Astaghiri

  • Home
  • CERPEN
  • CERBUNG
  • CAKES!
  • Trip
Cerpen

Yang pertama tak selalu indah

Tuesday, July 2, 2013 By astaghiri 0 Comments
Segores demi goresan pensil ia torehkan ke dalam kanvas berukuran sedang. Awalnya, memang belum terlihat bagaimana wujud yang terjadi. Namun, mungkin yang tahu apa yang akan dilukisnya adalah dirinya, hatinya, dan Tuhan.

Entahlah, mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Pandangan pertama? Mungkin itu yang sedang melandanya. Terlalu cepat memang. Tetapi, memangnya harus dipaksakan untuk tidak jatuh cinta kalau hati ini sendiri selalu berdegup ketika dirinya berada di hadapannya?

Awalnya, ia juga tak sengaja bertemu dengan gadis itu di sebuah toko bunga. Toko bunga itu milik gadis tersebut sepertinya.

Daniel terlalu terpana dengan ulasan senyum yang terlukis di bibirnya tersebut. Senyumnya terlalu manis hanya karena ia sedang merangkai bunganya. Diam-diam, Daniel mulai memasuki toko bunga tersebut dan membeli beberapa bucket bunga di sana. Gadis itu hanya tersenyum melihat Daniel yang diam-diam melirik ke arahnya. Memangnya gadis itu tidak tahu?

Karena merasa diintai, gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Daniel sendiri bingung, bagaimana ia akan membayar bucket yang akan dibelinya.

“Hei, bagaimana aku akan membayar bunga ini?” seru Daniel mencoba memanggil pemilik toko bunga ini.

Mungkin ia malu, pikir Daniel. Daniel hanya tersenyum dan merogoh dompet yang berada di dalam sakunya. Kemudian, ia mengambil beberapa uang yang cukup untuk membeli bunga ini. Namun, setelah ia melihat bunga yang gadis tersebut sedang rangkai, ia mengambil bunga tersebut yang tergeletak dalam meja, dan mengembalikan bucket bunga yang pertama ia ambil. Mungkin, sebagai kenang-kenangan pertama.

Keesokkan harinya, ia melakukan hal yang sama. Diam-diam mengintai senyum gadis tersebut. Lagi-lagi, Daniel terpana. Namun, kali ini ia tertangkap basah. Kedua mata mereka kini saling menangkap. Lima detik dirasa cukup lama bagi mereka. Kemudian, mereka kembali kepada kesibukan masing-masing.

Daniel mulai dengan aksinya. Ia masuk lagi ke dalam toko bunga tersebut dan melihat-lihat bunga apa yang akan dibelinya. Setelah mengambil satu bucket mawar putih, ia menuju gadis itu untuk membayar bucket mawar yang ia beli. Namun, entah sihir apa yang membuat Daniel merasakan bibirnya sedikit kaku, lidahnya kelu, susah untuk berbicara.

Yang ia lakukan justru merogoh dompetnya dan mengeluarkan uangnya untuk membayar bucket bunga tersebut.

“A—aku a—akan kembali lagi ke tokomu,” ujar Daniel sambil menggaruk-garukkan kepalanya dan tersenyum. Gadis itu membalasnya.

Perlahan, Daniel melangkahkan kakinya menuju pintu keluar toko tersebut. Namun, ia tak bisa menahan senyum yang terus ia pancarkan tersebut. Perasaan apakah ini yang sedang melandanya?
Setelah sampai rumahnya, ia langsung menuju ruang lukisnya. Entahlah, apa yang membuat tangannya ingin sekali menggoreskan pensil ke dalam kanvasnya tersebut. Melukis garis-garis wajah gadis tersebut dengan menggunakan memorinya. Mungkin, rasa hatinya juga ikut tergambar dalam kanvas tersebut.

Perlahan, garis-garis yang ia buat mulai telihat. Tanpa melihat objek apa pun, memorinya yang penuh akan gadis itu sudah cukup untuk membuat goresan pensil di atas kanvasnya. Dan tanpa sadar, dalam kanvas tersebut sudah tergambarkan wajah gadis pemilik toko bunga tersebut dengan ulasan senyum yang ia pancarkan.

Secepat itukah rasa yang menjalar pada hatinya?

Seterusnya, Daniel terus melakukan hal yang sama. Pergi ke toko bunga tersebut, membeli bunga, dan melihat senyum gadis itu secara diam-diam. Namun, semakin lama, ia semakin tak bisa menahan perasaannya. Ia takut, gadis itu akan direbut oleh orang lain.

Namun, entah perasaannya atau bukan, gadis itu hanya mengeluarkan reaksi yang sama. Tak ada ekspresi yang berkelanjutan seperti ingin berkenalan atau sekedar menyapa. Justru, gadis itu sering menyingkir ketika Daniel datang ke toko bunganya.

Dan entahlah apa yang membuat kakinya berlari menuju toko bunga tersebut, menghampiri gadis itu. Mungkin, ia ingin menjelaskan semua perasaan yang ia pendam selama ini.
Gadis itu hanya menatapnya datar ketika Daniel datang menghampirinya. Daniel mencoba menetralkan napasnya yang tersengal-sengal karena berlari.

“Maaf, kau mungkin memang sering melihatku datang ke toko bungamu dan membeli salah satu bucket bungamu. Ah—maksudku bukan mungkin, bahkan kau memang melihatku datang ke toko bungamu,” ujar Daniel panjang lebar dengan ulasan senyuman yang belum ia singkirkan dari bibirnya.

Gadis itu hanya menatapnya datar dan sedikit memiringkan kepalanya. Namun, ia tak menjawab perkataan dari Daniel.

“Ng—” Daniel merasa sedikit gugup. “Sebenarnya, aku juga mempunyai tujuan datang ke toko bungamu. Ng—aku suka padamu, semenjak pertama kali aku memandangmu. Maka dari itu, aku sering datang ke toko bungamu. Kupikir, dengan aku yang terus mengunjungi toko bungamu, aku dapat mengenalmu lebih dekat, bahkan kita bisa membuat obrolan yang panjang. Ternyata tidak secepat itu,” ujar Daniel lebih panjang lebar lagi.

Gadis itu masih saja menatapnya tanapa pengertian. Apa maksud dari perkataannya tersebut?
Daniel agak kesal karena gadis ini tak mau menjawab perkataannya atau sedikit pun mengeluarkan kata-kata. Apa perkataannya kurang jelas?

“Ma—maaf jika ini terlalu cepat untukmu. Mungkin, kau memang tak menginginkan hal ini terjadi. Jadi, maafkan aku yang mengganggumu,” ucap Daniel yang kemudian meninggalkan gadis tersebut di dalam toko.

Apa perkataannya kurang jelas? Bukankah sudah jelas ia tadi sedang menyatakan hatinya? Ternyata, cinta pertama itu agak menyakitkan, bahkan menorehkan sedikit luka.

Gadis itu terdiam sejenak di dalam tokonya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh laki-laki itu. Ketika laki-laki itu berbicara, ia mencoba meniti lamat-lamat bibir laki-laki itu. Mencoba menerjemahkan apa yang sedang dikatakannya. Namun, apa daya. Penyakit yang dideritanya tidak mampu lagi mendengar suara apa pun tanpa terkecuali.

Namun, setelah ia menyadari bahwa laki-laki itu sudah berlalu dari hadapannya, ia langsung berlari keluar dari toko bunganya. Namun, laki-laki itu sudah tak ada lagi dalam penglihatannya. Namun, ia melihat sebuah benda berbentuk prisma yang alasnya berbentuk lingkaran. Panjangnya sekitar 30 sentimeter. Ia langsung mengambilnya dan membuka apa isi dari prisma lingkaran tersebut.

Ternyata, itu adalah lukisan dirinya. Lukisan yang dibuat oleh laki-laki itu. Ternyata, ia baru mengerti apa tujuan laki-laki itu menghampirinya. Namun, apa yang kini harus dilakukannya? Laki-laki itu tak pernah terlihat lagi mengunjungi toko bunganya.

Namun, ia tetap akan menyimpan lukisan itu sebagai kenangan. Karena, laki-laki itu adalah cinta pertamanya yang belum sempat terbalas.

Note : Terinspirasi dengan lagu Juniel - Illa-Illa

So, this is the web of lyric http://www.kpoplyrics.net/juniel-illa-illa-lyrics-english-romanized.html
And, the music video https://www.youtube.com/watch?v=2_qrdwz49qg
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

The Reason

Tuesday, May 21, 2013 By astaghiri 0 Comments
     Melamun merupakan hal yang seringkali menelungkup diriku, di mana keadaan sekitar ramai atau pun tidak. Kali ini, spot favoritku adalah berduduk diam di samping jendela besar dan memandangi langit yang terkadang berubah semena-mena. Terkadang biru cerah, kemudian diikuti awan kelabu yang membuat sedikit kota Jakarta meredup, dan lalu dibasahi dengan titik-titik hujan. Aku rindu dengan kehadirannya yang selalu bisa mengisi keseharianku. Rindu di mana tawaku selalu bersifat gembira karenanya.
     Mungkin, cappuccino hangat yang kupesan ini, sudah terasa getir dilidah. Tak terasa hangat lagi. Mengikuti hawa yang mulai menggerogoti tubuhku. Aku kan sedang berada di dalam kafe. Tetapi, mengapa aku juga merasakan dinginnya hujan seperti kaca jendela ini?
     Karena tak ingin menyia-nyiakan uangku karena membeli cappuccino ini, aku tetap menghabiskannya, walaupun setengguk demi setengguk hanya karena masih ingin berada di dalam kafe ini. Padahal, sedari tadi, aku juga merasa pelayan di kafe ini mencoba untuk mengusirku karena pelanggannya yang mulai memadati kafenya ini. Sepertinya mereka tak mendapatkan tempat duduk karena orang sepertiku yang hanya memesan cappuccino lalu terduduk termenung hingga berjam-jam. Persetan apa? Aku sudah membayar dan aku berhak seberapa lama aku berada di sini.
     “Permisi, saya boleh duduk di sini?” ucap salah satu orang yang cukup membuyarkan setengah lamunanku. Aku setengah mengangguk dan melihatnya sekilas.
     Ia langsung duduk di hadapanku. Kemudian mengusap-usap cangkir coffe latte panasnya. Apa? Coffe latte?
     Aku langsung menangkap sosok yang berada di hadapanku. Tidak-tidak. Apa aku hanya bermimpi? Mengapa semua ini ada begitu saja berada di hadapanku?
     Aku menatapnya tak percaya. Lalu, aku mencubit pahaku sendiri. Sakit. Aku memang sedang tak bermimpi. Ia memang berada di hadapanku.
     Ia menyadari aku sedang menatapnya. Kemudian, ia menatapku balik. Awalnya, ia memasang wajah dengan raut yang mengagetkan, sama sepertiku tadi. Lalu, ia menyunggingkan sneyumannya. Senyuman yang dulu pernah menghiasi kehidupanku. Mengapa dengan mudahnya ia memberikan senyumannya lagi?
     “Kamu apa kabar?” tanyanya dengan senyum tanpa getir sedikit pun.

***

     Les merupakan kewajibanku dalam dua kali seminggu. Cukup memberatkan aktivitasku dalam SMA memang. Tapi, apa boleh buat? Ini semua kemauan Ibu yang menyuruhku untuk menaikkan kepintaran otakku. Setidaknya, aku harus menuruti perkataannya sebagai anak.
     Setelah pulang sekolah, tepatnya jam tiga sore, niatku, aku langsung ingin menuju tempat les. Malangnya, aku terlebih dahulu disuruh oleh guru kimiaku untuk mengoreksi ulangan-ulangan kimia teman-temanku. Ah, sial.
     Setelah mungkin lebih dari setengah jam memeriksa ulangan kimia teman-temanku, aku langsung menuju tempat les yang berjarak mungkin lebih dari 10 kilometer. Karena, sekolah dan tempat lesku berada di daerah yang berbeda. Yaitu Lenteng Agung dan di daerah Cilandak. Cukup jauh, bukan?
     Aku tak perlu bersusah payah menaiki angkot. Aku sudah difasilitasi oleh Ibu untuk mengendarai motor sendiri. Tentunya motor matic yang tak perlu menginjak gigi atau apalah itu namanya aku tak begitu tahu persis. Tentu saja, motor matic sudah kukuasai sejak 4 tahun silam.
     Dengan lancarnya, aku mengendarai motor melewati likak-likuk jalanan yang dipadati dengan kendaraan bermotor yang banyak jenisnya. Mungkin, jenis motor yang kukendarai sekarang sudah dimiliki lebih dari ratusan orang yang sedang melewati daerah ini.
     Butuh waktu 45 menit untuk mencapai tempat lesku berada. Untungnya, Ibu memilih tempat les yang dapat memilih waktu jam les kapan pun semauku. Jadi, aku bisa kapan saja datang semauku.
     Tentu saja ada tempat les yang seperti ini. Aku buktinya. Aku memang les di tempat ini karena pertama, aku dapat kapan saja datang semauku. Entah itu siang atau pun sore, bahkan pagi, dengan batasan waktu tempat les dibuka adalah jam 10 pagi. Karena, aku les hanya mengasah matematikaku sendiri. Aku perlu mengolah lebih banyak lagi tentang matematika yang kurasa belum sepenuhnya menelungkup ke dalam otakku ini.
     Setelah satu jam lebih dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan otakku, aku langsung pulang menuju rumah yang jaraknya mungkin hanya 15 menit jika menggunakan motor ini. Belum ditambah dengan keadaan macet yang akan kuhadapi nanti.
     Sebenarnya, aku ada perasaan tidak enak semenjak datang ke tempat les ini. Dan benar, ban belakang motorku bocor. Entah kapan ban motor ini mengalami bocor tiba-tiba. Mungkin, ketika aku membelokkan motor ke tempat lesku ini. Ah, sial.
     Jam yang melingkar manis ditanganku sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Langit juga mulai ikut menggelap. Bagaimana ini? Masa iya aku harus mendorong motor ini dengan pakaianku yang masih berseragam putih abu-abu? Bisa-bisa menhana malu di tengah jalan ini.
     Mana ada orang yang mau menolongku? Ini sore, dan juga waktu untuk orang pulang bekerja dari kantornya. Mereka justru berebut jalanan untuk pulang lebih cepat ke rumahnya. orang-orang pinggiramn hanya sibuk memikirkan dagangan dan melayani pelanggannya. Mau tak mau, aku harus mendorong motor ini sendirian dalam keadaan langit setengah gelap ini.
     Motor matic yang lumayan berat ini kudorong dengan menggunakan sisa-sisa tenagaku. Coba saja aku dapat mendorong motor ini dengan kekuatan otakku. Sayangnya, itu tak akan terkabul.
     Orang-orang sekitar hanya memandangku dengan pandangan meremehkan. Memangnya mereka siapa? Hanya berduduk santai di warung kecil sambil menghisao rokok dan meminum segelas kopi. Bukannya menolongku untuk membawa motor ini ke bengkel, merek justru menggodaku dengan cibiran khas abang-abang tukang angkot.
     Aku berusaha untuk menebalkan kupingku agar tak mendengar godaan yang menjijikan dari mereka. Dan melanjutkan perjalananku hingga mencapai bengkel terdekat.
     “Butuh bantuan?” tiba-tiba saja seseorang membantu mendorong motorku dari belakang. Aku langsung mengerem mendadak motorku sendiri, dan menengok ke arah belakang. Sepertinya, aku mengenal wajah ini.
     “Lo bukannya anak baru itu?” tanyaku tanpa rasa sopan santun sedikit pun kepadanya. Tidak meng-iya-kan atau pun menolak tawarannya.
     Ia hanya tersenyum menjawab pertanyaanku dan mengambil alih stang motor ini. Kemudian, menjalankannya ke arah tujuan—entah ke mana, aku juga tak tahu. Mungkin ke arah bengkel.
     “Tolong bawain tas gue dong. Agak ribet nih, kalau sambil dorong motor,” ucapnya dengan wajah yang—apa ya, aku juga tak bisa menjelaskannya. Mungkin, bisa dibilang ia melakukan ini dengan tidak terpaksa. Itulah yang terpancar dari wajahnya.
     Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung mengambil tas selempang yang terpasang di bahunya. Lagipula, siapa suruh sekolah dengan menggunakan tas selempang? Bukannya justru makin memberatkan bahu di bagian sebelah?
     Kulihat, ia masih menggunakan seragam yang sama sepertiku. Ah, aku mengingatnya. Ia memang anak baru di kelasku. Baru memasuki kelasku mungkin sekitar 3 atau 4 hari yang lalu. Tetapi, aku memang tak terlalu mengenalnya, dan aku memang tak mau kenal. Jadi, untuk apa saling mengenal?
     “Lo les di sini?” tanyanya yang mungkin ingin menghilangkan rasa canggung di antara kami berdua. Dari mana ia tahu aku sedang les di daerah ini?
     “Iya. Di kumon—nama tempat lesku—sana, yang letaknya di sudut kampung kandang,” ucapku yang entah mengapa aku menspesifikasikan tempat lesku sendiri.
     “Emang gue minta spesifikasiin, ya?” tanyanya kini dengan menatap ke arahku. Menjengkelkan. “Bercanda kok,” lanjutnya dengan diikuti senyum yang mulai terekam dalam benakku. “Pintar matematika sama bahasa inggris, dong?”
     “Enggak. Bidang gue cuma di matematika. Gue nggak ikut kursus bahasa inggrisnya,” ucapku datar dengan melihat ke arah sepatuku yang bergesekan dengan aspal.
     Ia hanya ber-oh ria sambil mengangguk-anggukan kepala. Suara kalkson kendaraan bermotor mulai mengganggu telingaku. Aku memang tak suka mendengar suara klakson. Aku sendiri, jarang sekali menggunakan klakson motor ini. Mungkin, dalam seminggu masih dapat dihitung menggunakan jari. Saking aku tak sukanya dengan mendengar suara klakson yang begitu berisik.
     Tak beberapa lama kemudian, kami berdua sampai di sebuah bengkel yang berukuran kecil. Mungkin, bengkel ini terbentuk karena modal nekat, jadi ya seperti inilah bentuk bengkelnya.
     “Lo punya motor lagi, cuy? Kapan dibeliin sama nyokap lo? Kok gue nggak tahu?” tanyanya yang mungkin ke arah ah—aku saja tak tahu siapa nama teman sekelasku ini. Ah, betapa anti sosialnya diriku ini.
     “Bukan. Ini punya dia,” ucapnya sambil melirikkan matanya ke arahku. “Bannya bocor. Mumpung lagi di daerah sini, ya gue datang ke bengkel lo. Digratisin, kan?” tanyanya dengan alis yang ia naik-turunkan. Mungkin dengan nada yang bercanda.
     “Mbahmu!” omongnya sambil menjitak kepala orang yang membantuku mendorong motor ini hingga ke bengkel. Ah, sampai sekarang pun aku tak tahu namanya.
     “Mbah lo kan mbah gue juga. Udah buruan, kasihan nanti kemaleman.” Balasnya dengan kemudian menghampiri bangku kayu yang terpajang di sana.
     Aku tak mengikutinya. Kakiku masih berdiri tegak dan merasakan betapa tegangnya kaki yang masih terpasang di tubuhku ini karena berjalan cukup jauh hanya untuk mencari bengkel.
     Ia yang berduduk santai menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Tidak. Tentu saja duduk di bangku kayu yang ia duduki tersebut. Karena aku sudah tak kuat menahan beban diriku sendiri, aku memilih duduk dan tak berkutik lagi.
     “Lo pasti belum tahu nama gue,” omongnya sambil mengambil tasnya yang ternyata sedang kupangku. Aku lupa, kalau tas ini miliknya. “Tegar,” lanjutnya dengan ingin menjabat tanganku. Mungkin itu kebiasaannya. Atau memang itu kebiasaan orang Indonesia jika ingin berkenalan? Hei, aku kan orang asli Indonesia juga.
     Aku membalas jabatan tangannya. Ketika aku ingin menyebutkan namaku, justru ia sudah tahu namaku sebelum aku menyebutkan namaku sendiri. Mengapa ia bisa tahu? Aku saja baru tahu namanya sekarang.
     “Nggak kenapa-kenapa kok, kalau lo baru tahu nama gue sekarang. Yang penting, gue udah tahu nama lo,” ucapnya dengan kepala yang menengadah ke arah langit. Ternyata langit sudah menampakkan warna lainnya.
     “Kok lo ada di daerah sini? Emangnya lo ada urusan apa?” tanyaku agar ia tak merasa aku benar-benar anti sosial terhadap orang lain. lagipula, jika aku hanya terdiam di hadapannya yang telah menolong diriku, rasanya tak enak hati.
     “Nyokap ada usaha cathering di Kampung Kandang, dekat tempat les lo juga, kan? Jodoh kali ya, kita ketemu,” ucapnya sembari dengan tawa yang sumbang.
     Aku ikut tertawa kecil mendengar leluconnya. Lucu juga orang ini. Bisa membawa suasana menjadi nyaman. Entah mengapa, setiap ia mengeluarkan kata yang—ya agak sedikit menyimpang, ia langsung mengatakan maaf, dan hanya bercanda.
     Tegar memberitahuku bahwa ini adalah bengkel milik sepupunya. Ia sendiri yang membuka usaha bengkel kecil-kecilan ini. Lumayan, walaupun gaji harian yang tak seberapa, yang penting ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Sepertinya, Tegar dan sepupunya hanya berbeda umur 4 tahun.
     “Kok lo agak anti sosial, ya? Atau karena gue jarang perhatiin anak kelas? Tapi, yang gue lihat lo yang paling pendiam,” ucapnya yang seakan-akan tahu sifatku.
     Aku memang orang yang paling pendiam di kelasku. Hanya berbicara seperlunya saja. Aku memang tak terlalu suka dunia yang—ya yang terlalu dibawa candaan. Tapi, entah mengapa aku bisa menerima candaan dari Tegar. Entahlah apa yang sedang merundungku sekarang. Mungkin karena bantuan tangannya ini.
     “Gue kelihatan anti sosial?” tanyaku yang entah ingin mengulang atau memang ingin menghindari jawaban.
     “Kan tadi gue udah bilang, kan?”
     Sial. Mengapa ia bisa membuat diriku tak bisa berkata lagi?
     Aku langsung menghindari tatapan matanya. Kemudian, memainkan kuku-kuku jari. Hei, aku baru menyadari bahwa jariku cukup kecil.
     “Jangan dibawa serius. Santai aja. Kalau nggak mau jawab, ya nggak apa-apa. Nggak ada paksaan kok di sini,” ucapnya dengan santai sambil mengulaskan senyum yang terlukis di bibirnya. Baguslah, jika ia tak memiliki sifat paksaan.
     Kemudian, kami berdua saling terdiam. Entah, sibuk melirik ke arah yang berbeda. Menyibukkan diri dengan mungkin mengetuk-ngetukkan sepatu ke arah bumi, atau pun melihat ban motor sedang di ganti.
     “Oh ya, rumahlo di mana?” tanyanya yang sempat menyentakkan diriku. Hei, mengapa tiba-tiba saja ia menanyakan rumahku? Memangnya ada urusan?
     “Daerah cipedak.” Pendekku.
     Hei, mengapa aku menjawab pertanyaannya? Bodoh.
     Ia hanya  ber-oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, tiba-tiba saja ia menyentakkanku lagi untuk yang kedua kalinya.
     “Eh, lewat halte kelinci, nggak?”
     Halte kelinci? Sepertinya aku pernah mendengarnya. Hei, bukankah halte kelinci adalah halte yang sering kulewati jika ingin berangkat sekolah? Dan jika aku pulang sekolah atau pulang les pun, aku melewati halte tersebut.
     Aku mengangguk karena aku memang melewati halte tersebut.
     “Nanti gue boleh nebeng nggak? Sampai halte aja kok. Lo lewat kan?”
     Hei, siapa ia yang tiba-tiba saja meminta untuk menebengi motorku baru kenal saja hari ini. Tetapi, bukankah seharusnya aku berterima kasih karena bantuannya ini? Setidaknya, aku bisa mengantarnya hingga halte tersebut sebagai tanda terima kasih.
     Aku hanya mengangguk, tak apalah. Anggap saja sebagai balas budi.
     Tak berselang waktu lama, sepertinya penggantian ban motorku sudah selesai. Namun, ketika aku ingin mengeluarkan dompetku, Tegar justru menahannya. Menyuruhku untuk tak usah mengeluarkan uang.
     Sepupu Tegar datang menghampiri kami berdua. Ia sendiri yang bilang, tak usah membayar. Alasannya hanya karena aku adalah teman Tegar, jadi aku tak perlu membayarnya. Mengapa orang ini baik sekali? Padahal, aku berkenalan dengan Tegar saja baru kali ini.
     Aku pulang dengan ucapan terima kasih tentunya. Namun, kini yang menjadi kendala adalah, siapa yang akan menyetir motor ini? Jika aku, masa aku sebagai perempuan harus membonceng laki-laki? Dan jika yang membonceng Tegar, bagaimana posisi dudukku? Aku hanya memakai celana ketat tak sampai selutut. Dan aku tak mau duduk seperti itu.
     “Sini, gue yang nyetir.” Ucapnya dengan tangan yang menengadah ke arahku. Mengapa tangannya seperti meminta-minta sesuatu? Ah, bodoh. Ia pasti meminta kunci motorku.
     Baiklah. Satu pertanyaan sudah terjawabkan. Dan bagaimana dengan pertanyaan selanjutnya?
     “Kalau nggak bisa duduk biasa, duduk samping aja. Gini-gini gue bisa kok,” omongnya dengan tangan yang menunjukkan dirinya sendiri, sembari mengeluarkan senyumannya. Mengapa dengan mudahnya ia memberikan sneyumannya ke orrang lain, seperti halnya aku?
     Aku mengedepankan tasku sendiri, biar aku duduk tak terlalu menyulitkan, makanya, aku memangku tasku sendiri. Kemudian, memegang bagian besi motor dekat ujung jok belakang yang entah, aku tak tahu apa namanya. Tak ada lagi benda atau apa pun yang bisa kupegang untuk keselamatanku sendiri.
     “Nggak ada pegangan ya? Kalau nggak mau pegang pundak gue, pegang baju gue aja. Seenggaknya, kalau lo jatuh, gue juga jatuh dari motor ini. Biar sama-sama dapat imbasnya gitu,” ucapnya dengan tambahan tawa sumbangnya. Mengapa orang ini tahu dengan apa yang sedang ingin kuperbuat?
     Jalan pintasnya adalah aku memegang baju bagian pinggangnya. Mungkin, jika aku memegang pundaknya, aku dikira sedang menaiki motor ojek.
     Di perjalanan, kami berdua tak saling mengisi obrolan. Sibuk dengan pandangan masing-masing. Aku sibuk memangdangi arah bagian kiriku yang masih ramai akan orang. Sedangkan Tegar, tentu saja ia disibukkan dengan jalan raya.
     Dan entah apa yang membuat diriku mendekatkan diri ke punggung Tegar. Aku seperti merasakan sesuatu yang hangat dari punggung Tegar. Ayah. Punggung ini sama persis dengan punggung Ayah ketika aku sedang diboncengi oleh Ayah. Seringkali, aku trtidur di punggung Ayah jika aku diboncengi olehnya. Dan itu terjadi sekarang, ketika aku tertidur di punggung Tegar. Betapa memalukannya diriku ini.
     “Lin? Bangun Lin, kita udah sampai di halte kelinci.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk tanganku yang ternyata telah melingkar di pinggangnya. Ah, mau ditaruh di mana wajahku ini? Di jalan raya?
     Aku terbangun dengan mata yang memerah. Lalu, aku baru sadari kalau tanganku sedang melingkari pinggangnya. Dengan cekat, aku langsung melepas tanganku dari pinggangnya. Lalu mengucapkan minta maaf.
     Ia hanya tersenyum melihat kelakuanku tersebut. Kemudian, ia turun dari motorku. Aku masih dalam keadaan posisi duduk menyamping.
     “Mau gue antar sampai rumahlo? Kayaknya lo ngantuk banget,” ucapnya dengan melepaskan helmku yang berada di kepalanya.
     Aku langsung menggeleng. Mengetahui kejadian memalukan itu saja langsung membuat mataku melek 1000 watt.
     Matanya menatapku seakan-akan berbicara ‘Oh, yaudah’. Kemudian, ia memakaikan helm yang sedari tadi ia sudah lepaskan dari kepalanya. Kemudian, ia pamit pulang kepadaku. Lalu mengucapkan terima kasih telah mau mengantarnya sampai ke halte ini. Dan ia pun berlalu dari hadapanku.
     Entah mengapa, sekitar 10 hingga 15 menit aku melamun menatap punggungnya yang semakin lama semakin mengecil dan hilang. Ketika hilanglah, aku baru tersadar kalau sekarang sudah malam. Pasti Ibu mencariku di rumah.

***

     Dan dimulai dari saat itulah, aku dekat dengan Tegar. Awalnya, aku memang tak sengaja bertemu dengan Tegar di halte kelinci. Ia sendiri yang memberhentikan motorku, dan ingin menumpang menuju sekolah. Apa boleh buat, dia satu kelas denganku. Mengapa harus menolak?
     Dan kejadian itu pun berangsur-angsur setiap hari. Dan entah mengapa, itu pun menjadi hal rutinitasku setiap hari. Hei, aku ini kan perempuan. Masa aku harus menjemputnya jika ingin berangkat sekolah?
     Kedekatan kami pun semakin bertambah dengan tambah rajinnya ia bermain di rumahku. Bukan. Kami berdua hanya belajar bersama. Itu pun, Ibu sangat terbuka dengan Tegar. Membiarkan anak itu bolak-balik masuk ke rumahnya. mungkin, Tegar sudah dianggap sebagai anak oleh Ibuku.
     Kosakataka kami berdua pun berubah menjadi aku-kamu. Entah, kapan itu tercipta, aku juga tak tahu. Itu terjadi begitu saja. Dan kami pun, juga tak terlalu sungkan untuk mengucapkan kosakata tersebut.
     Aku juga sering mengajaknya jalan-jalan, entah itu ke mall atau pun ke taman yang belum pernah kukunjungi. Tentu saja aku harus menjemputnya ke arah halte tersebut. Jika tidak, ia juga tak ingin menerima ajakanku. Dasar, seperti anak kecil saja.
     Aku memang sering bertemu dengan Ibu Tegar. Tetapi, hanya bertemu di tempat usaha cathering Ibunya. Aku tak pernah memijaki kakiku di rumah Tegar, sekali pun. Walaupun, kami berdua telah menjalin hubungan—entah, hubungan apa aku juga tak tahu, yang jelas, hubungan kami begitu dekat—Tegar tak pernah membolehkanku untuk mengunjungi rumahnya. Ketika kutanya mengapa, ia selalu mengalihkan ke topik yang lain. Menyebalkan.
     Suatu Sabtu, kami mempunyai janji untuk mengunjungi toko buku yang terletak di daerah mall Depok. Tentu saja aku harus menjemputnya di halte kelinci dengan motorku, karena, ia sendiri tak memiliki motor. Jadinya, aku yang harus menjemputnya. Seperti laki-laki saja.
     Kami berdua berjanji bertemu di halte kelinci sekitar jam dua. Dan sekarang, kakiku sudah memijaki halte tersebut. Sepertinya, hari ini ia akan terlambat.
     20 menit berlalu. Ia tak pernah seterlambat ini. Baru kali ini ia tak menepati janjinya. Namun, aku masih ingin menunggunya. Mungkin, ia sedang ada masalah di rumahnya, jadi ia akan datang terlambat.
     1 jam kemudian..
     2 jam kemudian..
     Hingga langit berbuah menjadi agak gelap. Tegar, kenapa kamu mengingkari janjimu sendiri?
     Dengan kesal, aku mengambil ponselku yang berada di saku celanaku. Kutekan nomor ponselnya yang sudah kuhapal, kemudian kutekan tombol hijau yang berada di bawah layar ponselku.
     Tak ada jawaban. Bahkan, ponselnya pun dimatikan. Kenapa ia semenjengkelkan ini?
     Aku mengomel-ngomel sendiri dalam hati. Kemudian, meninggalkan halte tersebut dengan mengendarai motor sekencang-kencangnya. Mengapa aku harus menungguinya kalau pun ia tak akan datang menemuiku?

***

     Keesokkan harinya, Tegar belum juga menelponku. Yang hanya bisa kulakuan adalah duduk di teras—hal yang biasa kulakukan dengan Tegar jika ingin bersantai ria hingga langit mengubah warnanya.
     Sore menjelma menjadi malam. Langit malam kali ini, sepi tanpa dihadiri gemerlapan bintang. Percuma, aku duduk di teras dengan memandangi langit yang kosong ini.
     Sebenarnya, minatku juga bukan ke arah langit tanpa bintang tersebut. Tetapi, kepada ponselku yang sedari berdering tak jauh dari jangkauan tempat dudukku. Aku tahu, itu pasti Tegar. Ia mencoba menghubungiku untuk meminta maaf kepadaku. Memangnya bisa seenaknya ia melakukan hal seperti itu kepadaku?
     Namun, mungkin karena aku ingin berbaik hati atau pun mungkin karena aku rindu dengan suaranya yang seharian ini belum kudengar. Entah mengapa, tiba-tiba saja tanganku ingin menggapai ponselku tersebut, ingin mengetahui siapa yang sedang menghubungiku. Bukan. Tak tertera nama Tegar. Aku juga tak mengenal nomor ponsel ini.
     Lalu, kutekan perlahan tombol berwarna hijau yang berada di bawah layar ponselku. Kudekatkan ponselku ke arah telingaku. Menyimak baik-baik siapa yang sedang menelponku. Mungkin saja Tegar.
     Namun, bukannya menyapa, orang yang menelponku ini justru hanya terdiam. Entah, mungkin sedang ada urusan, atau pun ia bingung ingin berbicara apa denganku, atau mungkin, ia tak sengaja menekan tombol nomor ponselku.
     “Gar?” panggilku asal tak sabar ingin mengetahui siapa yang menelponku. Dan sepertinya memang benar. Ini Tegar.
     Ia masih tetap membisu. Namun, tak berselang waktu lama kemudian, ia membalas perkataanku.
     “Lin, maafin aku. Maaf kalau aku udah ingkar janji. Maaf kalau aku udah buat kamu nunggu lama. Maaf—” namun, aku langsung menepis perkataan maaf yang terlalu banyak ia lontakan. Memangnya mudah sekali mengucapkan permintaan maaf kepadaku?
     “Udah ngomongnya?” tepisku agak kasar.
     “Lin, kamu marah sama aku?” tanyanya lembut seakan-akan benar-benar polosnya ia bertanya hal yang seperti itu. Memangnya, siapa yang tak marah jika harus menunggu seseorang hingga berjam-jam?
     “Hell—o, kamu kira aku nggak capek nunggu kamu berjam-jam? Dan tanpa ada kabar satu pun. Seengaknya kamu bisa kan, kabarin aku kenapa kamu nggak bisa nepatin janji kita? Aku capek, Gar. Waktu aku tuh bukan buat kamu doang,” ucapku yang mungkin lampiasanku akibat kejadian kemarin.
     Tegar terdiam. Tak menjawab perkataan-perkataanku yang benar-benar sedang memojokkannya.
     “Dan sekarang kamu nggak bisa ngomong apa-apa, kan?”
     Seketika itu juga, aku mematikan ponselku. Dan menon-aktifkannya. Biarkan saja ia menelpon. Bukan urusanku lagi.

***

     Keesokkan harinya, seseorang yang biasa kujemput di halte, tak menampakkan dirinya. Entah karena takut menghadapi diriku, atau pun karena alasan-alasan yang belum kupikirkan.
     Setelah sampai di sekolah pun, aku juga tak menemukan Tegar. Ah, mungkin ia akan datang terlambat. Hei, mengapa aku harus memikirkannya? Bukankah seharusnya ia adalah orang yang kubenci sekarang?
     Sampai bel masuk sekolah pun, belum ada tanda-tanda ia datang akan sekolah. Mungkin, ingin menghindari diriku. Karena, selama ini aku belum pernah berbicara kasar seperti itu kepadanya. Hei, mengapa sekarang aku lebih merasa kasihan kepadanya?
     Dan mau tahu apa alasannya ia tak masuk sekolah? Baru saja wali kelasku masuk ke kelasku untuk memberitahu bahwa Tegar sudah pindah sekolah. Ya, alasan itu. Untuk spesifikasinya, wali kelasku tak memberitahu di mana Tegar akan pindah sekolah.
     Mengapa ia begitu jahat kepadaku? Meninggalkanku tanpa ucapan perpisahan sedikit pun? Terakhir kami berbicara saja, aku sedang dalam keadaan emosi yang tak terkendali. Gar, mengapa kamu begitu?
     “Lo lagi ada masalah ya, Lin?” tanya teman sebangku yang seakan-akan tahu apa masalah yang sedang merundungku. “Tegar nggak bilang kalau dia pindah sekolah?”
     Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku juga tak menatap matanya. Tetapi, aku hanya menggeleng. Tatapanku benar-benar kosong. Tak tahu lagi apa yang harus kupikirkan mengapa Tegar melakukan hal itu kepadaku.
     “Jangan berpikiran yang enggak-enggak, Lin. Mungkin dia punya alasan tertentu.”
     Alasan? Oh, ya?

***

     Aku tak menjawab pertanyaan sapaannya. Memangnya dia kira dia siapa? Berlalu begitu saja, dan datang tanpa kupinta sedikit pun.
     “Lin, aku takut kalau kamu tatap aku kayak gitu. Aku masih manusia, kok,” ucapnya dengan senyum yang masih sangat kukenal waktu pertama kali ia pancarkan. Tepatnya, dua tahun yang lalu.
     Mengapa ia mudah sekali membaut candaan dalam keadaan yang seperti ini? Apakah dua tahun tak bertemu, tak membuat dirinya merasa canggung bertemu denganku? Apalagi, terakhir kali kami berbicara, aku sedang merasa emosi dengannya.
     “Kamu masih marah sama aku?” tanyanya benar-benar polos.
     “Kamu kok nyebelin banget sih, Gar? Kamu kira emangnya gampang buang kamu dari pikiran aku begitu aja? Dua tahun nggak cukup, Gar. Kamu kira aku ngapain di sini? Cuma mikirin kamu, yang pergi nggak pernah bilang perpisahan sedikit pun ke aku. Dan dalam dua tahun ini kamu pun nggak kasih kabar kamu ada di mana.”
     “Aku kira kamu nggak akan kangen aku,” ucapnya sembari dengan senyuman yang terlukis di bibirnya.
     Aku langsung membuang tatapannya dengan kesal menuju jendela besar yang kini telah dipenuhi dengan titik-titik embun cipratan hujan di langit.
     “Kamu nggak kasih kesempatan aku buat bicara, Lin,” lanjutnya yang membuat kepalaku langsung tertoleh ke arahnya. Kesempatan? Ia saja tak pernah menelponku dua tahun terakhir ini.
     “Lin, kalau aku cerita, kamu janga sedih ya?”
     Aku tak menjawabnya. Namun, mataku masih menatapnya. Menunggu cerita apa yang akan dilontarkannya sebagai alasan mengapa ia pergi meninggalkanku.
     “Hari Jumat, sebelum kita pengin janjian ke toko buku di hari Sabtu, kamu masih ingat kan, kamu antar aku ke halte kelinci?” aku hanya mengangguk tanpa berbicara. “Kamu tahu, kenapa aku nggak pernah bolehin kamu main ke rumahku?” kali ini aku menggeleng.
     “Gang menuju rumahku itu sepi, Lin. Tapi, di sana masih banyak preman yang berkeliaran. Aku nggak mau, kamu ditodong sama kayak aku. Makanya, terkadang kalau pulang sekolah, aku ke tempat cathering Ibuku. Aku juga tahu kapan jadwal mereka ada di gangku itu. Makanya, aku sering banget main ke rumahmu sebenarnya untuk menghindari preman itu. Sekaligus aku nunggu Ibu untuk pulang bareng.”
     Ditodong? Selama ini ia tak pernah bilang kepadaku.
     “Dan Jumat itu, aku salah perkiraan. Aku sempat main ke rumah kamu waktu itu, kan? Ternyata, preman itu ada di gang itu. Mereka nodong aku lagi, Lin. Aku nggak bisa apa-apa. Karena aku juga nggak megang uang sama sekali. Jatah bulananku habis.”
     Ya Tuhan—mengapa selama ini aku baru mengetahuinya?
     “Karena aku nggak punya uang, ponselku diambil Lin. Nggak ada jalan lain. Karena mereka belum puas, mereka periksa tasku. Barangkali, ada barang yang berharga. Kamu tahu sendiri kan, aku nggak pernah bawa barang-barang elektronik selain ponsel?”
     “Gar, kenapa kamu nggak pernah bil—” selalu saja, perkataanku ditepis olehnya.
     “Dengar cerita aku dulu, Lin. Mereka nggak puas, akhirnya mereka main kasar. Aku juga nggak nyadar ternyata salah satu dari mereka bwa pisau kecil. Mana bisa sih, aku lihat pisau sekecil itu? Apalagi kejadiannya udah malam, kan?”
     Aku benar-benar terdiam kali ini. Membayangkan bagaimana peristiwa itu terjadi.
     “Dan pisau itu kena perut bagian kananku, Lin. Sakit, sakit banget. Tapi, lebih sakit kalau aku lihat kamu jenguk aku yang dalam keadaan kayak gitu, terus kamu nangis.” Tegar terdiam sebentar, mengatur deru napasnya.
     “Aku pingsan, Lin, di tengah jalan. Aku udah nggak tahu lagi apa kejadian selanjutnya. Yang kutahu, aku udah ada di rumah, dan luka balutan seadanya di luka perutku ini.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah perut bagian kanannya.
     “Hari kita janjian untuk pergi ke toko buku, aku masih belum bisa gerak Lin, masih terasa sakit. Dan entah kenapa, Ibu packing baju aku semuanya. Aku juga nggak tahu mau dikemanain. Dan katanya, aku mau dibawa ke rumah Mbahku di Semarang sana, daerah yang lumayan terpencil dan jauh dari kota, jauh juga dari ancaman preman, terus jauh juga dari kamu, Lin.”
     Aku sempat nolak, Lin. Tapi, Ibu nggak ngebolehin. Di Semarang, aku juga sekalian ada pengobatan alami gitu. Yaudahlah, aku nggak mau bantah kata Ibuku, makanya aku mau pindah rumah sekaligus sekolah. Tapi tenang Lin, aku nggak pindah hati kok,” ucapnya dengan senyum sumringah ditambah dengan tawa khasnya.
     “Aku berangkat Minggu Malam Lin. Dan aku maksa diriku sendiri buat nunggu di depan halte kelinci dari siang. Mungkin aja kamu lewat. Dan ternyata enggak. Terus, aku nelpon kamu dari ponsel Ibu. Aku senang kamu mau nerima telponku. Hebat ya, kamu bisa tahu kalau itu aku yang lagi nelpon kamu. Padahal, aku belum ngomong lho, kalau itu aku.”
     Tapi, kamu belum kasih aku kesempatan untuk aku ngomong, Lin. Aku tahu, kamu pastinya marah. Tapi mau gimana lagi? Di Semarang, aku juga nggak bisa nelpon kamu karena di sana sinyalnya nggak pernah bagus.”
     Entah mengapa, tiba-tiba saja ada tetesan yang mengalir di pipiku. Bukan hujan. Tetapi memang air mataku. Ternyata, selama ini aku memang salah mengartikan kepergiannya yang tiba-tiba begitu saja. Semua ini memang salah paham. Bukan. Semua ini memang salahku yang terlalu egois karena amarahku sendiri.
     Tegar langsung mengusap air mataku menggunakan ibu jarinya.
     “Lin, aku bilang jangan nangis,” ucapnya kini dengan nada yang agak pelan.
     “Maafin aku, Gar,” ucapku tanpa menatap ke arahnya.
     Tegar langsung menelungkung kedua tanganku yang kuletakkan di atas meja menggunakan kedua tangannya.
     “Tapi, kamu percaya kan dengan omonganku?”
     Aku mengangguk perlahan. Kemudian, Tegar mengangkat daguku, ia tersenyum ke arahku. Lalu, dengan tangan usilnya, ia memberantaki poniku. Namun, kali ini aku tak langsung membenahinya. Aku hanya membalas senyumannya yang mungkin tak akan pernah lagi kulepaskan.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Selamat Ulang Tahun, dan Sampai Jumpa

Sunday, April 14, 2013 By astaghiri 0 Comments
     Deru napasnya terdengar sesekali. Melihat orang-orang yang berlalu lalang dari hadapannya. Tak ada seorang pun yang menyapanya. Mungkin teman-temannya masih merasa kesal dengan perbuatannya yang lalu. Selalu mengerjai teman-temannya. Tak pernah yang tak terkena getah dari Rama. Bagaimana ia ingin berbuat kebaikan? Teman-temannya saja sedang menjauhinya.
      Inisiatif yang harus ia jalani adalah memulai menyapa temannya. Namun tetap saja. Berkali-kali teman-temannya menghiraukannya.
     "Eh, Dian.." sapanya ramah. Dian sempat menghentikan langkahnya, menatap tajam Rama. "Mau dibantu bawain proyektornya?"
     "Nggak butuh!" jawab Dian cetus. Kemudian ia meninggalkan Rama di tempat.
     Rama menghela napas. Niat baiknya sama sekali tak terbaca. Sesekali melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. Waktunya tinggal 63 jam lagi. Waktunya semakin lama semakin menipis. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain bernapas dan melamun.
     Bel berbunyi nyari. Pelajaran matematika dimulai. Setidaknya dengan ia terdiam, ia tidak melakukan sebuah dosa. Guru matematika itu pun melangkah kakinya masuk ke dalam kelas dengan santainya, dan mulai mengajar. Baru kali ini, Rama serius dalam belajarnya.
     "Rama, tolong kamu isikan tinta spidol. Tinta spidol Ibu udah abis." pintanya.
     Dengan langkah lemas tetapi dalam hatinya begitu senang. Akhirnya ia bisa melakukan kebaikan.
     "Awas Bu, bukannya nanti diisi tinta malah diisi air got lagi," canda Gildan. Membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak, termasuk Rama.
     "Haha.. ya enggak lah, masa gue segitunya, sih?"
     Namun tiba-tiba saja tawa mereka terhenti. Tak menganggap bahwa barusan ada yang sedang berbicara.
     Rama terdiam, lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Kemudian ia ke ruang Tata Usaha.

***

     Sehari telah berlalu. Waktunya hanya tinggal dua hari lagi. Percuma, desisnya. Yang hanya bisa ia lakukan adalah berbaik hati dengan Ibunya. Apa pun akan ia lakukan.
     "Kamu kenapa, Ram? Tumben rajin bantu Ibu," ucapnya sambil menyapu ruangan.
     Rama menggeleng, hanya membalas senyuman. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia tak tahu lagi harus bagaimana mengungkapkan perasaannya. Dua hari lagi, ia sudah tidak ada di rumah ini lagi. Meninggalkan keluarganya.
     "Udah makan?" tanya Ibunya, mencoba menyadarkan anaknya yang sedang melamun.
     "Udah kok, Bu," jawab Rama. "Ibu mau dibantu apa lagi? Biar Rama yang ngerjain."
     "Nggak usah. Kamu istirahat aja gih," ucap Ibunya lembut.
     Kemudian Rama berdiri, mengecup pipi Ibunya. Membuat Ibunya sedikit terperanjat. Rama langsung kabur dari hadapan Ibunya. Ibunya hanya menggeleng tak mengerti mengapa anaknya berbuat seperti itu.

***

     Hari kedua lebih parah dibanding sebelumnya. Tak ada seorang pun teman sekelasnya yang berbicara dengannya. Yang hanya bisa ia lakukan adalah tertidur, sambil menghitung jam. Jam kepergiannya.
     Hari ketiga, Rama tak masuk sekolah. Suhu badannya tiba-tiba saja meninggi. Badannya tak berhenti bergetar. Bibirnya mulai pecah-pecah. Mulutnya selalu berkata menggigil. Padahal suhu disaat itu normal.
     Ibunya lebih khawatir lagi. Ia terus memeluk tubuh anaknya yang bergetar. Keringat yang keluar dari tubuh Rama, dirasakan oleh kulit Ibunya. Ada apa dengan anaknya?

Di sekolah

     "Udah pada siap semua?" tanya mencoba melihat persiapan.
     Jam sudah menunjukkan pukul 6.15 pagi. Tak biasanya Rama datang setelat ini. Dilihatnya keluar kelas, belum ada tanda-tanda Rama akan masuk ke kelas. Akhirnya semua temannya menunggu di dalam kelas. Karena semua temannya sudah masuk ke dalam kelas, orang terakhir yang membuka pintu kelas pasti adalah Rama.
     Perlakuan teman-temannya memang cukup keterlaluan. Namun, itu semua hanya sebuah candaan. Candaan untuk mempersiapkan ulang tahun Rama.
     Akting Dian waktu itu pun, cukup membuat Dian tertawa sendiri tanpa sepengetahuan Rama. Takut-takut ia tertawa saat di depan Rama.
     6.25. Tanda-tanda Rama akan masuk kelas belum ada. Teman-temannya mulai gelisah. Takut Rama telat atau bolos sekolah karena teman-temannya tidak mengacuhkannya.
     Bel telah berbunyi. Tepat jam 6.30 pagi. Teman-temannya mendesah. Mungkin Rama telat, pintu gerbang tak boleh dibuka oleh satpam. Rencana mereka gagal hari ini.
     Tak berselang waktu lama, suara hentakan kaki terdengar dari luar. Gildan sudah siap membawa kue dengan lilin yang menyala. Ia berjalan menuju depan pintu. Menyambut Rama dengan meriah. Teman-temannya juga sudah bersiap.
     Pintu terbuka lebar. Tiba-tiba saja, ruang kelas itu senyap. Bukan Rama, melainkan wali kelas mereka.
     "Duduk, semuanya." Ucap wali kelas mereka. Mereka langsung berlari menuju bangku mereka masing-masing.
     "Buat siapa kue itu?" tanya wali kelasnya, menatap kue tersebut dengan garang.
     "Buat Rama, Bu. Dia kan ulang tahun hari ini," ucap Gildan dengan riang.
     "Percuma, teman kalian sudah dipanggil sama yang Maha Kuasa," ucap wali kelas mereka sambil menyeka air matanya.
     Mereka semua dibuat bingung. Masih mencerna perkataan wali kelas mereka. Mereka mulai bertanya-tanya, ingin mendapat penjelasan atas semua ini.
     Tepat jam 6 pagi tadi, wali kelas mereka ditelepon oleh orangtua Rama. Tepat disaat itu juga, Rama dipanggil yang Maha Kuasa.

3 hari yang lalu

     Kelopak matanya terbuka. Hawa kali ini yang ia rasakan sangatlah berbeda. Ruangan yang ia tempati kini gelap. Sangat gelap. Tak bisa menerawang apa pun. Namun tiba-tiba saja, tengkuk lehernya terasa kaku dan merinding. Lalu keluarlah sosok dengan wajah menawan menyambut Rama. Tak pernah sekali pun Rama bertemu dengan sosok seperti itu. Bermimpi pun tidak. Sosok yang menawan itu cukup membuat takut Rama.
     "Bagaimana dengan kabarmu, Rama?" sosok dengan wajah yang menawan itu menyapa dengan ramah. Menambah rasa mengerikan bagi Rama.
     "Siapa kamu?" pertanyaan itulah yang pertama kali terlontar dari mulut Rama. Ia hanya membalas dengan tersenyum. Cukup lama membuat jeda. Matanya yang halus menatap seakan berbicara, 'Kau tak perlu tahu siapa diriku sebenarnya'.
     "Mau apa kamu datang ke sini? Apa kamu ingin mencabut nyawaku?" sosok itu tersenyum lagi, kemudian menggeleng.
     "Kau sangat beruntung, Rama. Hanya orang tertentu yang memiliki kesempatan ini."
     "Kesempatan? Kesempatan apa?" tanya Rama bingung.
     "Tuhan  telah memberikanmu kesempatan hidup, hanya 3 hari. Kau harus mempersiapkan bekalmu, berbuat baiklah kepada orang lain."
     "A-aku akan mati?" tanya Rama semakin cemas.
     "Semua manusia akan kembali kepada Tuhannya. Pergunakanlah hari-hari terakhirmu dengan sebaik-baiknya."
     "Ta-tapi.."
     Namun, tiba-tiba sosok dengan wajah yang menawan itu menghilang dari penglihatan Rama. Dahi Rama dipenuhi dengan bulir keringat. Tiba-tiba saja terdengar suara yang mendengungkan telinganya. Cukup membuatnya terperanjat dari tempat tidurnya. Suara Ibunya yang melengking cukup membuat dirinya terjatuh dari tempat tidurnya, lalu ia langsung lari maraton menuju kamar mandi. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.

Di sekolah, kelas mereka

     Kelas mereka begitu sepi. Namun, tiba-tiba saja terpecahkan oleh suara tangis, semakin mengeras. Mereka menyesal telah melakukan ini terhadap Rama.
     Wali kelas mereka membiarkan mereka menangis. Benar-benar pagi yang basah. Penuh dengan deru napas yang tak beraturan.
     "Rama bilang untuk terakhir kalinya, dia ingin minta maaf sama kalian semua, tolong, maafin dia, biar dia bisa bebas," ucapnya getir. Membuat deru tangis muridnya semakin mengeras.
     10 menit..
     20 menit..
     Tangis penyesalan mereka belum berhenti. Akhirnya, Gildan melangkahkan kakinya, menuju depan kelas dengan membawa kue tersebut. Matanya merah, pipinya basah, rambutnya acak-acak.
     "Happy birthday Rama, happy birthday Rama, happy birthday happy birthday happy birthday Rama..."
     Tangis mereka tersendu-sendu. Kemudian, Gildan meniup lilin tersebut.
     "Sampai jumpa kawan, kami semua menyesal, kami harap, elo bisa maafin kami. Semoga elo tenang disana, Ma," ucap Gildan terakhir.
     Yang diujung hanya bisa tersenyum senang. Bahagia melihat semua ini. Kemudian sayapnya mengembang, mengajaknya untuk pergi dari dunia. Terimakasih atas kejutannya, kawan.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Pengorbanan yang Terbayar

Sunday, April 7, 2013 By astaghiri 0 Comments
     Tuk! Satu kepalan tangan berhasil mendarat di ubun-ubun Sarah. Terdengar suara tawa dari arah belakang. Ia sudah tahu pasti pelakunya. Abiyan. Teman masa SMP-nya. Sarah hanya mengaduh sambil mengelus-elus kepalanya.
     “Kok nggak ngomel-ngomel sih, Sar?” tanya Biyan yang tawanya tiba-tiba berhenti.
     “Buang-buang energi!” cetus Sarah sambil melahap baksonya.
     Tanpa meminta izin terdahulu kepada Sarah, Biyan langsung menyendok satu bakso berukuran sedang yang berada di mangkuk Sarah dan langsung melahapnya. Tangan Sarah menggeram. Ia menghela napas, mengingat Biyan sering berkelakuan seperti itu.
     “Biy, temen sekelas gue ada yang suka sama lo,” ucap Sarah sambil menengguk air mineralnya.
     “Orangnya yang mana?” Biyan masih sibuk mengunyah bakso yang berada di mulutnya.
     Sarah mengambil ponsel yang berada di saku bajunya. Kemudian membuka galeri foto, lalu memperlihatkan foto tersebut ke arah Biyan.
     Biyan langsung tersedak. Sarah yang sedari tadi sudah siap tertawa melihat raut wajah Biyan yang memerah. Biyan langsung menyambar air mineral Sarah dan menengguknya. Bukannya Sarah memperlihatkan foto temannya yang menyukai Biyan, ia justru memperlihatkan foto bayi kera.
     “Saking gantengnya, lo juga disukain sama anak kera, Biy,” Sarah melanjutkan tawanya.
     Biyan masih fokus dengan air mineral yang sedang diminumnya. Sembari mengelus-elus dadanya.
     “Tau nggak? Barusan kita lagi ciuman nggak langsung dari botol ini lho!” ucap Biyan dengan enteng sambil mengangkat botol air mineral yang barusan ia minum. Ia tertawa melihat Sarah yang langsung diam terpaku.
     Refleks, tangan Sarah langsung menjitak kepala Biyan. Biyan mengaduh sambil tersenyum-senyum menggoda Sarah.
     Sarah langsung menolehkan kembali kepalanya ke arah lcd ponselnya. Lalu menyuruh Biyan untuk melihat foto yang terdapat di layar lcd ponselnya. Biyan manggut-manggut sambil sesekali memerhatikan foto itu lagi.
     “Cantik juga,” ucap Biyan sambil menguap. Jam-jam siang seperti ini memang membuat memori otaknya sering eror. “Boleh juga. Anaknya asik, nggak? Enak nggak kalau diajak ngobrol? Lemah lembut nggak?”
     Sarah banyak mengangguk utnuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Biyan. Raut wajah Biyan terlihat senang. Sarah menghela napas. Kali ini, ia harus mengorbankan perasaannya lagi.
*** 
     Seringkali, Sarah mengorbankan perasaannya hanya karena temannya. Teman-temannya tahu, bahwa Sarah memang dekat dengan Biyan. Maka dari itulah, banyak yang meminta Sarah untuk sekedar berkenalan dengan Biyan.
     Yang tahu perasaan Sarah hanyalah ia dan Tuhan. Ia tak mengerti mengapa ia mau mengorbankan perasaannya. Perlahan menggores sisi hatinya. Tapi tak pernah merasa benci terhadap Biyan. Biyan nggak salah, batin Sarah.
     Lamunan Sarah dikagetkan oleh gadis berambut hitam sebahu itu, Hanna.
     “Gimana, Sar? Ada tanda-tanda Biyan suka nggak sama gue?” tanya Hanna sembari mengembangkan senyum simpulnya.
     Sarah mengangguk pasrah sambil terpaksa tersenyum. Terlihat sangat jelas, Hanna memancarkan senyum kebahagiaan, yang tentunya tidak dapat diberikan kepada Sarah.
     Tiba-tiba bangku Sarah langsung dihampiri oleh Biyan. Biyan datang dengan senyum manisnya. Hanna langsung membelalakkan matanya karena tidak percaya kalau Biyan sudah ada dihadapannya.
     “Sar, minjem catatan fisika dong,” pinta Biyan kepada Sarah.
     Sarah sedang memikirkan taktik untuk membantu Hanna. Sarah beralasan bahwa catatannya tak lengkap. Ia langsung melirik Hanna agar dapat berbicara.
     “Oh iya, gue ada catatannya. Ma—mau?” tanya Hanna dengan ragu.
     Biyan langsung memanggut sambil memancarkan senyumannya. Hanna langsung berdiri dari tempat duduk Sarah, kemudian mengambil buku catatannya.
     “Eh, itu cewek yang tadi lo tunjukin bukan sih? Lumayan cakep Sar!” senggol biyan menggunakan sikutnya. Sarah terlihat kesal dan langsung memukul lengan Biyan. Biyan meringis.
     “Nih bukunya,” ucap Hanna selembut mungkin.
     “Oh iya. Makasih ya, Hanna,” ucap Biyan sambil menyimpulkan senyumnya kembali.
     Hanna diam terpaku melihat kepergian punggung Biyan. Tak lama, senyum terpancar dibibirnya. Ia langsung histeris sendirian. Sarah menutup telinganya, sekaligus menutup matanya agar dapat cepat melupakan kejadian ini.
*** 
     Sarah melangkah dengan lunglai. Barusan ia mendengar kabar bahwa Hanna akan pulang dengan Biyan. Secepat itukah?
     Ia melangkahkan kakinya menuju gerbang depan sekolah. Tetapi ia langsung menghentikan langkahnya. Punggung itu sangat ia kenali, Biyan. Sarah langsung mengambil napas agar terlihat normal. Ia mencoba menghampiri Biyan.
     “Biy, nggak jadi nganterin Hanna pulang?” tanya Sarah dengan nada lembut. Biyan langsung menoleh dengan wajah muram. Tak biasanya ia seperti itu.
     “Biy, lo kenapa?” tanyanya lagi ingin menunggu kepastian.
     “Kenapa sih, Sar?” bukannya menjawab pertanyaan Sarah, ia justru berbalik tanya. Membuat Sarah semakin bingung.
     “Apanya yang kenapa?”
     “Kenapa lo harus ngorbanin perasaan lo sendiri?” skak mat. Sarah tak bisa berkata lagi. “Sar, gue tau, lo sayang kan sama gue?” tanyanya sambil mempertegas lengan Sarah.
     Sarah menunduk tak tahu ingin menjawab apa.
     “Emangnya lo nggak sakit hati nyomblangin orang lain buat gue? Gue yang lo suka selama ini?” Sarah tak mengangkat kepalanya.
     Biyan mengangkat dagu Sarah agar mereka bisa saling menatap.
     “Jawab, Sarah!”
     “Iya!” tangan Sarah menggeram. “Gue emang sayang sama lo! Gue emang sering sakit hati kalau gue nyomblangin lo buat orang lain! Puas lo?!” Sarah langsung melangkah meninggalkan Biyan. Biyan langsung menggenggam tangannya.
     “Tapi kenapa..?” tanya Biyan kini dengan nada lemah.
     “Karena.. karena gue udah cukup bahagia ngeliat orang yang gue sayang bahagia sama pacarnya.”
     “Lo kira emang gue bahagia? Seneng gitu?” Sarah tak menjawab. “Selama ini gue nunggu lo! Nunggu reaksi lo cemburu atau nggak! Tau nggak sih kalau yang lo lakuin itu bikin sakit hati gue juga? Pikirin gue juga dong, Sar!”
     “Jadi lo mau apa sekarang?” tanya Sarah to the point.
     “Gue mau lo nggak usah nyomblangin gue sama siapa pun.” Ucap Biyan dengan tegas. Sarah langsung meng-iya-kan. Lalu ia beranjak pergi dari tempat itu.
     “Dan yang gue mau, lo harus jadi pacar gue sekarang. Nggak ada tapi-tapian. Gue capek nahan perasaan gue tau nggak!”
     Sarah diam terpaku mendengar perkataan Biyan. Tak lama, satu pelukan hangat mendekap tubuhnya. Pelukan hangat yang membayar semua pengorbanannya selama ini.

     Terima kasih, Tuhan. Doaku telah didengar olehnya.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

PHP atau Geer?

By astaghiri 0 Comments
     Awal Februari yang tidak terlalu menyenangkan. Langit seringkali berselimutkan dengan awan kelabu yang membuat bayangan mengabur. Tapi tidak untuk Lisa. Hati Lisa terus bergeming ketika datang hujan yang membasahi bumi terus-menerus. Suhu kali ini memang tidak sama dengan suhu yang ia rasakan 2 bulan yang lalu.

     Boscha, 18 Desember 2012

     Kala itu hujan sedang menemani langit Bandung. Menghentikan langkah kami—rombongan study tour—untuk kembali menuju parkiran bus. Jarak Boscha dengan bus yang terparkir memang cukup jauh. Untuk menempuhnya, diperlukan ojek motor.
     Suasana gelap sedang merundung langit. Jutaan air dijatuhkan oleh awan. Ditambah dinginnya suhu Bandung saat itu.
     Lisa yang hanya mengenakan baju lengan pendek merasakan dinginnya suhu saat itu. Tangannya terus-menerus mengelus lengannya agar menciptakan kehangatan. Tetapi percuma, suhu udara kali ini mengalakan kehangatannya yang menelungkup ditubuhnya.
     Orang-orang yang menunggu datangnya ojek pun mulai sepi. Sesekali menengok ke ujung jalan menunggu datangnya ojek.
     “Kedinginan?” tanya seseorang entah darimana.
     Lisa langsung mencari sumber suara. Ternyata dari arah belakang. Lisa mengangguk jujur. Desahan napasnya pun keluar membentuk gumpalan asap tipis.
     “Kenapa nggak naik ojek daritadi?”
     “Rame,” cetus Lisa sambil menggosok-gosok telapak tangannya.
     Tanpa sepengetahuan Lisa, cowok itu melepaskan jaketnya kemudian menaruhnya di punggung Lisa. Lisa langsung tersentak kaget.
     “Kasian gue ngeliat lo. Tapi pake aja deh, mumpung gue pakai baju lengan panjang,” omongnya dengan santai.
     “Gimana gue balikinnya? Kita kan nggak satu bus.” Ucap Lisa sambil menatapi mata cowok itu.
     “Kalau ada kesempatan, balikin aja.”
     Lisa langsung mengangguk lalu bergegas memakai jaket tersebut. Suhu dingin masih menelungkup di tubuhnya. Tetapi setidaknya ada usaha untuk menghangatkannya.
     “Eh itu ojek!” sahutnya. “Ladies first,” omongnya sambil menatapku ramah.
     “Eh? Nggak kenapa-kenapa nih?” tanya Lisa takut merepotkan.
     Cowok itu menggeleng, lalu mempersilahkan Lisa untuk menaiki ojek.
     Cowok yang baik, benak Lisa.
*** 
     Parfum cowok itu masih melekat di hidung Lisa. Kejadian 2 bulan lalu itu selalu membenak di pikirannya. Setelah Lisa telusuri, akhirnya ia tahu nama cowok tersebut. Diaz Raditya Pratama.
     Ternyata Diaz kelas X-7, tepat di samping kelas Lisa, X-6. Lisa tak mengerti mengapa ia terus berlaku aneh ketika melewati kelas X-7 atau pun berlalu melewati Diaz. Jantungnya selalu berdegup tak beralur. Sesekali menahan napas agar tak merasa grogi. Tapi semua yang dilakukannya nihil.
     Sering sekali Lisa mendapatkan senyuman itu dari Diaz sengaja atau pun tidak sengaja. Mereka pernah tertangkap mata saling menatap. Tak sekali, bahkan berkali-kali. Rasa suka Lisa terhadap Diaz pun semakin meninggi.
     Bel istirahat berbunyi. Raungan yang berasal dari perut Lisa membuatnya harus pergi ke kantin. Berbagai macam makanan tersaji di depan mata. Harus membeli makanan yang tak terlalu megenyangkan. Pilihannya adalah somay.
     “Sendirian?” tanya seseorang yang membuat Lisa cukup tersentak. Diaz. Napasnya sedikit tercekat.
     “Ng.. kelihatannya?” tanya Lisa sambil memiringkan kepalanya sedikit.
     “Mmh.. berdua sih, kan ada gue,” ucapnya sambil mengembangkan senyum simpulnya.
     Entah perasaan apa yang kini menyelimuti hati Lisa. Apa Lisa tak salah mendengar? Telinganya masih berfungsi kan?
     “Jangan bengong terus, diambil tuh somaynya. Emangnya mau ikutan jualan sama abangnya?” canda Diaz yang langsung membuyarkan pikiran Lisa.
     Lisa langsung mengambil somaynya. “Duluan ya, Diaz.”
     Lisa terburu mengambil langkah menuju kelas. Tak lama, Diaz memanggilnya. Sesegera mungkin ia menoleh. Dan benar, Diaz memang sedang memanggilnya.
     “Somaynya belum dibayar, Lisa..” ucap Diaz sambil terkekeh-kekeh. Dengan langkah malu, Lisa kembali ke pedagang somay tersebut dan membayarnya.
     Apakah perasaan Lisa sama dengan Diaz? Sepertinya ia menyukaiku, benak Lisa.
*** 
     Perasaan itu terus berkalut di hati Lisa. Ia tak mampu lagi menahan perasaannya itu. Jadilah ia membeberkan rahasianya ke salah satu teman terdekatnya, Rena. Perasaan senang sekaligus lega karena Lisa bisa menumpahkan perasaannya.
     Tetapi, kesenangan itu sangatlah cepat berlalu.
     “Yang gue tau, Diaz lagi pdkt sama anak kelas lain,” ucap Rena dengan berbisik-bisik.
     Lisa diam tak berkatanya. Pikirannya blank. Tiba-tiba saja napasnya sedikit memburu. Lalu ia memejamkan matanya sejenak.
     “Lo serius?” tanya Lisa untuk meyakini hatinya.
     Rena mengangguk. Rasanya bersalah sekali terhadap Lisa karena memberitahu berita miring itu. Tapi, setidaknya ia telah menyadari Lisa untuk tidak terbang terlalu tinggi dan tidak terus mengejar mimpi itu. Setidaknya mimpi itu dapat diramalkan tidak dapat terwujud untuk sekarang ini.
     “Sabar ya, Sa. Cowok nggak cuma Diaz doang kok.”
     Lisa mengangguk pura-pura mengerti.
*** 
     Lisa kesal dengan Diaz! Dasar pemberi harapan palsu! pekik lisa dalam hati. Tak tahukah Diaz jika selama ini ia telah mengambil separuh hatinya? Kini Lisa bergantung dengan Diaz.
     Karena tak puas dengan ungkapan Rena, ia mendatangi temannya, Karin, teman satu kelas dengan Diaz.
     Lisa menceritakan semuanya dengan detail. Sesekali Karin tersenyum mendengarnya, karena menurutnya memang perlakuan Diaz ke Lisa agak kurang wajar.
     “Tapi Lisa..” rasanya Lisa ingin menyumbat telinganya agar tak bisa mendengar. “Diaz begitu karena emang sifatnya. Dia itu terlalu baik ke semua orang. Ke gue juga begitu. Dia itu emang penolong banget. Ya emang kelewat wajar sih. Awalnya gue juga ngerasa di php-in. Nggak taunya gue cuma kegeeran.”
     Lisa mendesah mendengar perkataan temannya itu. Lalu tiba-tiba, datang sosok yang dikenal di mata Lisa. Diaz. Ia tersenyum melewati Lisa. Dengan senyum paksa, Lisa membalasnya.
     “Tuh, malaikat maut banget kan senyumnya?” bisik Karin sambil terkekeh-kekeh.
     Kamu memang pantas hanya untuk jadi sahabatku, Diaz.
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Perbedaan yang Menyatu

Saturday, April 6, 2013 By astaghiri 0 Comments
Ada pepatah mengatakan, perbedaan itu indah. Tetapi, mengapa perbedaan itu sulit menyatukan kita?

     Kalimat itu mulai lagi mengisi benakku ketika aku melihat seseorang yang duduk tepat di depan ku, di bangku taman. Waktu itu, pertama kali kami kerja kelompok disini.

7 tahun yang lalu..

     Entah mengapa kali ini aku merasa bosan dengan pelajaran Biologi. Guru itu terus saja mengoceh tanpa di sadari banyak murid yang mengacuhkannya. Terkecuali, Alvin. Tetap saja ia memerhatikan guru tersebut walaupun sesekali ia menguap. Aku lebih memilih untuk tidur. Untung saja aku duduk di belakang.
     Tubuhku terasa di goyang-goyang kan. Gempa? Tidak. Alvin membangunkan ku. “Azka, bangun, aku mau ngomong tentang kelompok.” Aku? Alvin merupakan salah satu laki-laki yang terlalu polos menurutku. Ia tak bisa berkata elo-gue terhadap perempuan.
     “Kenapa?” Omong ku sambil mengulat.
     “Biologi sekelompok ya sama aku? Kamu belum ada kelompok kan?” Aku menyipitkan mata sambil mengumpulkan nyawa.
     “Emangnya disuruh ngapain sama Pak Harjo?”
     “Tentang analisis gitu deh. Kamu hari ini ada waktu nggak? Kalau bisa sih hari ini.”
     Mulut ku membentuk huruf O. “Kenapa nggak kelompokan sama Bimo? Dia kan sebangku sama kamu.”
     “Hmm..dia udah sama Gerald. Yang lain juga udah berkelompok. Tinggal kita doang.”
     “Oh yaudah deh terserah.” Aku melanjutkan tidurku. Cukup lama aku tertidur, tiba-tiba pipi ku ditepuk oleh seseorang.
     Ada yang membisikku. “Azka, bangun.” Ia mengguncang tubuh ku. “Kamu dipanggil Pak Hardi tuh.”
     “Ha?” Aku langsung terbangun.
     “Azka, kamu tidur lagi ya? Pules banget. Sini sekalian tidur di depan kelas.” Semua orang dikelas menertawaiku.
     “Eh? Enggak kok pak. Cuma kecapean aja, pusing.” Aku mencoba mencari alasan. “Saya dengerin kok bapak ngajar.”
     “Oh ya? Coba bapak mau tanya. Ciri-ciri Pithecanthropus apa aja?”
     Waduh! Mata ku menoleh ke kanan kiri. Alvin? Sejak kapan ia duduk disamping ku? Aku melihat ia komat kamit. Sepertinya ia ingin membisikkan sesuatu. Ah, aku mengerti.
     “Makanannya tumbuh-tumbuhan, terus.. nah keningnya menonjol pak.”
     Pak Hardi mengangguk. “Bagus-bagus. Mari, kita lanjutkan. Jadi meganthropus..”
     Aku mengelus dada. “Makasih ya, Vin.” Sambil berbisik. Ia hanya mengangguk.
***** 
     Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Barang-barang yang tergeletak di meja ku sudah ku masukkan ke dalam tas. Saat nya pulang.
     Ketika berjalan, bahu ku dipegang seseorang. Aku langsung menengok ke belakang. Alvin.
     “Kenapa Vin?”
     “Kan kita udah janji mau ada tugas kelompok hari ini. Nggak batal kan?” Alvin memang tak suka menunda-nunda pekerjaan.
     “Masyaallah!” Aku menepuk jidat. “Maaf, Vin. Lupa. Tapi mau ngerjain dimana?”
     “Hmm taman kali ya. Gimana mau nggak?”
     “Boleh deh. Ayo.” Kami berdua berjalan menuju parkiran.
     “Azka? Kamu nggak solat dulu? Udah ashar kan?”
     “Astaghfirullah. Aku lupa. Tapi nggak enak sama kamu. Kamu mau nungguin?”
     “No problem.” Sambil tersenyum. Oh? Aku belum menjelaskan? Alvin beragama kristen protestan. Sedangkan aku islam. Aku agak salut dengannya karena ia mengingatkan ku untuk ibadah. Seharusnya aku malu karena aku tak mengingat itu.
     Tak lama, aku sudah selesai solat. Aku langsung menuju parkiran. Ku lihat Alvin sudah bersiap di motornya. Ia sedang memainkan ponselnya. Aku menghampirinya.
     “Maaf ya, Vin. Lama.”
     “Gapapa kok. Ayo. Jadi ngerjain biologi kan?” Aku mengangguk.
     “Eh tapi, aku bisanya duduk miring, kamu bisa nggak?”
     “Yaudah. Aku bisa kok.” Aku langsung menaiki motor Alvin. Kemudian kami mencari taman terdekat.
***** 
     “Azka,” Alvin menghampiri. “Nih, minum buat kamu.” Ia duduk di sampingku. “Gimana? Sampel nya udah lumayan banyak kan?” Tanya nya.
     “Udah kok. Lebih dari cukup malah.” Aku mencoba mengurutkan data. Alvin memainkan sampel daun-daunan yang kami ambil di taman tadi. “Kenapa Vin? Bosen ya?”
     Alvin menggeleng. “Enggak kok. Aku mau nanya deh. Kamu pernah ngerasain perbedaan nggak antara kamu sama seseorang? Kalo pernah, apa yang kamu lakuin?”
     “Perbedaan itu indah, Vin. Indah nya ya dimana kita bisa menerima perbedaan itu. Bukannya malah bagus ya, jadi kita nggak ngerasa bosen. Masa pendiam disatuin sama pendiam. Ya akhirnya mereka nggak akan ngomong satu sama lain. Ya kan?”
     Alvin nampak berpikir. “Iya juga sih.”
     “Ya emang menurutmu gimana?” Aku balik bertanya.
     “Hmm iya sih. Jadi, kita nggak merasa bosen. Tapi..”
     “Eh ini udah selesai. Sekarang di apain lagi?” Alvin langsung membuka buku Biologi nya.
     “Kata Pak Harjo kerjain soal-soal yang disini. Aku yang cari jawabannya deh. Kamu yang nulis ya?” Aku mengangguk.
***** 
     Semakin lama, kedekatan ku dengan Alvin semakin merekat. Banyak yang bilang kami mempunyai hubungan khusus. Awalnya itu hanya sebuah gosip belaka. Tapi di saat itu juga, Alvin menepis gosip itu. Dan akhirnya, kami resmi berpacaran.
     “...pasangan yang berbeda agama ini telah resmi bercerai pada tanggal 15 Agustus 2012.”
     “Padahal kan kalo nikah beda agama aja udah dosa.” Omong Mama ku.
     “Nonton gosip terus, Ma.” Ujar ku sambil membolak balik majalah.
     “Tapikan itu berdasarkan fakta. Masa nikah beda agama. Tentu dilarang dong.”
     Aku langsung berhenti membolak-balik lembaran majalah. “Gitu ya Ma?” Aku terdiam sejenak. “Dosa Ma?”
     “Ya jelas lah. Berbeda keyakinan.” Mama menatap ku tajam. “Kenapa kamu? Kok tiba-tiba cemas kayak gitu? Ada apa?”
     “Ah, enggak kok Ma. Nonton lagi tuh gosipnya di mulai lagi.” Mama semakin menatap ku aneh.
     “Ada yang kamu sembunyiin ya dari Mama?” Aku langsung menggeleng. “Mama sering ngeliat kalo kamu pulang sekolah dianterin sama cowok. Cowok kamu ya?” Mama menitik beratkan kata ‘cowok’.
     “Eh? Hmm..” Mama senyum-senyum melihat wajah ku.
     “Gapapa kok. Asal jangan ganggu pelajaran kamu.” Aku tersenyum. Tetapi.. “Agama nya islam kan? Anaknya baik-baik kan? Dia ngasih kamu motivasi nggak?”
     Duh! Kenapa sih nih gosip mesti tayangin tentang perceraian gara-gara beda agama. Aku menggerutu sendiri dalam hati. “Emangnya kenapa Ma kalo misalkan dia beda agama?”
     “Mama cuma takut kamu terpengaruh sama dia. Dan akhirnya, kamu dibawa ke agama dia.”
     “Misalkan itu nggak terjadi?”
     “Tetep aja, dosa akibatnya. Jangan bilang, kalo pacar kamu kristen?” Aku menunduk. Sepertinya Mama sudah tahu jawabannya. “Nak, Mama mohon kamu jangan berhubungan sama dia. Mama cuma takut, kamu nanti jadi berpindah agama.”
     “Tapi Alvin orangnya baik, Ma. Dia selalu ingetin Azka buat ibadah.”
     “Tapi, pasangan beda agama itu dosa sayang. Mama harap kamu dengerin omongan Mama. Walaupun orangnya baik, ada kemungkinan kamu pindah agama.” Aku terus menunduk. Aku memang tak bisa melawan perkataan Mama. “Lebih baik, kamu berteman aja.”
***** 
     “Lebih baik, kamu berteman aja.” Perkataan itu selalu mengaung di telinga ku. Aku tak tega mengatakan ‘kita berteman saja’ kepada Alvin. Selama ini ia baik dengan ku. Ia pun tak pernah mengangguku untuk beribadah.
     “Hei,” panggil Alvin. “Kok kamu diem aja?” Sambil mengembangkan senyumannya.
     Aku menggeleng sembari menyimpulkan senyumanku. “Gapapa kok.”
     “Kenapa? Kok kamu kayaknya lesu gitu? Sakit?” Aku menggeleng. “Cuci muka gih, atau wudhu biar kamu seger. Mau aku anterin?”
     “Gapapa. Alvin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”Alvin melihat muka ku aneh. Tak biasanya aku memasang muka seserius ini. “Vin, kayaknya kita nggak bisa pacaran lagi. So..”
     “Kenapa? Apa aku ngelakuin kesalahan?” Mata Alvin menatap ku tajam. Aku tak bisa membalas tatapannya.
     Aku menggeleng. “Kita beda agama, Vin. Mama aku nggak setuju. Aku nggak bisa nolak.”
     “Kamu pernah bilang gini ke aku, Perbedaan itu indah, Vin. Indah nya ya dimana kita bisa menerima perbedaan itu. Bukannya malah bagus ya, jadi kita nggak ngerasa bosen. Kamu masih inget itu kan?”
     “Permasalahannya beda, Vin. Kita bukan beda kelakuan atau sifat, tapi kita beda keyakinan.” Aku menitik beratkan kata ‘keyakinan’. Alvin terdiam sebentar.
     “Apa aku harus pindah ke agama kamu, biar aku bisa terus sama kamu?” Aku langsung menatap Alvin tak percaya. Kenapa ia bisa mengatakan hal seperti itu? Apa ia tak menyadarinya?
     Aku menggeleng cepat. “Vin, aku nggak mau sakitin kamu apalagi orang tua kamu. Jangan gara-gara aku, kamu jadi pindah agama. Orang tua kamu pasti sakit hati.” Skak mat. Alvin terdiam lagi.
     “Tapi aku nggak ganggu ibadah kamu kan? Aku nggak ngelarang kamu ibadah kan?” Aku menggeleng pelan.
     “Vin, maafin aku. Tapi ini udah keputusan aku. Aku harap, kamu mau nerima itu.” Aku langsung berdiri kemudian meninggalkan Alvin. Alvin tak mengejarku. Ia memilih berdiam tetap. Perlahan, air matanya membasahi bumi. Alvin, aku minta maaf.
***** 
     Aku terus saja menatap orang itu. Itu tak mungkin Alvin. Sepertinya, ia agak terusik. “Maaf, kenapa ya anda melihat saya seperti itu? Apa saya salah duduk disini?”
     Aku langsung menggeleng.”Enggak kok. Maaf.” Aku kembali sibuk dengan ponsel ku. Sepertinya, ia juga memerhatikan ku.
     “Azka? Kamu Azka kan? Mantan anak SMA 10 disana kan?” Aku kembali menatap nya. Darimana ia tahu? “Azka, kamu nggak inget aku?”
     Aku menyipitkan mata. Garis-garis wajah itu, sepertinya aku mengenalnya. Alvin? Ah tak mungkin. Masa ia membaca Al-Quran begitu lancar?
     “Aku Alvin, Azka. Kamu nggak inget? Masa kamu lupa ingatan?” Ia tersenyum pada ku. Apa aku bermimpi? Bukankah semenjak kejadian itu ia pindah sekolah?
     “Alvin? Tapi..”
     “Kenapa? Aku banyak perubahan ya?”
     “Ka—kamu pindah agama?” Alvin mengangguk tanpa ragu. “Tapi..”
     “Tenang. Ini emang kemauan aku kok. Semenjak aku pindah sekolah, aku mencoba mempelajari agama kamu. Dan ternyata, agama kamu itu indah.”
     “Orang tua kamu?”
     “Mereka juga pindah ke Islam. Mereka juga ngerasain kok, mereka ngerasa lebih tentram.” Huh..baguslah. Bukan karena aku ia ingin pindah agama. Tapi, ini juga merupakan berita bagus.
     “Tapi, aku juga pindah agama karena kamu.” Aku langsung menatapnya. “Sekarang, perbedaan kita udah bersatu kan? Jadi, aku bisa ngelamar untuk jadi pemimpin hidup kamu kan?”
Continue reading
Share:
Views:
Cerpen

Mimpi Buruk - Cincin Perak

By astaghiri 0 Comments
Rasha meraba ranjangnya dengan mata yang sempurna tertutup. Tidurnya terganggu akibat dering ponsel yang mungkin sudah ketiga kalinya berbunyi. Setelah mendapatkannya, Rasha mengintip layar, kemudian men-swipe bulatan hijau, mendekatkan ponsel ke arah telinganya.

"Kenapa, babe?" sapa Rasha dengan parau.

"Baru bangun, yang?" sahut di seberang, Candra. "Ini udah jam 10, my baby. Kebo banget sih lo."

Rasha berdesis. "Aku baru tidur subuh tadi, ya. Kalau bukan karena Fiko that son of a bitch, aku bisa tidur dengan tenang dari jam 9 malam."

"Pernah ada rasa cinta
Antara kita kini tinggal kenangan."

Rasha mengernyit, sadar kalau sepertinya Candra sedang berada di tempat umum karena mendengar nyanyian pengamen yang terdengar creepy di telinganya.

Bukan apa-apa. Rasha pernah membaca artikel bahwa lagu itu dibawakan oleh penyanyinya untuk pacarnya yang sudah meninggal, kan?

"Kamu lagi di mana, sih?" Rasha memberanjakkan punggungnya dari ranjang, menggaruk lehernya yang gatal.

"Ini aku otw ke apartemen kamu. Sana mandi, biar seger."

"Oh. Oke. Kalau udah sampai di stasiun, kabarin aku, ya."

"Okay. Bye, babe. Love you."

"Love me too."

Candra berdecak, membuat Rasha terkekeh. "Ck. Dasar."

Setelah itu, Rasha memutuskan sambungan telepon, menggeser pantatnya menuju pinggir ranjang, meletakkan telapak kakinya di lantai yang dingin. Dia berjalan menuju kamar mandi, menyegarkan tubuhnya dari keringat yang kembali menyerap di pori-pori kulit.

[***]

Candra menuruni angkot, menyebrangi zebra cross dan memasuki stasiun kereta. Rumahnya dan apartemen Rasha memang cukup jauh, pun Candra tidak memiliki kendaraan pribadi baik roda dua maupun empat, belum. Dia masih menabung, mungkin baru 2 atau 3 tahun lagi baru kesampaian.

Tetapi, untuk meminang Rasha, dia tidak mau menunggu lagi. Candra ingin memiliki Rasha seutuhnya. Dia rasa, dirinya sudah mapan untuk mendampingi Rasha selamanya.

Setelah menaiki kereta, Candra turun dienam stasiun selanjutnya. Sambil berjalan, dengan rasa yang tidak sabaran, Candra kembali membuka kotak beludru berwarna hitam itu. Isinya kontras dengan kotak yang menaunginya; sebuah cincin perak dengan ukiran C&R pada bagian dalamnya.

Tanpa sadar, cincinya jatuh, menggelinding dan turun ke badan rel karena seseorang menabraknya dari belakang. Dia berdesis marah pada seorang pria yang bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali untuk minta maaf.

"Mas! Kalau jalan pakai kaki, lihat pakai mata! Udah nabrak, nggak minta maaf pula!" ucap Candra dengan keras, membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. "Anjinglah," desisnya yang kemudian mencoba mengintip jalan kereta untuk mencari cincinnya.

Pria itu mendekati Candra, berdiri di belakangnya. "Oke, gue minta maaf."

Namun, yang dilakukannya membuat semua orang di sana menutup mulutnya. Pria itu menendang pantat Candra sehingga Candra jatuh ke badan rel. Dia mengerang, pinggangnya tertusuk besi jalur kereta, sebagian tubuhnya juga terakupuntur batu-batu kerikil di sana.

"Sini lo, bangsat! Tai lo!" geram Candra, membuat pria itu kembali tersulut dan turun ke badan rel.

Nggak ada yang bisa menghentikan mereka, orang-orang di sana terlalu takut. Para petugas kereta juga tidak terlihat batang hidungnya.

Candra mendapat pukulan telak di hidungnya, memuncurkan darah segar. Tetapi pria asing yang sedang bertanding dengannya itu juga mendapat 'penghargaan' yang sama.

Mereka terus saja berperang dengan ego, tidak mendengar teriakan orang-orang dan para petugas stasiun yang tergopoh berlari sambil membunyikan pluit, tidak mendengar sirene kuat dari kereta. Telinga mereka pias.

[***]

Hairdryer terjatuh ketika Rasha ingin mengambilnya. Setelah menyolokkan dan menekan tombol on, hairdyernya tidak berfungsi. Dia mengernyit heran, mencoba menekan tombol on setelah mematikamnya sementara.

Tetapi sama saja, nggak berfungsi.

Ponselnya berdering, menampilkan nama Candra. Tanpa berkata lagi, dia men-swipe layar ponsel dan mendekatkannya ke telinga.

"Can, belum sampai juga? Kok lama amat?"

"Halo?"

Dia kembali mengernyit, ini bukan suara Candra.

"Ini siapa?"

"Saya dari pihak polisi, ingin menyampaikan kabar, kebetulan Ibu adalah orang terakhir di panggilan ponsel korban."

"Polisi? Korban? Maksud Bapak apa, ya?" potong Rasha langsung, nada khawatir dari pita suaranya pun mulai keluar.

"Ibu, saya mohon Ibu harus tenang. Saya butuh keterangan dari orang-orang terdekat. Mungkin Ibu bisa datang ke stasiun Tebet, sekarang?"

Tanpa berkata dan memutus sambungan telepon tersebut, Rasha berlari keluar dari apartemennya, turun menggunakan lift dengan perasaan gelisah. Dia nggak peduli dengan rambutnya yang basah. Bahkan dia juga nggak peduli bahwa dia sadar dia tidak menggunakan alas kaki.

Setelah keluar dari gedung apartemen, dia mencari ojek yang terdekat untuk menuju stasiun secepat mungkin.

Sesampainya di sana, Rasha membeku ketika melihat police line yang membentang, dikelilingi oleh masyarakat dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan kaki yang gemetar, Rasha mendekati dan menerobos orang-orang itu, memastikan bahwa Candra tidak di sana.

"Maaf, Mbak," seorang polisi bertubuh tegap menghalanginya untuk melewati garis polisi. "Mbak nggak boleh masuk, ini--"

"SAYA PACARNYA!" teriak Rasha histeris, padahal tadi dia berharap itu bukanlah Candra. Tetapi, polisi itu tampak tidak percaya. Rasha berkata dengan suara pelan. "S-saya baru saja ditelpon sama p-polisi untuk--"

"Ibu Rasha?"

Rasha menoleh ketika ada polisi lain yang datang, dia tidak tahu darimana polisi itu mengetahui namanya, mungkin dari ponsel Candra, yang itu berarti... dia tidak siap dengan kemungkinan buruk lainnya.

Rasha mengangguk kaku. "Mari, ikut saya, Bu."

Dia mengikuti polisi itu, berjalan menggigil. "Saya turut berduka, Bu--"

"Siapa yang mati?" tanya Rasha pias. "Kenapa Bapak turut berduka untuk saya?"

Polisi itu menghela napas, terbiasa dengan sikap masyarakat macam Rasha. Dia paham, walau dia tidak pernah mengalaminya. "Kalau Ibu Rasha belum mau melihat jasad Bapak Candra, kami mafhum. Kami menemukan ini, Bu," polisi itu memberikan plastik bening pada Rasha. "Ini ada di genggaman Pak Candra. Mungkin, ini milik Ibu."

Rasha menatap plastik bening itu, meniti benda yang ada di dalamnya.

Sebuah cincin perak yang berlumuran darah.

Dia terkesiap, peluh keringat membasahi tiap jengkal kulit. Kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Rasha langsung meraba ranjangnya untuk mencari ponsel, menelepon Candra untuk memastikan kabar pacarnya tersebut.

Dering pertama sampai kelima pun, Candra tetap tidak mengangkatnya. Rasha menggigit bibir. Dia merasa bahwa mimpinya terlalu nyata.

"What's up, babe?"

"Kamu di mana?"

Candra terkekeh. "Posesif amat. Aku di kantor, lah. Kenapa? Kamu lihat aku gandengan tangan sama cewek lain?"

"Not funny, Candra!"

Candra berhenti tertawa ketika mendengar Rasha terisak. "Kamu kenapa sayang? Ya ampun, aku cuma bercanda. Kamu lagi kenapa, sih? Aku lagi di kantor, sumpah. Mau aku fotoin sekarang?"

"Kamu... baik-baik aja, kan?"

"I'm fine, very fine. Ada apa?"

Rasha menghela napas lega. "Aku mimpi buruk. Ya udah, kalau udah selesai ngantor, kabarin aku."

"Makanya, jangan tidur siang bolong, nggak baca doa kali tadi."

"Bye!" Rasha mendengus, mengetuk bulatan merah di layar ponselnya dengan kesal.

[***]

Tepat di hari minggu, Candra ingin mengunjungi apartemennya, menghabiskan waktu seharian duduk berdua, menonton film sambil mengemil popcorn.

Rasha membuat panggilan ke Candra, lalu menekan bulatan loudspeaker di layar. Dia mengambil hairdryer, ingin mengeringkan rambutnya yang basah.

"Halo, sayang." Dering pertama, Candra langsung mengangkatnya. "Aku lagi di angkot, nih."

"Emangnya aku nanya?"

"Ngasih tahu doang, woy." Rasha tertawa, lalu dia mulai menyalakan hairdryer dan mengeringkan rambutnya. "Suara apaan, tuh?"

"Hairdryer. Bisa nih buat mouthdryer, biar mulut kamu nggak nyinyir terus! Hehehe."

"Yee! Nyinyiran juga kamu suka, kan?"

"Pernah ada rasa cinta. Antara kita kini tinggal kenangan."

"Kamu dengar, nggak? That song sounds creepy, right?"

Dahi Rasha berkerut, hairdryernya mati mendadak, padahal dia tidak menekan tombol off.

Tiba-tiba, dia merasa de javu. Ini... pernah dialaminya. That creepy song, hairdryer yang tidak berfungsi, Candra...

"Stay there, Can!" teriak Rasha tiba-tiba, membuat Candra kaget. "Turun dari angkot sekarang, dan balik ke rumah kamu! Jangan ke sini!"

"Kamu kenapa, sih?" tanya Candra heran.

"Just listen to me! Kamu--"

"Rasha, aku tutup dulu teleponnya. Aku lagi nyebrang, nih. Kamu jangan aneh-aneh, deh. Sampai ketemu di apartemen, babe."

Candra memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, membuat Rasha semakin panik. Tanpa kata lagi, dia keluar dari apartemen, menuju stasiun Tebet yang hanya berjarak 200 meter dari apartemennya menggunakan ojek. Dia harus lebih dulu sampai dari Candra.

Sesampainya di sana, stasiun tampak seperti biasanya. Tidak terlihat kecelakaan apapun atau bahkan police line seperti pada mimpinya.

Candra sama sekali tidak bisa dihubungi, dan itu membuat Rasha mawas diri. Dia mencoba menenangkan diri dengan terapi bernapas, bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan mimpinya hanyalah sebuah mimpi.

Rasha terus menunggu. Pantatnya terus terangkat dari kursi tunggu ketika kereta berhenti di stasiun itu. Namun nihil, Candra tidak menunjukkan batang hidungnya.

"Sha?"

Rasha membalikkan tubuh, dia hampir menangis ketika melihat ternyata Candra sudah berdiri di belakangnya, dia masih hidup.

Rasha memeluk Candra, hampir saja pria itu limbung kalau dia tidak memegangi pinggang Rasha.

"Kamu kenapa, sih? Rambut juga lepek gini," Rasha melepas pelukannya, menyeka air mata yang terlanjur keluar. "Lah? Nangis? Cengeng."

Rasha memukul pelan dada Candra, lalu benar-benar melepaskan pelukannya. "Where's the ring?"

"What ring?"

"Just give me the ring!" Rasha menengadahkan tangannya.

"Tapi, darimana kamu tahu?"

"Give that damn ring, Candra. You aren't romantic men, anyway," Rasha terkekeh, masih menengadahkan tangannya.

Candra berdecak, mengalah, mengambil kotak beludru hitam dari tas punggungnya. Lalu memberikannya pada Rasha.

"Ya pasanginlah, keleus."

"Malas ah kalau kamu ternyata udah tahu," Candra ngambek, membuka kotak tersebut, menyuruh Rasha memakainya sendiri. "Toh kamu terima aku, kan."

Rasha nyinyir, dia mengambil cincin di dalamnya dan memakainya di jari manis. "Iya, aku terima. Makasih, sayang."

"Nggak peluk dulu, nih?"

"Tadi udah meluk, wek!"

Rasha berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Candra yang terdiam di tempatnya. For God's sake. Ini lamaran paling tidak romantis yang pernah ada. Apa-apaan ini? Kenapa Rasha bisa tahu?

Candra berjalan lebih cepat, bersampingan dengan Rasha. Mereka berdua keluar dari stasiun.

"Kamu tahu darimana, sih?" tanya Candra yang kemudian menautkan tangan mereka berdua. Candra mengintip sebentar pada tangan tautan Rasha, dia memasang cincinnya di sana. Pada akhirnya, dia senang juga kalau Rasha menerima lamarannya.

Lalu dia menoleh kanan kiri, memastikan tidak ada kendaraan yang lewat karena ingin menyebrang.

"Ceritanya panjang, nanti aku--"

"AAAAAAAAAKH!"

"JANGAN KABUR LO BANGSAT!"

Tubuh mereka terpental sejauh 10 meter, tidak menyadari bahwa mobil sedan sedang melaju cepat ke arah mereka. Para orang-orang di sekitar berlari mendekati kedua korban tabrak lari yang mulai merembeskan darah dari pakaian.

Rasha dan Candra saling menatap, tersenyum, tangan mereka tidak terlepas.

Continue reading
Share:
Views:
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments ( Atom )

Hi, you!

Hi, you!

Blog Archive

  • ▼  2017 (3)
    • ▼  September (1)
      • Intro Perkuliahan
    • ►  July (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (3)
  • ►  2013 (24)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  May (1)
    • ►  April (5)
    • ►  January (4)

Labels

CAKES! Cerbung Cerpen Imajinasi Travel Trip

Wanna be my mate?

© 2016 Astaghiri | All rights reserved
Created By Responsive Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates