kepalaku agak sedikit pusing karena terlalu lama tidur di kereta. Mungkin karena pengaruh obat anti mabuk yang kuminum, hingga aku tertidur seperti orang mati.

“Ooom!” Tiba-tiba ada seseorang yang kurasa sedang memanggilku. Aku menengok dan menemukan… “Terima kasih ya coklatnya!”

Ri…an? Rian?!
Continue reading
Share:
Views:
CAKES!

Berawal dari Tatap

Friday, June 10, 2016 By astaghiri 0 Comments
Berawal dari tatap
Indah senyummu memikat
Memikat hatiku yang hampa lara…


Sori, jadi konser dadakan. Biasa, soalnya gue termasuk garis keturunan Bang Ipul. Dikit-dikit nyanyi, dikit-dikit nyanyi. Tapi sebenernya, itu himpitan curhat juga sih… hmm…

Oke! Jangan OOT (Out Of Topic)! Walaupun judulnya Berawal dari Tatap, jangan jadikan blog ini sebagai ajang karaokean, karena gue akan menceritakan kenapa sekarang gue bisa menjadi Mahasiswi Biduan, eh, Mahasiswi Bidan maksudnya, di FKUB ini.

Ingat! Di sini ada beberapa konten yang cukup 'bar-bar' dan mungkin bakal sedikit merusak kinerja otak lo yang akan mengimajinasikan konten tersebut. Sebenarnya nggak jorok, cuma karena kalian belum terbiasa, 
hal-hal kayak 'gini' masih menjadi bahan yang tabu.
Tapi, enjoy aja!

Berawal dari Nyokap gue, Mama Ambarwati. Eh, no! Berawal dari Tante gue lahiran. Gue panggil doi dengan sebutan Mbak Endang, walaupun jelas-jelas dia Tante gue karena umurnya nggak jauh banget sama umur gue *padahal gue nggak tau umurnya doi berapa*.

"Kerudungnya ke mana, nduk?"
"Aku belum khilaf, mbah."
Kira-kira itulah perbandingan wajah gue sama doi. By the way, ini sekitar 6 tahun yang lalu (2010).
Waktu itu, testis gue turun (desensus testis), jadinya rupa gue seperti itu.
Singkat kata, Mbak En lahiran di Bidan Praktik Mandiri yang letaknya di depan gang rumah gue. Gue masih inget banget, tapi gue lupa waktu itu gue umur berapa, waktu itu sekitar jam 6-an gue ke BPM naik sepeda cewek. Entahlah, gue kepengin ke sana aja, gue mau ngapain juga nggak tau.

Setelah itu, gue masuk ke sana, Mbak En masih dalam keadaan mules-mules, Emak gue di sampingnya sambil memegangi tangannya, dan gue nari Tor-Tor di sana. Ya enggaklah. Gue juga bingung, gue harus ngapain di saat itu karena aku hanyalah seorang anak polos yang tidak tahu apa-apa.

Tetapi ketidakpolosan gue pada saat itu (ketuban Mbak En udah pecah) dinodai dengan dipampangkan sebuah pemandangan yang seharusnya anak di umur gue nonton bokep aja belum boleh, apalagi live-nya.

Jadi gini, posisinya pada saat itu adalah Tante gue tiduran di ranjang dengan posisi litotomi (posisi kaki ngangkang pada saat persalinan. Keren ya bahasanya? Wkwk). Gue di kanannya, tapi jongkok sambil memainkan sesuatu, yang kalau gue inget adalah kancut calon dedek bayinya Tante gue. Dan nyokap gue berada di samping kiri sambil membacakan doa-doa agar Tante gue dan calon dedeknya bisa selamat.

Yang gue herankan, ada sebuah cermin yang terletak di depan posisi Tante gue yang sedang dalam keadaan posisi litotomi itu. WTH! Gunanya apaaaa?!

Dan di saat gue sedang memikirkan apa fungsi cermin itu, terlihatlah sebuah pemandangan yang membuat kepala gue langsung menunduk mengheningkan cipta, sambil memainkan kembali kancut calon adek sepupu gue.

Berawal dari menatap itu, tiba-tiba saja ketika gue berada di masa SMA—kalau nggak salah kelas XI, nyokap gue menobatkan gue untuk menjadi seorang Bidan. Gue yang dikala itu emang belum ada pegangan apa-apa untuk masa depan, gue cuma bisa mangap tanpa tau apa alasan nyokap menyuruh gue untuk masuk ke bidang Bidan. And she says this:

“Soalnya waktu itu kamu berani Wir ngeliatin yang begituan.”

Ngeliatin? Begituan? Apa?

Setelah beberapa jam kemudian, nggak deng, setelahnya, gue baru sadar kalau yang nyokap maksud adalah kejadian pada saat itu, ya saat itu, yang berawal dari tatap itu.

Dan sebenarnya, ini belum selesai. Ya iyalah.

‘Keputusan’ nyokap gue yang selanjutnya bahkan bikin gue mangap 3 jari. Lebar banget.

Tungguin post selanjutnya!
Continue reading
Share:
Views:
CAKES!

CAKES!

Monday, June 6, 2016 By astaghiri 0 Comments
Hai-haaai! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Udah lama banget gue nggak nge-blog. Sekalinya nge-blog, gue beneran lagi nggak ada kegiatan, alias nganggur, alias liburan semester. Ketahuilah, cuma fakultas gue yang mengadakan libur hanya sementara bahkan diambang khayalan, hiks. #np Pasto – Aku Pasti Kembali.

Aku hanya libur tuk sementara~

Jadi, sekarang gue seorang mahasiswi *benerin kerah baju dulu* di salah satu Universitas di Malang. Ya lo pasti taulah, paling nggak ketebak. Wong universitas di sini aja udah kayak sekolah negeri, bertebaran di mana-mana euy.

Capcuslah. Gue kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Wuiiih. Eits, masih ada garis keturunannya lagi, bro. Dibawah FKUB ditarik garis lurus bahwa gue di program studi S1 Kebidanan. Kedokteran mah udah biasa, biasa menolak gue maksudnya, hiks.

Jadi sih sebenernya, dan intinya, CAKES! itu sendiri memiliki kepanjangan yaitu Catatan Seorang Calon Tenaga Kesehatan. Tadinya mau dipanjangan cuma Catatan Tenaga Kesehatan doang. Tapi karena gue belum profesi, jadinya gue masih calon. Kalau calon menantunya besan gimana, Cho? Cuih!

Kenapa sih gue bikin ini?

Pertama, gue ingin mengharumkan nama bangsa dengan menebarkan tukang minyak wangi ke seluruh Indonesia. Nggak, deng. Zaman sekarang tuh orang yang minat dalam membaca dan menulis sangatlah sedikit. Jadi, setidaknya, gue bisa meningkatkan minat gue dalam menulis walaupun hanya menulis pengalaman ecek-ecek gue.

Kedua, kebanyakan, orang-orang yang berada di jurusan kayak gue ini jarang banget yang bikin karya tulis karena mereka sukanya sibuk sama Mas Sobotta dan cadaver-cadavernya. By the way, kalau kalian nggak tau siapa dan apa itu Mas Sobotta dan cadaver, ini dia penampakannya.

Sumber: blog.umy.ac.id

Jadi, Sobotta merupakan atlas Kedokteran yang wajib disembah bagi orang-orang seperti kami. Kalau nggak ada Mas Sobotta, nggak tau deh hidup kami nanti bakal seperti apa #edisilebay. Tapi beneran, bahkan kalau pun udah punya Mas Sobotta, kita masih bingung letak-letak anatomi tubuh manusia yang MasyaAllah, sempurna namun rumit.

Sumber: www.cnet.com
Daaaan, yang di atas ini disebut sebagai cadaver. Kalau yang masih belum paham, cadaver adalah mayat yang digunakan untuk... apa ya? Intinya, cadaver ini dipergunakan sebagai objek 3 dimensi biar kita tau di mana letak 'asli' anatomi tubuh manusia dengan bantuan Mas Sobotta di atas. Gue sengaja cuma menampilkan cadaver tangan karena sepertinya kalau gue menampilkan semuanya, cadaver terlalu eksotis dan kata dosen gue, kita perlu menghormati dia yang telah rela 'diubek-ubek' tubuhnya sebagai bahan pembelajaran bagi kami. Terima kasih cadaver! *peluk hangat*

Dan yang ketiga, kayaknya alesan yang pertama dan yang kedua sama aja. Jadi, intinya ya cuma itu.

Sooooooo! Tungguin cerita dari gue ya! Gue jamin, nggak ada jaminannya setelah lo baca blog gue. Abain gue, otak gue memang baru dicuci kemarin. See you!
Continue reading
Share:
Views:

Hadiah!

Sunday, February 7, 2016 By astaghiri 1 Comments
Eh salah, kakak gue nggak secakep ini #dilempargayung


Ini di tahun 2013. Di tahun 2016, tambahkan saja guratan-guratan pada wajahnya

Hari ini kakak gue ulang tahun, dan gue bingung mau kasih apaan karena dompet gue udah ngeluarin soundtracknya Opick yang liriknya; Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullahaladziiiim… #tragedikost

Karena hobi gue menulis, yang sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama jurusan gue sekarang ini, akhirnya hadiah yang bisa gue kasih ya cuma ini. Lagian harusnya kalian inget dong kata tante Pramoedya Ananta Toer, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian’. #ThugLife #CumaAlesan

Okelah. Jadi kita lima bersaudara *Kenapa jadi ngomongin saudara gue?* dengan abang gue yang kedua sudah kembali ke pangkuan-Nya, dan yang pertama inilah yang sedang merayakan hari tuanya. Hahaha.

Kita deskripsiin dia dulu sebelum dia dapet hadiah dari gue. Ceilah. Gue harus ‘ngebagus-bagusin’ dia dulu, sebelum taringnya keluar.

Dia adalah seorang traveler, bisa dicek di blognya. Udah beberapa bagian Indonesia yang dijelajahinya, luar negeri pun juga ikut dijajah. By the way, gue juga seorang traveler kok. Sudah beberapa kasur gue jelajahi, dan gue tempati untuk waktu yang cukup lama. Hahahaha.

Pekerjaan dia adalah seorang freelancer, dan sekarang lagi gencar-gencarnya ngerjain project bareng temennya, yaitu SundayPortrait #sekalianpromosibiarseneng.

Dan dia adalah seorang penjajah gue sebelum gue berumur 18 tahun. Gue sering dibuat jadi Mbok Iyem dadakan, dan disuruh mengojeki dirinya pada Sabtu-Minggu, atau hari-hari biasanya. Tapi bukan berarti sekarang gue sudah merdeka, kadang doi masing seneng nyuruh-nyuruh gue, hih.

Ah sudahlah, kita ke intinya saja. Sebenernya gue bikin cermin atau cerita mini. Hadiah ini sih sebenernya adalah alat pengetes ingatannya doi. Apakah memorinya masih tersimpan dengan baik atau udah nggak ada sama sekali termakan oleh usianya yang sekarang. Hahaha. By the way, mungkin kejadian ini sekitar 10 tahun yang lalu, atau mungkin lebih.

Memori akan selalu menyimpan kenangan yang sangat menyenangkan, dan juga menyeramkan – Wir

Dan ini salah satunya yang menurut gue cukup menyeramkan dan menegangkan. Hahaha. Kalau doi bisa inget, gue kasih jempolnya kaki seribu deh. Kalau enggak, gue kasih jempolnya kambing. Selamat bernostalgia!

***

Bosan nih, nggak ada yang seru. Sedari tadi aku hanya memencet tombol remot TV dan mengganti-ganti saluran televisi yang menayangkan iklan terus-menerus. Enaknya ngapain ya?

Tiba-tiba kakak perempuanku turun dari lantai dua, sebut saja namanya Niken. Ngomong-ngomong, dia galak, aku juga sih. Kayaknya wajah garang ini merupakan warisan yang diturunkan oleh Bapakku, turun menurutn ke semua anak perempuannya.

Dengan iseng, aku naik ke lantai dua, ke kamar Kak Niken. Dia ‘kan habis punya barang baru, ponsel Nokia yang mungkin zaman sekarang bisa digunakan untuk mengulek sambal, atau setidaknya menggetok kepala maling yang kurangajar.

Yah, yang namanya anak kecil, rasa pengin tahu jauh lebih besar daripada rasa pengin tempe. Eeeh, maksudku rasa penasaranku lebih besar. Jadi, kuutak-atik ponselnya untuk menemukan games di hapenya. Dan tara! Aku bisa menemukannya!

Aku bermain Racing Car Games yang kalau menabrak sesuatu, ponsel ini langsung bergetar. Yah, yang tahu games ini sih hanya anak tahun ’90-an. Anak-anak zaman sekarang mana tahu serunya main ular-ularan sama tembak-tembakan pesawat alien di hape yang layarnya masih kuning buram.

Tapi… rasa penasaranku tidak berhenti di situ saja. Aku mulai bosan kemudian aku keluar dari permainan tersebut. Entahlah, aku memencet asal tombol ponsel Kakakku, berharap sesuatu yang menyenangkan dapat kumainkan. Tapi…. Boooom. Malapetaka akan datang. AKU BARU SAJA MENGHAPUS GAMES YANG BARU SAJA DIDOWNLOAD OLEH KAKAKKU!

Aku mendengar suara langkah kaki menuju lantai dua. Itu pasti kakakku! Aku segera keluar dari kamarnya dan berlari menuju belakang rumah. Kebetulan di sana ada lemari besar dengan tiga ruangan, dan aku ingin mengumpat di sana. Ruang tengah lemari memiliki space yang cukup besar, namun perasaanku berkata bahwa jangan mengumpat di lemari tengah itu. Akhirnya aku mengumpat di lemari bagian kanan.

“CHOIR! MANA CHOIR?!” Nah, ‘kan! Pasti dia sudah tahu ulahku! “MAH! CHOIR ADA DI BAWAH?!”

“Enggak, Kak!” jawab Mamaku. “Kayaknya tadi ke atas deh. Emang ada apa, Kak?”

“ITU DIA NGEHAPUS GAMES KAKAK YANG BARU DIDOWNLOAD! EMANGNYA NGGAK BAYAR APA?!”

Waduh! Bisa disembelih nih aku kalau ketahuan sama dia. Di dalam lemari aku hanya bisa komat-kamit, supaya dia nggak ke belakang sini. Tapi ternyata… dia malah ke belakang! Dan ke lemari ini!

Dari situ aku mulai ketakutan. Dari celah pintu, aku bisa melihat dia sudah marah banget, garang banget deh pokoknya. Dan tiba-tiba saja… dia membuka pintu lemari bagian tengah! Ya ampun! Gimana jadinya kalau aku tadi mengumpat di lemari bagian tengah itu? Bisa-bisa aku dibikin jadi babi celeng sama dia.

Aku terus berdoa semoga dia nggak membuka lemari di mana aku mengumpat di sini. Dan doaku langsung dikabulkan oleh Allah. Dia tidak membuka pintu lemari ini dan langsung pergi ke kamarnya.

Dalam kesempatan itu, aku keluar dari lemari dan turun ke lantai satu. Setelah itu, aku segera keluar dari rumah, mencari perlindungan dan mencoba mengulur waktu biar amarah kakakku tak segersang padang pasir lagi.

***

Gimana? Masih inget sama kejadian itu nggak? *Ngomong sama doi*

Jadi itulah kenapa daku bisa menghilang begitu saja dari pandanganmu dan tiba-tiba sudah berada di luar rumah. Hahaha.

Selamat ulang tahun buat kakakku yang garangnya naudzubillahimindzalik sampe matanya mau keluar. Semoga sekarang inget udah umur berapa, inget udah mau berkepala tiga karena sepertinya Mama butuh 'mainan' baru di rumah.... HAHAHAHAHA.

Salam kecup, Muach.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Cita-cita Keluarga

Saturday, July 11, 2015 By astaghiri 0 Comments
Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘The Chronicles of Audy: 4/4’





“Au, SBMPTN milih apa?” tanya Missy ketika Audy lagi asyik memakan bekalnya. Tapi hasratnya melarut gara-gara Missy dengan tiba-tibanya bertanya seperti itu padanya.

Audy memutar bola matanya. “Sy, bisa nggak sih buat nggak ngomongin itu dulu? Ngerusak mood makan gue aja,” balas Audy dengan raut sebal. Padahal sehabis itu dia tetap menyuap bekalnya, tapi rasanya berbeda karena nikmat makanannya sudah menghilang.

“Lo tetep milih kedokteran, kan?”

Sekali lagi Audy melirik ke arah Missy. Entah kenapa rasanya kok nyesek banget kalau lagi ngomongin masalah itu. Belum lagi dia juga lagi dilema harus memilih apa karena sebentar lagi ujian SBMPTN akan dilaksanakan.

Dilema? Oh! Audy nggak perlu merasakannya karena orang tuanya—oh bukan, tapi KELUARGANYA—sudah dan pasti menyuruh Audy untuk memilih jurusan kedokteran yang notabene IQ siswanya pasti di atas rata-rata.

“Yah, mau gimana lagi. Itulah kemauan keluarga gue. Emangnya gue bisa apa? Ngelawan?” Missy cuma bisa diam melihat raut wajah lelah Audy yang akhir-akhir ini sering ngalor-ngidul di tempat les. “Gue cuma takut nggak bisa kuliah, Sy.” Tiba-tiba mata Audy terasa panas. Rasanya ia kepengin menangis ketika keinginannya untuk kuliah di luar kedokteran ditolak mentah-mentah oleh keluarganya.

***

Belum sempat melepas lelah dari tempat les, Audy dikejutkan oleh Regan yang sedang duduk manis di depan laptopnya. “Au, Kakak udah daftarin ujian SBMPTN kamu.”

“WHAT?!” Audy langsung menghampiri Regan dan melihat layar laptop yang terpampang kartu peserta dirinya. Rasanya kaki Audy mau putus melihat pilihan jurusannya. KEDOKTERAN TIGA-TIGANYA! “Kok Kakak nggak bilang ke Audy dulu sih?!”

“Kakak tadi disuruh Mama cepet-cepet buat ngedaftarin kamu. Lagian udah fix kedokteran, kan?”

Audy merasakan dadanya begitu sesak. Pantas saja ketika memasuki rumahnya ini dia sudah merasakan hawa yang aneh. Jadi ini penyebabnya?

“ARGH!” Tiba-tiba Audy histeris, mengagetkan Regan dan juga kedua orang tuanya yang kebetulan berada dekat di ruang keluarga. “TERSERAH KALIAN, DEH! OH YA! EMANG TERSERAH KALIAN! PERCUMA JUGA KALO AUDY MINTA JURUSAN YANG LAIN!” Audy menahan air matanya agar tidak mengalir di pipinya. “KARENA NGGAK BAKAL ADA YANG MAU DENGERIN!”

Audy langsung berlari ke tangga menuju kamarnya. Dia menutup pintunya dengan keras dan menguncinya dengan rapat. Dia langsung melompat ke kasur dan menutup wajahnya dengan bantal, menangis dalam kehampaan malam tanpa bintang.

***

Sedih rasanya mengingat kejadian kemarin. Sebenarnya, bukan hal itu yang membuatnya sedih, tapi sudah dari awal dia tidak percaya diri dengan kemampuannya. Belum lagi hasil TO miliknya masih jauh sekali untuk menggapai ‘cita-cita keluarganya’ tersebut.

“Audy sayang?” panggil mamanya di balik pintu. “Mama bawain martabak kesukaan kamu, lho. Mau nggak?”

Audy hendak menolak, tapi apa daya dengan perut konsernya tersebut. Akhirnya dia beranjak dari kasur dan membukakan pintu untuk mamanya. “Apaan sih, Ma? Kayak mau ke rumah mertua aja pake bawa martabak segala,” Audy mengambil piring martabak dari tangan mamanya dan membawanya ke kasur. Mama duduk di depan Audy selagi dia melahap martabaknya.

“Au, jangan ngunyah mulu ya? Dengerin Mama.” Audy terdiam sejenak, dia tidak berani menatap mamanya. Dia tahu bahwa hal ini akan terjadi. “Mama nggak maksa kamu, Nak. Kita semua nggak maksa kamu. Kami hanya ingin membantu kamu, karena kami tau sebenarnya kamu ingin ke dunia sana dan punya bakat di sana, hanya saja—”

“Tapi Audy nggak pinter, Ma!”

“Kalo kamu potong omongan Mama, martabak kamu Mama ambil satu.” Audy kembali terdiam, menjauhkan piringnya dari jangkauan mamanya. “Cobalah kamu belajarnya lebih serius, jangan main-main. Kurang-kurangin tuh nonton animenya,” Mama melirik ke arah Audy dengan jutek. Audy hanya bisa mesem-mesem malu. “Mama yakin kamu bisa. Kamu itu sebenernya pinter, tapi kebanyakan main jadinya ya begini.”

“Satu lagi, Ma!” Tiba-tiba Regan sudah berada di depan pintunya. Bukan hanya Regan, tapi papanya juga! “Dia pacaran mulu!”

“Apaan sih, Kak!” Pipi Audy langsung bersemu merah.

“Kakakmu ini kan calon arsitek, Au,” papanya ikut menimbrung. “Jadi kalau mau bikin rumah, ya tinggal ke kakakmu ini aja. Nah, kalo ada yang sakit, kita tinggal ke kamu. Jadinya kan enak.” Audy mengembuskan napasnya yang sedari malam terasa sesak. Ternyata dia baru sadar bahwa keluarganya lebih peduli dibandingkan dirinya sendiri. “Tapi ingat Au, ingat pesan Papa. Kalau kamu mau jadi dokter, jangan karena uang, tapi karena kamu ingin menyembuhkan orang lain. Tertanda, Papa Golden Ways.”

Semua yang berada di kamar Audy tertawa dengan hangatnya.

“Lagian dari kecil kamu ada bakat jadi dokter kok!” Regan angkat suara lagi. “Kamu inget nggak dulu pernah ngebelek ikan yang abis dibeli sama Mama?”

“Iya! Iya! Mama inget! Mama kira itu darah kamu, nggak taunya darah ikan.” Mama tersenyum lebar. “Mama kaget lho kalo abis itu kamu nggak nangis, padahal Regan aja kalo ngeliat darah dikit langsung kejang-kejang.”

“Yee! Kok Mama jadi ngomongin Regan, sih?”

Audy tersenyum puas. Sangat puas. Akhirnya dia mendapatkan jawaban yang selama ini dia pikir terlalu menyesakkan. Tapi ternyata setelah mendengarkannya, ini semua justru terlalu melegakan.

Mereka peduli dengan Audy. Mereka menyayangi Audy. Dan tentu saja, Audy sayang dengan mereka semua.


Continue reading
Share:
Views:

Happy Born Day, GagasMedia! #TerusBergegas

Sunday, July 5, 2015 By astaghiri 0 Comments

Happy Birthday, GagasMedia! Nggak kerasa kalau umur salah satu penerbit yang selalu menerbitkan buku dengan cover yang apik ini sudah mencapai umur yang ke 12 tahun, dan itu berarti 2/3 dari umur gue. Berarti dari gue TK penerbit ini sudah ada ya? Keren, keren!


Nah. Dalam ulang tahun GagasMedia yang ke-12 ini, GagasMedia mengadakan event bagi blogger dengan menjawab 12 pertanyaan yang pastinya berhubungan dengan para peng-hunter buku, termasuk gue. Hehehe. Langsung aja deh yuk!



1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

Wah! Sebenarnya banyak sih, banyak banget malah, karena gue suka banget novel apalagi yang bertemakan romance. Tapi karena disuruh nyebutin 12 dan karena ini memang ulang tahun Gagas yang ke-12, akan gue turutin hehehe. Mungkin dari puluhan novel yang pernah gue baca inilah novel-novel yang paling berkesan setelah gue membacanya.

1) Rembulan Tenggelam di Wajahmu – Tere Liye

2) So I Married The Anti-fan – Kim Eun Jeong

3) Fairish – Esti Kinasih

4) Dia, Tanpa Aku – Esti Kinasih

5) Cewek – Esti Kinasih

6) Still – Esti Kinasih

7) Celebrity Wedding – AliaZalea

8) Summer Breeze – Orizuka

9) Incognito – Windhy Puspitadewi

10) The Fabulous Udin – Rons Imawan

11) 21 – Orizuka

12) Pillow Talk – Christian Simamora


2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?



Kalau sampai nangis mewek banget sih enggak. Cuma kalau bikin sakit hati sampai jadi pilu sendiri, banyak banget! Tapi ada satu novel yang bikin gue sedikit menitikkan air mata dan hampir mau ngelempar bukunya saking greget banget sama si kedua tokoh utama. Yaitu Seandainya karya Windhy Puspitadewi.

Sumpah. Ini novel bikin greget banget! Kenapa sih giliran mereka udah saling ngungkapin perasaan dan tau isi hati masing-masing, si Rizki malah mau tunangan sama cewek lain? Bikin sakit hati tau nggak!


3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?



“Itulah cinta. Terkadang, pengorbanan besar mampu mengembalikannya pada saat yang tak terduga” – The Fabulous Udin.

Nggak cuma pengorbanan tentang cinta, pengorbanan lainnya pun juga bisa kembali pada kita jika kita ikhlas melakukannya.


4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok jadi pasangannya. Hehehe.

Nggak harus satu kan? Hehehe.



Pertama ada Rex dalam novel 4R karya Kak Orizuka. Kenapa? Pertama, dia itu pinter banget! Pokoknya kelihatan lebih dewasa dibandingkan kakaknya yang lain, walaupun sebenarnya Regan juga dewasa sih. Hehehe. Tapi Rex juga pinter masak. Gimana nggak seksi coba? Kalau alasannya sih... mungkin karena gue orangnya sedikit males, Rex bisa nyemangatin gue biar nggak males lagi walaupun gue tau dia pasti nyemangatinnya dengan ngomel-ngomelin gue. Hehehe.



Yang kedua itu si Revel dalam novel Celebrity Wedding karya Kak AliaZalea. Sebenarnya dalam novel ini sih Revel umurnya udah 30 tahun :( Tapi gue suka banget sama sifatnya! Alasan kenapa gue cocok jadi pasangannya sih karena gue ini orangnya tipe-tipe pemalu dan diam di awal, jadi butuh orang yang ngajak ngobrol duluan dan tentu aja yang nggak ngebosenin! Pokoknya tipe Revel banget deh!


5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan.

Ending novel yang paling berkesan menurut gue adalah novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. Isinya spektakuler dan endingnya luar biasa!



Pada ending novel ini, akhirnya Ray, si tokoh utama, menemukan lima jawaban atas lima pertanyaan selama hidupnya lewat ‘jalan khusus’ yang nggak sembarang orang bisa mendapatkannya, yaitu lewat malaikat yang diturunkan oleh Allah SWT. Walaupun ini novel fiksi, gue sangat-sangat tersentuh sama novel ini karena nilai keagamaannya memang cukup kental, dan dari novel ini gue percaya bahwa setiap pertanyaan seperti ‘Kenapa sih gue harus kayak gini?’, ‘Kenapa hidup gue nggak adil?’ atau pertanyaan-pertanyaan yang kita nggak tahu jawabannya, Allah pasti memiliki jawaban yang paling terbaik untuk hamba-Nya.


6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?



Montase karya Kak Windry Ramadhina. Pertama, karena covernya yang sangat-sangat menarik dan sinopsis yang bikin gue langsung bawa tuh buku ke kasir tanpa mikir lagi dua kali. Oh ya ada lagi. Karena judulnya itu loh, “MONTASE,” keren banget! Walaupun pada awal lihat novel ini gue nggak tau artinya. Hehehe.


7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?



4 Ways to Get a Wife – Hyun Go Wun. Dari judulnya aja, menarik banget, kan? Kalau sebelum baca sih, gue narik kesimpulan, ‘Masa kalo mau ngedapetin istri harus ada cara-caranya sih?’. Dan setelah baca novelnya, sumpah! Bikin ngakak!


8. Sekarang, lihat rak bukumu... cover buku apa yang kamu suka, kenapa?



Incognito – Windhy Puspitadewi. Ini merupakan salah satu novel dengan kriteria cover yang gue suka, karena pas lihat buku ini gue tanpa mikir lagi langsung beli buku ini. Kenapa?

Hmm... gini-gini. Ini memang agak aneh, atau mungkin nggak aneh kalau ada orang selain gue yang punya 'kebiasaan' sama kayak gue. Jadi, gue ini punya 'cowok khayalan' dengan rambut agak panjang sedikit kecoklatan, tinggi, dan berkacamata. Nah, 'cowok khayalan' ini selalu gue 'pakai' di saat gue lagi baca novel. Selalu. Nggak pernah ganti-ganti orang. Dan mau tahu apa? Suatu hari gue pernah lihat cowok yang persis sama dengan yang ada di khayalan gue...

Cukup-cukup. Gue suka cover novel ini karena ada tokoh cowok yang mirip di khayalan gue. Yah, walaupun sebenarnya tokoh cowok di novel ini nggak berkacamata, seenggaknya dia agak mirip dengan yang ada di khayalan gue.


9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?

Tema tentang cinta! Gila, on fire banget gue ya? Hehehe. Kenapa ya? Sebenarnya gue orangnya melankolis juga enggak, tapi gue suka baca novel romance. Mungkin karena konflik yang dibuat itu bisa bikin hati gue jadi tergerak, walaupun sebenarnya gue jomblo. Hiks.


10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Kak Esti Kinasih, Kak Windhy Puspitadewi, dan Kak Orizuka! Pertama sih pastinya minta tanda tangan di setiap buku yang gue punya dan tentunya karya mereka. Kedua, gue pasti nanya kapan mereka berkarier lewat menulis, pokoknya perjalanan mereka sampai bisa sukses sampai sekarang! Dan nggak lupa, minta tips biar bisa nulis kece! Hehe.


11. Lebih suka baca e-book (buku digital) atau buku cetak (kertas), kenapa?

Kalau untuk baca sih, gue suka dua-duanya. Tapi kayaknya sih lebih ke e-book karena pas mau tidur gue bisa baca sambil gelap-gelapan karena kalau tidur kamar gue harus gelap alias lampu harus mati. Jadi, bisa baca sambil gelap-gelapan deh! Terus kalau lagi di luar rumah, terus bosen tapi pengin baca novel, kan bisa langsung buka hape. Nggak perlu ribet-ribet bawa buku keluar. Tapi gue juga suka yang buku cetak sih, soalnya gue suka banget wangi khas buku!


12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!

Cool. Sugoi. Daebak. Koel. Empat bahasa tak cukup untuk mengungkapkan kekagumanku, GagasMedia-ku.

Once again, selamat ulang tahun, GagasMedia! Umur semakin meningkat, dan kualitas juga harus ikut meningkat! Sukses terus, Gagas!

Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

Sorry, mate. [3]

Monday, June 15, 2015 By astaghiri 3 Comments

Udah baca part 1 nya belom?
Kalo part 2 nya gimana?

***

“DONIIII! MAEN YOOOOK!” Lagi seru-serunya main PS, tiba-tiba suara toaknya Amel mencapai frekuensi yang mampu memecahkan gendang telinga gue. Yelah. Lebay amat. Tapi beneran deh. Suaranya dia bisa ngalahin toak masjid kalau lagi adzan.

“Don, siape tuh yang teriak-teiak di depan rumah?” Nyokap menyahut dari dalam kamar.

“Amel kayaknya deh, Mak,” balas gue dengan masih sibuk mencet-mencet stik PS.

“DONIIIIII!” Kali ini bukan suara Amel lagi, tapi suara cowok. Tangan gue bergerak slow motion, mencoba untuk nge-scan suara siapa itu barusan di otak gue.

“ASSAAMU’ALAIKUUUM! MAK ENDAAAH! MINJEM ANAKNYA DOOONG!” Bujet! Nih anak berani banget ngetoak di depan rumah gue. Sudah gitu manggil nama emak gue lagi. Untung saja nyokap nggak menyahut dari dalam.

Gue langsung berdiri dan keluar dari rumah. “Ngapain sih lu ter—” Bukan cuma Amel, tapi ada Vina, Jaka, dan Titi juga di depan rumah gue. Nggak salah lagi. Tadi Jaka juga sempat memangil nama gue. “—iak-teriak? What are we? Five years old?” Gaya gue sambil mengedikkan bahu.

Amel langsung melemparkan sendal jepit yang kebetulan punya bokap gue ke arah gue. Untung tangan gue cepat tanggap. Kalau nggak, tuh sendal bakal mampir ke muka gue yang ganteng ini.

“Mau ikut nggak lo?” Kali ini Titi yang angkat suara. “Jalan-jalan gratisan nih!”

“Lo nggak boleh nolak!” Vina bersuara. “Gue udah beli tiket nontonnya tau! Jadi lo semua harus ikut!”

Wah! Rejeki nomplok nih! Tapi... apa perlu gue ikut? Kalau gue ikut, gue cuma bisa jadi laler di antara Jaka dan Vina—ya walaupun si Amel dan Titi juga ikut-ikutan jadi laler kayak gue. Tapi kan kondisinya sekarang beda. Be-da.

“Duh, gimana ya?” Gue menggaruk-garukkan kepala walaupun sebenarnya nggak ada ketombenya sama sekali. Weits. Gini-gini gue pernah ditawarin jadi model iklan sampo. “Kayaknya gue nggak bisa deh. Banyak tugas nih...”

Nggak sengaja, gue melihat mata Vina agak redup. Bukannya mau geer, tapi kayaknya Vina nggak senang kalau gue nggak ikut jalan-jalan dengan mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Gue juga nggak mau cemburu. Dan gue nggak mau ngerasaian cemburu ke teman gue sendiri.

Dan satu lagi. Gue takut kehilangan kontrol. Positif dulu, man. Bukan ‘kontrol’ itu. The point is gue tahu kalau Vina suka sama gue. Taaapi, dia nggak tahu kalau gue masih suka sama dia. Dan gue takut kalau tiba-tiba mulut ini nyerocos begitu saja.

“Tugas apaan? Lu bukannya maen PS daritadi?” Amel melirik ke arah dalam rumah gue. Sialan. Mana tuh PS belum gue matiin lagi.

“Ya kan refreshing sebentar abis ngerjain tugas...” kilah gue lagi.

“Doninya dari tadi main PS mulu kok.” Tiba-tiba emak gue datang tanpa diundang. “Ajak main sono, daripada jadi anak rumahan mulu, maen PS. Dia mah kagak punya kerjaan selain main PS di rumah. Liat aja tuh punggungnya. Bengkok, kan? Mau osteoporosis tuh gara-gara main PS melulu.”

EMAAAAAAK! WHY ARE YOU DOING THIS TO MEEEEEE????!!!!

Dan apa coba maksudnya dengan punggung gue yang bengkok? Terus tiba-tiba osteoporosis? NGGAK ADA HUBUNGANNYA! Kalau kifosis sih, iya.

“Ya udah sono kamu mandi,” Emak gue nabok punggung gue. “Ntar kelamaan ditungguin temen kamu. Kamu kan mandinya kayak putri Solo. Lamanya naujubillah.”

Muka gue... muka gue... sekarang sudah jatuh di lantai... Dan dengan enaknya, teman-teman gue ngetawain gue.

Tanpa perlu nengok lagi, gue ke belakang rumah. Beneran mandi ala putri Solo, biar lama sekalian. Bodo amat deh mereka nunggu. Salah mereka sendiri ke sini tanpa bilang-bilang gue. Sudah gitu mau ngajak jalan tiba-tiba lagi.

Setelah sekitar 30 menit... ditambah guling-gulingan di kasur bentaran, sengaja biar tuh bocah-bocah empet nungguin gue, gue keluar dengan gantengnya karena rambut gue masih setengah basah. Tiba-tiba gue kena lemparan bantal sofa.

“BENERAN PUTRI SOLO LU YEEEE!” Amel berteriak dengan geram. Yang lainnya juga ikut-ikutan menampakkan wajah kesalnya. Gue sih bodo amat. Salah mereka juga kenapa harus tiba-tiba ngajak jalan-jalannya.

“Jadi nggak jadi nih?” Gue pura-pura ngambek dan mencoba untuk masuk kembali ke dalam rumah. “Ya ud—”

“EH! EH! EH!” Tiba-tiba Vina menarik ujung lengan kaos gue. Untung nggak kencang-kencang amat. Ntar bahu eike kelihatan lagi. Malu kali, cyin. Eh, malah sekong ane. “Nggak bisa gitu dong! Buruan ambil motor lo dan kita cus! Cepet!” perintahnya sambil mendorong punggung gue.

Akhirnya gue ke belakang rumah untuk mengambil motor yang teronggok di sana—karena seharian gue cuma di rumah doang. Yah, karena gue jomblo, gue cuma bawa satu helm doang. Amel jangan ditanya. Cewek perkasa kayak dia sudah bisa dan biasa ngurus diri sendiri. Bahkan kalau misalkan gue minta boncengan bareng, dia yang ngendarain motornya.

Kalau si Titi sih pasti bareng Amel. Pokoknya jangan sama gue deh, takutnya nanti di tengah jalan tiba-tiba dia sudah nggak ada lagi di belakang gue, alias terbang entah ke mana saking badannya yang uprit itu.

Dan... nggak perlu gue jelasin lagi. Vina pasti bareng Jaka, si kesayangannya.

***

Setelah kira-kira setengah jam, akhirnya kita berlima sampai di mall yang memang nggak terlalu jauh banget dari rumah. Kita langsung lari ke arah 21 kayak lagi dikejar satpam gara-gara kegebrek lagi berdua-duaan di pos ronda. Nggak-nggak. Waktu nonton tinggal lima menit lagi dan ternyata Vina sempat bohong kalau ternyata dia sudah beli tiketnya.

“Sori deh sori...” Vina merasa menyesal karena tiket buat jam tiganya sudah sold out. Kalau mau, nanti jam lima nontonnya. “Gue ngomong begitu biar lo ikut semua. Kan gue yang bayarin. Ya? Ya? Ya?”

“Gue sih nggak keberatan kalo kudu nunggu dua jam...” kata gue sambil melirik ke arah Vina. “Asal perut gue nggak kosong dan nunggu diisi sih. Kebetulan dompet gue isinya cuma bon, SIM, KTP, sama STNK doang.”

Vina melirik judes ke arah gue. Cute abis! Rasanya pengin gue cubit matanya itu, eh, pipinya. Tapi sayang, dan perlu digarisbawahi; dia milik orang lain.

“IYA DEH! IYAA! GUE TRAKTIR LO SEMUA!” Gue tersenyum puas menerima jawaban itu. Tapi tiba-tiba, gue melihat pandangan yang nggak enak dengan sangat luar biasa. Mungkin bagi kalian ini biasa, tapi bagi gue; ini sangat... sangat...

Jaka melingkarkan tangannya di pinggang Vina dan membisikkan sesuatu yang bahkan sudah bisa disebut bukan bisikan lagi. Tapi pamer!

“Kamu jadi ATM berjalan nih yang hari ini?” Jaka menyentil jahil ke arah hidung Vina yang dibalasnya dengan malu-malu. Gue yang melihat ini langsung berpaling ke arah... ah... baju polo yang warna navy itu bagus ya...

“Eh! Kamu nggak usah ya! Kamu bayar sendiri!” balas Vina yang cuma sampai di telinga gue, mata gue cukup dibutakan pada saat itu saja. Polo warna putih juga bagus kok...

Kapan drama kecil-kecilan itu akan berakhir?

“Iiih! Kok kamu gitu sih?” Bahkan telinga yang kepengin gue tebalkan ini bisa memvisualisasikan cast apa yang lagi mereka mainkan. Mungkin Jaka pura-pura ngambek sambil cemberut nggak jelas, mencoba mengambil perhatian Vina.

Dengan riangnya dan mungkin dengan nada gembira, Vina menjawab sambil tertawa merdu. “Enggak kok. Nanti kalian semua aku yang traktir. Okeee?”

PLOOOK! Tiba-tiba, bahu gue terasa panas. Nggak usah cari pelakunya, mata gue langsung menunjuk ke arah Amel dan dengan rasa nggak bersalahnya dia ngomong gini. “Ada laler gede banget tadi, Don,” kata Amel sambil menepuk tangannya seakan-akan tadi beneran abis nabok laler yang mungkin hinggap di punggung gue.

“Jadi makan nggak nih? Laper tau gue!” Kali ini Titi yang men-cut adegan menabok laler dan adegan roman antara dua picisan tadi. Bukan apa-apa. Gue tahu, Amel melemparkan kekesalannya ke gue dengan beralibi ada laler di punggung gue. Lantas, gue harus melemparkan kekesalan gue ke siapa?

***

Setelah membuat perut gue yang six packs ini sedikit membuncit gara-gara traktirannya Vina, gue cuma bisa bengong sambil menatap gelas tinggi yang sekarang isinya cuma ada es sama sedotan.

Kenapa gue diam? Ya! Benar! Gara-gara drama kecil-kecilan Vina dan Jaka? Benar-benar... salah! Jawabannya sangat-sangat simpel. Kenapa gue bisa diam begini? Karena kalau habis makan dan kekenyangan, gue jadi bego. Selesai.

“Doni? Ngapain lo di sini?”

Butuh lima detik buat gue nengok ke arah suara yang jelas-jelas sangat gue kenal ini. Dan butuh dua detik buat gue tahu siapa orang yang barusan nyapa gue.

MANTAN GUEEEEEE!

Sori-sori. Gue butuh klarifikasi di sini. Waktu itu, gue pernah bilang kalau gue belum mau pacaran. Masih ingat di short story satu cerita ini? Makanya! Baca dong!

Gue bukannya belum pacaran, tapi artinya gue memang lagi mau vakum pacaran. Hah. Belum tahu ya kalau mantan gue itu ada sederetan kayak aritmatika?

“Eh, Lila. Apa kabar, Lil?” Muka Lila langsung berubah sedikit memerah. Ups! Sial-sial! Bego banget sih gue! Ah! Gue memang bego kalau habis kekenyangan! Kenapa gue bisa keceplosan memanggil nama kesayangan Lila????!!!!

“Gue baik kok,” sahut Lila sok skeptis. Terus tiba-tiba dia menatap ke arah teman-teman gue. “Mmmhh... temen-temennya Doni, ya? Gue boleh minjem Doninya sebentar nggak? Just a minute kok. Boleh, kan?”

WAH! APA-APAAN NIH?! JANGAN-JANGAN... LILA NGAJAK GUE BALIKAN LAGI! SIAL! SIAL! GUE BELOM SIAP UNTUK INI SEMUAAA!!!

“Boleh kok boleh,” yang ngejawab malah Jaka. “Yang lama juga boleh.”

Dengan kesal, gue menendang kaki Jaka di bawah kolong meja. Dia cuma bisa balas senyum-senyum nggak jelas. Akhirnya, gue mengikuti Lila dari belakang yang berjalan jauh dari meja teman-teman gue.

Setelah berjalan cukup dan jauh dan cukup untuk nggak dikupingi oleh bocah-bocah itu, akhirnya Lila berhenti dan berdiri menghadap ke gue. Wait. Gue lihat-lihat Lila semakin... cute? KENAPA MANTAN ITU SELALU TERLIHAT LEBIH CAKEP KETIKA KITA MENINGGALKANNYA???!!!

Namanya juga mantan... bukan pacar lagi...

“Don, lo nggak lupa, kan?” Lila membuka pembicaraan.

Tunggu, tunggu, TUNGGU!!! LUPA APAAN NIH? Ini... tanggal berapa sih? Hari ini tanggal... 29 Maret kan...? Memangnya ada yang spesial hari ini? Atau hari ini hari... failed anniv kita berdua? NGGAK-NGGAK! GUE MASIH INGAT KOK!

“Lupa apa ya, Lil?”

“Jangan panggil gue dengan sebutan itu lagi, oke? Gue jijik dengernya.”

HUJAN BATU BARAAA!!!! GUE MALU ABIS!!!

“Terus, lo mau ngomong apaan sama gue?” Dan sepertinya, Lila memang nggak akan menjurus ke arah pembicaraan ‘Kita balikan, yuk?’.

“Lo nggak lupa kan utang lo sama gue?”

WUUUUUUUT???!!! Jadi yang dia maksud dengan ‘gue lupa’ itu adalah utangnya gue ke dia? Demi dewa Zeus, bahkan tadi gue sudah bilang bahwa di dompet gue isinya cuma bon, KTP, SIM, sama STNK. Dan sekarang, GUE HARUS BILANG APA KE LILAAA? MAU DITARUH DI MANA MUKA GUEEE???!!!

Gue menampangkan wajah memelas. “Lil, eh, Lila, kan hari ini lagi tanggal tua, gue juga cuma bawa duit kerokan doang... besok gue ke kelas lo deh. Ntar gue bayar lunas, ya?”

Lila memicingkan matanya, dan gue baru ingat kalau Lila itu memang keturunan Cina yang... sori, bukannya lagi mau ngomongin ras. Tapi begitulah Lila.

“Awas lo jangan lupa,” kata Lila yang kemudian pergi meninggalkan gue. Kemudian terdengarlah suara tawa yang cukup keras hingga beberapa orang di sana menoleh ke arah alien yang sedang berjalan ke arah gue.

“Gue kira tadi ada yang mau balikan, Ti,” kata Amel sambil melirik rendah ke arah gue.

Titi membalas dengan anggukkan senang, senang ikut-ikutan mengejek gue. “Tadi ada yang mukanya kesemsem tuh. Eh! Nggak taunya malah minta duit utang! BHAHAHA!”

Kalau ada balsem, mungkin gue sudah menjejalkannya ke mulut dua cewek ini.

“Ngapain lo berdua di sini?” tanya gue langsung mengalihkan suasana.

“Kita mau beli kado. Ayo buruan keburu si Vina tau!” Titi dan Amel langsung menarik gue menjauh dari food court.

“Tapi patungan ya? Gue beneran nggak bawa duit nih!”

“DASAR TUKANG UTANG!”

***

Setelah membeli kado yang cukup cocok untuk Vina dan juga cocok untuk kantung kita bertiga—sebenarnya kantungnya Titi sama Amel doang sih, kita balik lagi ke food court tadi dan menemukan meja yang tadinya penuh dengan piring kotor telah bersih.

“Lo berdua lama amat sih ke kamar mandi?” Gue melirik ke arah Titi dan Amel. Oooh. Jadi mereka izinnya ke kamar mandi? Pinter banget nih dua orang. “Lo juga Don, lama amat ngobrol sama temen lo.”

Tunggu-tunggu. Apa gue nggak salah dengar? Apa... barusan gue mendengar suara kecemburuan dari Vina?

“Itu, tadi si Doni boker dulu, dia nggak tau kamar mandinya di mana. Ya udah kita nunjukin sambil nungguin deh,” Amel berkilah. Sialan! Gue dijadiin alasan! Parahnya lagi Vina malah menerima alasan itu dengan mengangguk-angguk tanpa sedikit pun curiga.

Setelah itu, kita segera ke 21 karena lima belas menit lagi bakal dimulai. Dan entah kenapa, tiba-tiba Titi jadi suka kesandung gitu tiba-tiba. Untung dia jalan di samping gue, jadi gue bisa nahan tubuh dia buat nggak ciuman sama lantai mall.

“Lo lagi kenapa sih, Ti? Jangan mentang-mentang badan lu kecil dong, jadi gampang tumbang gitu,” protes gue setelah untuk sekian kalinya Titi kesandung entah apa, gue juga nggak tahu.

Bukannya ngerasa bersalah, Titi malah nabok gue kayak Amel dan nyokap. Sialan. Dikira punggung gue ladang nyamuk apa minta ditabok melulu?

“Jangan salahin gue dong! Lo sih jalannya gede-gede banget, gue nggak bisa nyamain tau!”

Gue baru sadar Titi memang kecil, dan jalannya juga pasti kayak lagi pakai kemben. Untuk itu, akhirnya ikut-ikutan jalan kayak lagi pakai kemben di belakang Amel dan Jaka yang lama-lama malah membuat jarak di antara mereka. Amel malah like a boss jalan di depan Amel dan Jaka. Gue tahu, dia nggak mau ngeliat pemandangan apa yang gue lihat sekarang ini.

“Kok diem, Ti?” Gue malah berasa jalan sama benda mati. “Baterenya abis?”

“Sakit, Don,” sahut Titi yang justru menurut gue terdengar seperti rintihan. Gue juga nggak ngerti. Gue rasa itu memang habit-nya Titi kalau ngomong ya kayak gitu. “Sakit tau, Don.”

“Hah?” Gue yang kebingungan cuma bisa melongo nggak ngerti ke arah Titi. “Nggak ada yang berdarah kan, Ti? Lutut lu juga nggak pada biru-biru kan? Kalo ada yang berdarah jangan ditunjukin ke gue, oke? Gue takut soalnya.”

Nggak ada reaksi yang menjadi tradisi kalau orang sudah kesal dengan gue; tabok punggung. Titi malah kembali berjalan lurus tanpa memedulikan gue yang dibuatnya kebingungan.

Karena nggak ngerti apa-apa, dan juga nggak mau mengorek-ngorek apa yang dimaksud oleh Titi, gue mengejar Titi dan menyelaraskan langkahnya.

“Lo ke mana aja sih Don selama ini? Gue... nggak kuat tau buat nanggung hal yang kayak gini. Gue... capek berpura-pura di depan kalian... terutama mereka...”

Wait... wait... WAIIIIIT!!!! APA MAKSUD DARI SEMUA INIII???!!!
Continue reading
Share:
Views:
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments ( Atom )

Hi, you!

Hi, you!

Blog Archive

  • ▼  2017 (3)
    • ▼  September (1)
      • Intro Perkuliahan
    • ►  July (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (3)
  • ►  2013 (24)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  May (1)
    • ►  April (5)
    • ►  January (4)

Labels

CAKES! Cerbung Cerpen Imajinasi Travel Trip

Wanna be my mate?

© 2016 Astaghiri | All rights reserved
Created By Responsive Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates