Astaghiri

  • Home
  • CERPEN
  • CERBUNG
  • CAKES!
  • Trip
CAKES!

Berawal dari Tatap

Friday, June 10, 2016 By astaghiri 0 Comments
Berawal dari tatap
Indah senyummu memikat
Memikat hatiku yang hampa lara…


Sori, jadi konser dadakan. Biasa, soalnya gue termasuk garis keturunan Bang Ipul. Dikit-dikit nyanyi, dikit-dikit nyanyi. Tapi sebenernya, itu himpitan curhat juga sih… hmm…

Oke! Jangan OOT (Out Of Topic)! Walaupun judulnya Berawal dari Tatap, jangan jadikan blog ini sebagai ajang karaokean, karena gue akan menceritakan kenapa sekarang gue bisa menjadi Mahasiswi Biduan, eh, Mahasiswi Bidan maksudnya, di FKUB ini.

Ingat! Di sini ada beberapa konten yang cukup 'bar-bar' dan mungkin bakal sedikit merusak kinerja otak lo yang akan mengimajinasikan konten tersebut. Sebenarnya nggak jorok, cuma karena kalian belum terbiasa, 
hal-hal kayak 'gini' masih menjadi bahan yang tabu.
Tapi, enjoy aja!

Berawal dari Nyokap gue, Mama Ambarwati. Eh, no! Berawal dari Tante gue lahiran. Gue panggil doi dengan sebutan Mbak Endang, walaupun jelas-jelas dia Tante gue karena umurnya nggak jauh banget sama umur gue *padahal gue nggak tau umurnya doi berapa*.

"Kerudungnya ke mana, nduk?"
"Aku belum khilaf, mbah."
Kira-kira itulah perbandingan wajah gue sama doi. By the way, ini sekitar 6 tahun yang lalu (2010).
Waktu itu, testis gue turun (desensus testis), jadinya rupa gue seperti itu.
Singkat kata, Mbak En lahiran di Bidan Praktik Mandiri yang letaknya di depan gang rumah gue. Gue masih inget banget, tapi gue lupa waktu itu gue umur berapa, waktu itu sekitar jam 6-an gue ke BPM naik sepeda cewek. Entahlah, gue kepengin ke sana aja, gue mau ngapain juga nggak tau.

Setelah itu, gue masuk ke sana, Mbak En masih dalam keadaan mules-mules, Emak gue di sampingnya sambil memegangi tangannya, dan gue nari Tor-Tor di sana. Ya enggaklah. Gue juga bingung, gue harus ngapain di saat itu karena aku hanyalah seorang anak polos yang tidak tahu apa-apa.

Tetapi ketidakpolosan gue pada saat itu (ketuban Mbak En udah pecah) dinodai dengan dipampangkan sebuah pemandangan yang seharusnya anak di umur gue nonton bokep aja belum boleh, apalagi live-nya.

Jadi gini, posisinya pada saat itu adalah Tante gue tiduran di ranjang dengan posisi litotomi (posisi kaki ngangkang pada saat persalinan. Keren ya bahasanya? Wkwk). Gue di kanannya, tapi jongkok sambil memainkan sesuatu, yang kalau gue inget adalah kancut calon dedek bayinya Tante gue. Dan nyokap gue berada di samping kiri sambil membacakan doa-doa agar Tante gue dan calon dedeknya bisa selamat.

Yang gue herankan, ada sebuah cermin yang terletak di depan posisi Tante gue yang sedang dalam keadaan posisi litotomi itu. WTH! Gunanya apaaaa?!

Dan di saat gue sedang memikirkan apa fungsi cermin itu, terlihatlah sebuah pemandangan yang membuat kepala gue langsung menunduk mengheningkan cipta, sambil memainkan kembali kancut calon adek sepupu gue.

Berawal dari menatap itu, tiba-tiba saja ketika gue berada di masa SMA—kalau nggak salah kelas XI, nyokap gue menobatkan gue untuk menjadi seorang Bidan. Gue yang dikala itu emang belum ada pegangan apa-apa untuk masa depan, gue cuma bisa mangap tanpa tau apa alasan nyokap menyuruh gue untuk masuk ke bidang Bidan. And she says this:

“Soalnya waktu itu kamu berani Wir ngeliatin yang begituan.”

Ngeliatin? Begituan? Apa?

Setelah beberapa jam kemudian, nggak deng, setelahnya, gue baru sadar kalau yang nyokap maksud adalah kejadian pada saat itu, ya saat itu, yang berawal dari tatap itu.

Dan sebenarnya, ini belum selesai. Ya iyalah.

‘Keputusan’ nyokap gue yang selanjutnya bahkan bikin gue mangap 3 jari. Lebar banget.

Tungguin post selanjutnya!
Continue reading
Share:
Views:
CAKES!

CAKES!

Monday, June 6, 2016 By astaghiri 0 Comments
Hai-haaai! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Udah lama banget gue nggak nge-blog. Sekalinya nge-blog, gue beneran lagi nggak ada kegiatan, alias nganggur, alias liburan semester. Ketahuilah, cuma fakultas gue yang mengadakan libur hanya sementara bahkan diambang khayalan, hiks. #np Pasto – Aku Pasti Kembali.

Aku hanya libur tuk sementara~

Jadi, sekarang gue seorang mahasiswi *benerin kerah baju dulu* di salah satu Universitas di Malang. Ya lo pasti taulah, paling nggak ketebak. Wong universitas di sini aja udah kayak sekolah negeri, bertebaran di mana-mana euy.

Capcuslah. Gue kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Wuiiih. Eits, masih ada garis keturunannya lagi, bro. Dibawah FKUB ditarik garis lurus bahwa gue di program studi S1 Kebidanan. Kedokteran mah udah biasa, biasa menolak gue maksudnya, hiks.

Jadi sih sebenernya, dan intinya, CAKES! itu sendiri memiliki kepanjangan yaitu Catatan Seorang Calon Tenaga Kesehatan. Tadinya mau dipanjangan cuma Catatan Tenaga Kesehatan doang. Tapi karena gue belum profesi, jadinya gue masih calon. Kalau calon menantunya besan gimana, Cho? Cuih!

Kenapa sih gue bikin ini?

Pertama, gue ingin mengharumkan nama bangsa dengan menebarkan tukang minyak wangi ke seluruh Indonesia. Nggak, deng. Zaman sekarang tuh orang yang minat dalam membaca dan menulis sangatlah sedikit. Jadi, setidaknya, gue bisa meningkatkan minat gue dalam menulis walaupun hanya menulis pengalaman ecek-ecek gue.

Kedua, kebanyakan, orang-orang yang berada di jurusan kayak gue ini jarang banget yang bikin karya tulis karena mereka sukanya sibuk sama Mas Sobotta dan cadaver-cadavernya. By the way, kalau kalian nggak tau siapa dan apa itu Mas Sobotta dan cadaver, ini dia penampakannya.

Sumber: blog.umy.ac.id

Jadi, Sobotta merupakan atlas Kedokteran yang wajib disembah bagi orang-orang seperti kami. Kalau nggak ada Mas Sobotta, nggak tau deh hidup kami nanti bakal seperti apa #edisilebay. Tapi beneran, bahkan kalau pun udah punya Mas Sobotta, kita masih bingung letak-letak anatomi tubuh manusia yang MasyaAllah, sempurna namun rumit.

Sumber: www.cnet.com
Daaaan, yang di atas ini disebut sebagai cadaver. Kalau yang masih belum paham, cadaver adalah mayat yang digunakan untuk... apa ya? Intinya, cadaver ini dipergunakan sebagai objek 3 dimensi biar kita tau di mana letak 'asli' anatomi tubuh manusia dengan bantuan Mas Sobotta di atas. Gue sengaja cuma menampilkan cadaver tangan karena sepertinya kalau gue menampilkan semuanya, cadaver terlalu eksotis dan kata dosen gue, kita perlu menghormati dia yang telah rela 'diubek-ubek' tubuhnya sebagai bahan pembelajaran bagi kami. Terima kasih cadaver! *peluk hangat*

Dan yang ketiga, kayaknya alesan yang pertama dan yang kedua sama aja. Jadi, intinya ya cuma itu.

Sooooooo! Tungguin cerita dari gue ya! Gue jamin, nggak ada jaminannya setelah lo baca blog gue. Abain gue, otak gue memang baru dicuci kemarin. See you!
Continue reading
Share:
Views:

Hadiah!

Sunday, February 7, 2016 By astaghiri 1 Comments
Eh salah, kakak gue nggak secakep ini #dilempargayung


Ini di tahun 2013. Di tahun 2016, tambahkan saja guratan-guratan pada wajahnya

Hari ini kakak gue ulang tahun, dan gue bingung mau kasih apaan karena dompet gue udah ngeluarin soundtracknya Opick yang liriknya; Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullahaladziiiim… #tragedikost

Karena hobi gue menulis, yang sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama jurusan gue sekarang ini, akhirnya hadiah yang bisa gue kasih ya cuma ini. Lagian harusnya kalian inget dong kata tante Pramoedya Ananta Toer, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian’. #ThugLife #CumaAlesan

Okelah. Jadi kita lima bersaudara *Kenapa jadi ngomongin saudara gue?* dengan abang gue yang kedua sudah kembali ke pangkuan-Nya, dan yang pertama inilah yang sedang merayakan hari tuanya. Hahaha.

Kita deskripsiin dia dulu sebelum dia dapet hadiah dari gue. Ceilah. Gue harus ‘ngebagus-bagusin’ dia dulu, sebelum taringnya keluar.

Dia adalah seorang traveler, bisa dicek di blognya. Udah beberapa bagian Indonesia yang dijelajahinya, luar negeri pun juga ikut dijajah. By the way, gue juga seorang traveler kok. Sudah beberapa kasur gue jelajahi, dan gue tempati untuk waktu yang cukup lama. Hahahaha.

Pekerjaan dia adalah seorang freelancer, dan sekarang lagi gencar-gencarnya ngerjain project bareng temennya, yaitu SundayPortrait #sekalianpromosibiarseneng.

Dan dia adalah seorang penjajah gue sebelum gue berumur 18 tahun. Gue sering dibuat jadi Mbok Iyem dadakan, dan disuruh mengojeki dirinya pada Sabtu-Minggu, atau hari-hari biasanya. Tapi bukan berarti sekarang gue sudah merdeka, kadang doi masing seneng nyuruh-nyuruh gue, hih.

Ah sudahlah, kita ke intinya saja. Sebenernya gue bikin cermin atau cerita mini. Hadiah ini sih sebenernya adalah alat pengetes ingatannya doi. Apakah memorinya masih tersimpan dengan baik atau udah nggak ada sama sekali termakan oleh usianya yang sekarang. Hahaha. By the way, mungkin kejadian ini sekitar 10 tahun yang lalu, atau mungkin lebih.

Memori akan selalu menyimpan kenangan yang sangat menyenangkan, dan juga menyeramkan – Wir

Dan ini salah satunya yang menurut gue cukup menyeramkan dan menegangkan. Hahaha. Kalau doi bisa inget, gue kasih jempolnya kaki seribu deh. Kalau enggak, gue kasih jempolnya kambing. Selamat bernostalgia!

***

Bosan nih, nggak ada yang seru. Sedari tadi aku hanya memencet tombol remot TV dan mengganti-ganti saluran televisi yang menayangkan iklan terus-menerus. Enaknya ngapain ya?

Tiba-tiba kakak perempuanku turun dari lantai dua, sebut saja namanya Niken. Ngomong-ngomong, dia galak, aku juga sih. Kayaknya wajah garang ini merupakan warisan yang diturunkan oleh Bapakku, turun menurutn ke semua anak perempuannya.

Dengan iseng, aku naik ke lantai dua, ke kamar Kak Niken. Dia ‘kan habis punya barang baru, ponsel Nokia yang mungkin zaman sekarang bisa digunakan untuk mengulek sambal, atau setidaknya menggetok kepala maling yang kurangajar.

Yah, yang namanya anak kecil, rasa pengin tahu jauh lebih besar daripada rasa pengin tempe. Eeeh, maksudku rasa penasaranku lebih besar. Jadi, kuutak-atik ponselnya untuk menemukan games di hapenya. Dan tara! Aku bisa menemukannya!

Aku bermain Racing Car Games yang kalau menabrak sesuatu, ponsel ini langsung bergetar. Yah, yang tahu games ini sih hanya anak tahun ’90-an. Anak-anak zaman sekarang mana tahu serunya main ular-ularan sama tembak-tembakan pesawat alien di hape yang layarnya masih kuning buram.

Tapi… rasa penasaranku tidak berhenti di situ saja. Aku mulai bosan kemudian aku keluar dari permainan tersebut. Entahlah, aku memencet asal tombol ponsel Kakakku, berharap sesuatu yang menyenangkan dapat kumainkan. Tapi…. Boooom. Malapetaka akan datang. AKU BARU SAJA MENGHAPUS GAMES YANG BARU SAJA DIDOWNLOAD OLEH KAKAKKU!

Aku mendengar suara langkah kaki menuju lantai dua. Itu pasti kakakku! Aku segera keluar dari kamarnya dan berlari menuju belakang rumah. Kebetulan di sana ada lemari besar dengan tiga ruangan, dan aku ingin mengumpat di sana. Ruang tengah lemari memiliki space yang cukup besar, namun perasaanku berkata bahwa jangan mengumpat di lemari tengah itu. Akhirnya aku mengumpat di lemari bagian kanan.

“CHOIR! MANA CHOIR?!” Nah, ‘kan! Pasti dia sudah tahu ulahku! “MAH! CHOIR ADA DI BAWAH?!”

“Enggak, Kak!” jawab Mamaku. “Kayaknya tadi ke atas deh. Emang ada apa, Kak?”

“ITU DIA NGEHAPUS GAMES KAKAK YANG BARU DIDOWNLOAD! EMANGNYA NGGAK BAYAR APA?!”

Waduh! Bisa disembelih nih aku kalau ketahuan sama dia. Di dalam lemari aku hanya bisa komat-kamit, supaya dia nggak ke belakang sini. Tapi ternyata… dia malah ke belakang! Dan ke lemari ini!

Dari situ aku mulai ketakutan. Dari celah pintu, aku bisa melihat dia sudah marah banget, garang banget deh pokoknya. Dan tiba-tiba saja… dia membuka pintu lemari bagian tengah! Ya ampun! Gimana jadinya kalau aku tadi mengumpat di lemari bagian tengah itu? Bisa-bisa aku dibikin jadi babi celeng sama dia.

Aku terus berdoa semoga dia nggak membuka lemari di mana aku mengumpat di sini. Dan doaku langsung dikabulkan oleh Allah. Dia tidak membuka pintu lemari ini dan langsung pergi ke kamarnya.

Dalam kesempatan itu, aku keluar dari lemari dan turun ke lantai satu. Setelah itu, aku segera keluar dari rumah, mencari perlindungan dan mencoba mengulur waktu biar amarah kakakku tak segersang padang pasir lagi.

***

Gimana? Masih inget sama kejadian itu nggak? *Ngomong sama doi*

Jadi itulah kenapa daku bisa menghilang begitu saja dari pandanganmu dan tiba-tiba sudah berada di luar rumah. Hahaha.

Selamat ulang tahun buat kakakku yang garangnya naudzubillahimindzalik sampe matanya mau keluar. Semoga sekarang inget udah umur berapa, inget udah mau berkepala tiga karena sepertinya Mama butuh 'mainan' baru di rumah.... HAHAHAHAHA.

Salam kecup, Muach.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Cita-cita Keluarga

Saturday, July 11, 2015 By astaghiri 0 Comments
Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘The Chronicles of Audy: 4/4’





“Au, SBMPTN milih apa?” tanya Missy ketika Audy lagi asyik memakan bekalnya. Tapi hasratnya melarut gara-gara Missy dengan tiba-tibanya bertanya seperti itu padanya.

Audy memutar bola matanya. “Sy, bisa nggak sih buat nggak ngomongin itu dulu? Ngerusak mood makan gue aja,” balas Audy dengan raut sebal. Padahal sehabis itu dia tetap menyuap bekalnya, tapi rasanya berbeda karena nikmat makanannya sudah menghilang.

“Lo tetep milih kedokteran, kan?”

Sekali lagi Audy melirik ke arah Missy. Entah kenapa rasanya kok nyesek banget kalau lagi ngomongin masalah itu. Belum lagi dia juga lagi dilema harus memilih apa karena sebentar lagi ujian SBMPTN akan dilaksanakan.

Dilema? Oh! Audy nggak perlu merasakannya karena orang tuanya—oh bukan, tapi KELUARGANYA—sudah dan pasti menyuruh Audy untuk memilih jurusan kedokteran yang notabene IQ siswanya pasti di atas rata-rata.

“Yah, mau gimana lagi. Itulah kemauan keluarga gue. Emangnya gue bisa apa? Ngelawan?” Missy cuma bisa diam melihat raut wajah lelah Audy yang akhir-akhir ini sering ngalor-ngidul di tempat les. “Gue cuma takut nggak bisa kuliah, Sy.” Tiba-tiba mata Audy terasa panas. Rasanya ia kepengin menangis ketika keinginannya untuk kuliah di luar kedokteran ditolak mentah-mentah oleh keluarganya.

***

Belum sempat melepas lelah dari tempat les, Audy dikejutkan oleh Regan yang sedang duduk manis di depan laptopnya. “Au, Kakak udah daftarin ujian SBMPTN kamu.”

“WHAT?!” Audy langsung menghampiri Regan dan melihat layar laptop yang terpampang kartu peserta dirinya. Rasanya kaki Audy mau putus melihat pilihan jurusannya. KEDOKTERAN TIGA-TIGANYA! “Kok Kakak nggak bilang ke Audy dulu sih?!”

“Kakak tadi disuruh Mama cepet-cepet buat ngedaftarin kamu. Lagian udah fix kedokteran, kan?”

Audy merasakan dadanya begitu sesak. Pantas saja ketika memasuki rumahnya ini dia sudah merasakan hawa yang aneh. Jadi ini penyebabnya?

“ARGH!” Tiba-tiba Audy histeris, mengagetkan Regan dan juga kedua orang tuanya yang kebetulan berada dekat di ruang keluarga. “TERSERAH KALIAN, DEH! OH YA! EMANG TERSERAH KALIAN! PERCUMA JUGA KALO AUDY MINTA JURUSAN YANG LAIN!” Audy menahan air matanya agar tidak mengalir di pipinya. “KARENA NGGAK BAKAL ADA YANG MAU DENGERIN!”

Audy langsung berlari ke tangga menuju kamarnya. Dia menutup pintunya dengan keras dan menguncinya dengan rapat. Dia langsung melompat ke kasur dan menutup wajahnya dengan bantal, menangis dalam kehampaan malam tanpa bintang.

***

Sedih rasanya mengingat kejadian kemarin. Sebenarnya, bukan hal itu yang membuatnya sedih, tapi sudah dari awal dia tidak percaya diri dengan kemampuannya. Belum lagi hasil TO miliknya masih jauh sekali untuk menggapai ‘cita-cita keluarganya’ tersebut.

“Audy sayang?” panggil mamanya di balik pintu. “Mama bawain martabak kesukaan kamu, lho. Mau nggak?”

Audy hendak menolak, tapi apa daya dengan perut konsernya tersebut. Akhirnya dia beranjak dari kasur dan membukakan pintu untuk mamanya. “Apaan sih, Ma? Kayak mau ke rumah mertua aja pake bawa martabak segala,” Audy mengambil piring martabak dari tangan mamanya dan membawanya ke kasur. Mama duduk di depan Audy selagi dia melahap martabaknya.

“Au, jangan ngunyah mulu ya? Dengerin Mama.” Audy terdiam sejenak, dia tidak berani menatap mamanya. Dia tahu bahwa hal ini akan terjadi. “Mama nggak maksa kamu, Nak. Kita semua nggak maksa kamu. Kami hanya ingin membantu kamu, karena kami tau sebenarnya kamu ingin ke dunia sana dan punya bakat di sana, hanya saja—”

“Tapi Audy nggak pinter, Ma!”

“Kalo kamu potong omongan Mama, martabak kamu Mama ambil satu.” Audy kembali terdiam, menjauhkan piringnya dari jangkauan mamanya. “Cobalah kamu belajarnya lebih serius, jangan main-main. Kurang-kurangin tuh nonton animenya,” Mama melirik ke arah Audy dengan jutek. Audy hanya bisa mesem-mesem malu. “Mama yakin kamu bisa. Kamu itu sebenernya pinter, tapi kebanyakan main jadinya ya begini.”

“Satu lagi, Ma!” Tiba-tiba Regan sudah berada di depan pintunya. Bukan hanya Regan, tapi papanya juga! “Dia pacaran mulu!”

“Apaan sih, Kak!” Pipi Audy langsung bersemu merah.

“Kakakmu ini kan calon arsitek, Au,” papanya ikut menimbrung. “Jadi kalau mau bikin rumah, ya tinggal ke kakakmu ini aja. Nah, kalo ada yang sakit, kita tinggal ke kamu. Jadinya kan enak.” Audy mengembuskan napasnya yang sedari malam terasa sesak. Ternyata dia baru sadar bahwa keluarganya lebih peduli dibandingkan dirinya sendiri. “Tapi ingat Au, ingat pesan Papa. Kalau kamu mau jadi dokter, jangan karena uang, tapi karena kamu ingin menyembuhkan orang lain. Tertanda, Papa Golden Ways.”

Semua yang berada di kamar Audy tertawa dengan hangatnya.

“Lagian dari kecil kamu ada bakat jadi dokter kok!” Regan angkat suara lagi. “Kamu inget nggak dulu pernah ngebelek ikan yang abis dibeli sama Mama?”

“Iya! Iya! Mama inget! Mama kira itu darah kamu, nggak taunya darah ikan.” Mama tersenyum lebar. “Mama kaget lho kalo abis itu kamu nggak nangis, padahal Regan aja kalo ngeliat darah dikit langsung kejang-kejang.”

“Yee! Kok Mama jadi ngomongin Regan, sih?”

Audy tersenyum puas. Sangat puas. Akhirnya dia mendapatkan jawaban yang selama ini dia pikir terlalu menyesakkan. Tapi ternyata setelah mendengarkannya, ini semua justru terlalu melegakan.

Mereka peduli dengan Audy. Mereka menyayangi Audy. Dan tentu saja, Audy sayang dengan mereka semua.


Continue reading
Share:
Views:

Happy Born Day, GagasMedia! #TerusBergegas

Sunday, July 5, 2015 By astaghiri 0 Comments

Happy Birthday, GagasMedia! Nggak kerasa kalau umur salah satu penerbit yang selalu menerbitkan buku dengan cover yang apik ini sudah mencapai umur yang ke 12 tahun, dan itu berarti 2/3 dari umur gue. Berarti dari gue TK penerbit ini sudah ada ya? Keren, keren!


Nah. Dalam ulang tahun GagasMedia yang ke-12 ini, GagasMedia mengadakan event bagi blogger dengan menjawab 12 pertanyaan yang pastinya berhubungan dengan para peng-hunter buku, termasuk gue. Hehehe. Langsung aja deh yuk!



1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

Wah! Sebenarnya banyak sih, banyak banget malah, karena gue suka banget novel apalagi yang bertemakan romance. Tapi karena disuruh nyebutin 12 dan karena ini memang ulang tahun Gagas yang ke-12, akan gue turutin hehehe. Mungkin dari puluhan novel yang pernah gue baca inilah novel-novel yang paling berkesan setelah gue membacanya.

1) Rembulan Tenggelam di Wajahmu – Tere Liye

2) So I Married The Anti-fan – Kim Eun Jeong

3) Fairish – Esti Kinasih

4) Dia, Tanpa Aku – Esti Kinasih

5) Cewek – Esti Kinasih

6) Still – Esti Kinasih

7) Celebrity Wedding – AliaZalea

8) Summer Breeze – Orizuka

9) Incognito – Windhy Puspitadewi

10) The Fabulous Udin – Rons Imawan

11) 21 – Orizuka

12) Pillow Talk – Christian Simamora


2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?



Kalau sampai nangis mewek banget sih enggak. Cuma kalau bikin sakit hati sampai jadi pilu sendiri, banyak banget! Tapi ada satu novel yang bikin gue sedikit menitikkan air mata dan hampir mau ngelempar bukunya saking greget banget sama si kedua tokoh utama. Yaitu Seandainya karya Windhy Puspitadewi.

Sumpah. Ini novel bikin greget banget! Kenapa sih giliran mereka udah saling ngungkapin perasaan dan tau isi hati masing-masing, si Rizki malah mau tunangan sama cewek lain? Bikin sakit hati tau nggak!


3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?



“Itulah cinta. Terkadang, pengorbanan besar mampu mengembalikannya pada saat yang tak terduga” – The Fabulous Udin.

Nggak cuma pengorbanan tentang cinta, pengorbanan lainnya pun juga bisa kembali pada kita jika kita ikhlas melakukannya.


4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok jadi pasangannya. Hehehe.

Nggak harus satu kan? Hehehe.



Pertama ada Rex dalam novel 4R karya Kak Orizuka. Kenapa? Pertama, dia itu pinter banget! Pokoknya kelihatan lebih dewasa dibandingkan kakaknya yang lain, walaupun sebenarnya Regan juga dewasa sih. Hehehe. Tapi Rex juga pinter masak. Gimana nggak seksi coba? Kalau alasannya sih... mungkin karena gue orangnya sedikit males, Rex bisa nyemangatin gue biar nggak males lagi walaupun gue tau dia pasti nyemangatinnya dengan ngomel-ngomelin gue. Hehehe.



Yang kedua itu si Revel dalam novel Celebrity Wedding karya Kak AliaZalea. Sebenarnya dalam novel ini sih Revel umurnya udah 30 tahun :( Tapi gue suka banget sama sifatnya! Alasan kenapa gue cocok jadi pasangannya sih karena gue ini orangnya tipe-tipe pemalu dan diam di awal, jadi butuh orang yang ngajak ngobrol duluan dan tentu aja yang nggak ngebosenin! Pokoknya tipe Revel banget deh!


5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan.

Ending novel yang paling berkesan menurut gue adalah novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. Isinya spektakuler dan endingnya luar biasa!



Pada ending novel ini, akhirnya Ray, si tokoh utama, menemukan lima jawaban atas lima pertanyaan selama hidupnya lewat ‘jalan khusus’ yang nggak sembarang orang bisa mendapatkannya, yaitu lewat malaikat yang diturunkan oleh Allah SWT. Walaupun ini novel fiksi, gue sangat-sangat tersentuh sama novel ini karena nilai keagamaannya memang cukup kental, dan dari novel ini gue percaya bahwa setiap pertanyaan seperti ‘Kenapa sih gue harus kayak gini?’, ‘Kenapa hidup gue nggak adil?’ atau pertanyaan-pertanyaan yang kita nggak tahu jawabannya, Allah pasti memiliki jawaban yang paling terbaik untuk hamba-Nya.


6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?



Montase karya Kak Windry Ramadhina. Pertama, karena covernya yang sangat-sangat menarik dan sinopsis yang bikin gue langsung bawa tuh buku ke kasir tanpa mikir lagi dua kali. Oh ya ada lagi. Karena judulnya itu loh, “MONTASE,” keren banget! Walaupun pada awal lihat novel ini gue nggak tau artinya. Hehehe.


7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?



4 Ways to Get a Wife – Hyun Go Wun. Dari judulnya aja, menarik banget, kan? Kalau sebelum baca sih, gue narik kesimpulan, ‘Masa kalo mau ngedapetin istri harus ada cara-caranya sih?’. Dan setelah baca novelnya, sumpah! Bikin ngakak!


8. Sekarang, lihat rak bukumu... cover buku apa yang kamu suka, kenapa?



Incognito – Windhy Puspitadewi. Ini merupakan salah satu novel dengan kriteria cover yang gue suka, karena pas lihat buku ini gue tanpa mikir lagi langsung beli buku ini. Kenapa?

Hmm... gini-gini. Ini memang agak aneh, atau mungkin nggak aneh kalau ada orang selain gue yang punya 'kebiasaan' sama kayak gue. Jadi, gue ini punya 'cowok khayalan' dengan rambut agak panjang sedikit kecoklatan, tinggi, dan berkacamata. Nah, 'cowok khayalan' ini selalu gue 'pakai' di saat gue lagi baca novel. Selalu. Nggak pernah ganti-ganti orang. Dan mau tahu apa? Suatu hari gue pernah lihat cowok yang persis sama dengan yang ada di khayalan gue...

Cukup-cukup. Gue suka cover novel ini karena ada tokoh cowok yang mirip di khayalan gue. Yah, walaupun sebenarnya tokoh cowok di novel ini nggak berkacamata, seenggaknya dia agak mirip dengan yang ada di khayalan gue.


9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?

Tema tentang cinta! Gila, on fire banget gue ya? Hehehe. Kenapa ya? Sebenarnya gue orangnya melankolis juga enggak, tapi gue suka baca novel romance. Mungkin karena konflik yang dibuat itu bisa bikin hati gue jadi tergerak, walaupun sebenarnya gue jomblo. Hiks.


10. Siapa penulis yang ingin kamu temui? Kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Kak Esti Kinasih, Kak Windhy Puspitadewi, dan Kak Orizuka! Pertama sih pastinya minta tanda tangan di setiap buku yang gue punya dan tentunya karya mereka. Kedua, gue pasti nanya kapan mereka berkarier lewat menulis, pokoknya perjalanan mereka sampai bisa sukses sampai sekarang! Dan nggak lupa, minta tips biar bisa nulis kece! Hehe.


11. Lebih suka baca e-book (buku digital) atau buku cetak (kertas), kenapa?

Kalau untuk baca sih, gue suka dua-duanya. Tapi kayaknya sih lebih ke e-book karena pas mau tidur gue bisa baca sambil gelap-gelapan karena kalau tidur kamar gue harus gelap alias lampu harus mati. Jadi, bisa baca sambil gelap-gelapan deh! Terus kalau lagi di luar rumah, terus bosen tapi pengin baca novel, kan bisa langsung buka hape. Nggak perlu ribet-ribet bawa buku keluar. Tapi gue juga suka yang buku cetak sih, soalnya gue suka banget wangi khas buku!


12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!

Cool. Sugoi. Daebak. Koel. Empat bahasa tak cukup untuk mengungkapkan kekagumanku, GagasMedia-ku.

Once again, selamat ulang tahun, GagasMedia! Umur semakin meningkat, dan kualitas juga harus ikut meningkat! Sukses terus, Gagas!

Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

Sorry, mate. [3]

Monday, June 15, 2015 By astaghiri 3 Comments

Udah baca part 1 nya belom?
Kalo part 2 nya gimana?

***

“DONIIII! MAEN YOOOOK!” Lagi seru-serunya main PS, tiba-tiba suara toaknya Amel mencapai frekuensi yang mampu memecahkan gendang telinga gue. Yelah. Lebay amat. Tapi beneran deh. Suaranya dia bisa ngalahin toak masjid kalau lagi adzan.

“Don, siape tuh yang teriak-teiak di depan rumah?” Nyokap menyahut dari dalam kamar.

“Amel kayaknya deh, Mak,” balas gue dengan masih sibuk mencet-mencet stik PS.

“DONIIIIII!” Kali ini bukan suara Amel lagi, tapi suara cowok. Tangan gue bergerak slow motion, mencoba untuk nge-scan suara siapa itu barusan di otak gue.

“ASSAAMU’ALAIKUUUM! MAK ENDAAAH! MINJEM ANAKNYA DOOONG!” Bujet! Nih anak berani banget ngetoak di depan rumah gue. Sudah gitu manggil nama emak gue lagi. Untung saja nyokap nggak menyahut dari dalam.

Gue langsung berdiri dan keluar dari rumah. “Ngapain sih lu ter—” Bukan cuma Amel, tapi ada Vina, Jaka, dan Titi juga di depan rumah gue. Nggak salah lagi. Tadi Jaka juga sempat memangil nama gue. “—iak-teriak? What are we? Five years old?” Gaya gue sambil mengedikkan bahu.

Amel langsung melemparkan sendal jepit yang kebetulan punya bokap gue ke arah gue. Untung tangan gue cepat tanggap. Kalau nggak, tuh sendal bakal mampir ke muka gue yang ganteng ini.

“Mau ikut nggak lo?” Kali ini Titi yang angkat suara. “Jalan-jalan gratisan nih!”

“Lo nggak boleh nolak!” Vina bersuara. “Gue udah beli tiket nontonnya tau! Jadi lo semua harus ikut!”

Wah! Rejeki nomplok nih! Tapi... apa perlu gue ikut? Kalau gue ikut, gue cuma bisa jadi laler di antara Jaka dan Vina—ya walaupun si Amel dan Titi juga ikut-ikutan jadi laler kayak gue. Tapi kan kondisinya sekarang beda. Be-da.

“Duh, gimana ya?” Gue menggaruk-garukkan kepala walaupun sebenarnya nggak ada ketombenya sama sekali. Weits. Gini-gini gue pernah ditawarin jadi model iklan sampo. “Kayaknya gue nggak bisa deh. Banyak tugas nih...”

Nggak sengaja, gue melihat mata Vina agak redup. Bukannya mau geer, tapi kayaknya Vina nggak senang kalau gue nggak ikut jalan-jalan dengan mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Gue juga nggak mau cemburu. Dan gue nggak mau ngerasaian cemburu ke teman gue sendiri.

Dan satu lagi. Gue takut kehilangan kontrol. Positif dulu, man. Bukan ‘kontrol’ itu. The point is gue tahu kalau Vina suka sama gue. Taaapi, dia nggak tahu kalau gue masih suka sama dia. Dan gue takut kalau tiba-tiba mulut ini nyerocos begitu saja.

“Tugas apaan? Lu bukannya maen PS daritadi?” Amel melirik ke arah dalam rumah gue. Sialan. Mana tuh PS belum gue matiin lagi.

“Ya kan refreshing sebentar abis ngerjain tugas...” kilah gue lagi.

“Doninya dari tadi main PS mulu kok.” Tiba-tiba emak gue datang tanpa diundang. “Ajak main sono, daripada jadi anak rumahan mulu, maen PS. Dia mah kagak punya kerjaan selain main PS di rumah. Liat aja tuh punggungnya. Bengkok, kan? Mau osteoporosis tuh gara-gara main PS melulu.”

EMAAAAAAK! WHY ARE YOU DOING THIS TO MEEEEEE????!!!!

Dan apa coba maksudnya dengan punggung gue yang bengkok? Terus tiba-tiba osteoporosis? NGGAK ADA HUBUNGANNYA! Kalau kifosis sih, iya.

“Ya udah sono kamu mandi,” Emak gue nabok punggung gue. “Ntar kelamaan ditungguin temen kamu. Kamu kan mandinya kayak putri Solo. Lamanya naujubillah.”

Muka gue... muka gue... sekarang sudah jatuh di lantai... Dan dengan enaknya, teman-teman gue ngetawain gue.

Tanpa perlu nengok lagi, gue ke belakang rumah. Beneran mandi ala putri Solo, biar lama sekalian. Bodo amat deh mereka nunggu. Salah mereka sendiri ke sini tanpa bilang-bilang gue. Sudah gitu mau ngajak jalan tiba-tiba lagi.

Setelah sekitar 30 menit... ditambah guling-gulingan di kasur bentaran, sengaja biar tuh bocah-bocah empet nungguin gue, gue keluar dengan gantengnya karena rambut gue masih setengah basah. Tiba-tiba gue kena lemparan bantal sofa.

“BENERAN PUTRI SOLO LU YEEEE!” Amel berteriak dengan geram. Yang lainnya juga ikut-ikutan menampakkan wajah kesalnya. Gue sih bodo amat. Salah mereka juga kenapa harus tiba-tiba ngajak jalan-jalannya.

“Jadi nggak jadi nih?” Gue pura-pura ngambek dan mencoba untuk masuk kembali ke dalam rumah. “Ya ud—”

“EH! EH! EH!” Tiba-tiba Vina menarik ujung lengan kaos gue. Untung nggak kencang-kencang amat. Ntar bahu eike kelihatan lagi. Malu kali, cyin. Eh, malah sekong ane. “Nggak bisa gitu dong! Buruan ambil motor lo dan kita cus! Cepet!” perintahnya sambil mendorong punggung gue.

Akhirnya gue ke belakang rumah untuk mengambil motor yang teronggok di sana—karena seharian gue cuma di rumah doang. Yah, karena gue jomblo, gue cuma bawa satu helm doang. Amel jangan ditanya. Cewek perkasa kayak dia sudah bisa dan biasa ngurus diri sendiri. Bahkan kalau misalkan gue minta boncengan bareng, dia yang ngendarain motornya.

Kalau si Titi sih pasti bareng Amel. Pokoknya jangan sama gue deh, takutnya nanti di tengah jalan tiba-tiba dia sudah nggak ada lagi di belakang gue, alias terbang entah ke mana saking badannya yang uprit itu.

Dan... nggak perlu gue jelasin lagi. Vina pasti bareng Jaka, si kesayangannya.

***

Setelah kira-kira setengah jam, akhirnya kita berlima sampai di mall yang memang nggak terlalu jauh banget dari rumah. Kita langsung lari ke arah 21 kayak lagi dikejar satpam gara-gara kegebrek lagi berdua-duaan di pos ronda. Nggak-nggak. Waktu nonton tinggal lima menit lagi dan ternyata Vina sempat bohong kalau ternyata dia sudah beli tiketnya.

“Sori deh sori...” Vina merasa menyesal karena tiket buat jam tiganya sudah sold out. Kalau mau, nanti jam lima nontonnya. “Gue ngomong begitu biar lo ikut semua. Kan gue yang bayarin. Ya? Ya? Ya?”

“Gue sih nggak keberatan kalo kudu nunggu dua jam...” kata gue sambil melirik ke arah Vina. “Asal perut gue nggak kosong dan nunggu diisi sih. Kebetulan dompet gue isinya cuma bon, SIM, KTP, sama STNK doang.”

Vina melirik judes ke arah gue. Cute abis! Rasanya pengin gue cubit matanya itu, eh, pipinya. Tapi sayang, dan perlu digarisbawahi; dia milik orang lain.

“IYA DEH! IYAA! GUE TRAKTIR LO SEMUA!” Gue tersenyum puas menerima jawaban itu. Tapi tiba-tiba, gue melihat pandangan yang nggak enak dengan sangat luar biasa. Mungkin bagi kalian ini biasa, tapi bagi gue; ini sangat... sangat...

Jaka melingkarkan tangannya di pinggang Vina dan membisikkan sesuatu yang bahkan sudah bisa disebut bukan bisikan lagi. Tapi pamer!

“Kamu jadi ATM berjalan nih yang hari ini?” Jaka menyentil jahil ke arah hidung Vina yang dibalasnya dengan malu-malu. Gue yang melihat ini langsung berpaling ke arah... ah... baju polo yang warna navy itu bagus ya...

“Eh! Kamu nggak usah ya! Kamu bayar sendiri!” balas Vina yang cuma sampai di telinga gue, mata gue cukup dibutakan pada saat itu saja. Polo warna putih juga bagus kok...

Kapan drama kecil-kecilan itu akan berakhir?

“Iiih! Kok kamu gitu sih?” Bahkan telinga yang kepengin gue tebalkan ini bisa memvisualisasikan cast apa yang lagi mereka mainkan. Mungkin Jaka pura-pura ngambek sambil cemberut nggak jelas, mencoba mengambil perhatian Vina.

Dengan riangnya dan mungkin dengan nada gembira, Vina menjawab sambil tertawa merdu. “Enggak kok. Nanti kalian semua aku yang traktir. Okeee?”

PLOOOK! Tiba-tiba, bahu gue terasa panas. Nggak usah cari pelakunya, mata gue langsung menunjuk ke arah Amel dan dengan rasa nggak bersalahnya dia ngomong gini. “Ada laler gede banget tadi, Don,” kata Amel sambil menepuk tangannya seakan-akan tadi beneran abis nabok laler yang mungkin hinggap di punggung gue.

“Jadi makan nggak nih? Laper tau gue!” Kali ini Titi yang men-cut adegan menabok laler dan adegan roman antara dua picisan tadi. Bukan apa-apa. Gue tahu, Amel melemparkan kekesalannya ke gue dengan beralibi ada laler di punggung gue. Lantas, gue harus melemparkan kekesalan gue ke siapa?

***

Setelah membuat perut gue yang six packs ini sedikit membuncit gara-gara traktirannya Vina, gue cuma bisa bengong sambil menatap gelas tinggi yang sekarang isinya cuma ada es sama sedotan.

Kenapa gue diam? Ya! Benar! Gara-gara drama kecil-kecilan Vina dan Jaka? Benar-benar... salah! Jawabannya sangat-sangat simpel. Kenapa gue bisa diam begini? Karena kalau habis makan dan kekenyangan, gue jadi bego. Selesai.

“Doni? Ngapain lo di sini?”

Butuh lima detik buat gue nengok ke arah suara yang jelas-jelas sangat gue kenal ini. Dan butuh dua detik buat gue tahu siapa orang yang barusan nyapa gue.

MANTAN GUEEEEEE!

Sori-sori. Gue butuh klarifikasi di sini. Waktu itu, gue pernah bilang kalau gue belum mau pacaran. Masih ingat di short story satu cerita ini? Makanya! Baca dong!

Gue bukannya belum pacaran, tapi artinya gue memang lagi mau vakum pacaran. Hah. Belum tahu ya kalau mantan gue itu ada sederetan kayak aritmatika?

“Eh, Lila. Apa kabar, Lil?” Muka Lila langsung berubah sedikit memerah. Ups! Sial-sial! Bego banget sih gue! Ah! Gue memang bego kalau habis kekenyangan! Kenapa gue bisa keceplosan memanggil nama kesayangan Lila????!!!!

“Gue baik kok,” sahut Lila sok skeptis. Terus tiba-tiba dia menatap ke arah teman-teman gue. “Mmmhh... temen-temennya Doni, ya? Gue boleh minjem Doninya sebentar nggak? Just a minute kok. Boleh, kan?”

WAH! APA-APAAN NIH?! JANGAN-JANGAN... LILA NGAJAK GUE BALIKAN LAGI! SIAL! SIAL! GUE BELOM SIAP UNTUK INI SEMUAAA!!!

“Boleh kok boleh,” yang ngejawab malah Jaka. “Yang lama juga boleh.”

Dengan kesal, gue menendang kaki Jaka di bawah kolong meja. Dia cuma bisa balas senyum-senyum nggak jelas. Akhirnya, gue mengikuti Lila dari belakang yang berjalan jauh dari meja teman-teman gue.

Setelah berjalan cukup dan jauh dan cukup untuk nggak dikupingi oleh bocah-bocah itu, akhirnya Lila berhenti dan berdiri menghadap ke gue. Wait. Gue lihat-lihat Lila semakin... cute? KENAPA MANTAN ITU SELALU TERLIHAT LEBIH CAKEP KETIKA KITA MENINGGALKANNYA???!!!

Namanya juga mantan... bukan pacar lagi...

“Don, lo nggak lupa, kan?” Lila membuka pembicaraan.

Tunggu, tunggu, TUNGGU!!! LUPA APAAN NIH? Ini... tanggal berapa sih? Hari ini tanggal... 29 Maret kan...? Memangnya ada yang spesial hari ini? Atau hari ini hari... failed anniv kita berdua? NGGAK-NGGAK! GUE MASIH INGAT KOK!

“Lupa apa ya, Lil?”

“Jangan panggil gue dengan sebutan itu lagi, oke? Gue jijik dengernya.”

HUJAN BATU BARAAA!!!! GUE MALU ABIS!!!

“Terus, lo mau ngomong apaan sama gue?” Dan sepertinya, Lila memang nggak akan menjurus ke arah pembicaraan ‘Kita balikan, yuk?’.

“Lo nggak lupa kan utang lo sama gue?”

WUUUUUUUT???!!! Jadi yang dia maksud dengan ‘gue lupa’ itu adalah utangnya gue ke dia? Demi dewa Zeus, bahkan tadi gue sudah bilang bahwa di dompet gue isinya cuma bon, KTP, SIM, sama STNK. Dan sekarang, GUE HARUS BILANG APA KE LILAAA? MAU DITARUH DI MANA MUKA GUEEE???!!!

Gue menampangkan wajah memelas. “Lil, eh, Lila, kan hari ini lagi tanggal tua, gue juga cuma bawa duit kerokan doang... besok gue ke kelas lo deh. Ntar gue bayar lunas, ya?”

Lila memicingkan matanya, dan gue baru ingat kalau Lila itu memang keturunan Cina yang... sori, bukannya lagi mau ngomongin ras. Tapi begitulah Lila.

“Awas lo jangan lupa,” kata Lila yang kemudian pergi meninggalkan gue. Kemudian terdengarlah suara tawa yang cukup keras hingga beberapa orang di sana menoleh ke arah alien yang sedang berjalan ke arah gue.

“Gue kira tadi ada yang mau balikan, Ti,” kata Amel sambil melirik rendah ke arah gue.

Titi membalas dengan anggukkan senang, senang ikut-ikutan mengejek gue. “Tadi ada yang mukanya kesemsem tuh. Eh! Nggak taunya malah minta duit utang! BHAHAHA!”

Kalau ada balsem, mungkin gue sudah menjejalkannya ke mulut dua cewek ini.

“Ngapain lo berdua di sini?” tanya gue langsung mengalihkan suasana.

“Kita mau beli kado. Ayo buruan keburu si Vina tau!” Titi dan Amel langsung menarik gue menjauh dari food court.

“Tapi patungan ya? Gue beneran nggak bawa duit nih!”

“DASAR TUKANG UTANG!”

***

Setelah membeli kado yang cukup cocok untuk Vina dan juga cocok untuk kantung kita bertiga—sebenarnya kantungnya Titi sama Amel doang sih, kita balik lagi ke food court tadi dan menemukan meja yang tadinya penuh dengan piring kotor telah bersih.

“Lo berdua lama amat sih ke kamar mandi?” Gue melirik ke arah Titi dan Amel. Oooh. Jadi mereka izinnya ke kamar mandi? Pinter banget nih dua orang. “Lo juga Don, lama amat ngobrol sama temen lo.”

Tunggu-tunggu. Apa gue nggak salah dengar? Apa... barusan gue mendengar suara kecemburuan dari Vina?

“Itu, tadi si Doni boker dulu, dia nggak tau kamar mandinya di mana. Ya udah kita nunjukin sambil nungguin deh,” Amel berkilah. Sialan! Gue dijadiin alasan! Parahnya lagi Vina malah menerima alasan itu dengan mengangguk-angguk tanpa sedikit pun curiga.

Setelah itu, kita segera ke 21 karena lima belas menit lagi bakal dimulai. Dan entah kenapa, tiba-tiba Titi jadi suka kesandung gitu tiba-tiba. Untung dia jalan di samping gue, jadi gue bisa nahan tubuh dia buat nggak ciuman sama lantai mall.

“Lo lagi kenapa sih, Ti? Jangan mentang-mentang badan lu kecil dong, jadi gampang tumbang gitu,” protes gue setelah untuk sekian kalinya Titi kesandung entah apa, gue juga nggak tahu.

Bukannya ngerasa bersalah, Titi malah nabok gue kayak Amel dan nyokap. Sialan. Dikira punggung gue ladang nyamuk apa minta ditabok melulu?

“Jangan salahin gue dong! Lo sih jalannya gede-gede banget, gue nggak bisa nyamain tau!”

Gue baru sadar Titi memang kecil, dan jalannya juga pasti kayak lagi pakai kemben. Untuk itu, akhirnya ikut-ikutan jalan kayak lagi pakai kemben di belakang Amel dan Jaka yang lama-lama malah membuat jarak di antara mereka. Amel malah like a boss jalan di depan Amel dan Jaka. Gue tahu, dia nggak mau ngeliat pemandangan apa yang gue lihat sekarang ini.

“Kok diem, Ti?” Gue malah berasa jalan sama benda mati. “Baterenya abis?”

“Sakit, Don,” sahut Titi yang justru menurut gue terdengar seperti rintihan. Gue juga nggak ngerti. Gue rasa itu memang habit-nya Titi kalau ngomong ya kayak gitu. “Sakit tau, Don.”

“Hah?” Gue yang kebingungan cuma bisa melongo nggak ngerti ke arah Titi. “Nggak ada yang berdarah kan, Ti? Lutut lu juga nggak pada biru-biru kan? Kalo ada yang berdarah jangan ditunjukin ke gue, oke? Gue takut soalnya.”

Nggak ada reaksi yang menjadi tradisi kalau orang sudah kesal dengan gue; tabok punggung. Titi malah kembali berjalan lurus tanpa memedulikan gue yang dibuatnya kebingungan.

Karena nggak ngerti apa-apa, dan juga nggak mau mengorek-ngorek apa yang dimaksud oleh Titi, gue mengejar Titi dan menyelaraskan langkahnya.

“Lo ke mana aja sih Don selama ini? Gue... nggak kuat tau buat nanggung hal yang kayak gini. Gue... capek berpura-pura di depan kalian... terutama mereka...”

Wait... wait... WAIIIIIT!!!! APA MAKSUD DARI SEMUA INIII???!!!
Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

H&L

Saturday, December 27, 2014 By astaghiri 0 Comments
Gilaaa!!! Udah lima bulan rasanya blog gue umpetin di lemari demi ngambis sama nilai hahaha. Entah kenapa ide absurd ini muncul ketika gue lagi jauh dari rumah, maksudnya pulang kampung. Haha. Siap-siap penasaran. Enjoy!

***

“Eh! Eh! Itu tuh orangnya!”

“Duh! Ganteng banget yaa!”

“Udah punya pacar belum sih dia?”

Galvan cuek saja dengan cuap-cuapan cewek-cewek yang baru saja dilewatinya itu. Toh, dia sudah ‘biasa’ mendengarnya selama satu tahun terakhir ini. Sekarang, dia sudah menjajaki kelas XI. Mengingat dia mendapat peringkat paralel yang pertama, dia sekarang menjadi siswa kelas XI IPA 1.

Sekarang dia menuju tempat duduk baris kedua dekat pintu. Semoga saja dia nggak mendapatkan teman sebangku ‘cewek yang cerewet’ atau pun ‘cowok yang pecicilan’. Dia kepengin hidupnya tenang-tenang saja tanpa adanya gangguan sebelum—

“Eits! Ini meja gue, oke?” Seorang cewek dengan rambut diikat sudah berdiri di dekat meja Galvan sambil mengecakkan pinggangnya. Galvan hanya menaikkan salah satu alisnya seakan sudah men-cap ini-meja-gue.

“Lo nggak liat ya kalo di kolong itu udah ada tasnya?” Cewek itu masih bersikukuh mau mengambil tempat duduknya kembali. Mau nggak mau Galvan melihat ke arah kolong dan—dia nggak mau buang energi untuk bilang ‘minta maaf’ dan langsung ngeloyor pergi menuju meja tepat di belakang tempat duduk cewek itu.

“MAKASIII BANGEEET!!!” ucap cewek itu setengah berteriak sambil memancarkan senyum paksa.

“Well, sama-sama,” balas Galvan sambil mengambil sebuah buku dari tasnya. Nyebelin banget sih nih cowok!

***

Dan... cowok nyebelin itu terpilih jadi ketua kelas. Fulan jadi nggak ngerti. Apa sih pantasnya tuh cowok jadi ketua kelas? Coba teliti satu-satu.

Ganteng? Oke, checklish. Lagipula, Fulan lagi ‘nggak buta’ kok.

Pintar? Hmm... checklish. Katanya sih dia rengking satu paralel untuk kelas IPA.

Charming? Hih! Nggak sama sekali. Toh sebenarnya dia juga nggak memilih Galvan kok. Alasannya kuat, dia nggak suka sama cowok itu!

“Kenapa sih Win lo pilih tuh cowok?” bisik Fulan pada Wina ketika Galvan sedang berbicara dengan wali kelas di dekat meja guru. Nggak mungkin kan dia ‘ngecibir’ Galvan ketika cowok itu berada di belakangnya?

“Lo tuh buta ya, nyet?” damprat Wina langsung. “Galvan tuh cowok terkeren di SMA ini! Ya jelas dong kalo gue pilih dia!”

“Jadi, gara-gara itu doang?”

“Nggak juga sih,” Wina langsung sok berpikir dengan mengetukkan jari di dagunya. “Selain keren, dia juga cool, ganteng, tampan, seksi... itulah kenapa gue pilih dia.”

Fulan langsung menempeleng kepala Wina. “Hih! Dasar!”

Wina hanya terkekeh mendengar reaksi temannya tersebut. Kayaknya Fulan memang lagi eror deh. Masa cowok seganteng Galvan nggak disukain sih? Kayaknya dia lagi kena sindrom deh.

Hah. Tapi Wina nggak tahu saja kalau cowok itu sebenarnya sombong setengah mati!

***

“Heh! Ful! Bisa diem nggak sih lo?”

Yang dibentak Fulan, tapi yang diam langsung sekelas. Malah Fulan sempat tertawa sumbang ketika semuanya sudah terdiam dan memerhatikan mereka berdua, terlebih-lebih sih ke Galvan.

Yak! Akhirnya selama dua bulan ini rahasia Galvan yang orang-orang nggak tahu terbongkar juga. Yaitu sifat judes dan galaknya itu yang nggak pandang bulu! Sebenarnya sih orang-orang tahu kalau sebenarnya Galvan itu galak. Tapi karena cewek-cewek di sana selalu ‘membungkus’ Galvan dengan sifat charming, sifat galaknya jadi tertutupi.

“Apaan sih lo?” Fulan langsung memutar bola matanya, nggak peduli. “Nama gue Fulan, bukan Ful. Masih nggak bisa inget juga? Lo tuh punya penyakit amnesia pendek ya?”

Galvan langsung menggenggam keras pensil mekaniknya. Terdengar bunyi ‘krak’ yang membuat ngeri teman-teman sekitarnya.

“Udah dong udah,” Julian mencoba melerai pacarnya itu dengan si ketua kelas. Namun mata mereka masih menyatakan perang belum selesai. “Berantem mulu sih lo berdua,” Julian menaruh tangannya di pundak Fulan. “Mending kita ke kantin. Yuk, say?”

Fulan langsung berdiri sambil menatap sinis ke arah Galvan yang dibalasnya menantang. Dia mengikuti Julian menuju ke arah kantin.

“Kalian berdua kenapa sih berantem melulu?” tanya Julian ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan di kantin.

“Siapa?” tanya Fulan cuek.

“Ya kamu sama Galvan. Sebenernya pacar kamu itu aku atau Galvan sih?”

Mulai deh, desah Fulan. Kok yang sifatnya kecewek-cewek-an malah Julian, bukannya Fulan. Sering ngambeklah, marah nggak jelaslah, cemburulah, ya pokoknya tipe cewek bangetlah.

“Mau ribut lagi tentang masalah itu?” tanya Fulan dengan nada datar. Sebenarnya dia juga sudah malas kalau Julian mau membahas masalah itu lagi. Apa sih pentingnya membahas Galvan? Si cowok nomor satu yang kepengin dia injak mukanya.

“Kok kamu aneh gini sih? Dulu kamu nggak kayak gini, Lan.” Duh, drama banget sih nih cowok. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Zaman kan gampang banget ngerubah orang.

Fulan mengangkat salah satu alisnya. Kenapa sekarang gayanya mirip banget sama Galvan ya? Hah! Lupakan Galvan!

“Aneh? Aku berubah jadi alien, gitu?”

“Lan.” Ups. Kayaknya Julian mulai marah deh. Kelihatan banget dari mukanya yang putih langsung berubah merah.

Fulan langsung mengeluarkan jurus senyum manisnya. “Bercanda, Jul.”

Hal itu membuat Julian sedikit ‘luluh’. Rona kemerahan di wajahnya mulai menghilang.

“Beliin aku somay ya, Jul?”

Hah. Itulah enaknya punya pacar.

***

“Eh eh eh! Jul! Jul! Berentiii!” Julian langsung ngerem mendadak.

“Apaan sih Lan? Kamu bikin aku kaget tau nggak.”

“Sori...” Fulan tersenyum bimbang. “Hape aku ketinggalan di kolong meja...”

“Hah? Kok bisa?”

“Soalnya di tas aku nggak ada, berarti masih ada di kelas. Balik lagi yuk, Jul?” pinta Fulan memelas.

Hmm sebenarnya Julian mau saja sih mengantarnya balik, tapi kayaknya ‘agak ribet’ deh kalau kembali mengantar Fulan ke rumahnya. Soalnya sebentar lagi dia ada tanding futsal bareng teman-temannya.

“Tapi aku nggak bisa nganter kamu pulang, aku ada tanding futsal, gimana dong?”

“Ya udah deh, nggak papa,” jawab Fulan datar. Kemudian mereka berdua kembali menuju sekolah yang ternyata sudah cukup sepi. Fulan langsung berlari ke kelasnya begitu mereka sudah sampai ke sekolahnya kembali. Bahkan dia nggak sempat buat say bye ke pacarnya itu. Julian cuma bisa mendesah, kemudian mengendarai motornya menuju tempat futsalnya.

Fulan berlari kecil menuju kelasnya yang berada di lantai dua, ujung pula. Lumayanlah olahraga sebentar, tapi capek juga ternyata.

Sesampainya di kelas, suasananya sudah sepi. Dia langsung menuju ke mejanya, melihat kolongnya dan syukurlah! Hapenya ternyata masih ada. Fulan langsung bernapas lega. Dan—apa itu?

Fulan melihat beberapa foto yang berserakan di bawah meja Galvan, salah satunya bahkan tergeletak di bawah meja Fulan. Fulan mengambilnya dan kemudian dia mengernyit. Kok kayaknya dia kenal orang-orang yang ada di foto ini ya?

Ah! Yang ini pasti foto ketua osis! Soalnya Fulan pernah melihatnya berpidato di depan lapangan. Dan ini... ini bukannya ketua basket itu ya? Yang tinggi banget dan punya warna kulit yang eksotis itu? Terus itu... itu bukannya Julian? Kok bisa sih ada foto Julian di sini?

Tiba-tiba, semua foto itu sudah raib dari tangan Fulan. Fulan langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Galvan berada di hadapannyaaa!!!

Galvan sudah menatap garang Fulan seakan-akan mau menyemburkan kata-kata apa saja yang akan menyakitkan hati Fulan. Tapi kemudian dia menghela napasnya, mencoba untuk berpikir tenang.

“Apa yang lo liat tadi, dan apa yang coba lo pikirkan sekarang, nggak perlu lo umbar ke mana-mana.”

Fulan mencoba berdiri ketika Galvan mau beranjak dari kelas. “Van, lo... hom...”

Galvan menghentikan langkahnya sejenak. “Ya.” Kemudian dia kembali melangkah keluar dari kelas.

Setelah mencoba menghubungkan apa yang baru saja terjadi padanya, Fulan berlari keluar kelas dan mengejar Galvan. Dia berhenti tepat berada di hadapannya.

“Lo... lo... se—serius?”

Galvan nggak langsung membalas pertanyaan Fulan. Mulai sekarang, dia harus berhati-hati dengan ucapannya. “Baguslah kalo lo nggak percaya.”

Galvan langsung melewati bahu Fulan, nggak peduli ketika cewek itu sempat eror melihatnya.

Jadi... ternyata Galvan itu... homo? Oooooh itu kenapa selama ini dia galak sama orang-orang. YESS! GALVAN HOMO! Kok gue seneng sih? Ah, seenggaknya gue tau satu rahasianya dia. Rahasia terbesarnya. HOHOHO.

***

“Haaaaaaiiiii Galvaaaaan!” sapa Fulan ‘ceria’ ketika pertama kali dia masuk kelas melihat Galvan duduk di mejanya.

Sontak teman-teman sekelasnya dibuatnya bungkam, takut-takut perang dunia ketiga bakal dimulai.

Galvan bersikap sok skeptis, pura-pura bahwa kemarin nggak terjadi apa-apa. Memang nggak terjadi apa-apa sih selain ternyata CEWEK ITU TAHU RAHASIA TERBESARNYA!!!

“Senyum dikit dong, cemberut melulu,” goda Fulan sambil mengerlingkan matanya ke arah Galvan.

Galvan kepengin langsung mencekik leher cewek itu, tapi dia mencoba untuk meredam emosinya dengan larut dalam buku biologinya. Anggap cewek ini tuyul Van... tuyul...

“Tumben ya Galvan diem aja, biasanya si Fulan juga langsung disembur...” bisik seseorang yang bahkan bisa sampai di telinga Galvan. Bukan bisik-bisik itu namanya!

“Lagi baca apa sih? Kok kayaknya...” Galvan langsung menutup bukunya dengan sedikit menggebrak ke arah meja. Dan timbullah kembali suasana yang tegang dan bikin resah itu.

“Bisa nggak sih buat nggak ganggu gue? Lo annoying tau nggak.”

Fulan langsung terdiam. Dia sebenarnya agak sakit hati mendengar ucapan Galvan. Namun dia mencoba untuk nggak menyembur kembali agar bisa terus menggoda Galvan. Kapan lagi coba dia bisa kayak gini?

“Okedeh... sori....”

Hah! Itu bahkan hal yang lebih mencengangkan dibanding yang tadi! Fulan bilang maaf?! Sejak kapan?! Nggak ada sejarahnya dia bakal minta maaf ke Galvan! Kecuali hari ini, jam ini, menit ini, detik ini.

Tiba-tiba Galvan sudah berdiri dan menarik Fulan agar keluar dari kelas. “Kita perlu ngomong, sebentar.”

Teman-temannya langsung syok melihat Fulan dibawa paksa keluar oleh Galvan. Wah, bakal ada kejadian apa ya? Fulan sendiri hanya bisa nyengir nggak jelas sambil mengedikkan bahunya.

Julian yang berada di sudut kelas, hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menatap elang ke arah mereka berdua.

Galvan menarik Fulan ke tempat yang sepi, tempat di mana nggak ada seorang pun yang bakal ‘menengok’ ke arah mereka. Fulan sih nggak takut, toh dia nggak bakal ‘diapa-apain’ sama Galvan, pikirnya.

“Lo mau cari mati sama gue?” sembur Galvan langsung tanpa perlu basa-basi.

“Uuuh... takut... hahaha,” Fulan malah semakin senang menggoda Galvan.

Galvan langsung menyengkram lengan Fulan yang membuatnya sedikit meringis. Ternyata Galvan benar-benar ‘galak’.

“Mau lo apa sih?”

“Lepasin gue dulu!” Galvan langsung melepaskan cengkramannya. Dia melihat bekas merah berbentuk jari di lengan Fulan.

“Kok lo kasar banget sih sama cewek?”

“Apa perlu gue kasih tau lagi kenapa gue kasar sama cewek?”

Oke. Oke. Kayaknya Galvan merupakan tipe orang yang paling nggak suka basa-basi. Yah, seperti ini.

“Jawab pertanyaan gue,” sarkas Galvan.

“Yang mana?” Galvan langsung menempeleng kepala Fulan, membuat cewek itu kembali mengaduh. “Bisa nggak sih lo buat nggak main fisik? Nggak gentle banget tau nggak!”

“Itu lo tau. Sekarang lo maunya apa, hah?”

“Emangnya lo bener kepengin tau gue pengin apa?”

Duh! Bego banget sih Galvaaaan!!! Seharusnya dia bisa membuat cewek ini patuh padanya dengan hanya menggertaknya! Bukan malah ‘mengabulkan’ permintaannya.

“Hmm... gini gini... lo pasti nggak mau kan kalo rahasia terbesar lo itu kebongkar?”

“...”

“Jadi...”

“Jadi apa?”

“Sabar dulu dong! Makanya jangan main potong ucapan gue!” Galvan langsung terdiam. Ternyata Fulan bisa juga menggertak Galvan. HAHA.

“Gue cuma pengin kita damai, nggak ada lagi lo ngomel-ngomelin gue, nyembur gue, damprat gue. Setuju?”

“...”

“Oh ya satu lagi,” lanjut Fulan yang benar-benar membuat Galvan ingin mencekiknya. “Sering-sering senyum ke gue ya?” Fulan langsung mengerling dan mendapatkan respons jijik dari Galvan. Fulan hanya tertawa kemudian meninggalkan Galvan begitu saja.

Ketika Fulan ingin mencapai kelasnya, Julian menghadangnya di depan pintu kelas. Dia langsung menggamit tangan Fulan dan menariknya menjauh dari kelas.

“Kita perlu ngomong.”

Duh. Kenapa hari ini tuh dua cowok demen banget tarik-tarikan gini sih? Eh, yang satunya cuma setengah cowok deng...

***

Galvan lebih suka mengerjakan PR-nya di sekolah dibandingkan di rumah. Alasannya simpel sih, di sini lebih tenang dibandingkan di rumah. Toh kebiasaan siswa sini setelah mendengar bel ya langsung pulang, nggak ada yang namanya nongkrong di sekolah kecuali kerajinan.

“Oh? Lo masih di sini?” Galvan dikagetkan oleh Fulan yang ternyata sudah berjalan ke arahnya. Ck. Cewek itu lagi.

“Ngerjain apa? Eh PR mtk ya? Ikutan dong!” Fulan langsung antusias dan membalikkan kursi yang berada di hadapan Galvan. Kemudian dia mengambil buku matematikanya. Galvan sedikit memberi spasi meja untuk cewek itu, mengingat tadi mereka berdua sudah membuat kesepakatan. Yah, kayaknya sih lebih ke kesepakatan sepihak.

“Lo mau ngerjain apa cuma nyalin doang?” damprat Galvan karena sejak tadi Fulan hanya melirik ke arah jawaban di bukunya. Fulan membalas dengan senyum cengirannya, seperti habis ketangkap basah mencuri permen.

“Dikit doang kok...” balas Fulan sambil mengumpamakan sedikit menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

“Dikit apaan? Lo nyalin semua apa yang gue kerjain. Gimana lo mau bisa kalo lo bisanya cuma nyontek doang? Lo nggak mikir ya kalo yang lo lakuin sekarang cuma bisa ngerugiin lo nanti?”

Fulan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kenapa sih si Galvan ini? Dia kan cuma menyontek PR-nya, bukan ulangannya yang cukup dianggap sakral.

“Kok lo jadi ceramahin gue sih? Ini kan cuma PR, bukan ulangan. Lagian, gue cuma liat caranya kok, hasilnya gue cari sendiri,” Fulan langsung cemberut.

Galvan menghela napasnya. Huh. Memang iya sih ini cuma PR doang, nggak seharusnya dia menyeramahi Fulan seperti tadi. Hah. Nggak apalah, anggap saja tadi pelajaran buat Fulan agar suatu saat dia nggak perlu ‘bergantung’ sama orang lain.

“By the way, thanks ya,” Galvan mengangkat pandangannya dari buku matematikanya, menatap ke arah Fulan yang sibuk menulis di buku PR-nya. Galvan cuma menaikkan alisnya. “Thanks karena lo udah ngebuat gue putus sama Julian.”

Kini Fulan menatap penuh ke arah Galvan sambil tersenyum aneh. Galvan cuma bisa mengernyit, nggak tahu apa dia harus merasa bersalah atau syukurin tuh cewek. Masa iya sih tuh cewek nggak sedih sama sekali?

“Lo... nggak nangis?” tanya Galvan hati-hati. Dia nggak pernah mencoba untuk menyampuri urusan cewek seperti ini. Yah, tapikan ini Fulan, teman sepihak barunya. Setidaknya, dia bisa mendengar kabar Julian dari Fulan.

“Buat apa?” Galvan menangkap raut datar yang ia dapat dari Fulan. Benar-benar kosong. Cewek ini sepertinya nggak merasa hal itu terlalu dititikberatkan. “Gue malah seneng putus dari dia setelah setengah tahun lebih gue jalan sama dia.”

SENENG??? Galvan yang selama ini cuma bisa memerhatikan Julian dari jauh dan mencoba untuk nggak mencekik Fulan karena dia cemburu berat sama cewek itu ternyata senang kalau dia putus dari Julian? Brengsek juga nih cewek.

“You know, because I’m a lesbian.”

To be continued~
Continue reading
Share:
Views:
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments ( Atom )

Hi, you!

Hi, you!

Blog Archive

  • ▼  2017 (3)
    • ▼  September (1)
      • Intro Perkuliahan
    • ►  July (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (3)
  • ►  2013 (24)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  May (1)
    • ►  April (5)
    • ►  January (4)

Labels

CAKES! Cerbung Cerpen Imajinasi Travel Trip

Wanna be my mate?

© 2016 Astaghiri | All rights reserved
Created By Responsive Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates