Astaghiri

  • Home
  • CERPEN
  • CERBUNG
  • CAKES!
  • Trip
Showing posts with label Cerbung. Show all posts
Cerbung

Sorry, mate. [4]

Thursday, July 27, 2017 By astaghiri 0 Comments




Kita berdua sampai di 21 paling akhir. Gue dan Titi maksudnya. Tanpa banyak ngomong lagi, kita langsung masuk ke teater dan kedapatan bangku baris kedua dari atas bagian tengah. Untuk masalah tempat duduk... Amel duduk menjauh dari dua manusia roman itu. Titi yang tadinya diajak Vina untuk duduk di sampingnya, tempat duduknya langsung gue serobot. Jadinya, Titi duduk di antara gue dan Amel. Dan gue yang bakal jadi nyamuknya.

Sumpah. Gue ngerasa awkward banget dalam posisi yang kayak gini. Gue benar-benar nggak bisa konsen dengan film yang terputar di depan gue. Sesekali, gue ngelirik ke arah Vina yang sepertinya memang kurang nyaman dengan posisi duduknya, entah karena gue duduk di samping dia atau karena alasan lainnya.

Ketika gue ngelirik sekali lagi ke arah Vina, dia menoleh ke arah gue. Entah kenapa gue nggak langsung mengalihkan perhatian gue dari dia, tapi gue terus memandang dia, dan begitu pun Vina.

Setelah cukup lama saling menatap, gue berdeham, kemudian berdiri dan keluar dari teater. Entah kenapa rasanya di dalam sini pengap banget. Padahal AC masih jalan. Yaa mungkin karena dua manusia roman itu.

Gue keluar dari teater dengan berdalih ke toilet. Yah, itu sih salah satu alasan yang paling logis buat keluar sementara dari teater ini. Padahal, gue hanya mencoba berhenti sebentar untuk melihat dua manusia roman picisan itu.

"Lo ngapain, Don?" Tiba-tiba Titi memergoki gue di luar teater. "Lagi nabok lo ya?"

"Nabok?" tanya gue bingung.

"Nahan boker," jawabnya yang langsung duduk di samping gue. Gue sendiri juga bingung kenapa dia keluar dari teater. "Jangan tanya gue kenapa gue keluar dari teater." Belum sempat bertanya pun, gue sudah digituin. "Kenapa Vina milih film tentang cinta-cintaan coba? Emangnya hidupnya nggak penuh tentang romans apa? Sampe enek gue ngeliatnya."

Gue hanya bisa mendengarkan celotehan Titi. Gue mau menghentikan dia, tapi dia bakal nerusin unek-uneknya.

Tiba-tiba Titi menatap gue dengan mata yang merah. Dia habis nangis? Gue yang bingung langsung kelabakan. Untung saja di sini nggak ada orang.

"Eh? Ti, Ti? Lo kenapa? Jangan nangis gitu, dong!"

"Gue capek, Don..." Titi langsung menaruh kepalanya di pundak gue, dan dia terisak. Gue yang bingung harus melakukan apa, hanya bisa membiarkan dia menangis sepuasnya di pundak gue. "Lo ke mana aja sih selama ini? Gue capek tau nggak nanggung sendiri!"

"Ini... tentang mereka berdua?"

Titi langsung mengangkat kepalanya dan menatap gue dengan kesal. "Gue lagi ngomongin monyet lahiran! Ya iyalah! Lo pikir siapa lagi?" Titi kembali menaruh kepalanya di pundak gue.

Di antara kita berempat, Titi memang suka banget curhat sama gue. Padahal, gue pikir gue nggak pernah kasih solusi yang bagus buat dia, tapi dia terus-terusan curhat sama gue. Entah masalah kecil atau masalah percintaan kayak gini.

Dengan perlahan, gue menepuk-nepuk punggung Titi, yang justru membuat dia semakin histeris. "Gue capek Don harus pura-pura baik di depan mereka, gue muka dua banget..." Gue menghela napas dengan berat. Ternyata rasa sakit hati gue nggak sesakit seperti apa yang dirasakan oleh Titi. "Tapi gue nggak mau ngerusak persahabatan ini. Sumpah, lo semua udah gue anggep kayak keluarga gue."

Gue semakin miris mendengarkan ucapan Titi. Keluarga? Tapi dalam persahabatan ini terlalu banyak yang terluka, terlalu banyak yang menjadi korban.

"Terus lo maunya gimana, Ti?" Gue akhirnya bersuara. Gue juga nggak tahu harus kasih solusi apa, karena gue sendiri terlibat dalam hal ini, tanpa mereka ketahui. Gue saja nggak bisa memberikan solusi untuk gue sendiri, gimana untuk orang lain?

"Gue mau balik jadi anak kecil, di mana gue ngerasa everything will be okay."

"Kan lo udah kecil, Ti. Masa lo mau jadi anak kecil lagi?"

"Sialan lo!" Titi langsung menabok lengan gue. Walaupun begitu, dia sedikit tersenyum.

Gue menghela napas dengan berat. Jadi anak kecil itu memang enak. Nggak punya masalah. Kerjaannya cuma makan, tidur, main, ketawa, nangis, ketawa lagi. Siklusnya selalu begitu. Beda dengan kita yang sekarang mau beranjak kepala dua. Kalau punya masalah, harus diselesaikan sendiri, dan harus menanggung akibat dari permasalahan tersebut.

"Ti, sekarang gue mau nanya sama lo." Setelah sekian lama, sekarang gue berbicara serius dengan Titi, apalagi dalam hal ini. "Lo milih perasaan atau sahabat? Mana yang lo prioritaskan?"

Titi terdiam sebentar, bahkan isakannya pun sudah nggak terasa lagi di pundak gue. "Gue milih... atau."

"Ti," gue mendesak dia.

"Berisik!" sarkas Titi yang membuat gue tersentak. Walaupun Titi yang terlihat paling lemah di antara kami berlima, tapi kalau sekalinya dia marah, dialah yang paling menyeramkan. "Orang gue lagi nangis juga, diganggu mulu, sih!"

Gue menabok pundaknya. "Jangan nangis di sini, bego! Nanti gue yang dijadiin terdakwanya!"

"Ah! Bego banget sih, lo! Orang gue udah terlanjur nangis, malah dilarang," balas Titi nggak kalah sengitnya. Ini mah nggak ada drama-dramanya sama sekali. "Bodo amat. Lagian ini kan jalan keluar dari teater, mana mungkin ada orang yang lalu lalang di sini kecuali petugasnya. Kapan sih otak lu jadi encer?"

Wah, sialan. Dia malah ngatain gue lagi. Seharusnya gue tinggal saja anak ini sendirian, bodo amat deh dia nangis kalau ujung-ujungnya malah ngatain gue.

"Anaknya siapa sih lo? Punya mulut kayak cocor bebek, heran gue."

"Anaknya Pak Romli sama Mpok Ati."

Gue langsung menoyor kepala Titi. "Eh, malah ngejawab lagi nih anak." Titi justru menyengir nggak jelas. Bagus, deh. Daripada dia tersedu terus-terusan. "Udahan belom nangisnya?"

"Bentar," Titi menyeka kedua ujung matanya. "Mata gue merah, nggak?"

"Kagak. Tapi berubah jadi ijo, kayak mata siluman uler. Hahaha."

Titi mau menoyor kepala gue. Tapi karena gue ketinggian dan dia nggak sampai, akhirnya dia cuma bisa menoyor pipi gue. "Serius nih gue! Ah! Lo kenapa tinggi banget, sih?"

"Gen gue mah berkualitas semua. Emangnya kayak elo. Udah sana ke kamar mandi, cuci muka. Muka lo kusut banget."

"Iye, iye." Titi mengucek-ngucek matanya, kemudian berbalik menuju kamar mandi.

Sebenarnya gue juga sudah mau masuk kembali ke dalam teater. Tetapi, tiba-tiba saja gue melihat Vina keluar dari teater. Gue pikir dia bakal dibuntuti oleh pacar kesayangannya. Tetapi ternyata dia cuma sendirian.

"Lho? Ngapain keluar, Vin?" tanya gue agak sedikit kaget.

"Gue khawatir sama lo berdua, takut ada apa-apa, soalnya kalian lama banget di luar. Abis ngapain, sih?" kepo Vina.

Gue hendak menjawab, tetapi tiba-tiba saja Titi sudah keluar dari kamar mandi. Dia juga kelihatan kaget begitu melihat Vina keluar dari teater. Vina mengamati raut wajah Titi yang agak sedikit kacau. Namun Titi langsung menutupinya dengan candaannya.

"Eh, sumpah! Kamar mandi ada bau beol ampe bikin air mata gue keluar! Anjir, anjir! Nggak mau lagi gue masuk ke kamar mandi itu!" Titi berlagak mengipas-ngipaskan tangannya dan menutupi lubang hidungnya. "Gue masuk dulu ya, nggak tahan gue sama baunya, masih terngiang-ngiang di lubang hidung gue."

Gue sama Vina pun ngakak dengan cerita Titi barusan, padahal gue tahu Titi sedang berbohong besar. Kemudian dia masuk ke dalam teater, meninggalkan gue sama Vina berdua.

Karena gue nggak punya alasan berlama-lama di luar, akhirnya gue memutuskan untuk masuk kembali ke dalam. "Gue masuk ke dalem, ya?"

Ketika gue belum beranjak sesenti pun dari tempat gue berdiri, Vina menahan lengan gue, tapi dia nggak menatap ke arah gue. "Gue mau ngomong sama elo, Don. Bentar aja."

Karena gue nggak bisa menolak ajakan cewek, apalagi makhluk yang bernama Vina ini, pada akhirnya gue menurut dengannya dan ikut berjalan jauh dari toilet--nggak jauh banget sih karena kita berdua masih berada di depan toilet, hanya saja sekarang kita berdua bersandar miring di tembok depan toilet.

Vina menghentikan langkah dan memutar tubuh menghadap gue. Dari wajahnya terlihat gelisah, dia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi yang dia lakukan hanyalah tergagap.

"Tarik napas, buang napas," gue menyuruhnya untuk mengontrol emosi. "Mau ngomongin apa?"

Vina mengikuti ucapan gue, lalu menatap netra heran gue. "Gue mau minta saran lo."

Sebelah alis gue sukses terangkat, merasa heran sekaligus kepo. "Saran? Apa?"

Vina menggigit bibir bawahnya, masih ragu dengan 'saran' yang ingin diminta olehnya ke gue.

"Tapi, ketika gue udah ngomong 'hal ini' ke elo, lo harus bantuin gue, Don. Gue nggak mau tau."

"Iya. Apa?" Akhirnya gue juga geregetan dengan sikapnya. Tapi tanpa sadar, gue membuat perjanjian dengannya tanpa mengetahui hal apa yang bakal terjadi ke depan jika ternyata 'hal' tersebut bisa berdampak buruk ke gue.

"Ini tentang Jaka."

Sebenarnya gue agak nggak heran kalau ujung-ujungnya Vina bakal mengucapkan nama orang itu. Dan setelah mendengar namanya diucapkan oleh gadis pelaku cinta monyet gue ini, rasa penasaran gue langsung luluh lantak ke bumi.

"Ya. Ada apa dengan Jaka-Lo itu?"

Gue agak tersentak mendengar ucapan gue sendiri. Itu refleks, karena memang pada dasarnya gue kurang suka kalau Vina membicarakan tentang Jaka, di hadapan gue. Ya, ya. Sebut saja jealous.

Dan Vina pun juga terlihat kaget ketika gue mengucapkan hal kepemilikannya, dan sebenarnya gue memang sengaja mengeraskan kata 'Jaka-Lo' seakan-akan dia benar-benar pemiliknya.

Vina menghela napas sejenak sambil menutup matanya, kemudian mengatakan, "Gue mau putus sama Jaka." Gue terkesiap, hendak memotong ucapannya namun dia membuat gerakan untuk membuat gue tidak berbicara dahulu. "Gue harus gimana, Don?"

Pengin rasanya gue ngomong, 'Ya udah, lo putus aja, dan kita pacaran'. Kelar, kan? Tapi gue nggak mau sejahat itu. Mau gimana pun, Jaka teman gue, sahabat gue. Masa gue menyarankan Vina untuk putus dengan Jaka? Titel sahabat macam apa gue? Sahabat(ai)?

"Apa alasan lo buat putus sama Jaka?"

Setidaknya, gue harus tahu kenapa Vina mau putus dengan Jaka--walau rasanya setan di hati terus berteriak menyuruh Vina putus. Gue bahkan nggak tahu perasaan gue sekarang kayak apa. Senang enggak, sedih apalagi. Flat, nggak ada rasa.

Vina menggigit bibirnya, gelisah. Lihat, bahkan dia mengucapkan kalimat tadi dengan spontanitas--yang gue juga nggak ngerti apa tujuannya. Dia nggak punya alasan, Jaka itu terlalu flawless, susah untuk menemukan alasan putus dengan Jaka. Bahkan, kalau gue jadi cewek pun, putus gue jadikan kalimat haram di kamus halaman pertama gue.

"Lo kenapa sih, Vin?" tanya gue lagi.

"Ini semua salah lo, Don," dahi gue mengernyit, membentuk gurat kebingungan. "Lo datang di saat yang sangat nggak tepat."

Oke, ini mulai terasa drama. Apa maksudnya? Kenapa gue nggak ngerti dengan ucapannya? Kenapa hati gue nggak peka? Kenapa dia ngomong kayak gitu? Dan kenapa gue masih mau meladeni Vina di sini?

Belum sempat untuk menanggapi ucapan Vina, dia memajukan tubuh, menghampiri daerah wajah gue dengan gerakan kaku. Setan, memang. Tempat ini penuh setan karena Vina dengan beraninya mengecup bibir gue, singkat.

Kecupannya memang nggak begitu terasa, tapi aliran darah gue langsung berjalan bersamaan ke jantung, terpompa kembali ke daerah lain dan menciptakan detak tak beraturan. Sialan, Vina.

"Sekarang, lo ngerti? Paham, kan?"

Gue nggak paham--bukan nggak paham dengan kelakuannya tadi--, Vina yang terlalu agresif, apa memang hati gue yang nggak peka-peka jadi harus distimulasi dengan praktik macam tadi?

"Karena elo, Don. Puas lo udah ngebuat gue malu di depan lo?"

"Gue nggak minta, Vin," bela gue.

"Gue juga nggak minta untuk suka sama lo."

Telak. Dia suka gue, dan gue masih suka sama dia. Apa susahnya untuk saling menyayangi, sih?

Ya susah, karena ada tembok Cina di hadapan lo, goblok, bisik setan penghuni kamar mandi.

Setengah sadar, gue menurunkan kepala, mendekati wajah khususnya bibir ranumnya itu. Mata gue refleks tertutup ketika bibir kami saling mengecup. Kedua tangan gue merangkum sisi wajah Vina, sedangkan tangan Vina menaik ke arah pinggang gue.

Vina kooperatif, dia sedikit membuka bibir. Namun, gue hanya berani menyesap bibirnya lembut. Frenchkiss sangatlah tidak elit dilakukan sekarang, terlalu riskan.

Sekitar 3 menit hanya saling menyesap, gue melepaskan tautan bibir, menatap manik matanya yang tampak masih terlena dengan kelakuan setan gue tadi.

"Kita backstreet, ya?"

Ucapan gue mendapat anggukan mantap dari Vina, ditambah dengan lengkung senyumnya yang membuat gue kembali mengecup bibirnya, hanya beberapa detik. Vina terkekeh setelah gue melakukan hal itu. Vina menautkan jarinya di sela jemari gue. Gue meremasnya karena baru ingat akan sesuatu.

"Tapi lo nggak boleh putus sama Jaka, Vin."

Raut wajah Vina berubah sendu, gue pun juga begitu ketika mengucapkan kalimat tersebut.

"Kenapa?"

"Nggak sekarang, Vina. Jaka bisa curiga, apalagi lo nggak punya alasan yang logis untuk putus dari Jaka, kan? Dia bakal mikir kalau kedatangan gue membuat hubungan kalian berantakan--walaupun itu memang benar." Gue menghela napas, merapikan anak rambut Vina yang mencuat di dekat telinganya. "Bisa, kan?"

Vina terdiam sejenak, kemudian pada akhirnya mengangguk. Mungkin dia baru mengerti bahwa inilah satu-satunya jalan untuk gue dan dirinya. Gue pun malas untuk bermunafik ria kalau gue nggak suka sama Vina. Rasa itu masih sama, degup yang datang tanpa diminta juga kembali terasa.

"Good girl," gue mengacak pelan rambutnya dengan sayang. "Sekarang, lo balik ke teater duluan. Bilang aja gue lagi kebelet boker, biar kalau ditanya, alasannya sama."

Vina tertawa, kembali mengangguk. "Cium dulu sini," Vina menarik leher gue dan mencium sudut bibir gue.

Gue ber-wow ria. "Anaknya Bapak Dulloh ternyata seagresif ini, ya."

Vina tersenyum malu. "Gue ke dalam dulu. Bokernya jangan lama-lama."

"Yee! Orang gue cuma boker bohongan!"

Gue mendesah ketika melihat punggung Vina semakin mengecil di penglihatan gue. Yah, mulai saat ini, sepertinya gue bakal membuka pabrik kebohongan di depan teman-teman gue sendiri.

Apa ini karena efek di depan kamar mandi?
Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

Sorry, mate. [3]

Monday, June 15, 2015 By astaghiri 3 Comments

Udah baca part 1 nya belom?
Kalo part 2 nya gimana?

***

“DONIIII! MAEN YOOOOK!” Lagi seru-serunya main PS, tiba-tiba suara toaknya Amel mencapai frekuensi yang mampu memecahkan gendang telinga gue. Yelah. Lebay amat. Tapi beneran deh. Suaranya dia bisa ngalahin toak masjid kalau lagi adzan.

“Don, siape tuh yang teriak-teiak di depan rumah?” Nyokap menyahut dari dalam kamar.

“Amel kayaknya deh, Mak,” balas gue dengan masih sibuk mencet-mencet stik PS.

“DONIIIIII!” Kali ini bukan suara Amel lagi, tapi suara cowok. Tangan gue bergerak slow motion, mencoba untuk nge-scan suara siapa itu barusan di otak gue.

“ASSAAMU’ALAIKUUUM! MAK ENDAAAH! MINJEM ANAKNYA DOOONG!” Bujet! Nih anak berani banget ngetoak di depan rumah gue. Sudah gitu manggil nama emak gue lagi. Untung saja nyokap nggak menyahut dari dalam.

Gue langsung berdiri dan keluar dari rumah. “Ngapain sih lu ter—” Bukan cuma Amel, tapi ada Vina, Jaka, dan Titi juga di depan rumah gue. Nggak salah lagi. Tadi Jaka juga sempat memangil nama gue. “—iak-teriak? What are we? Five years old?” Gaya gue sambil mengedikkan bahu.

Amel langsung melemparkan sendal jepit yang kebetulan punya bokap gue ke arah gue. Untung tangan gue cepat tanggap. Kalau nggak, tuh sendal bakal mampir ke muka gue yang ganteng ini.

“Mau ikut nggak lo?” Kali ini Titi yang angkat suara. “Jalan-jalan gratisan nih!”

“Lo nggak boleh nolak!” Vina bersuara. “Gue udah beli tiket nontonnya tau! Jadi lo semua harus ikut!”

Wah! Rejeki nomplok nih! Tapi... apa perlu gue ikut? Kalau gue ikut, gue cuma bisa jadi laler di antara Jaka dan Vina—ya walaupun si Amel dan Titi juga ikut-ikutan jadi laler kayak gue. Tapi kan kondisinya sekarang beda. Be-da.

“Duh, gimana ya?” Gue menggaruk-garukkan kepala walaupun sebenarnya nggak ada ketombenya sama sekali. Weits. Gini-gini gue pernah ditawarin jadi model iklan sampo. “Kayaknya gue nggak bisa deh. Banyak tugas nih...”

Nggak sengaja, gue melihat mata Vina agak redup. Bukannya mau geer, tapi kayaknya Vina nggak senang kalau gue nggak ikut jalan-jalan dengan mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Gue juga nggak mau cemburu. Dan gue nggak mau ngerasaian cemburu ke teman gue sendiri.

Dan satu lagi. Gue takut kehilangan kontrol. Positif dulu, man. Bukan ‘kontrol’ itu. The point is gue tahu kalau Vina suka sama gue. Taaapi, dia nggak tahu kalau gue masih suka sama dia. Dan gue takut kalau tiba-tiba mulut ini nyerocos begitu saja.

“Tugas apaan? Lu bukannya maen PS daritadi?” Amel melirik ke arah dalam rumah gue. Sialan. Mana tuh PS belum gue matiin lagi.

“Ya kan refreshing sebentar abis ngerjain tugas...” kilah gue lagi.

“Doninya dari tadi main PS mulu kok.” Tiba-tiba emak gue datang tanpa diundang. “Ajak main sono, daripada jadi anak rumahan mulu, maen PS. Dia mah kagak punya kerjaan selain main PS di rumah. Liat aja tuh punggungnya. Bengkok, kan? Mau osteoporosis tuh gara-gara main PS melulu.”

EMAAAAAAK! WHY ARE YOU DOING THIS TO MEEEEEE????!!!!

Dan apa coba maksudnya dengan punggung gue yang bengkok? Terus tiba-tiba osteoporosis? NGGAK ADA HUBUNGANNYA! Kalau kifosis sih, iya.

“Ya udah sono kamu mandi,” Emak gue nabok punggung gue. “Ntar kelamaan ditungguin temen kamu. Kamu kan mandinya kayak putri Solo. Lamanya naujubillah.”

Muka gue... muka gue... sekarang sudah jatuh di lantai... Dan dengan enaknya, teman-teman gue ngetawain gue.

Tanpa perlu nengok lagi, gue ke belakang rumah. Beneran mandi ala putri Solo, biar lama sekalian. Bodo amat deh mereka nunggu. Salah mereka sendiri ke sini tanpa bilang-bilang gue. Sudah gitu mau ngajak jalan tiba-tiba lagi.

Setelah sekitar 30 menit... ditambah guling-gulingan di kasur bentaran, sengaja biar tuh bocah-bocah empet nungguin gue, gue keluar dengan gantengnya karena rambut gue masih setengah basah. Tiba-tiba gue kena lemparan bantal sofa.

“BENERAN PUTRI SOLO LU YEEEE!” Amel berteriak dengan geram. Yang lainnya juga ikut-ikutan menampakkan wajah kesalnya. Gue sih bodo amat. Salah mereka juga kenapa harus tiba-tiba ngajak jalan-jalannya.

“Jadi nggak jadi nih?” Gue pura-pura ngambek dan mencoba untuk masuk kembali ke dalam rumah. “Ya ud—”

“EH! EH! EH!” Tiba-tiba Vina menarik ujung lengan kaos gue. Untung nggak kencang-kencang amat. Ntar bahu eike kelihatan lagi. Malu kali, cyin. Eh, malah sekong ane. “Nggak bisa gitu dong! Buruan ambil motor lo dan kita cus! Cepet!” perintahnya sambil mendorong punggung gue.

Akhirnya gue ke belakang rumah untuk mengambil motor yang teronggok di sana—karena seharian gue cuma di rumah doang. Yah, karena gue jomblo, gue cuma bawa satu helm doang. Amel jangan ditanya. Cewek perkasa kayak dia sudah bisa dan biasa ngurus diri sendiri. Bahkan kalau misalkan gue minta boncengan bareng, dia yang ngendarain motornya.

Kalau si Titi sih pasti bareng Amel. Pokoknya jangan sama gue deh, takutnya nanti di tengah jalan tiba-tiba dia sudah nggak ada lagi di belakang gue, alias terbang entah ke mana saking badannya yang uprit itu.

Dan... nggak perlu gue jelasin lagi. Vina pasti bareng Jaka, si kesayangannya.

***

Setelah kira-kira setengah jam, akhirnya kita berlima sampai di mall yang memang nggak terlalu jauh banget dari rumah. Kita langsung lari ke arah 21 kayak lagi dikejar satpam gara-gara kegebrek lagi berdua-duaan di pos ronda. Nggak-nggak. Waktu nonton tinggal lima menit lagi dan ternyata Vina sempat bohong kalau ternyata dia sudah beli tiketnya.

“Sori deh sori...” Vina merasa menyesal karena tiket buat jam tiganya sudah sold out. Kalau mau, nanti jam lima nontonnya. “Gue ngomong begitu biar lo ikut semua. Kan gue yang bayarin. Ya? Ya? Ya?”

“Gue sih nggak keberatan kalo kudu nunggu dua jam...” kata gue sambil melirik ke arah Vina. “Asal perut gue nggak kosong dan nunggu diisi sih. Kebetulan dompet gue isinya cuma bon, SIM, KTP, sama STNK doang.”

Vina melirik judes ke arah gue. Cute abis! Rasanya pengin gue cubit matanya itu, eh, pipinya. Tapi sayang, dan perlu digarisbawahi; dia milik orang lain.

“IYA DEH! IYAA! GUE TRAKTIR LO SEMUA!” Gue tersenyum puas menerima jawaban itu. Tapi tiba-tiba, gue melihat pandangan yang nggak enak dengan sangat luar biasa. Mungkin bagi kalian ini biasa, tapi bagi gue; ini sangat... sangat...

Jaka melingkarkan tangannya di pinggang Vina dan membisikkan sesuatu yang bahkan sudah bisa disebut bukan bisikan lagi. Tapi pamer!

“Kamu jadi ATM berjalan nih yang hari ini?” Jaka menyentil jahil ke arah hidung Vina yang dibalasnya dengan malu-malu. Gue yang melihat ini langsung berpaling ke arah... ah... baju polo yang warna navy itu bagus ya...

“Eh! Kamu nggak usah ya! Kamu bayar sendiri!” balas Vina yang cuma sampai di telinga gue, mata gue cukup dibutakan pada saat itu saja. Polo warna putih juga bagus kok...

Kapan drama kecil-kecilan itu akan berakhir?

“Iiih! Kok kamu gitu sih?” Bahkan telinga yang kepengin gue tebalkan ini bisa memvisualisasikan cast apa yang lagi mereka mainkan. Mungkin Jaka pura-pura ngambek sambil cemberut nggak jelas, mencoba mengambil perhatian Vina.

Dengan riangnya dan mungkin dengan nada gembira, Vina menjawab sambil tertawa merdu. “Enggak kok. Nanti kalian semua aku yang traktir. Okeee?”

PLOOOK! Tiba-tiba, bahu gue terasa panas. Nggak usah cari pelakunya, mata gue langsung menunjuk ke arah Amel dan dengan rasa nggak bersalahnya dia ngomong gini. “Ada laler gede banget tadi, Don,” kata Amel sambil menepuk tangannya seakan-akan tadi beneran abis nabok laler yang mungkin hinggap di punggung gue.

“Jadi makan nggak nih? Laper tau gue!” Kali ini Titi yang men-cut adegan menabok laler dan adegan roman antara dua picisan tadi. Bukan apa-apa. Gue tahu, Amel melemparkan kekesalannya ke gue dengan beralibi ada laler di punggung gue. Lantas, gue harus melemparkan kekesalan gue ke siapa?

***

Setelah membuat perut gue yang six packs ini sedikit membuncit gara-gara traktirannya Vina, gue cuma bisa bengong sambil menatap gelas tinggi yang sekarang isinya cuma ada es sama sedotan.

Kenapa gue diam? Ya! Benar! Gara-gara drama kecil-kecilan Vina dan Jaka? Benar-benar... salah! Jawabannya sangat-sangat simpel. Kenapa gue bisa diam begini? Karena kalau habis makan dan kekenyangan, gue jadi bego. Selesai.

“Doni? Ngapain lo di sini?”

Butuh lima detik buat gue nengok ke arah suara yang jelas-jelas sangat gue kenal ini. Dan butuh dua detik buat gue tahu siapa orang yang barusan nyapa gue.

MANTAN GUEEEEEE!

Sori-sori. Gue butuh klarifikasi di sini. Waktu itu, gue pernah bilang kalau gue belum mau pacaran. Masih ingat di short story satu cerita ini? Makanya! Baca dong!

Gue bukannya belum pacaran, tapi artinya gue memang lagi mau vakum pacaran. Hah. Belum tahu ya kalau mantan gue itu ada sederetan kayak aritmatika?

“Eh, Lila. Apa kabar, Lil?” Muka Lila langsung berubah sedikit memerah. Ups! Sial-sial! Bego banget sih gue! Ah! Gue memang bego kalau habis kekenyangan! Kenapa gue bisa keceplosan memanggil nama kesayangan Lila????!!!!

“Gue baik kok,” sahut Lila sok skeptis. Terus tiba-tiba dia menatap ke arah teman-teman gue. “Mmmhh... temen-temennya Doni, ya? Gue boleh minjem Doninya sebentar nggak? Just a minute kok. Boleh, kan?”

WAH! APA-APAAN NIH?! JANGAN-JANGAN... LILA NGAJAK GUE BALIKAN LAGI! SIAL! SIAL! GUE BELOM SIAP UNTUK INI SEMUAAA!!!

“Boleh kok boleh,” yang ngejawab malah Jaka. “Yang lama juga boleh.”

Dengan kesal, gue menendang kaki Jaka di bawah kolong meja. Dia cuma bisa balas senyum-senyum nggak jelas. Akhirnya, gue mengikuti Lila dari belakang yang berjalan jauh dari meja teman-teman gue.

Setelah berjalan cukup dan jauh dan cukup untuk nggak dikupingi oleh bocah-bocah itu, akhirnya Lila berhenti dan berdiri menghadap ke gue. Wait. Gue lihat-lihat Lila semakin... cute? KENAPA MANTAN ITU SELALU TERLIHAT LEBIH CAKEP KETIKA KITA MENINGGALKANNYA???!!!

Namanya juga mantan... bukan pacar lagi...

“Don, lo nggak lupa, kan?” Lila membuka pembicaraan.

Tunggu, tunggu, TUNGGU!!! LUPA APAAN NIH? Ini... tanggal berapa sih? Hari ini tanggal... 29 Maret kan...? Memangnya ada yang spesial hari ini? Atau hari ini hari... failed anniv kita berdua? NGGAK-NGGAK! GUE MASIH INGAT KOK!

“Lupa apa ya, Lil?”

“Jangan panggil gue dengan sebutan itu lagi, oke? Gue jijik dengernya.”

HUJAN BATU BARAAA!!!! GUE MALU ABIS!!!

“Terus, lo mau ngomong apaan sama gue?” Dan sepertinya, Lila memang nggak akan menjurus ke arah pembicaraan ‘Kita balikan, yuk?’.

“Lo nggak lupa kan utang lo sama gue?”

WUUUUUUUT???!!! Jadi yang dia maksud dengan ‘gue lupa’ itu adalah utangnya gue ke dia? Demi dewa Zeus, bahkan tadi gue sudah bilang bahwa di dompet gue isinya cuma bon, KTP, SIM, sama STNK. Dan sekarang, GUE HARUS BILANG APA KE LILAAA? MAU DITARUH DI MANA MUKA GUEEE???!!!

Gue menampangkan wajah memelas. “Lil, eh, Lila, kan hari ini lagi tanggal tua, gue juga cuma bawa duit kerokan doang... besok gue ke kelas lo deh. Ntar gue bayar lunas, ya?”

Lila memicingkan matanya, dan gue baru ingat kalau Lila itu memang keturunan Cina yang... sori, bukannya lagi mau ngomongin ras. Tapi begitulah Lila.

“Awas lo jangan lupa,” kata Lila yang kemudian pergi meninggalkan gue. Kemudian terdengarlah suara tawa yang cukup keras hingga beberapa orang di sana menoleh ke arah alien yang sedang berjalan ke arah gue.

“Gue kira tadi ada yang mau balikan, Ti,” kata Amel sambil melirik rendah ke arah gue.

Titi membalas dengan anggukkan senang, senang ikut-ikutan mengejek gue. “Tadi ada yang mukanya kesemsem tuh. Eh! Nggak taunya malah minta duit utang! BHAHAHA!”

Kalau ada balsem, mungkin gue sudah menjejalkannya ke mulut dua cewek ini.

“Ngapain lo berdua di sini?” tanya gue langsung mengalihkan suasana.

“Kita mau beli kado. Ayo buruan keburu si Vina tau!” Titi dan Amel langsung menarik gue menjauh dari food court.

“Tapi patungan ya? Gue beneran nggak bawa duit nih!”

“DASAR TUKANG UTANG!”

***

Setelah membeli kado yang cukup cocok untuk Vina dan juga cocok untuk kantung kita bertiga—sebenarnya kantungnya Titi sama Amel doang sih, kita balik lagi ke food court tadi dan menemukan meja yang tadinya penuh dengan piring kotor telah bersih.

“Lo berdua lama amat sih ke kamar mandi?” Gue melirik ke arah Titi dan Amel. Oooh. Jadi mereka izinnya ke kamar mandi? Pinter banget nih dua orang. “Lo juga Don, lama amat ngobrol sama temen lo.”

Tunggu-tunggu. Apa gue nggak salah dengar? Apa... barusan gue mendengar suara kecemburuan dari Vina?

“Itu, tadi si Doni boker dulu, dia nggak tau kamar mandinya di mana. Ya udah kita nunjukin sambil nungguin deh,” Amel berkilah. Sialan! Gue dijadiin alasan! Parahnya lagi Vina malah menerima alasan itu dengan mengangguk-angguk tanpa sedikit pun curiga.

Setelah itu, kita segera ke 21 karena lima belas menit lagi bakal dimulai. Dan entah kenapa, tiba-tiba Titi jadi suka kesandung gitu tiba-tiba. Untung dia jalan di samping gue, jadi gue bisa nahan tubuh dia buat nggak ciuman sama lantai mall.

“Lo lagi kenapa sih, Ti? Jangan mentang-mentang badan lu kecil dong, jadi gampang tumbang gitu,” protes gue setelah untuk sekian kalinya Titi kesandung entah apa, gue juga nggak tahu.

Bukannya ngerasa bersalah, Titi malah nabok gue kayak Amel dan nyokap. Sialan. Dikira punggung gue ladang nyamuk apa minta ditabok melulu?

“Jangan salahin gue dong! Lo sih jalannya gede-gede banget, gue nggak bisa nyamain tau!”

Gue baru sadar Titi memang kecil, dan jalannya juga pasti kayak lagi pakai kemben. Untuk itu, akhirnya ikut-ikutan jalan kayak lagi pakai kemben di belakang Amel dan Jaka yang lama-lama malah membuat jarak di antara mereka. Amel malah like a boss jalan di depan Amel dan Jaka. Gue tahu, dia nggak mau ngeliat pemandangan apa yang gue lihat sekarang ini.

“Kok diem, Ti?” Gue malah berasa jalan sama benda mati. “Baterenya abis?”

“Sakit, Don,” sahut Titi yang justru menurut gue terdengar seperti rintihan. Gue juga nggak ngerti. Gue rasa itu memang habit-nya Titi kalau ngomong ya kayak gitu. “Sakit tau, Don.”

“Hah?” Gue yang kebingungan cuma bisa melongo nggak ngerti ke arah Titi. “Nggak ada yang berdarah kan, Ti? Lutut lu juga nggak pada biru-biru kan? Kalo ada yang berdarah jangan ditunjukin ke gue, oke? Gue takut soalnya.”

Nggak ada reaksi yang menjadi tradisi kalau orang sudah kesal dengan gue; tabok punggung. Titi malah kembali berjalan lurus tanpa memedulikan gue yang dibuatnya kebingungan.

Karena nggak ngerti apa-apa, dan juga nggak mau mengorek-ngorek apa yang dimaksud oleh Titi, gue mengejar Titi dan menyelaraskan langkahnya.

“Lo ke mana aja sih Don selama ini? Gue... nggak kuat tau buat nanggung hal yang kayak gini. Gue... capek berpura-pura di depan kalian... terutama mereka...”

Wait... wait... WAIIIIIT!!!! APA MAKSUD DARI SEMUA INIII???!!!
Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

H&L

Saturday, December 27, 2014 By astaghiri 0 Comments
Gilaaa!!! Udah lima bulan rasanya blog gue umpetin di lemari demi ngambis sama nilai hahaha. Entah kenapa ide absurd ini muncul ketika gue lagi jauh dari rumah, maksudnya pulang kampung. Haha. Siap-siap penasaran. Enjoy!

***

“Eh! Eh! Itu tuh orangnya!”

“Duh! Ganteng banget yaa!”

“Udah punya pacar belum sih dia?”

Galvan cuek saja dengan cuap-cuapan cewek-cewek yang baru saja dilewatinya itu. Toh, dia sudah ‘biasa’ mendengarnya selama satu tahun terakhir ini. Sekarang, dia sudah menjajaki kelas XI. Mengingat dia mendapat peringkat paralel yang pertama, dia sekarang menjadi siswa kelas XI IPA 1.

Sekarang dia menuju tempat duduk baris kedua dekat pintu. Semoga saja dia nggak mendapatkan teman sebangku ‘cewek yang cerewet’ atau pun ‘cowok yang pecicilan’. Dia kepengin hidupnya tenang-tenang saja tanpa adanya gangguan sebelum—

“Eits! Ini meja gue, oke?” Seorang cewek dengan rambut diikat sudah berdiri di dekat meja Galvan sambil mengecakkan pinggangnya. Galvan hanya menaikkan salah satu alisnya seakan sudah men-cap ini-meja-gue.

“Lo nggak liat ya kalo di kolong itu udah ada tasnya?” Cewek itu masih bersikukuh mau mengambil tempat duduknya kembali. Mau nggak mau Galvan melihat ke arah kolong dan—dia nggak mau buang energi untuk bilang ‘minta maaf’ dan langsung ngeloyor pergi menuju meja tepat di belakang tempat duduk cewek itu.

“MAKASIII BANGEEET!!!” ucap cewek itu setengah berteriak sambil memancarkan senyum paksa.

“Well, sama-sama,” balas Galvan sambil mengambil sebuah buku dari tasnya. Nyebelin banget sih nih cowok!

***

Dan... cowok nyebelin itu terpilih jadi ketua kelas. Fulan jadi nggak ngerti. Apa sih pantasnya tuh cowok jadi ketua kelas? Coba teliti satu-satu.

Ganteng? Oke, checklish. Lagipula, Fulan lagi ‘nggak buta’ kok.

Pintar? Hmm... checklish. Katanya sih dia rengking satu paralel untuk kelas IPA.

Charming? Hih! Nggak sama sekali. Toh sebenarnya dia juga nggak memilih Galvan kok. Alasannya kuat, dia nggak suka sama cowok itu!

“Kenapa sih Win lo pilih tuh cowok?” bisik Fulan pada Wina ketika Galvan sedang berbicara dengan wali kelas di dekat meja guru. Nggak mungkin kan dia ‘ngecibir’ Galvan ketika cowok itu berada di belakangnya?

“Lo tuh buta ya, nyet?” damprat Wina langsung. “Galvan tuh cowok terkeren di SMA ini! Ya jelas dong kalo gue pilih dia!”

“Jadi, gara-gara itu doang?”

“Nggak juga sih,” Wina langsung sok berpikir dengan mengetukkan jari di dagunya. “Selain keren, dia juga cool, ganteng, tampan, seksi... itulah kenapa gue pilih dia.”

Fulan langsung menempeleng kepala Wina. “Hih! Dasar!”

Wina hanya terkekeh mendengar reaksi temannya tersebut. Kayaknya Fulan memang lagi eror deh. Masa cowok seganteng Galvan nggak disukain sih? Kayaknya dia lagi kena sindrom deh.

Hah. Tapi Wina nggak tahu saja kalau cowok itu sebenarnya sombong setengah mati!

***

“Heh! Ful! Bisa diem nggak sih lo?”

Yang dibentak Fulan, tapi yang diam langsung sekelas. Malah Fulan sempat tertawa sumbang ketika semuanya sudah terdiam dan memerhatikan mereka berdua, terlebih-lebih sih ke Galvan.

Yak! Akhirnya selama dua bulan ini rahasia Galvan yang orang-orang nggak tahu terbongkar juga. Yaitu sifat judes dan galaknya itu yang nggak pandang bulu! Sebenarnya sih orang-orang tahu kalau sebenarnya Galvan itu galak. Tapi karena cewek-cewek di sana selalu ‘membungkus’ Galvan dengan sifat charming, sifat galaknya jadi tertutupi.

“Apaan sih lo?” Fulan langsung memutar bola matanya, nggak peduli. “Nama gue Fulan, bukan Ful. Masih nggak bisa inget juga? Lo tuh punya penyakit amnesia pendek ya?”

Galvan langsung menggenggam keras pensil mekaniknya. Terdengar bunyi ‘krak’ yang membuat ngeri teman-teman sekitarnya.

“Udah dong udah,” Julian mencoba melerai pacarnya itu dengan si ketua kelas. Namun mata mereka masih menyatakan perang belum selesai. “Berantem mulu sih lo berdua,” Julian menaruh tangannya di pundak Fulan. “Mending kita ke kantin. Yuk, say?”

Fulan langsung berdiri sambil menatap sinis ke arah Galvan yang dibalasnya menantang. Dia mengikuti Julian menuju ke arah kantin.

“Kalian berdua kenapa sih berantem melulu?” tanya Julian ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan di kantin.

“Siapa?” tanya Fulan cuek.

“Ya kamu sama Galvan. Sebenernya pacar kamu itu aku atau Galvan sih?”

Mulai deh, desah Fulan. Kok yang sifatnya kecewek-cewek-an malah Julian, bukannya Fulan. Sering ngambeklah, marah nggak jelaslah, cemburulah, ya pokoknya tipe cewek bangetlah.

“Mau ribut lagi tentang masalah itu?” tanya Fulan dengan nada datar. Sebenarnya dia juga sudah malas kalau Julian mau membahas masalah itu lagi. Apa sih pentingnya membahas Galvan? Si cowok nomor satu yang kepengin dia injak mukanya.

“Kok kamu aneh gini sih? Dulu kamu nggak kayak gini, Lan.” Duh, drama banget sih nih cowok. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Zaman kan gampang banget ngerubah orang.

Fulan mengangkat salah satu alisnya. Kenapa sekarang gayanya mirip banget sama Galvan ya? Hah! Lupakan Galvan!

“Aneh? Aku berubah jadi alien, gitu?”

“Lan.” Ups. Kayaknya Julian mulai marah deh. Kelihatan banget dari mukanya yang putih langsung berubah merah.

Fulan langsung mengeluarkan jurus senyum manisnya. “Bercanda, Jul.”

Hal itu membuat Julian sedikit ‘luluh’. Rona kemerahan di wajahnya mulai menghilang.

“Beliin aku somay ya, Jul?”

Hah. Itulah enaknya punya pacar.

***

“Eh eh eh! Jul! Jul! Berentiii!” Julian langsung ngerem mendadak.

“Apaan sih Lan? Kamu bikin aku kaget tau nggak.”

“Sori...” Fulan tersenyum bimbang. “Hape aku ketinggalan di kolong meja...”

“Hah? Kok bisa?”

“Soalnya di tas aku nggak ada, berarti masih ada di kelas. Balik lagi yuk, Jul?” pinta Fulan memelas.

Hmm sebenarnya Julian mau saja sih mengantarnya balik, tapi kayaknya ‘agak ribet’ deh kalau kembali mengantar Fulan ke rumahnya. Soalnya sebentar lagi dia ada tanding futsal bareng teman-temannya.

“Tapi aku nggak bisa nganter kamu pulang, aku ada tanding futsal, gimana dong?”

“Ya udah deh, nggak papa,” jawab Fulan datar. Kemudian mereka berdua kembali menuju sekolah yang ternyata sudah cukup sepi. Fulan langsung berlari ke kelasnya begitu mereka sudah sampai ke sekolahnya kembali. Bahkan dia nggak sempat buat say bye ke pacarnya itu. Julian cuma bisa mendesah, kemudian mengendarai motornya menuju tempat futsalnya.

Fulan berlari kecil menuju kelasnya yang berada di lantai dua, ujung pula. Lumayanlah olahraga sebentar, tapi capek juga ternyata.

Sesampainya di kelas, suasananya sudah sepi. Dia langsung menuju ke mejanya, melihat kolongnya dan syukurlah! Hapenya ternyata masih ada. Fulan langsung bernapas lega. Dan—apa itu?

Fulan melihat beberapa foto yang berserakan di bawah meja Galvan, salah satunya bahkan tergeletak di bawah meja Fulan. Fulan mengambilnya dan kemudian dia mengernyit. Kok kayaknya dia kenal orang-orang yang ada di foto ini ya?

Ah! Yang ini pasti foto ketua osis! Soalnya Fulan pernah melihatnya berpidato di depan lapangan. Dan ini... ini bukannya ketua basket itu ya? Yang tinggi banget dan punya warna kulit yang eksotis itu? Terus itu... itu bukannya Julian? Kok bisa sih ada foto Julian di sini?

Tiba-tiba, semua foto itu sudah raib dari tangan Fulan. Fulan langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Galvan berada di hadapannyaaa!!!

Galvan sudah menatap garang Fulan seakan-akan mau menyemburkan kata-kata apa saja yang akan menyakitkan hati Fulan. Tapi kemudian dia menghela napasnya, mencoba untuk berpikir tenang.

“Apa yang lo liat tadi, dan apa yang coba lo pikirkan sekarang, nggak perlu lo umbar ke mana-mana.”

Fulan mencoba berdiri ketika Galvan mau beranjak dari kelas. “Van, lo... hom...”

Galvan menghentikan langkahnya sejenak. “Ya.” Kemudian dia kembali melangkah keluar dari kelas.

Setelah mencoba menghubungkan apa yang baru saja terjadi padanya, Fulan berlari keluar kelas dan mengejar Galvan. Dia berhenti tepat berada di hadapannya.

“Lo... lo... se—serius?”

Galvan nggak langsung membalas pertanyaan Fulan. Mulai sekarang, dia harus berhati-hati dengan ucapannya. “Baguslah kalo lo nggak percaya.”

Galvan langsung melewati bahu Fulan, nggak peduli ketika cewek itu sempat eror melihatnya.

Jadi... ternyata Galvan itu... homo? Oooooh itu kenapa selama ini dia galak sama orang-orang. YESS! GALVAN HOMO! Kok gue seneng sih? Ah, seenggaknya gue tau satu rahasianya dia. Rahasia terbesarnya. HOHOHO.

***

“Haaaaaaiiiii Galvaaaaan!” sapa Fulan ‘ceria’ ketika pertama kali dia masuk kelas melihat Galvan duduk di mejanya.

Sontak teman-teman sekelasnya dibuatnya bungkam, takut-takut perang dunia ketiga bakal dimulai.

Galvan bersikap sok skeptis, pura-pura bahwa kemarin nggak terjadi apa-apa. Memang nggak terjadi apa-apa sih selain ternyata CEWEK ITU TAHU RAHASIA TERBESARNYA!!!

“Senyum dikit dong, cemberut melulu,” goda Fulan sambil mengerlingkan matanya ke arah Galvan.

Galvan kepengin langsung mencekik leher cewek itu, tapi dia mencoba untuk meredam emosinya dengan larut dalam buku biologinya. Anggap cewek ini tuyul Van... tuyul...

“Tumben ya Galvan diem aja, biasanya si Fulan juga langsung disembur...” bisik seseorang yang bahkan bisa sampai di telinga Galvan. Bukan bisik-bisik itu namanya!

“Lagi baca apa sih? Kok kayaknya...” Galvan langsung menutup bukunya dengan sedikit menggebrak ke arah meja. Dan timbullah kembali suasana yang tegang dan bikin resah itu.

“Bisa nggak sih buat nggak ganggu gue? Lo annoying tau nggak.”

Fulan langsung terdiam. Dia sebenarnya agak sakit hati mendengar ucapan Galvan. Namun dia mencoba untuk nggak menyembur kembali agar bisa terus menggoda Galvan. Kapan lagi coba dia bisa kayak gini?

“Okedeh... sori....”

Hah! Itu bahkan hal yang lebih mencengangkan dibanding yang tadi! Fulan bilang maaf?! Sejak kapan?! Nggak ada sejarahnya dia bakal minta maaf ke Galvan! Kecuali hari ini, jam ini, menit ini, detik ini.

Tiba-tiba Galvan sudah berdiri dan menarik Fulan agar keluar dari kelas. “Kita perlu ngomong, sebentar.”

Teman-temannya langsung syok melihat Fulan dibawa paksa keluar oleh Galvan. Wah, bakal ada kejadian apa ya? Fulan sendiri hanya bisa nyengir nggak jelas sambil mengedikkan bahunya.

Julian yang berada di sudut kelas, hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menatap elang ke arah mereka berdua.

Galvan menarik Fulan ke tempat yang sepi, tempat di mana nggak ada seorang pun yang bakal ‘menengok’ ke arah mereka. Fulan sih nggak takut, toh dia nggak bakal ‘diapa-apain’ sama Galvan, pikirnya.

“Lo mau cari mati sama gue?” sembur Galvan langsung tanpa perlu basa-basi.

“Uuuh... takut... hahaha,” Fulan malah semakin senang menggoda Galvan.

Galvan langsung menyengkram lengan Fulan yang membuatnya sedikit meringis. Ternyata Galvan benar-benar ‘galak’.

“Mau lo apa sih?”

“Lepasin gue dulu!” Galvan langsung melepaskan cengkramannya. Dia melihat bekas merah berbentuk jari di lengan Fulan.

“Kok lo kasar banget sih sama cewek?”

“Apa perlu gue kasih tau lagi kenapa gue kasar sama cewek?”

Oke. Oke. Kayaknya Galvan merupakan tipe orang yang paling nggak suka basa-basi. Yah, seperti ini.

“Jawab pertanyaan gue,” sarkas Galvan.

“Yang mana?” Galvan langsung menempeleng kepala Fulan, membuat cewek itu kembali mengaduh. “Bisa nggak sih lo buat nggak main fisik? Nggak gentle banget tau nggak!”

“Itu lo tau. Sekarang lo maunya apa, hah?”

“Emangnya lo bener kepengin tau gue pengin apa?”

Duh! Bego banget sih Galvaaaan!!! Seharusnya dia bisa membuat cewek ini patuh padanya dengan hanya menggertaknya! Bukan malah ‘mengabulkan’ permintaannya.

“Hmm... gini gini... lo pasti nggak mau kan kalo rahasia terbesar lo itu kebongkar?”

“...”

“Jadi...”

“Jadi apa?”

“Sabar dulu dong! Makanya jangan main potong ucapan gue!” Galvan langsung terdiam. Ternyata Fulan bisa juga menggertak Galvan. HAHA.

“Gue cuma pengin kita damai, nggak ada lagi lo ngomel-ngomelin gue, nyembur gue, damprat gue. Setuju?”

“...”

“Oh ya satu lagi,” lanjut Fulan yang benar-benar membuat Galvan ingin mencekiknya. “Sering-sering senyum ke gue ya?” Fulan langsung mengerling dan mendapatkan respons jijik dari Galvan. Fulan hanya tertawa kemudian meninggalkan Galvan begitu saja.

Ketika Fulan ingin mencapai kelasnya, Julian menghadangnya di depan pintu kelas. Dia langsung menggamit tangan Fulan dan menariknya menjauh dari kelas.

“Kita perlu ngomong.”

Duh. Kenapa hari ini tuh dua cowok demen banget tarik-tarikan gini sih? Eh, yang satunya cuma setengah cowok deng...

***

Galvan lebih suka mengerjakan PR-nya di sekolah dibandingkan di rumah. Alasannya simpel sih, di sini lebih tenang dibandingkan di rumah. Toh kebiasaan siswa sini setelah mendengar bel ya langsung pulang, nggak ada yang namanya nongkrong di sekolah kecuali kerajinan.

“Oh? Lo masih di sini?” Galvan dikagetkan oleh Fulan yang ternyata sudah berjalan ke arahnya. Ck. Cewek itu lagi.

“Ngerjain apa? Eh PR mtk ya? Ikutan dong!” Fulan langsung antusias dan membalikkan kursi yang berada di hadapan Galvan. Kemudian dia mengambil buku matematikanya. Galvan sedikit memberi spasi meja untuk cewek itu, mengingat tadi mereka berdua sudah membuat kesepakatan. Yah, kayaknya sih lebih ke kesepakatan sepihak.

“Lo mau ngerjain apa cuma nyalin doang?” damprat Galvan karena sejak tadi Fulan hanya melirik ke arah jawaban di bukunya. Fulan membalas dengan senyum cengirannya, seperti habis ketangkap basah mencuri permen.

“Dikit doang kok...” balas Fulan sambil mengumpamakan sedikit menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

“Dikit apaan? Lo nyalin semua apa yang gue kerjain. Gimana lo mau bisa kalo lo bisanya cuma nyontek doang? Lo nggak mikir ya kalo yang lo lakuin sekarang cuma bisa ngerugiin lo nanti?”

Fulan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kenapa sih si Galvan ini? Dia kan cuma menyontek PR-nya, bukan ulangannya yang cukup dianggap sakral.

“Kok lo jadi ceramahin gue sih? Ini kan cuma PR, bukan ulangan. Lagian, gue cuma liat caranya kok, hasilnya gue cari sendiri,” Fulan langsung cemberut.

Galvan menghela napasnya. Huh. Memang iya sih ini cuma PR doang, nggak seharusnya dia menyeramahi Fulan seperti tadi. Hah. Nggak apalah, anggap saja tadi pelajaran buat Fulan agar suatu saat dia nggak perlu ‘bergantung’ sama orang lain.

“By the way, thanks ya,” Galvan mengangkat pandangannya dari buku matematikanya, menatap ke arah Fulan yang sibuk menulis di buku PR-nya. Galvan cuma menaikkan alisnya. “Thanks karena lo udah ngebuat gue putus sama Julian.”

Kini Fulan menatap penuh ke arah Galvan sambil tersenyum aneh. Galvan cuma bisa mengernyit, nggak tahu apa dia harus merasa bersalah atau syukurin tuh cewek. Masa iya sih tuh cewek nggak sedih sama sekali?

“Lo... nggak nangis?” tanya Galvan hati-hati. Dia nggak pernah mencoba untuk menyampuri urusan cewek seperti ini. Yah, tapikan ini Fulan, teman sepihak barunya. Setidaknya, dia bisa mendengar kabar Julian dari Fulan.

“Buat apa?” Galvan menangkap raut datar yang ia dapat dari Fulan. Benar-benar kosong. Cewek ini sepertinya nggak merasa hal itu terlalu dititikberatkan. “Gue malah seneng putus dari dia setelah setengah tahun lebih gue jalan sama dia.”

SENENG??? Galvan yang selama ini cuma bisa memerhatikan Julian dari jauh dan mencoba untuk nggak mencekik Fulan karena dia cemburu berat sama cewek itu ternyata senang kalau dia putus dari Julian? Brengsek juga nih cewek.

“You know, because I’m a lesbian.”

To be continued~
Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

Sorry, mate. [2]

Saturday, June 28, 2014 By astaghiri 0 Comments


Yang belum baca part pertamanya, klik di sini ya :)

***

Pulang dari kondangan gue jadi kesemsem sendiri. Nyokap yang sifat keibuannya ketinggian, dia sadar bahwa anak bongsornya ini daritadi senyam-senyum nggak jelas.

Alhasil, kena taboklah punggung gue, lagi. Gue yang memang lagi kesemsem sambil ngendarain motor langsung mengaduh. Dahsyat banget memang tabokan emak.

“Mom! It hurts you know!” lagak gue sok pakai bahasa inggris.

Dan mendaratlah lagi tabokannya nyokap. Berasa KDMM. Kekerasaan Dalam Mengendarai Motor. Haha.

“Mam mom mam mom, biasa manggil emak jugaan lu!”

Nah kan, nah kan. Keluar dah betawinya. Gini nih kalau nyokap suka keceplosan. Kadang-kadang dia suka diomelin, ya nggak diomelin juga sih, mungkin ditegur bokap gara-gara gaya bahasanya, karena menurut orang jawa itu kurang sopan. Ya gimana nggak diomelin? Wong bokap gue jawa tulen.

“Lah, biar keluarga kita bervariasi, Mom. Daddy orang jawa, Mom orang betawi, and I orang Inggris.”

“Halah,” cibir nyokap. “Lagian kenapa sih daritadi kamu senyam-senyum terus?” Kosakata nyokap balik lagi.

“Kepo banget sih Mak.”

“Hah? Kelepon?”

Duh. Biasa orang dulu. Susah buat terima informasi-informasi terkini. Bahasa gahol saja dia nggak tahu. Gimana bokap gue yang tontonannya wayang melulu?

“Bukaaan. Tadi Doni ketemu sama Vina. Mama inget nggak?”

“Vina? Anaknya Bang Dulloh?”

Masyaallah. Gue saja sama sekali nggak ingat nama bokapnya. Et dah, si emak ya suka banget sok tahu.

“Bang Dulloh siapa lagi?”

“Nah itu nama anaknya ya Vina,” Nyokap lagi-lagi nabok punggung gue. “Emang kenapa sama si Vina?”

“Kagak,” jawab gue yang lagi-lagi kesemsem sendiri. Nyokap yang melihat gue cuma bisa heran. Ya iyalah, gimana nggak heran? Anaknya berasa kesambet kayak gini.

***

Begonya, gue lupa minta nomor handphone-nya Vina. Ya mana gue ingat sih? Orang tiba-tiba dia juga noleh ke belakang, terus nyuruh gue buat ke pos ronda malam ini. Dan gue juga sudah kesenengan duluan.

Ah, nanti juga bisa minta kok. Haha.

Gue pakai celana pendek—ya nggak kolor jugalah—selutut sama kaus pendek. Gue juga pakai jaket. Namanya juga malam, kan dingin. Nggak kok, gue lagi nggak kode. Kodein siapa juga lagi?

Setelah azan isya dan kemudian sholat, gue pamit sama nyokap mau ke depan, bilangnya sih mau beli sekuteng. Ya masa gue bilang mau ke pos ronda? Entar gue dicibir gini lagi sama nyokap, ‘Emangnya kamu bisa nangkep maling? Kamu kan kerjaannya tidur mulu, nyadar ada maling juga kagak’ dan blablabla.

Setelah belasan menit gue nunggu, nggak ada tanda-tanda Vina mau datang. Ya iya sih, Vina nggak bilang jam berapa mau ketemuan di pos ronda. Bego juga sih gue, kenapa nggak nanya coba?

Akhirnya dengan sabar gue nungguin dia bahkan sampai nyamuk bikin pesta kecil-kecilan menikmati darah gue. Gila. Gue yang salah waktu atau memang si Vina yang pelupa?

Dan sekarang sudah kelewat satu jam brooo. Mau sampai kapan nunggu? Sama kayak Raisa, ‘Apalah arti menunggu bila kamu tak...’ sori, gue lupa lirik. Beneran.

Karena nggak tahan dijadiin bahan pesta sama nyamuk, akhirnya gue pergi dari pos ronda itu. Tadinya sih gue punya niat langsung pulang. Eh, gue malah ketemu sama Amel.

“Mel? Mau ke mana lo?”

Amel noleh ke arah gue. Matanya dia kalau malam memang rada burem. Buktinya, dia saja nggak melihat gue jalan di depannya. Padahal sudah tahu gue berdiri kayak tiang berjalan gini.

“Nah, lo? Mau ke mane?”

Nggak kayak Vina dan yang lain-lainnya. Amel itu salah satu sahabat yang masih cukup dekat dengan gue. Ya nggak dekat banget sih. Seenggaknya, kita masih saling sapa karena rumah yang paling dekat memang cuma gue sama Amel.

Ya iyalah, orang rumah gue sama rumah dia ketimbang ngesot.

Gue garuk-garuk kepala. Akhirnya gue cerita sedikit tentang ketemuannya gue sama Vina di kondangan tadi siang. Dan sampailah sekarang di pos ronda itu.

Tiba-tiba Amel ketawa, persis banget Rudi kalau lagi ngejek gue.

“Lo tuh bego atau apa sih? Ya dia minta ketemuannya pasti di pos ronda deket rumah dia lah! Hahaha. Begonya emang nggak pernah ilang dah lo dari dulu.”

Kurang ajar banget kan nih cewek? Dari kita berlima, Amel yang paling nyablak. Sama kayak nyokap gue, dia betawi tulen. Suka banget ceplas-ceplos.

Pernah suatu hari gue sakit hati gara-gara ceplosannya dia. Tapi tuh anak nggak nyadar-nyadar juga kalau gue sakit hati gara-gara dia. Batu banget kan tuh cewek?

Dan begonya, gue memang lupa kalau di dekat rumahnya Vina ada pos ronda. Ya ada benarnya juga sih Amel, kadang-kadang.

“Ya udah deh, lo mau ikut nggak?”

Sebenarnya gue cuma basa-basi doang sih, soalnya ini juga menyangkut Vina. Amel juga sudah lama nggak main sama Vina dan yang lain-lainnya. Ya tapi lebih lamaan gue sih, mungkin kalau si Amel cuma barang satu sampai dua tahun.

“Ya udah deh, yok!”

Ya Tuhan. Padahal kan gue cuma basa-basi. Gimana nih kencan pertama gue?

Ya sudahlah. Biarin deh si Amel ngikut, biar nggak canggung-canggung banget.

Kita berdua jalan menuju pos ronda yang dekat dengan rumah Vina. Dan benar saja, di situ ada Vina. Tapi bukan Vina saja! Ada Titi sama Jaka juga!

Gue berhenti jalan sebentar. Inilah momen-momen yang paling gue benci. Mereka sahabat lama gue, tapi gue sendiri ngerasa canggung buat ketemu sama mereka untuk sekian lamanya.

“Ngapa lo berenti?” Sama kayak nyokap gue, dia ikut-ikutan tabokin gue. Bedanya, dia cuma nabokin lengan gue. Ya beda sih, tapi sakitnya sama.

“Ah? Enggak. Tadi ada kucing lewat,” ngawur gue.

“Mane cing! Ayo jalan!”

Akhirnya kita berdua kembali berjalan menuju pos ronda itu. Titi yang pertama kali nyadar ada kita berdua datang. Tapi dia masang muka datar gitu. Jaka sama Vina juga ikutan noleh. Cuma Vina yang pasang raut senang melihat gue sama Amel.

Tapi tiba-tiba Jaka sama Titi beranjak dari pos ronda. Gue pikir mereka kayaknya ogah menerima kembali gue sama Amel—kayaknya sih khususnya cuma gue doang—di persahabatan itu. Mereka kayak mau ninggalin pos ronda.

Tapi yang gue nggak sangka, mereka justru nabokin gue! Nampolin gue! Jambak gue! Ah pokoknya nampolinnya pakai perasaan banget. Amel juga kena, tapi dia cuma sekedar dijitak sama Jaka, dicubit sama Titi.

Mereka berdua ketawa, mau nggak mau gue juga ikutan. Jaka ngerangkul pundak gue sama Amel. Titi balik ke pos ronda, duduk di samping Vina.

“Ini nih, akhirnya orang yang sempet ngilang, nongol juga. Terutama elo, Don!” kata Jaka sambil ngejitakan gue. Amel cuma senyam-senyum. Gue sendiri juga cuma bisa nyengir. “Ah! Gue kangen banget sama lo berdua!”

Nggak kok, Jaka nggak lagi akting. Gue tahu dia benar-benar kangen sama kita berdua. Di antara kami berlima, cuma gue yang paling sensitif buat ngebaca mimik orang, dan perasaan mungkin juga sedikit. Dan juga nyimpen perasaan. Ha. Ha. Ha.

Ya pokoknya gue sedikit-banyak tahu mana yang lagi jujur dan mana yang lagi beralibi.

“Eh! Ayo duduk! Gue bikinin pisang goreng nih!” kata Vina sembari tersenyum ke arah gue, tapi sih kayaknya lebih ke arah kita bertiga. Duh, geer ya gue?

Kita bertiga masuk ke pos ronda, ngelilingin pisang goreng buatan Vina yang sudah kelewat dingin.

“Lo ke mana aja sih? Gue tungguin dari isya juga,” kata Vina sambil melahap pisangnya.

“Lo kayak nggak tau Doni aja sih, Vin,” sahut Amel sambil ngelirik ke arah gue. Gue langsung pasang rambu-rambu. “Begonya kan emang kelewatan dia.”

Ketawalah mereka, kecuali gue.

“Udah tau pos ronda nggak cuma satu doang, belum lagi dia nggak mikir kalo deket rumah lo ada pos ronda.”

Gue langsung nyumpelin pisang goreng sisa yang gue makan ke mulutnya Amel. Biar sekalian keracunan tuh anak. Sekalinya ngatain, tuh anak bakal ngelanjutin terus.

“Yah, kena rabies deh gue,” kata Amel, tapi dia malah ngunyah pisang goreng yang gue jejelin. Gila memang tuh cewek.

“Gila, udah berapa tahun lo nggak ketemu sama kita-kita?” Kali ini Titi yang menyahut. Gue sampai lupa kalau ada dia di sini. Habis, dia kecil banget sih, imut gimana gitu. Imutnya dia tuh imut marmut, baby face banget.

Gue nyengir. “Kenapa lo, kangen sama gue?”

Titi ngelempar kulit pisang goreng ke arah muka gue. “Banget, bego! Elo tuh pelengkap kita semua!”

Gue langsung nyombongin diri. “Yah gue mah emang pantes dikangenin.”

“Halah!” Titi mengambil pisang goreng lagi, kemudian dijejel ke mulutnya. “Eh, main ayam yuk! Udah lama nih kita nggak main ayam!”

Gue dan yang lainnya langsung antusias. Eits, ini bukan ayam beneran. Ya kali malam-malam begini mainin ayam. Ayamnya siapa coba? Nyolong di kandangnya Bang Udin yang ngoleksi ayam jantan? No way banget gue megangin ayam.

Gue sendiri juga nggak tahu kenapa permainan yang bakal kita mainin disebut ayam. Pokoknya cara mainnya gini; setiap orang nyediain dua jempol tangan. Kalau lima orang, berarti ada sepuluh jempol kan.

Nah setiap pemain itu dapat giliran, ya iyalah. Caranya, dia harus nyebutin angka dari enol dan nggak boleh lebih dari sepuluh karena jempolnya saja cuma ada sepuluh.

Misalkan angka yang dia sebutin dan jempol yang berdiri itu sama jumlahnya, berarti dia menang. Dia boleh narik salah satu jempolnya. Nah gitu cara mainnya.

“Eh! Ntar dulu ntar dulu! Gue ambil bedak dulu ya, nggak asyik kalo nggak pake apa-apaan!” Jaka langsung beranjak dari pos ronda, berlari menuju rumahnya.

Gue yakin, dia bakal nyolong bedak nyokapnya. Ya iyalah, Jaka tuh nggak punya adek cewek. Masa iya dia mau nyolong ke bokapnya? Lebih ngawur lagi. Kecuali kalau memang Jaka punya sendiri...

Tapi nggak mungkinlah, gila banget.

Nggak lama, Jaka balik ke pos ronda bawa bedak bayi. Barulah kita main.

Permainan satu sampai ketiga, gue masih aman. Tapi sialnya, gue kena di permainan yang keempat! Cemonglah muka ganteng gue. Nanti gue dikira pocong berjalan lagi pas mau pulang.

Lama-kelamaan kita bosan. Semuanya juga sudah pada kena bedak. Mana tenggorokan seret gara-gara kebanyakan makan pisang goreng lagi.

“Duh, bosen nih,” Titi yang menyudahi permainannya.

“Iya, mana seret lagi tenggorokan,” Jaka yang menyahut.

Kini Vina yang berdiri. “Ya udah deh, gue bikinin minuman dulu ya,” katanya sambil beranjak dari pos ronda.

Setelah Vina menjauh, Jaka melakukan gerak-gerik yang agak mencurigakan. Walaupun Vina jauh, dia malah bisik-bisik ke arah Titi. Gue sih kurang tahu apa yang dibisikin sama Jaka. Yang jelas, Titi cuma ngangguk-ngangguk setelah dibisikin. Habis itu si Jaka pergi dari pos ronda.

“Si Jaka mau ngapain sih Ti?”

“Dia mau bikin surprise buat Vina. Jangan bilang lo nggak tau kalo hari ini ulang tahunnya Vina?” tuding Titi menggunakan jarinya ke arah muka gue.

Kampret! Gue benar-benar lupa kalau hari ini Vina ulang tahun.

Gue cuma nyengir idiot, dan gue memang benar-benar lupa.

“Terus nanti gimana?”

Titi ngesot di lantai menuju ujung pos ronda. Persis banget siput.

Dia mengambil kantung kresek hitam yang di dalamnya ada telur sama bungkusan tepung! Wah, wah. Jadi Jaka sama Titi sudah punya niatan buat ngerjain Vina? Gila nih dua orang.

“Serius lo mau nyeplokin Vina?” Sebenarnya sih gue mau saja, tapi gue nggak tega buat ngotorin rambut panjangnya Vina.

“Ya elah, pacarnya aja ngebolehin,” kata Titi sambil mengembalikan kantung kresek tersebut ke bawah kolong pos ronda.

Apa?

Gue nggak salah dengar kan?

Gue cuma dengar acar kan?

Tukang nasi goreng jualan nasi goreng terus dikasih acar kan...

“Pacar?” tanya gue dengan nada hati-hati.

Titi menepuk jidatnya sendiri. “Lo belom pada tau ya? Jaka itu pacaran sama Vina.”

Gluduk. Gluduk. Jeger!

Ting... ting... ting...

Yang pertama memang suara petir di hati gue. Tapi yang kedua cuma suara abang-abang tukang sekuteng yang numpang lewat kok...

“Serius?!” pekikkan Amel menambah parah suara gluduk buatan di hati gue.

“Iyeeee. Ada kali dua minggu, apa sebulan ya? Ya pokoknya belom lama dah.”

“Gila! Akhirnya ada juga yang jadian di antara kita berlima. Hahaha.”

Kalau masih ada pisang goreng, gue beneran nggak segan-segan buat cekokin Amel. Ketawanya dia tuh benar-benar ngerusak suasana hati gue banget.

Jadi, buat apa Vina ngajak gue ke sini?

Gue pikir... gue pikir...

Gila! Melankolis banget gue!

“Mana? Sini kasih tepungnya ke gue, elo sama Titi yang nyeplokin Vina.”

Titi buru-buru mengambil kembali kantung kresek itu. Gue langsung ngambil bungkusan tepung, sedangkan Titi sama Amel telurnya.

Jaka sempat ke pos ronda bawa kue ulang tahun, tapi habis itu dia langsung sembunyi nggak jauh dari pos ronda.

Nggak lama, akhirnya Vina nongol juga. Di antara rada sakit hati dan kepengin semburin nih tepung ke Vina, kita bertiga pura-pura ngobrol sambil cekikikkan sendiri.

“Lho? Jakanya ke mana?” tanya Vina sambil naruh teko di lantai pos ronda.

Oh, yang lo cari cuma Jaka doang, Vin?

Apaan sih gue?!

“Tadi sih katanya kebelet,” timpal Amel. Amel beranjak dari lantai, memakai sendalnya. “Eh, gue nggak bisa lama-lama nih, takut babeh gue ngomel gara-gara gue ngayeng melulu.”

“Yah? Masa gitu Mel?” Titi pura-pura kaget karena ini yang memang kita rencanakan.

“Yah, lo semua juga tau kan babeh gue kayak gimane? Ya udah yak, gue balik dulu. Vin, salam buat—”

PLOK! Telur yang ada di genggaman Amel tadi sudah pecah di kepala Vina. Kini giliran Titi yang nyeplokin. Vina langsung diam. Di antara senang dan kesel, dia menatap kita bertiga.

“Kurang ajar lo yaaa...”

“Ah, nggak juga ah,” sahut gue yang kemudian membuka bungkus tepung dan menyemburkannya ke arah Vina. Vina makin histeris karena sekarang rambutnya kotor banget!

Hahaha. Di antara senang dan miris sih sebenarnya.

“Happy birthday to you...”

Dan datanglah si pangeran yang bawa kue dengan beberapa lilin di atasnya. Gue cuma bisa senyum miris.

Vina sumringah banget, persis Kak Reni yang kawinan tadi. Dia menyambut Jaka, kita langsung ngerubungin Vina.

“Make a wish dong say...”

Say?

Say...?

Say...ur kan maksudnya?

Gue tahu Vina melirik ke arah gue, tapi gue langsung malingin wajah ke arah kuenya, pura-pura ngiler.

Vina khusyuk sebentar, barulah dia niup lilinnya. Tapi nggak sampai di situ saja. Vina langsung nyolek krim kue dan nyoret ke mukanya Jaka. Gue sontak mundur, takut-takut Vina bakal nyerang gue. Kok gue geer banget ya?

Jaka pastilah kena. Dia juga nggak bisa ke mana-mana karena lagi bawa kue. Sekarang giliran Titi sama Amel yang dikejar-kejar Vina. Biasalah cewek, teriak-teriak mulu kerjaannya.

Jaka ngehampirin gue. Dia tersenyum ke arah Vina. Gue sendiri cuma ngenes ngeliatnya.

“Kita semua udah pada gede ya, Don,” kata Jaka masih melihat ke arah Vina. “Nggak kerasa makin lama Vina makin cantik.”

Yeah. Tapi dari dulu Vina memang cantik.

Gue tertawa samar, sebenarnya lebih mirip miris sih.

“Kayaknya lo udah lama suka sama Vina ya,” tebak gue.

“Hm. Dari persahabatan kita dimulai. Gue pikir, lo pasti bakal pacaran sama Vina karena dulu lo deket banget sama Vina.”

Vina balik ke arah pos ronda. Si Titi sama Amel juga ikut balik, mukanya pada belepotan. Pasti gara-gara Vina.

Gue tersenyum sambil menepuk bahu Jaka. “Dulu ya dulu. Sekarang dia milik lo, bro.”

Sekilas gue dapat melihat Jaka tersenyum. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja tuh anak megangin tangan gue keras banget. Padahal dia cuma nyengkram pakai satu tangan doang.

“Vina! Buruan kenain Doni sebelum nih bocah kabur!”

Sial! Mana Vina sumringah banget lagi ngeliat gue kayak ayam yang mau dikandangin.

Gue coba buat ngelepas cengkramannya Jaka. Ya gue bisa loloslah. Orang dia cuma pakai satu tangan doang. Tapi hal itu nggak ngurungin niat Vina buat jejelin krim ke muka gue. Dia justru ngejar gue!

“Doni! Sini nggak lo!” teriak Vina di belakang gue.

“Gue udah mandi, Vin!”

“Bodo amat! Satu kena, yang lain juga harus kena!”

Gue makin lari, maraton malah. Hal ini justru membuat gue sama Vina jauh dari pos ronda. Bahkan kayaknya Jaka dan yang lainnya sudah nggak bisa ngeliat keberadaan gue sama Vina.

Akhirnya gue berhenti lari. Nyerah. Setengah bungkuk gara-gara ngos-ngosan. Dengan cepatnya Vina nyamper gue. Gue lupa kalau dia sering banget menangin lomba lari pas tujuh belasan. Nih cewek kuat banget.

“Nyerah Vin... nyerah...”

Walaupun gue sudah pasang bendera putih, Vina tetap saja melakukannya. Dia langsung meperin telapak tangannya ke arah muka gue. Ya beginilah kalau pasrah. Gue juga nggak bisa ngapa-ngapain.

“Dah puas?”

Vina cuma bisa nyengir. “Balik lagi yuk.”

Kita berdua balik lagi ke arah pos ronda. Untung saja ini sedang malam, jadi nggak banyak orang yang lagi beraktivitas. Gila kali, malu pakai banget gue kalau sampai ada orang yang ngeliat muka gue penuh belepotan krim kayak gini.

“Waktunya nggak pas banget ya, Don?” Tiba-tiba Vina angkat suara, ngusik gue yang lagi ngebersihin krim di muka.

“Waktu? Pas? Apaan?” Gue memang benar-benar nggak ngerti.

“Lo tau kan kalo gue sama Jaka...”

“Oh. Tau.” Suara gue berubah sinis. Gue malah makin sibukkan diri dengan membersihkan krim, sekalian dakinya juga biar kulit gue kinclong.

“Sori, Don. Gue nggak maksud buat... ya lo taulah.”

Tahu apa sih?

“Ya nggaklah,” kata gue sok tegar. “Itu kan cuma dulu. Namanya juga cinta monyet, cuma sesaat doang.”

Tapi sebenarnya dan kayaknya sekarang masih. Masih.

Entah cuma perasaan gue doang atau bukan, Vina sedikit terperanjat. Selintas, gue lihat dia tersenyum.

“Tapi... dulu gue juga gitu. Dan sekarang kayaknya gue nggak sama kayak lo, sebenernya gue masih. Yah, masih.”

Gue berhenti sejenak. Apa sih maksudnya cewek ini?

Vina sadar kalau gue berhenti di belakangnya. Dia menoleh ke arah gue. “Don?”

“Maksud lo apa?” Tiba-tiba gue benar-benar bersikap kayak cewek minta penjelasan. Melankolis banget!

“Gue udah bilang. Waktunya bener-bener nggak tepat di saat... lo bilang... lo... lo pasti inget apa yang lo ucapin di kondangan tadi siang.”

Gue dan Vina saling tatap, sama-sama diam. Di antara kepengin ngomong, tapi gue nggak tahu apa yang harus gue ucap.

“Ah, udahlah. Itu kan dulu. Lagi pula, yang ‘masih’ sampe sekarang kan cuma gue. Balik yuk, Don?”

Rasanya gue kepengin tonjok mulut gue sendiri. Tapi gue nggak bisa main jilat lagi lidah gue sendiri. Gue cowok. Ada harga diri yang punya batas, terutama nggak ngejilat lidah sendiri.

Dan lagi pula gue nggak mungkin ngerebut Vina. Dia sudah dimilikin Jaka. Teman gue. Sohib gue. Teman kecil gue.

Vina dan gue balik ke pos ronda. Jaka dan yang lainnya duduk santai di sana. Semoga mereka nggak ngeh kalau sekarang gue sama Vina agak jaga jarak. Tapi kayaknya ini lebih karena gue. Sebenarnya gue mau ngebuat dia ngerasa nyaman dulu.

Kita semua icip-icip kue itu sambil bercanda, cerita tentang masa lalu. Gue ngecoba buat netralisir suasana, terutama ke Vina. Untungnya dia cepat tanggap. Kayaknya dia juga nggak mau kejebak dalam suasana yang kayak tadi.

Setelah itu kita balik. Yah, kayaknya gue bakalan kena omel nyokap nih. Ya iyalah, orang gue pamitnya cuma buat beli sekuteng. Nggak logis amat kalau gue bilang beli sekutengnya di Arab Saudi. Memangnya gue mau jadi TKW?

Akhirnya, gue sama Amel pamit karena rumah kita memang satu gang. Gue sempat ngelirik ke arah Vina. Tatapan matanya persis kayak gue ngedenger buat pertama kalinya Vina sama Jaka pacaran. Miris. Atau cuma gue yang lagi-lagi kegeeran?

Gue sama Amel pulang. Nggak kayak tadi, nih anak cuma diam kayak baru dapat musibah. Berasa kayak rumahnya kebanjiran.

Lah, kalau rumahnya dia kebanjiran, berarti rumah gue ikutan kebanjiran juga dong?

Ngapa jadi ngomongin banjir dah?

“Heh, Mel. Ngapa dah lo?”

“Hah?” Amel spontan ngejawab. “Kagak.”

Mata gue menyipit. Gue tahu banget kalau nih anak lagi bohong. Gini-gini gue lumayan peka.

“Jangan boong deh ama gue. Ngapa sih lo? Belom kenyang makan kuenya?”

Gue langsung kena tabok. Sial.

“Bukan. Gue masih kaget aja kalo... emak gue kagak nelpon gue. Padahal kan udah jam segini,” alibinya. Kayaknya gue tahu apa yang dimaksud nih anak.

“Yang lo maksud si Jaka sama Vina, kan?” tembak gue langsung. Dan hal itu sedikit ngebuat Amel terperanjat.

“Okelah. Gue ketauan. Ya gue kaget aja. Gue pikir elo yang bakal jadian sama Vina, karena dulu lo deket banget sama dia. Yah, nggak taunya sekarang yang pacaran sama Vina malah si Jaka.”

Dahi gue mengerut. Ini kebetulan atau apa? Kenapa ucapannya Amel barusan sama dengan apa yang diucapkan sama Jaka tadi?

“Ya terus emangnya kenapa?” Gue kebawa sinis gara-gara Amel ngungkit tentang mereka berdua. Gue juga sih yang bego, kenapa gue harus kepo coba?

“Ya nggak papa sih. Heran aja.”

Entah kenapa, gue merasa Amel rada gusar. Atau memang cuma radar gue yang lagi sok tahu? Tapi gue memang cukup peka kok kalau terhadap masalah yang kayak gini.

“Mel. Ini tentang mereka berdua kan?” ulang gue lagi.

Kini justru Amel yang mengerutkan dahinya. “Lo budek apa tuli sih Don? Kan gue udah bilang tadi,” berangnya.

Dahi gue makin mengerut berasa kayak orangtua. “Atau, ini tentang salah satu dari mereka?”

“...”

“Vina?”

“...”

“Jaka?”

“...”

“Mel?”

“Don! Lo punya indera ke berapa sih? Sepuluh? Dua puluh? Seratus?!”

“Mel? Lo suka sama...”

“Ah! Banyak bacot lu!”

Amel langsung jalan ninggalin gue. Hal itu justru ngebuat gue jadi mengerti kenapa Amel sempat bersikap gusar kayak tadi.

Hah. Ternyata, bukan cuma gue yang ngerasain kegembiraan sekaligus sakit hati dalam satu waktu.

Jadi, sebenarnya ini cinta monyet segi berapa sih? Segi lima? Segi empat? Atau cuma garis yang dimulai dari titik Amel, lalu ke Jaka, kemudian titik Vina, dan terakhir di gue?

Entah kenapa, sekarang gue berharap banget bisa jadi Titi. Walaupun imut kayak marmut, tapi cuma dia sendiri yang nggak tersambung dalam garis itu. Dia bebas merasakan kecanggungan yang khususnya gue alamin sendiri, ke Vina.

Dan dia mungkin nggak akan punya pikiran bahwa suatu saat persahabatan ini bakal kayak jembatan tali, bisa putus kapan saja.
Continue reading
Share:
Views:
Cerbung

Sorry, mate.

Saturday, June 21, 2014 By astaghiri 2 Comments

Lagi enak-enaknya tidur ayam, ponsel gue berdering. Kampret banget memang mengingat gue kekurangan jam tidur karena semalam gue begadang, nonton bola. Biasalah, namanya juga cowok.

Tanpa harus lihat layar ponsel, gue langsung angkat tuh telepon sambil merem.

“Halo?” sapa gue dengan nada khas ngantuk. Sebenarnya lebih mirip kayak lagi keselek biji salak sih.

“Suteeeeeeeet! Apa kabar lo? Hahaha.”

Gue langsung melek. Kurang ajar. Itu kan nama panggilan gue pas tiga tahun yang lalu, pas gue masih imut-imutnya plus cupu di SMP. Kayaknya nih orang teman SMP gue deh. Nggak salah lagi.

“Siapa ya?” Ya walaupun dia pasti teman SMP gue, tapi gue nggak tahu siapa orang yang lagi nelpon gue ini.

“Wah, parah banget lo nggak ngenalin temen sebangku selama tiga tahun berturut-turut. Ini gue, Tet!”

Astaga.

“Et si kunyuk! Hahaha, sori-sori. Abis suara lo kayak baru pubertas sih. Hahahaha.” Gue ketawa dengan lebarnya. Ya gue memang senang nge-bully tuh anak.

“Pubertas gigi lo! Suara macho kayak gini dibilang baru pubertas.”

Gue hanya tersenyum. “Kabar gimana kabar?”

“Gue? Oh gue—”

“Bukan, gue nanyain kabar kakak lo. Sudi amat nanyain lo kabar. Haha.”

“Et dari dulu sampe sekarang kagak ada perubahannya lu. Oh ya, justru gue nelpon lo karena kakak gue,” Rudi lebih serius kali ini.

“Kenapa kakak lo? Suka ya sama gue? Haha akhirnya.”

“Buset dah, nggak sudi gue punya kakak ipar kayak lo. Serius nih gue.”

“Apaan?”

“Kakak gue mau nikah pas hari sabtu—”

Pupus sudah.

“—lo dateng ya. Lebih baik bawa partner, kalo punya.”

Wah, kurang ajar. Kalo punya?

Baiklah, gue ngaku. Sampai saat ini gue nggak punya pacar. Bukannya nggak ada cewek yang suka sama gue—yah kalau boleh jujur gue cukup famous di SMA gue—tapi guenya yang belum mau pacaran.

“Oke, nanti gue bawa partner,” Gue nantangin. Siapa bilang gue nggak punya partner? Sori ye.

“Widih, gue pikir lo masih ngejomblo. Siapa coy?”

“Nyokap gue.”

HAHAHAHA. Rudi langsung ketawa lebar. Yang penting bawa partner kan? Ya memangnya partner itu harus pacar? Ya kalau sama nyokap kan berarti tandanya gue anak yang berbakti dan sayang sama nyokap gue dong.

“Udah gue duga, mana mungkin kan ada cewek yang pacaran sama tiang kayak lo?”

Yeah, itu kenapa di masa SMP gue dipanggil sutet. Tinggi gue di kala itu memang over kapasitas buat anak SMP. Bahkan tinggi gue semakin bertambah ketika gue sudah ke jenjang SMA.

“Sampe nanti gue punya cewek, liat aja nanti.”

“Sampe nanti kapan? Pas kakak gue udah punya bayi? Hahaha.”

Asem. Kurang ajar juga lama-lama nih anak.

“Ah! Udah ah! Ganggu tidur aja sih lo!”

Rudi malah makin ketawa lebar. Rasanya kepengin gue jejelin sandal swallow tahu nggak.

“Ya udah, yang penting lo dateng ya. Ya bawa aja tuh nyokap lo, sekalian buat reunian sama nyokap gue. Jangan lupa ye?”

“Iyeee.”

***

Dan datanglah hari kawinannya kak Reni. Di dalam otak gue, gue ngebayangin kak Reni lagi jadi bidadari hari ini. Pakai baju biasa saja dia sudah cantik banget, gimana kalau tubuhnya yang molek itu dibalut dengan kebaya coba?

Ah elah. Mana sebentar lagi dia jadi istri orang lagi.

Ya sebenarnya dulu gue sempat suka sama kak Reni. Biasalah anak SMP, masih cinta monyet. Tapi kak Reni menganggap gue sama kaya Rudi, sebatas kakak-adik doang. Ya sudahlah ya. Punya kakak cantik gue juga nggak keberatan kok.

“Ma? Udahan belom?” Gue ngelirik ke arah jam tangan. Kayaknya memang kebiasaan ibu-ibu kalau mau ada acara pasti dandannya lama pakai banget. Make up gue kan jadi luntur. Hahaha. Nggak deng, gue nggak pakai make up. Eh pernah deng, tapi itu dulu. DULU. DULU YA.

“Iya, sebentar. Ini lagi pake kerudung.”

Gue langsung mencibir. Bukannya gue lagi bersikap kurang ajar, tapi gue tahu banget kalau sekarang nyokap pasti lagi bedakan, dan belum SAMA SEKALI pakai kerudung.

Akhirnya setelah penantian selama dua puluh menit, kita caw ke lokasi yang nggak jauh dari rumah kak Reni sendiri, maksudnya rumah orangtuanya.

Gue yang jadi tukang ojek. Eh maksud gue, gue yang nyetir motornya. Masa iya nyokap gue? Mau ditaruh di mana muka gue kalau banyak orang yang ngeliat? Badan gue bongsor kayak gini.

Bunyi dentuman musik dangdut khas kawinan sudah mulai terdengar ketika gue lagi di daerah jalan rumah Rudi. Untung saja gue nggak pikun-pikun amat dengan alamat rumahnya si Rudi. Lagipula sebenarnya gue juga dikasih undangan sih, dengan tulisan untuk; DONI DAN PARTNER gede banget. Apa coba maksudnya?

Akhirnya kita sampai juga. Titip motor di parkiran, habis itu baru masuk ke acara pesta kawinannya. Tapi kita sempat ke apa tuh namanya yang kalau lagi ada acara kawinan pasti bagian depan ada yang duduk sambil kasih souvenir gitu deh. Ya pokoknya itulah. Dan barulah habis itu kita salamin si pengantin.

Sumpah! Kak Reni cantik pakai banget hari ini! Bahkan kalau nyokap nggak ngebuyarin pikiran gue, tanah yang lagi gue injak ini bakal terkena cairan najis dari mulut gue, alias iler. Hehe.

Gue bakal salamin si pengantin wanitanya dululah.

“Hai Kak Reni,” sapa gue ramah banget ditambah senyum paling ganteng menurut gue.

Kak Reni membalas senyumannya yang paling manis. “Eeeeeh kamu Doni, kan? Aduh, kamu makin ganteng aja sih sekarang.”

Dan tanpa gue duga-duga, kak Reni cipika-cipiki gue! Hahaha.

Dan karena gue nggak mau kehilangan kesempatan yang terlalu sempit banget ini, akhirnya gue mencoba memeluk kak Reni for the first time and for the last time. Hiks. Sedih juga ya?

“Selamat ya Kak atas pernikahannya,” bisik gue ketika gue memeluk dia. Dan kak Reni juga membalas pelukan gue! Asyik nggak tuh?

“Semoga langgeng ya Kak,” lanjut gue ketika dia melepaskan pelukannya.

Kak Reni tersenyum sumringah banget. Gue bisa baca dari matanya kalau hari ini dia lagi bahagia banget. Ya sudahlah ya. Kalau dia bahagia, gua juga ikutan bahagia kok.

Dan sekarang giliran pengantin prianya. Sebenarnya gue cuma kepengin sekedar salaman saja sih. Tapi ada suatu hal yang agak ganjil menurut gue.

“Lho? Kamu nggak mau nyalamin saya, Don?”

Sebentar-sebentar. Kok kayaknya gue pernah kenal orang ini ya? Tapi di mana?

Waktu itu pas gue lihat undangan juga kayaknya gue familiar banget sama nama yang tertera di undangan itu.

Astaga.

“Pak Imam?!”

Kaget bukan main, gue memekik seperti itu hingga membuat beberapa tamu undangan menoleh ke arah gue. Punggung gue langsung ditabok sama nyokap.

“Kamu nih berisik banget sih. Malu diliatin orang-orang,” kata nyokap lanjut cipika-cipiki sama kak Reni.

Pak Imam itu guru olahraga gue pas gue SMP. Dia memang guru termuda pada saat itu. Ya ampun, tapi siapa yang bisa sangka sih kalau ternyata jodohnya kak Reni tuh Pak Imam...

“Pak Imam...? Bapak ngapain Pak di sini? Mau ngajar senam?” Dengan begonya gue berkata seperti itu.

“Kamu nih,” Pak Imam tersenyum. Tanpa sadar tangan gue terulur, akhirnya gue salaman sama dia.

“Sumpah Pak, saya sampe nggak ngeh kalo ini Bapak. Kabar gimana Pak? Sehat?” Ya iyalah sehat. Orang dia guru olahraga. Masa iya sakit-sakitan?

“Alhamdulillah sehat. Kamu gimana Don?”

“Yah gitu deh, Pak. Betewe, selamet ya Pak udah ngedapetin Kak Reni. Susah lho buat ngedapetin hatinya dia.”

“Makasih, makasih. Tapi perjuangan saya juga sepadan kok dengan apa yang terjadi di hari ini.” Pak Imam benar-benar tersenyum bahagia. Ekor matanya juga memancarkan kebahagiaan.

Ya sudahlah ya. Pak Imam juga sebenarnya juga lumayan ganteng, ditambah kak Reni yang cantiknya kebangetan. Mereka kayaknya klop-klop saja tuh.

“Semoga langgeng Pak, amin.”

“Amin.” Pak Imam menepuk-nepuk bahu gue.

Setelah acara salam-salaman, selanjutnya berburu makanan! Eh, tapi kayaknya daritadi gue nggak lihat si lutung itu. Rudi ke mana ya?

“Suteeeeeet!”

Tiba-tiba punggung gue berat gara-gara si lutung main nemplok begitu saja.

“Berat, bego!”

Rudi cuma nyengir. Dia meluk gue sebentar, karena kalau lama nanti dikiranya homo lagi. Dia cuma kangen gue, dan sebenarnya gue juga kangen sih sama dia.

“Gila lo, makin tinggi aja.”

“Iyalah gue, ada revolusinya. Emangnya elo? Makin kuntet kayak gitu. Hahaha.”

“Siaul.” Tapi si lutung ini nggak merasa tersinggung, dia malah nyengir. “Eh, gue tinggal dulu ya? Nikmatin makanannya sepuas lo. Gue ada perlu sebentar, oke brother?”

Gue hanya menaikkan alis. Setelah itu Rudi pergi dari hadapan gue. Gue mulai berburu makanan lewat mata. Ada bakso, somay, makanan prasmanan, buah-buahan, banyak gila! Kayaknya gue nggak bakal berhenti makan hari ini.

Gue menuju kios bakso dulu. Yah walaupun baksonya cuma dua, ya nggak apa-apalah. Yang penting makan. Ya kali satu mangkuk dikasih bakso lima? Wong tamunya saja ada ratusan. Si abangnya langsung demam bakso kali.

Tapi sialnya pas gue balik badan, tuh bakso enak banget tergelincir... di gaun orang. Sial!

Tuh orang langsung memekik karena gue telah menodai gaun berwarna soft orange-nya. Ya siapa juga yang nggak teriak? Kayaknya dia juga sedikit kena air panas dari kuah baksonya deh.

“Eh aduuuuh... maaf banget ya. Maaaaf banget, gue nggak sengaja,” kata gue dengan refleks menepuk-nepuk gaunnya. Tuh cewek juga mengulurkan tangannya untuk membersihkan tumpahan itu.

“Errrrr... ya udah. Nggak papa.”

Huft. Gue pikir gue bakal kena damprat. Ya walaupun tadi gue sempat mendengar tuh cewek mengerang. Tapi sebentar-sebentar. Ya elah, sebentar-sebentar melulu.

Nggak-nggak. Ini serius.

“Vina?”

Tuh cewek mendongak. Nggak salah lagi! Ini memang Vina!

Vina mengernyitkan dahinya. Mungkin dia berpikir kalau gue sok kenal sok dekat. Tapi gue beneran kenal Vina kok! Suer!

“Elo...”

“Lo nggak inget gue? Wah! Parah banget lo.”

“Bentar-bentar,” Vina memejamkan matanya, hendak berpikir. Gue jadi tersenyum sendiri. Dari dulu dia memang cantik banget, sampai sekarang pun begitu.

“Dino?” Senyum yang melengkung ke atas di bibir gue berubah menjadi melengkung ke bawah. Ya ampun, nih anak dari dulu nggak pernah berubah.

“Ini gue Doni. Masih nggak inget juga?”

“Nah itu! Iya Doni!” Vina menepuk lengan gue. “Mana bisa sih gue lupa sama lo, hehehe.”

Astaga. Orang jelas-jelas dia lupa sama gue tadi.

“Lo temennya Rudi juga?”

“Rudi? Rudi siapa?“

“Eh maksud gue, kok lo bisa di sini?“

“Oh. Gue ke sini sama kakak gue, dia temennya si pengantin cewek.“ Vina terdiam sebentar. “Eh, kalo dipikir-pikir kita nggak pernah ketemu lagi ya? Padahal kita masih satu RT lho.”

Yeah. Begini ceritanya. Dulu, dulu banget, gue ini teman kecilnya Vina. Teman sepermainanlah. Ceilah. Nggak, pokoknya teman main gitu deh. Dan kita juga punya geng yang nggak tahu apa namanya, yang penting sering main bareng gitu deh.

Ada gue, Vina, Amel, Jaka, sama Titi. Dan kebetulan kita berlima juga satu pengajian, dan hal itu ngebuat gue sama Vina begitu dekat.

Tapi, ada satu hal yang ngebuat gue ngejauh dari mereka-mereka, tapi lebih untuk ngejauh dari Vina sih karena dia cinta monyet pertama gue!

Di saat itu sih kita semua lagi main bareng, sama anak tetangga juga ikutan main. Nah, gue nempeleng si anak itu dan dilihat sama orangtuanya. Langsunglah gue diceramahin panjang lebar, dan gue juga dilihatin sama teman-teman gue. Untuk mereka yang selain Vina sih gue nggak begitu ngerasa malu, tapi untuk Vina gue merasa malu banget!

Akhirnya setelah itu, gue nggak pernah main bareng lagi. Mereka-mereka juga nggak pernah ngehubungin gue lagi kok—maksud gue nyamperin gue ke rumah gitu.

Ya memang persoalannya nggak logis banget sih. Tapi namanya juga masih kecil, gue belum bisa banget kena omelan orang. Dan sebenarnya gue juga salah sih nempeleng kepala orang. Hehe.

“Iya juga ya... mau makan bakso?”

Vina mengangguk. “Tapi gara-gara lo nih gaun gue jadi kotor.”

“Sori deh sori. Kan gue nggak sengaja. Kalo sengaja mah udah gue siram dari atas kali Vin.”

Vina hanya tersenyum. Akhirnya gue memesan dua mangkuk bakso. Kali ini gue harus hati-hati. Masa gue harus menghilangkan wajah gue di depan Vina lagi sih?

Setelah itu gue duduk berdua. Ceilah, duduk berdua. Nggak, maksud gue cari bangku kosong terus duduk samping-sampingan gitu.

“Nih bakso lo,” Gue ngasih salah satu mangkuk bakso yang banyak sambalnya. Karena gue tahu banget si Vina ini doyan sama cabe-cabean, bukan cabe-cabean yang suka duduk bertiga di motor itu ya. Ya intinya dia doyan banget pedas.

“Tenkyuuu.”

Tiba-tiba gue ngerasa canggung. Bukannya gimana, tapi bayangin tujuh tahun gue nggak main bareng lagi sama dia, padahal kita masih satu RT.

“Sekarang lo sekolah di SMA mana, Don?” tanya Vina ketika satu bakso masuk ke dalam mulutnya. Nih anak memang punya kebiasaan banget makan sambil ngomong.

“Di Lenteng Agung, Vin. Lo?”

“Deket-deket sini sih.”

Damn. Gue masih ngerasa canggung. Kenapa sih gue?

Daritadi gue juga ngerasa kalau Vina melirik ke arah mangkuk bakso gue. Seketika gue baru inget kalau Vina itu bakso lovers. Bakso diapain saja dia juga doyan.

“Kenapa? Lo mau?”

Vina sedikit terperanjat, kemudian menggeleng dan tersenyum. Dia mengaduk-aduk bihunnya.

Dengan sok cool gue ngasih bakso gue ke mangkuknya Vina.

“Alah. Bilang aja mau. Tuh abisin,” kata gue sambil sedikit tersenyum. Yah pada akhirnya tuh bakso diludesin juga sama Vina.

Gue panjangin leher, gue baru ingat kalau gue bawa nyokap ke sini. Ke mana ya? Ah tuh dia. Dia lagi ngobrol sama nyokapnya Rudi. Ya sudahlah ya. Biarkan saja. Ibu-ibu kan suka lama kalau ngobrol.

“Oh ya Don,” Vina angkat suara pas habis dia selesai makan baksonya. “Lo kenapa sih tiba-tiba waktu itu nggak pernah main bareng lagi sama kita-kita? Lo juga udah nggak ngaji lagi.”

Gue garuk-garuk kepala. “Hehe. Gue ngaji di rumah Vin.”

Vina hanya ber-oh ria. “Terus?”

Masa iya gue harus cerita? Itu kan hal konyol yang pernah gue alamin seumur hidup. Tapi dari mata Vina kayaknya dia penasaran banget.

Setelah menghela napas panjang, akhirnya gue cerita, minus tentang Vina yang jadi cinta monyet pertama gue.

“Jadi gara-gara itu doang?! Hahaha. Iya-iya, gue inget, gue inget banget malah!”

“Kok lo jadi ketawa sih?”

“Abis lo pea banget sih jadi orang! Hahaha.”

“Ya itu kan karena gue malu sama lo.” Ups! Bego! Bego! Kenapa gue jadi keceplosan gini sih?

Vina langsung berhenti tertawa. “Gue?”

Ya sudahlah. Mengaku saja.

“Iya. Lo itu cinta monyet pertama gue, Vin.”

Suasana malah semakin kaku. Duh! Bego banget sih gue.

“Vin?” panggil gue.

“Vin? Vina?” Gue sama Vina menoleh. Kakaknya Vina ngehampirin dia. Ya ampun, perfect time banget sekarang.

“Hai Kak,” sapa gue sambil berdiri.

“Kamu... Doni kan?”

“Iya Kak.”

“Gila. Makin tinggi aja kamu sekarang. Oh ya, maaf nih ya, mau bawa pulang si Vina.”

“Oh, iya Kak, nggak papa kok.”

“Ayo Vin, balik.”

Vina berdiri, mengikuti kakaknya dari belakang. Yah sudahlah. Sekarang pertemanan gue sama Vina malah makin hancur.

Tapi tiba-tiba Vina membalikkan badannya, ada senyum tipis yang terbentuk di bibirnya.

“Nanti malem ketemuan di pos ronda ya!” katanya sambil melambaikan tangan.

Gue langsung bengong ala idiot. Vina mau ketemuan sama gue?

Hahahahazek!
Continue reading
Share:
Views:
Older Posts Home
Subscribe to: Comments ( Atom )

Hi, you!

Hi, you!

Blog Archive

  • ▼  2017 (3)
    • ▼  September (1)
      • Intro Perkuliahan
    • ►  July (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2014 (10)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (3)
    • ►  March (3)
  • ►  2013 (24)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (6)
    • ►  May (1)
    • ►  April (5)
    • ►  January (4)

Labels

CAKES! Cerbung Cerpen Imajinasi Travel Trip

Wanna be my mate?

© 2016 Astaghiri | All rights reserved
Created By Responsive Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates